Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Pembersihan Massal
Matahari pagi baru saja mengintip di balik cakrawala ibu kota, memantulkan cahaya keemasan yang tipis melalui jendela kecil kamar pojok di lantai bawah. Namun, cahaya hangat itu gagal menembus atmosfer dingin yang membungkus ruangan berukuran sempit tersebut. Di dalam kamar yang kini menjadi tempat persembunyiannya, Kirana sudah terbangun sejak jam lima pagi.
Ia berdiri di depan lemari kayu jati kecil yang menjadi tempat penyimpanan pakaian barunya. Mengenakan celana panjang hitam longgar dan kaus polos berwarna abu-abu gelap tanpa motif sedikit pun, Kirana menatap lurus ke dalam isi lemari dengan sorot mata yang datar dan kosong.
Hari ini adalah hari di mana sisa-sisa masa lalu yang rapuh harus disapu bersih dari kehidupannya.
Dengan langkah perlahan namun pasti, Kirana berbalik menuju sudut ruangan tempat sebuah koper besar miliknya tergeletak terbuka. Di dalam koper itu, serta di beberapa kardus kardus sisa kepindahannya dari kamar utama, masih tersimpan berbagai barang kenangan dari masa lalunya—masa di mana ia masih menjadi seorang wanita muda yang memelihara sejuta harapan manis, kelembutan, dan warna-warna ceria di dalam hidupnya.
Kirana mengambil sebuah kardus berukuran sedang, lalu mulai memilah isinya satu per satu tanpa ragu.
Barang pertama yang disentuh jemarinya adalah sebuah sweater rajut tebal berwarna *baby pink* kesayangannya. Sweater berbulu halus itu dulu sangat sering ia kenakan setiap kali akhir pekan tiba, pakaian kasual favorit yang selalu dipuji Arka karena membuat tampilannya terlihat manis dan lembut.
Namun di mata Kirana yang sekarang, warna merah muda itu tampak begitu konyol, rapuh, dan memuakkan. Warna itu mewakili kepolosannya di masa lalu—seorang wanita yang percaya bahwa kelembutan dan senyuman tulus bisa meruntuhkan benteng es suaminya.
Tanpa ekspresi di wajahnya, Kirana meremas sweater *baby pink* itu erat-erat, lalu melemparkannya begitu saja ke dalam kantong sampah hitam besar yang ia letakkan di sebelah kakinya.
Satu demi satu, barang-barang miliknya menjadi korban pembersihan massal pagi itu. Kemeja-kemeja berenda dengan warna-warna pastel yang cerah, gaun tidur santai beraksen bunga-bunga kecil yang feminin, selimut rajut berwarna coral lembut, hingga koleksi pernak-nik lucu seperti gantungan kunci boneka beruang kecil dan kotak musik kayu berbentuk hati—semuanya ditarik keluar dari tempat persembunyiannya.
Tidak ada keraguan. Tidak ada air mata yang menetes di pipinya. Setiap kali ia memasukkan barang-barang berharga masa lalunya ke dalam kantong sampah hitam, rasanya seperti menguliti sisa-sisa terakhir dari kepribadian lamanya yang telah mati di atas aspal persimpangan jalan malam itu.
Wanita ceria yang suka merajut harapan, wanita yang sabar membawakan makanan hangat, wanita yang menangis di hadapan lilin aromaterapi—semuanya telah lenyap. Yang tersisa di dalam raga Kirana kini hanyalah cangkang kosong yang dingin, tegas, dan tidak tersentuh oleh apa pun.
Di atas meja kecil sudut ruangan, pandangan Kirana tertuju pada sebuah kotak kado kecil berlapis pita satin merah muda. Kotak itu berisi sepasang kaus kaki bayi rajut berwarna putih bersih dan *mint*—barang pertama yang ia beli secara diam-diam begitu ia mengetahui dirinya positif hamil di bulan pertama, sebuah rahasia kecil yang ingin ia kejutkan kepada Arka sebelum semuanya berubah menjadi tragedi berdarah.
Jemari Kirana terulur perlahan menyentuh pita satin tersebut. Untuk sepersekian detik, tangannya sempat terhenti. Sebuah sengatan nyeri yang teramat tajam merayap di dadanya, nyaris membuat pertahanannya runtuh.
