"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 #Luka masalalu yang kembali terbuka
Bening terus melangkah dengan tergesa-gesa, mengabaikan rasa lelah dan beban berat Kaivan dalam gendongannya. Langkah kakinya yang gemetar dipaksa untuk terus bergerak cepat, seolah-olah jika dia melambat sedetik saja, masa lalu yang mengerikan akan langsung menyergap dan merenggut putranya. Di balik punggung Kai, jemari Bening meremas kaos anaknya dengan sangat erat. Air mata yang sejak tadi dia tahan, kini luruh membasahi pipinya yang pucat.
Melihat wajah Gibran lagi setelah tujuh tahun lamanya telah membuka paksa kotak pandora yang selama ini dia kunci rapat-rapat. Rasa sakit, ketakutan, dan cinta yang mendalam berbaur menjadi satu, menyeret kesadaran Bening mundur ke hari paling terkutuk dalam hidupnya.
Flashback On.... (Tujuh tahun lalu)
Sinar matahari pagi menembus celah jendela kamar mandi dengan begitu hangat. Tangan Bening bergetar hebat saat menatap benda kecil di genggamannya. Dua garis merah tegas tertera di sana.
Bening menggigit bibirnya, menahan tangis bahagia yang membuncah di dalam dada. Ia mengusap perutnya yang masih datar dengan penuh kasih sayang. Di dalam rahimnya, ada kehidupan baru yang sedang bertumbuh, benih cintanya bersama Gibran. Bening membayangkan betapa bahagianya Gibran saat ia memberikan kejutan ini nanti malam.
Namun, mimpi indah itu menguap hanya dalam hitungan jam.
Siang harinya, Bening dipanggil ke rumah utama keluarga Aditama. Di sana, seorang pelayan menyuguhkan secangkir teh hangat atas perintah Wira Aditama. Baru beberapa teguk cairan itu melewati tenggorokannya, pandangan Bening perlahan kabur. Kepalanya terasa teramat berat, hingga kegelapan total menyergap kesadarannya.
"Eunggh..."
Bening mengerang pelan. Rasa pening yang menyengat langsung menghantam kepalanya begitu kesadarannya perlahan pulih. Bau karbol dan aroma pengharum ruangan asing yang menyengat menusuk indra penciumannya.
Ketika mata Bening akhirnya terbuka sempurna, tubuhnya seketika membeku. Ia tidak berada di rumah utama. Ia berada di atas tempat tidur sebuah kamar hotel yang luas.
Panik mulai merayapi dadanya. Bening bergerak hendak berdiri, namun matanya membelalak horor saat menyadari di balik selimut putih tebal yang menutupinya, ia hanya memakai gaun tidur tipis.
Deg!
Jantung Bening serasa berhenti berdetak seketika saat pandangannya beralih ke samping kanan. Di atas ranjang yang sama, terbaring seorang pria asing bertelanjang dada yang sama sekali tidak pernah ia kenali seumur hidupnya.
"Ti—tidak... Ini... ini apa?!" jerit Bening histeris. Tangannya yang gemetar hebat buru-buru menarik selimut hingga menutupi dadanya rapat-rapat.
BRAK!
Pintu kamar hotel bernomor 304 itu didorong paksa dari luar hingga membentur dinding dengan keras.
Di ambang pintu, berdiri Gibran. Dada pria itu memburu hebat, wajahnya pucat pasi, dan sepasang matanya memancarkan kehancuran serta kekecewaan yang teramat dahsyat. Di belakang Gibran, berdiri Wira Aditama, sang ayah bersama beberapa pengawal berbadan tegap.
"Mas Gibran...!" jerit Bening menangis pecah. Ia mencoba bangkit di atas kasur, memegang ujung selimutnya dengan erat. "Mas, ini tidak seperti yang kamu lihat! Demi Allah, Mas... aku tidak tahu kenapa aku bisa ada di sini! Aku dijebak, Mas!"
Bening hendak merangkak turun untuk menggapai suaminya, namun sebelum Gibran sempat mengeluarkan patah kata, pria asing di samping Bening tiba-tiba terbangun dan bangkit bersandar di kepala ranjang. Pria itu menyeringai dingin, menatap Gibran dengan raut wajah angkuh yang sangat meyakinkan.
