NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Langkah Pertama Menuju Dunia yang Lebih Luas

Sepuluh tahun berlalu begitu cepat. Pagi itu, udara di halaman rumah keluarga Saraswati terasa lebih riuh dari biasanya. Lala yang kini berusia lima belas tahun berdiri di depan cermin, merapikan dasi seragam sekolah menengah unggulan khusus pertanian dan pelestarian alam yang baru saja ia masuki. Rambut keritingnya kini dikuncir rapi, matanya berbinar penuh semangat—tak lagi sekadar gadis kecil yang mengejar kupu-kupu di kebun melati, melainkan remaja yang sudah tahu persis apa yang ingin ia bangun untuk dunia.

Di meja makan, Bagas yang baru genap berusia sepuluh tahun sedang sibuk mengatur tumpukan buku catatan kecil miliknya. Ia memiliki kebiasaan unik: mencatat setiap jenis tanah, setiap cara tanam, setiap cerita yang disampaikan para petani saat ia ikut berkunjung ke perkebunan bersama Ayah atau Paman Arif. Wajahnya tenang, tekun, dan jauh lebih pendiam dibanding kakaknya—sama seperti Agung saat muda, namun dengan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.

“Jangan lupa membawa bekal makanan kesukaanmu, Nak,” tegur Larasati sambil meletakkan kotak bekal di meja. Kini ia tidak lagi hanya dikenal sebagai istri Direktur, melainkan sebagai Kepala Divisi Pemberdayaan Masyarakat yang namanya sangat dihormati di kalangan petani seluruh Indonesia. “Dan ingat: sekolah bukan hanya soal nilai tinggi. Tapi belajar bagaimana cara melayani orang lain dengan ilmu yang kau dapatkan.”

Agung tersenyum melihat kedua anaknya. Ia kini memimpin perusahaan dengan lebih tenang, tidak lagi terburu-buru mengejar pertumbuhan yang cepat, melainkan pertumbuhan yang kokoh dan berkelanjutan. “Ayah akan mengantar kalian berdua sekaligus. Hari ini Ayah ada pertemuan dengan tim peneliti di pusat pelatihan Temanggung, lalu kita mampir ke perkebunan tua dulu. Bagas pasti ingin melihat bagaimana tanaman baru tumbuh, kan?”

Perjalanan itu membawa mereka melewati perubahan wajah yang luar biasa. Dulu jalanan menuju daerah perkebunan penuh lubang dan sepi. Kini jalan aspal mulus membentang, di kiri dan kanan berdiri bangunan sekolah, klinik kesehatan, dan rumah-rumah petani yang layak—semua hasil program sosial yang digagas Bu Wulan, lalu dikembangkan oleh Agung dan Larasati.

Namun di balik kemajuan itu, tantangan baru mulai muncul perlahan.

Saat mereka tiba di pusat pelatihan, Arif sudah menunggu dengan wajah serius. Di sebelahnya berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun, berpakaian rapi namun tatapannya penuh semangat—Dimas, putra sulung Pak Salim yang kini bekerja sebagai manajer riset dan pengembangan di perusahaan.

“Ada hal yang perlu kita bahas segera,” kata Arif begitu mereka masuk ke ruangan tertutup. “Tim pemantauan melaporkan: dalam dua tahun terakhir, suhu udara di daerah penanaman Kopi Melati Saraswati rata-rata naik satu derajat Celcius lebih tinggi dari biasanya. Beberapa pohon tua mulai menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang tidak normal. Selain itu, pihak bea cukai melaporkan mulai beredar biji kopi tiruan yang dipasarkan dengan nama yang sama persis dengan kita, kualitasnya jauh di bawah standar, tapi harganya sangat murah.”

Agung mengerutkan kening dalam. “Kopi Melati Saraswati sudah diakui sebagai warisan dunia. Bagaimana mungkin ada yang berani memalsukannya?”

“Karena nama kita sudah sangat besar, Pak,” jawab Dimas tegas. “Banyak pihak yang ingin meraup keuntungan instan dengan memanfaatkan kepercayaan yang sudah dibangun keluarga ini puluhan tahun. Dan yang lebih mengkhawatirkan… ada laporan bahwa kelompok penanam kopi ilegal itu mulai menebas hutan lindung di lereng gunung untuk membuka lahan baru, mengaku bekerja sama dengan perusahaan kita.”

Berita itu bagaikan percikan api yang menyadarkan mereka: kemenangan masa lalu bukan berarti perjuangan sudah selesai. Justru saat nama semakin besar, saat pengaruh semakin luas, tantangannya pun berubah wujud—tidak lagi berupa dendam pribadi atau tawaran uang besar, melainkan ancaman yang merusak akar itu sendiri: alam dan kepercayaan masyarakat.

Lala yang sejak tadi diam mendengarkan tiba-tiba angkat bicara. “Ayah, Ibu… bolehkah aku ikut turun langsung ke lapangan akhir pekan ini? Aku ingin melihat sendiri lahan yang mereka katakan itu. Kalau ini soal menjaga tanaman Nenek Buyut, aku tidak mau hanya tahu dari laporan di atas kertas.”

Bagas yang duduk di sampingnya mengangguk mantap. “Aku juga mau. Aku mau catat jenis tanahnya, bandingkan dengan catatan lama Nenek Wulan. Mungkin ada cara supaya pohon-pohon itu tetap tumbuh sehat meski cuaca makin panas.”

Agung dan Larasati saling berpandangan. Mereka melihat pada kedua anaknya bukan sekadar darah daging mereka sendiri, melainkan benih yang siap tumbuh menjadi pelindung baru bagi warisan besar ini.

“Baiklah,” ujar Agung perlahan namun tegas. “Tapi kalian harus janji: apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama. Seperti yang selalu kita lakukan. Dan ingat—kekuatan kita bukan pada gedung atau uang, tapi pada akar yang kita tanam bersama seluruh masyarakat.”

Malam itu, kembali di rumah tua keluarga, Lala duduk sendirian di kebun melati, memegang kalung liontin bunga melati peninggalan Bu Wulan yang baru saja diberikan Ibu kepadanya. Cahaya bulan menyinari wajahnya yang masih muda namun penuh tekad. Ia berjanji dalam hati: apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan usaha puluhan tahun leluhurnya runtuh oleh keserakahan atau kelalaian.

Dan tak jauh dari sana, Bagas sedang sibuk menyusun peta perkebunan di atas kertas besar, berusaha mencari pola baru yang lebih ramah lingkungan, lebih tangguh menghadapi perubahan zaman.

Musim baru telah tiba. Musim di mana generasi muda mulai melangkah maju, membawa nilai-nilai lama dengan cara yang baru. Musim yang akan menguji apakah akar yang sudah tertanam kuat mampu menahan badai yang berbeda dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!