Namun, Kirana segera menutup mata rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, menelan rasa sesak itu hingga lebur di tenggorokannya, lalu dengan gerakan tegas ia menarik pita satin itu hingga robek. Sepasang kaus kaki bayi mungil itu ia ambil, lalu dimasukkannya ke dalam dasar kantong sampah hitam bersama barang-barang lainnya, menimbunnya rapat-rapat agar tidak pernah lagi melihat terang cahaya dunia.
*Kriek...*
Suara pintu kamar pojok yang berderit halus menghentikan gerakan Kirana.
Ia mendongak perlahan. Di ambang pintu yang terbuka setengah, Bi Inah berdiri terpaku dengan nampan berisi secangkir teh hangat dan mangkuk bubur di atasnya. Wanita tua itu menatap sekeliling ruangan dengan mata terbelalak ngeri dan mulut sedikit terbuka.
Pemandangan di dalam kamar pojok itu tampak seperti medan perang kesedihan. Tiga buah kantong sampah hitam berukuran besar telah terisi penuh oleh tumpukan pakaian berwarna cerah, boneka-boneka kain, dan pernak-pernik kamar yang dulunya menghiasi sudut-sudut hidup Kirana.
Bi Inah mengalihkan pandangannya dari kantong sampah itu ke arah Kirana. Pakaian kasual berwarna gelap dan netral yang dikenakan sang nyonya muda—celana hitam dan kaus abu-abu gelap—membuat Kirana tampak begitu asing, bagaikan bayangan gelap dari dirinya sendiri.
"N-Nyonya..." bisik Bi Inah tercekat, suaranya bergetar hebat nyaris tak terdengar. Air mata langsung menggenang di pelupuk mata wanita tua itu. "Apa... apa yang sedang Nyonya lakukan dengan semua barang-barang ini?"
Kirana berdiri tegak. Ia merapikan sisa-sisa kain di dalam kardus, lalu menatap Bi Inah dengan sorot mata yang tenang dan datar.
"Saya sedang membuang sampah, Bi," jawab Kirana dengan suara dingin yang tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. "Barang-barang ini sudah tidak berguna lagi. Ruangan ini terlalu sempit untuk menyimpan benda-benda masa lalu yang tidak punya arti."
"Tapi... tapi itu semua pakaian kesayangan Nyonya... dan boneka-boneka itu..." Bi Inah melangkah masuk beberapa langkah dengan panik, menunjuk ke arah kantong sampah hitam. "Kenapa dibuang, Nyonya? Kalau Nyonya sudah tidak suka, biar Bibi simpan di gudang atas... jangan dibuang seperti ini..."
"Tidak, Bi," potong Kirana mutlak, suaranya naik satu tingkat namun tetap terkontrol dengan sangat baik. "Barang-barang itu bukan lagi milik saya. Dan tolong... jangan simpan apa pun. Nanti malam, saat petugas kebersihan datang, pastikan semua kantong sampah ini langsung diangkut keluar dan dibakar atau dibuang jauh-jauh dari rumah ini."
Mendengar perintah mutlak itu, Bi Inah tidak kuasa lagi menahan isak tangisnya. Wanita tua itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, sementara air matanya tumpah membasahi pipinya yang keriput. Ia melihat bagaimana Kirana sedang menghabisi setiap jejak identitas lamanya, merobek buku harian hidupnya sendiri dan menggantinya dengan halaman-halaman kosong berwarna kelabu.
"Nyonya sedang menyiksa diri sendiri..." rintih Bi Inah pelan, bahunya bergetar hebat. "Cara Nyonya memperlakukan diri Nyonya seperti ini... ini membuat Bibi sangat sedih..."
Kirana menghela napas panjang. Ekspresi wajahnya tidak melunak, namun ia berjalan mendekati Bi Inah, mengambil nampan teh hangat dari tangan wanita tua itu dan meletakkannya begitu saja di atas meja nakas tanpa menyentuhnya sedikit pun.
"Saya tidak sedang menyiksa diri, Bi. Saya sedang menyelamatkan diri saya yang tersisa," ucap Kirana lirih namun tajam, menatap tepat ke dalam mata Bi Inah. "Sudahlah, Bi. Kembalilah ke atas. Jangan pikirkan saya."
Sebelum Bi Inah sempat berkata apa-apa lagi, Kirana membalikkan badannya, mengambil kantong sampah pertama yang sudah terikat rapi, lalu menyeretnya ke dekat pintu keluar kamar pojok tersebut.
