"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dia Bocah Genius
Keesokan harinya, matahari sore menyinari kawasan Menteng dengan kehangatan yang lembut. Di depan sebuah gedung akademi balet eksklusif, deretan mobil mewah tampak terparkir rapi, menunggu anak-anak konglomerat menyelesaikan latihan mereka.
Di dalam sebuah mobil SUV hitam yang terparkir agak jauh dari kerumunan, Leon duduk di kursi belakang dengan tablet pintar yang menyala di pangkuannya. Jemari mungilnya bergerak dengan kecepatan luar biasa, meretas kamera pengawas (CCTV) di dalam gedung balet tersebut.
"Mama, aku sudah menemukan posisi Kak Lia. Dia berada di studio tiga, sedang memakai baju balet merah muda," lapor Leon melalui saluran komunikasi internal kepada Elena yang sedang memantau dari kejauhan. "Pria brengsek itu tidak ada di sana. Lia hanya dijaga oleh seorang pengasuh paruh baya dan dua pengawal yang berdiri di depan pintu utama gedung."
"Bagus, Leon. Ingat rencana kita. Jangan membuat keributan, cukup dekati kakakmu dan berikan alat pelacak mikro ini kepadanya," jawab Elena dari seberang telepon dengan nada khawatir sekaligus penuh harap.
Leon tersenyum penuh percaya diri, sebuah senyuman kecil yang sangat mirip dengan Arthur saat memenangkan negosiasi bisnis. "Tenang saja, Ma. Ini adalah misi yang terlalu mudah untuk seorang Leon."
Leon memakai topi hitamnya secara terbalik, lalu mengambil sebuah tas ransel kecil berisi pakaian ganti. Dengan gerakan lincah, bocah berusia empat tahun itu menyelinap keluar dari mobil, memanfaatkan kelengahan para pengawal yang sedang sibuk mengobrol di dekat lobi. Melalui pintu belakang yang biasa digunakan untuk akses katering, Leon berhasil menyusup ke dalam gedung tanpa memicu alarm keamanan satu pun.
Sementara itu, di dalam toilet studio tiga yang tampak sepi, seorang anak perempuan kecil sedang berdiri di depan cermin besar. Anak itu memiliki wajah yang sangat identik dengan Leon, namun matanya tampak lebih bulat dan menyiratkan kesedihan. Dia adalah Lia Arkananta.
Lia menatap pantulan dirinya yang mengenakan rok tutu merah muda dengan lesu. Dia merasa sangat kesepian. Di rumah mewah Arkananta yang bak istana, dia hanya tinggal bersama ayahnya yang sibuk dan nenek tirinya yang selalu menatapnya dengan pandangan dingin. Lia merindukan sosok seorang ibu yang sering dia baca di buku dongeng.
Klek.
Pintu bilik toilet di ujung ruangan tiba-tiba terbuka. Lia tersentak, mengira pengasuhnya yang masuk. Namun, matanya langsung membelalak sempurna ketika melihat seorang bocah laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam melangkah keluar.
Lia membeku. Dia mengucek matanya berkali-kali, mengira dirinya sedang berhalusinasi karena terlalu lelah berlatih balet. Bocah laki-laki yang berdiri di hadapannya memiliki wajah yang... benar-benar sama persis dengan dirinya sendiri! Hanya gaya rambut dan pakaian mereka yang berbeda.
"Kamu... siapa? Kenapa wajahmu mirip sekali denganku? Apakah kamu hantu cermin?" tanya Lia dengan suara cicitan yang menggemaskan, jarinya menunjuk ke arah Leon dengan gemetar.
Leon melipat kedua tangannya di depan dada, menatap saudara kembarnya dengan pandangan menilai yang dewasa. "Aku bukan hantu, Bodoh. Aku adalah kembaranmu. Namaku Leon."
"Kembaran...?" Kedua mata Lia berbinar cerah. "Tapi, kata Nenek, aku tidak punya saudara. Kata Papa, Mamaku sudah pergi ke tempat yang sangat jauh."
Mendengar kata 'Papa', ekspresi Leon langsung berubah menjadi dingin. "Pria tua itu berbohong padamu. Mama kita masih hidup, dan dia sangat cantik. Dia kembali ke sini untuk menjemputmu dari rumah singa itu."
Lia menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya, air mata kebahagiaan tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. "Mama... masih hidup? Mama mencariku?"