"Sudahlah, Bening, akui saja! Tidak perlu berpura-pura lagi," potong pria asing itu dengan nada santai tanpa rasa takut. "Tuan Gibran, Bening tidak pernah mencintaimu sedikit pun! Dia bersamamu hanya untuk menguras harta keluargamu. Dan setelah hari ini, kami memang berniat untuk pergi bersama. Bening ini kekasihku!"
"BOHONG! KAMU SIAPA?! AKU TIDAK KENAL DENGANMU!" jerit Bening histeris, histerianya makin membuncah hingga dadanya terasa sesak.
Namun, kata-kata bohong pria asing itu telah menjadi belati beracun yang menghujam tepat di dada Gibran.
Amarah, kebencian, dan rasa dikhianati menyelimuti pikiran Gibran seketika. Pria itu tidak mampu lagi berpikir jernih. Tanpa menatap Bening lagi, tanpa menanyakan satu patah kata pun, Gibran berbalik dan melangkah pergi begitu saja membelakangi kamar itu.
"Mas Gibran! Mas, dengarkan aku dulu! MAS GIBRAN!"
Bening nekat membuang selimutnya, berniat mengejar Gibran meski hanya berbalut gaun tidur tipis. Namun, baru dua langkah kakinya menyentuh lantai dingin, sosok tinggi besar Wira Aditama maju menghadang langkahnya.
PLAK!
Cengkeraman kuat dari pengawal Wira menahan kedua bahu Bening, memaksanya jatuh bersimpuh di atas lantai dingin kamar hotel.
Wira Aditama merendahkan tubuhnya, menatap Bening yang menangis tersedu-sedu dengan pandangan hina yang teramat sangat.
"Jangan pernah bermimpi untuk menjelaskan apa pun pada putraku, Bening," bisik Wira dengan suara rendah, tajam, dan penuh ancaman yang sanggup membekukan darah Bening. "Jika kamu masih nekat ingin bersama Gibran, atau berani membuka mulutmu untuk membela diri... aku pastikan orang tuamu dan adik-adikmu akan terkena imbasnya. Aku bisa menghancurkan hidup mereka lebih dari ini dan membuat kalian sekeluarga membusuk di jalanan!"
"Tolong, Pak... tolong jangan sentuh keluarga saya..." bisik Bening terengah-engah, air matanya menetes membasahi lantai. "Saya tidak bersalah, Pak Wira..."
"Tidak bersalah?! Harusnya kamu berkaca sejak awal!" potong Wira kejam, memotong kalimat Bening tanpa ampun. "Kamu harusnya tidak pernah menerima lamaran putraku! Kalian itu berbeda kasta! Wanita miskin dan tidak bermartabat sepertimu sama sekali tidak pantas bersanding dengan keluarga Aditama!"
Bening memejamkan mata erat-erat. Bayangan orang tuanya yang renta dan masa depan saudaranya menari-nari di ingatan. Kejahatan dan kekuasaan keluarga Aditama terlalu besar untuk ia lawan sendirian.
Demi keselamatan keluarga yang sangat ia cintai, Bening akhirnya mengalah. Dalam kehancuran moral dan tangisan yang tak bersuara, Bening menganggukkan kepalanya pelan. Ia menelan bulat-bulat fitnah keji itu, menandatangani berkas perceraian tanpa meminta sepeser pun harta gono-gini, lalu melangkah pergi membawa duka mendalam, serta rahasia tentang kehidupan kecil berusia satu bulan yang kini berjuang di dalam rahimnya.
Flashback off... (Kembali masa kini)
Bening akhirnya menghentikan langkah kakinya setelah merasa jarak mereka sudah cukup aman dan jauh dari area jalan raya tadi. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Dengan perlahan dan hati-hati, dia menurunkan Kaivan dari gendongannya.
"Mama... kenapa Mama menangis?"
Suara lembut Kai seketika mematikan gemuruh di kepala Bening. Bocah kecil itu mendongak, menatap ibunya dengan sepasang mata coklatnya yang berkaca-kaca penuh kekhawatiran. Tangan kecil Kai terulur, menghapus air mata yang membasahi pipi Bening.