---
Di lantai atas, Arka terbangun dengan kepala berdenyut nyeri. Semalam ia hampir tidak tidur sama sekali, mondar-mandir di dalam kamar utama yang luas dengan pikiran yang dihantam rasa bersalah tanpa ujung.
Begitu ia melangkah keluar dari kamar utama menuju koridor lantai atas untuk turun ke lantai bawah, hidungnya mencium sesuatu yang aneh—atau lebih tepatnya, ketiadaan sesuatu yang biasa ia rasakan. Biasanya, setiap kali ia melewati koridor atau menuruni tangga, selalu ada sisa-sisa aroma wangi parfum bunga lembut atau suara aktivitas ringan dari lantai bawah.
Hari ini, udara di dalam rumah besar itu terasa begitu hampa, kering, dan membeku.
Arka menuruni anak tangga satu persatu dengan langkah gontai. Saat ia tiba di area ruang keluarga lantai bawah, ia melihat Bi Inah sedang berjalan tergesa-gesa sambil menyeka air mata di pipinya menggunakan ujung apron.
"Bi Inah?" panggil Arka dengan suara serak, menghentikan langkah wanita tua itu.
Bi Inah terperanjat. Ia segera merapikan posisinya, menunduk dalam-dalam di hadapan sang tuan muda, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab akibat menangis.
"P-Pagi, Tuan Arka," cicit Bi Inah gemetar.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Arka curiga, matanya menatap tajam ke arah koridor sayap barat lantai bawah, tempat di mana kamar pojok Kirana berada. "Apakah terjadi sesuatu dengan Nyonya Kirana di bawah?"
Bi Inah menelan ludah kelat, tenggorokannya terasa tercekat. Ia ragu-ragu sejenak, namun tatapan mendesak dari Arka membuat wanita tua itu akhirnya menyerah.
"Tuan... kalau Tuan sempat, turunlah ke kamar bawah," bisik Bi Inah dengan suara patah-patah. "Nyonya Kirana... beliau sedang membuang semua pakaian cerahnya, semua boneka, semua barang-barang lamanya... Beliau mengganti semuanya dengan pakaian serba gelap. Nyonya... Nyonya sepertinya sedang menghapus seluruh hidupnya sendiri, Tuan..."
Deg!
Jantung Arka seolah berhenti berdetak. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Arka meninggalkan Bi Inah begitu saja. Ia berlari kecil menuruni sisa anak tangga, menyusuri koridor lantai bawah dengan napas memburu, hingga langkahnya terhenti secara mendadak di depan pintu kamar pojok yang terbuka setengah.
Di dalam ruangan sempit itu, Arka melihat Kirana.
Istrinya berdiri membelakangi pintu, mengenakan kaus abu-abu gelap dan celana hitam longgar. Rambut pendeknya dibiarkan tergerai natural tanpa hiasan apa pun. Di hadapan Kirana tergeletak beberapa kantong sampah plastik hitam raksasa yang sudah terikat padat, penuh berisi tumpukan pakaian berwarna cerah dan pernak-pernik feminin yang dulu sangat melekat pada diri wanita itu.
Arka berdiri terpaku di ambang pintu, dadanya dihantam rasa sakit yang teramat sangat. Pemandangan itu bukan sekadar pembersihan barang biasa; itu adalah eksekusi mati terhadap masa lalu mereka. Kirana sedang membersihkan setiap inci keberadaan dirinya yang dulu mencintai Arka, menyisakan ruang hampa berwarna gelap yang tidak memberi celah sedikit pun bagi sang suami untuk masuk kembali.
"Kirana..." panggil Arka dengan suara parau, nyaris berbisik, takut suaranya akan merusak keheningan mutlak di dalam ruangan itu.
Kirana tidak langsung menoleh. Ia menyelesaikan ikatan pada kantong sampah terakhir dengan gerakan tenang, lalu perlahan memutar tubuhnya menghadap ke arah pintu.
Sepasang mata tajam dan dingin itu menatap Arka lurus-lurus, tanpa secercah emosi, tanpa amarah, dan tanpa beban. Di hadapan pria yang dulu menganggapnya remeh, Kirana berdiri tegak sebagai sesosok manusia baru—yang telah melucuti seluruh warna di dalam hidupnya demi bertahan hidup di atas reruntuhan kepedihan yang paling sempurna.