"Tentu saja. Mama bahkan selalu menangis setiap kali melihat fotomu," ucap Leon, nadanya sedikit melunak saat melihat air mata saudara perempuannya. Leon merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah bros berbentuk kupu-kupu kecil yang cantik. "Ini dari Mama. Di dalamnya ada alat pelacak dan mikrofon tersembunyi. Kamu harus selalu memakainya agar kami tahu kamu aman."
Lia menerima bros itu seperti menerima harta karun paling berharga di dunia. Dia memeluknya erat di dada. "Aku ingin bertemu Mama sekarang, Leon! Bawa aku ke Mama!"
Leon menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Belum saatnya, Lia. Pengawal di luar terlalu ketat. Jika kita nekat keluar sekarang, pria brengsek itu akan mengetahuinya dan menyembunyikanmu lebih jauh lagi. Kita harus memakai taktik."
Otak genius Leon berputar cepat. Dia menatap rok tutu merah muda yang dikenakan Lia, lalu menatap pakaian hitamnya sendiri. Sebuah ide gila dan brilian mendadak melintas di kepalanya.
"Lia, apakah kamu ingin merasakan bagaimana rasanya dipeluk dan disayang oleh Mama, walaupun hanya untuk satu hari?" tanya Leon dengan binar mata yang penuh konspirasi.
Lia mengangguk dengan sangat antusias hingga rambut kuncir kudanya bergoyang. "Mau! Aku sangat ingin dipeluk Mama!"
"Kalau begitu, cepat lepaskan baju baletmu. Kita akan bertukar posisi," perintah Leon sambil mulai membuka jaket jeans-nya. "Kamu keluar lewat pintu belakang, temui mobil SUV hitam di ujung jalan. Mama ada di sekitar sana. Sementara aku, aku akan berpura-pura menjadi dirimu dan masuk ke dalam rumah keluarga Arkananta untuk menyelidiki situasi di sana."
Lia sempat ragu. "Tapi... bagaimana kalau Papa tahu? Papa sangat galak kalau sedang marah."
Leon mendengus meremehkan. "Pria tua itu tidak akan sadar. IQ-nya pasti tidak setinggi aku. Cepat, sebelum pengasuhmu masuk!"
Di bawah tekanan waktu, kedua bocah genius itu melakukan aksi tukar nasib paling nekat dalam sejarah keluarga Arkananta. Hanya dalam waktu lima menit, Lia sudah berganti pakaian menggunakan jaket dan topi hitam milik Leon, sedangkan Leon dengan pasrah membiarkan tubuhnya dibalut rok tutu merah muda yang super ketat, meski wajahnya tampak sangat masam karena harus memakai baju perempuan.
"Ingat, jangan bicara terlalu banyak saat bertemu Mama agar dia tidak kaget, dan langsung peluk dia," pesan Leon sambil merapikan topi hitam di kepala Lia yang kini tampak seperti anak laki-laki.
"Siap, Kapten Leon!" Lia memberi hormat dengan riang, lalu dengan langkah lincah dia menyelinap keluar melalui pintu belakang seperti yang diinstruksikan oleh kembarannya.
Beberapa menit kemudian, pintu toilet diketuk dengan keras dari luar. "Non Lia? Latihannya sudah mau dimulai kembali. Kenapa lama sekali di dalam?" suara pengasuh paruh baya terdengar cemas.
Leon menarik napas dalam-dalam, mencoba mengubah nada suaranya menjadi selembut mungkin, meskipun batinnya menjerit karena harus berperan sebagai anak perempuan cengeng.
"Iya, Bi! Ini Lia sudah selesai!" jawab Leon dengan nada manja yang dibuat-buat, sambil berjalan keluar dengan langkah kaku yang sama sekali tidak mencerminkan seorang penari balet.
Di sisi lain gedung, Lia berhasil berlari menuju mobil SUV hitam yang ditunjukkan Leon. Ketika pintu mobil terbuka, sosok Elena yang tampak cemas langsung terlihat. Lia tidak bisa menahan diri lagi. Dia melompat masuk dan langsung menghambur ke pelukan Elena dengan erat, menangis bahagia di dada ibunya.
Elena tertegun, merasakan pelukan yang begitu emosional dan berbeda dari biasanya. Saat dia mengusap kepala anak yang dia kira Leon itu, topinya terlepas, menampilkan rambut panjang yang tergulung rapi di dalamnya. Elena membeku seketika ketika menyadari bahwa anak yang sedang menangis di pelukannya ini bukanlah Leon... melainkan putri kecilnya yang hilang, Lia.