Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1# Si Biang Rusuh
Hallo teman-teman pembaca, author balik lagi. Kali ini author balik sama anak-anak papa Rega, papi Leo dan anak papa Dio. Semoga kalian suka dengan karya baruku nanti.
Selamat membaca
💗💗💗💗💗💗💗💗
Suasana riuh anak-anak di pagi hari mendominasi ruang makan yang mengarah langsung ke taman belakang, sebuah taman asri dengan rerumputan dan tanaman hijau yang ada di villa keluarga di daerah Bali. Bocah-bocah dengan berbagai usia tersbut duduk di kursi masing-masing, menanti para mama yang sedang mengambilkan sarapan untuk mereka semua.
Sementara itu para papa sibuk dengan ponsel mereka di ruang keluarga yang masih menjadi satu dengan ruang makan. Ada yang sedang memeriksa pekerjaan, ada pula yang hanya melihat media sosial dan beberapa dari mereka sedang mengobrol. Hingga suara tangis pecah terdengar dari meja makan, sudah pasti ada yang jahil diantara bocah-bocah yang ada di sana.
“Ehek… huaa, mama.” Queena merentangkan kedua tangannya kearah sang mama, bocah empat tahun tersebut menangis. “Ma-maa,”
Rhea menghela napas, dia bergegas menuju putri kecilnya yang sedang menangis. Sudah bisa di pastikan siapa yang membuat gadis kecil itu menangis. Arlo! Yaps, putra sulung Leo dan Hana tersebut memang selalu berhasil membuat putri sulung Rega dan Rhea menangis.
Rhea berjongkok di samping kursi putrinya, dia mengusap lembut pipi Queena. “Apanya yang sakit, sayang?”
“Lambut Ueena di talik Allo,” adunya pada sang mama, Arlo menarik kuncir rambut Queena hingga putri Rega tersebut merasa rambutnya seperti ikut tertarik dari kepala oleh Arlo.
“Arlo!” Hana langsung menatap tajam putranya, padahal belum lama tadi bocah itu membuat masalah dengan menumpahkan semua sabun cair ke dalam bak mandi. Sekarang justru kembali membuat masalah dengan menjahili Queena. “Minta maaf dulu sama Ueena!” pinta mi-mom Hana pada putranya, Arlo memang selalu saja membuat kepala Hana dan Leo nyut-nyutan.
Arlo nyengir kuda, kemudian dia tersenyum jahil. Arlo meluncur turun dari kursinya, dia menghampiri Queena yang duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Gadis kecil itu sedang di tenangkan mama Rhea.
“Queen,” Arlo berdiri di samping kursi Queen.
Queena menoleh.
Cup…
Arlo meng3cup pipi kiri Queena. Bukannya minta maaf karena sudah membuat Queena menangis, Arlo justru kembali menjahili Queena.
Ehek…huaaa
Queena kembali menangis, kali ini tangisannya lebih keras hingga membuat gadis kecil itu sesegukan.
Rhea langsung menggendong putri kecilnya, dia mengusap pipi sang putri yang masih berderai air mata. “Cup…cup, anak cantiknya mama sudahan yuk, nangisnya. Kepalanya masih sakit ya, sayang?” Rhea kembali mengusap kepala Queena, gadis kecil itu langsung menyembunyikan wajahnya pada dada sang mama. Matanya sembab karena menangis dan hidungnya juga memerah.
Arlo memang suka sekali iseng pada Queena, padahal di sana tidak hanya ada Queena. Ada Azalea, Jingga, Kala, Jenny, Xabiru dan Zahra. Tak ada satupun dari mereka yang Arlo ganggu, dan hanya Queena yang selalu menjadi sasaran empuk untuk Arlo jahili.
“Ini anak turunan siapa sih?” mi-mom Hana menatap tajam putranya, dia memperingati Arlo. “Arlo! Mi-mom marah ini. Hari ini tidak boleh main game!” tegas mi-mom Hana, Arlo langsung diam karena kali ini dia tahu sang mama marah sungguhan. Bocah itu melihat kearah papi Leo, berniat meminta pertolongan pada sang papi. “Tidak ada minta tolong sama ayah atau bunda ya, kamu Arlo!” lanjut mi-mom Hana, dia tahu pasti kalau putranya tersebut pasti minta bantuan ayah Arka dan bunda Kia.
Arlo langsung diam, dia kembali duduk di kursinya. Pagi itu sudah dua kali Queena di buat menangis Arlo, dan barusan adalah ketiga kalinya setelah tadi Arlo merebut sedotan tumbler milik gadis kecil itu. Kemudian Arlo menarik kuncir rambut Queena hingga lepas pada saat hendak sarapan. Dan barusan meng3cup pipi putri Rhea dan Rega tanpa minta ijin lebih dulu.