"Kai tidak terluka kok, Ma. Apa... om-om yang di mobil tadi itu orang jahat sampai Mama ketakutan begini?" tanya Kai polos dengan suara yang mulai serak. "Atau... karena Kai berat ya, jadinya Mama lelah? Kai masih bisa jalan sendiri kok, Ma. Mama jangan menangis lagi, ya..."
Mendengar penuturan jujur dari putranya, hati Bening rasanya semakin teriris-iris. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya. Bagaimana bisa anak sekecil ini berpikir bahwa dia adalah beban? Bening langsung kembali mendekap erat tubuh mungil Kai ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil sang anak.
Ketakutan yang luar biasa kini mencengkeram seluruh akal sehatnya. Gibran sudah melihat Kai. Pria itu sudah menatap sosok anak kecil yang memiliki kemiripan mutlak dengannya. Bening sangat tahu seberapa besar kekuasaan keluarga Aditama. Jika Gibran sampai menyelidiki dan mengetahui bahwa Kai adalah putra kandungnya, Bening sangat takut pria itu akan merebut Kai darinya. Dia tidak akan bisa bertahan hidup jika harus kehilangan belahan jiwanya itu.
Bening melepaskan pelukannya perlahan, mencoba tersenyum meskipun bibirnya bergetar. "Tidak, sayang... Kai sama sekali tidak berat. Om tadi tidak jahat, Mama hanya... mendadak pusing sekali." Bening memegang keningnya, mencoba meyakinkan Kai.
"Kita pulang sekarang ya, sayang? Beli es krimnya kita tunda dulu. Nanti sampai di rumah, Mama akan menelepon Tante Erika supaya es krimnya diantar saja ke rumah kita," lanjut Bening. Erika adalah sahabat dekat Bening sejak masa-masa sulitnya, satu-satunya orang yang tahu rahasia tentang siapa ayah kandung Kai.
Kai yang pintar dan sangat peka terhadap kondisi ibunya segera mengangguk patuh. "Iya, Mama. Ayo kita pulang, biar Mama bisa istirahat." Bocah itu menggandeng erat tangan Bening, menuntun ibunya dengan langkah-langkah kecilnya yang protektif.
Sementara itu, di tempat lain, atmosfer di dalam mobil sedan hitam metalik milik keluarga Aditama terasa sangat mencekam.
"Toni, batalkan semua rapat penting hari ini. Kembali ke rumah," perintah Gibran dengan nada suara yang sangat dingin dan tidak bisa dibantah.
"Baik, Pak," sahut Toni sigap, segera memutar balik arah kemudi mobil.
Gibran menyandarkan tubuhnya di kursi belakang, namun pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Kepalanya terasa mau pecah. Bayangan wajah anak kecil bermata coklat terang tadi terus berputar-putar di benaknya, menolak untuk pergi.
Rahang Gibran mengeras, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pikirannya benar-benar kacau. Dia harus tahu siapa anak kecil yang sangat mirip dengannya tadi. Berapa sebenarnya usia anak itu? Dan siapa ayahnya?
Apakah Bening sudah menikah lagi dengan pria selingkuhannya dulu? Apakah anak itu adalah hasil hubungan mereka?
Pertanyaan-pertanyaan itu seperti menyiram bensin ke dalam api yang selama ini teredam di dalam hati Gibran. Rasa sakit yang teramat sangat kembali menyelimuti perasaannya, merobek luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Gibran memejamkan matanya, menahan sesak di dada. Dulu, dia sangat mencintai Bening. Dia adalah pria yang tidak pernah memandang kasta atau latar belakang sosial. Dia melawan ego keluarganya demi bisa menikahi Bening yang merupakan wanita dari kalangan biasa, dan siap memberikan seluruh dunia serta hartanya untuk wanita itu. Namun, apa yang dia terima sebagai balasan atas cinta tulusnya? Sebuah pengkhianatan yang paling menjijikkan di depan matanya sendiri.
Gibran membuka matanya kembali, tatapannya kini berubah menjadi sangat tajam dan penuh kilat kemarahan.
"Bening Azalea... setelah tujuh tahun bersenang-senang di atas penderitaanku, kamu pikir kamu bisa lari begitu saja setelah memunculkan anak yang memiliki wajah mirip denganku?" bisik Gibran lirih pada kegelapan di dalam mobil. "Jika dia memang anakku maka aku pastikan aku akan mengambilnya darimu!"
ga bakal ketauan ortu sendiri