Leo bahkan hanya bisa menghela napas saat melihat tingkah putranya yang kelewat usil pada putri sahabatnya tersebut. “Sorry, Ga. Arlo memang biang rusuh,” Leo minta maaf pada papa Queena tersebut.
“Anakmu itu benar-benar, Leo.” Rega menggeleng. “Sebenarnya turunan kamu atau Hana dia itu,” lanjut Rega.
Dio dan yang lain terkekeh melihat frustasinya dua bapak-bapak tersebut. “Besanan saja berdua kalau nanti mereka sudah dewasa, cocok. Tinggal tentukan tanggalnya,” celetuk Dio yang langsung mendapatkan lemparan bantal sofa dari Rega.
“Kamu tidak lihat itu, Dio! Arlo saja bikin anakku nangis terus. Enak saja mau jadi menantuku,” ucap Rega. “Sorry saja nih, Leo. Arlo bener-bener deh itu anak,” gemas Rega bercampur kesal melihat jahilnya Arlo pada Queena.
“Jangankan kamu, Ga. Aku dan Hana saja heran dengan putra kami sendiri,” balas Leo.
Begitulah Arlo yang selalu iseng pada Queena, Arlo tidak berubah. Dari Queena masih bayi hingga gadis itu tumbuh menjadi perempuan cantik dan lembut, tetap saja Arlo masih sering menjahili Queena.
\*\*\*
Arlo Sagara Pradipta
Seminggu ini Arlo tidak hanya di sibukkan dengan tugas kuliahnya, tapi dia juga harus membantu abang sepupunya yang sedang jatuh cinta. Siapa yang jatuh cinta, siapa juga yang harus ikut repot. Sepupu Arlo yang bernama Gavin tersebut sedang berusaha mengambil hati seorang perempuan bernama Aretha, bahkan kemarin malam Gavin minta Arlo untuk menemani ke rumah Queena. Menurut Gavin, satu-satunya yang bisa membantunya adalah gadis itu. Queena adalah sepupu Aretha, dan keduanya dekat. Gavin harus bisa membuat Queena setuju membantu untuk mendapatkan hati Aretha.
“Gara-gara bang Gavin aku telat,” monolognya yang kesal karena Arlo bangun kesiangan, dia harus menyelesaikan tugasnya lebih dulu sebelum ke kampus.
Arlo berlari menyusuri lorong-lorong menuju ruang kuliahnya, beberapa kali dia sambil melihat arlojinya. Dia harus sampai di kelas sebelum dosen masuk, kalau tidak tepat waktu bisa diusir dia dari kelas dan tidak bisa mengumpulkan tugas.
Arlo membelalak begitu melihat dari arah berlawanan dosen berjalan menuju ruang kuliah, tentu saja langkah seribu menjadi andalannya saat itu. Untunglah dia sempat masuk lebih dulu ke dalam ruang kuliah sebelum sang dosen.
“Psstt… Arlo. Sini!” panggil Jose.
Arlo menghampiri temannya tersebut, Jose sengaja menaruh tas miliknya di kursi tersebut agar tidak di tempati orang lain. Karena dia memang sengaja agar Arlo duduk di sana. Arlo lantas duduk di kursi tersebut, napasnya masih ngos-ngosan karena habis lari.
“Habis di kejar-kejar se tan mana? Sampai ngos-ngosan begitu,” tanya Jose.
“Aku habis lomba lari sama pak Darma,” jawab Arlo. “Tuh! Orangnya datang,” lanjut Arlo menunjuk dengan dagunya.
Jose dan Indra menahan tawanya. “Tumben kamu telat, Ar?” kepo Indra dengan lirih.
“Gara-gara abang sepupuku,” mereka lantas tidak bertanya lagi, karena pak Darma sudah masuk ke dalam ruang kuliah.
Pak Darma memang salah satu dosen yang disiplin, dia tidak membiarkan ada kegaduhan di dalam ruang kuliah yang sedang diampunya.
Selamat pagi anak-anak. Silahkan kumpulkan tugas kalian dan taruh diatas meja, yang tidak mengerjakan nilai E semester ini.
Semua langsung bergegas mengumpulkan tugas, untungnya tadi pagi Arlo masih sempat menyelesaikan tugas dari sang dosen. Meskipun dia harus merelakan sarapan paginya, setidaknya kerja kerasnya tidak sia-sia.
*Aku harus minta ganti rugi nih sama bang Gavin*.