Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bayangan di Bawah Terik Padang Pasir
Panas terik menyengat ubun-ubun begitu kelompok Erebus keluar dari gerbang barat Nanohana, meninggalkan kekacauan akibat sambaran petir Enel yang masih menyisakan kepanikan di antara para perwira Angkatan Laut dan warga sipil. Pasir gurun Alabasta membentang luas sejauh mata memandang, berkilauan diterpa cahaya matahari yang memantul keemasan. Garis horison bergetar oleh fatamorgana, menciptakan ilusi lautan air di tengah hamparan tandus yang mematikan.
Putri Vivi (Miss Wednesday) menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Napasnya mulai tersengal-sengal. Meskipun ia adalah penduduk asli Alabasta, berjalan kaki menembus gurun tanpa persiapan logistik yang matang adalah hal yang melelahkan, bahkan untuk seorang bangsawan.
"T-Tuan Muzan..." Vivi bersuara parau, mencoba mengimbangi langkah tegap remaja berjubah hitam di depannya. "Jika kita berjalan kaki menuju Yuba atau langsung ke Rainbase, kita bisa dehidrasi sebelum separuh jalan. Gurun ini tidak kenal ampun pada orang asing."
Muzan Kibutsi tidak menghentikan langkahnya. Di balik tudung jubahnya, ekspresinya tetap dingin dan terukur. Fisiknya yang telah ditempa hingga melewati angka 100 poin membuat keringat bahkan tidak menetes dari pelipisnya; ia bisa mengatur suhu tubuh dan efisiensi metabolisme selulernya dengan presisi mutlak.
"Kita tidak akan berjalan kaki selamanya, Tuan Putri," jawab Muzan datar. "Anggap saja pelintas pasir ini sebagai pemanasan. Di dunia ini, kelemahan fisik adalah komoditas paling mahal yang tidak bisa dibeli dengan uang."
Roy Mustang, yang berjalan di sisi kanannya, merapikan sarung tangan putihnya sambil melirik ke arah gurun lepas. "Lagi pula, Tuan Putri, kita tidak perlu khawatir soal transportasi darat. Lihat ke sana."
Mustang menunjuk ke arah gundukan bukit pasir di sebelah barat daya. Dari balik badai debu kecil, sesosok makhluk raksasa berkaki empat dengan dua punuk besar di punggungnya muncul berjalan sempoyongan. Eyelash—si Super Spot-billed Duck (bebek super raksasa) peliharaan yang ceriwis dan sok tahu—tengah membawa tumpukan keranjang perbekalan kecil, berlari ketakutan menjauhi arah Nanohana seolah tahu ada monster yang mengamuk di kota pelabuhan itu.
"Ah... Eyelash?!" seru Vivi terkejut sekaligus lega, melambaikan tangannya. "Hei! Ke mari!"
Bebek raksasa itu berhenti, menoleh ke arah Vivi, lalu mengeluarkan suara ringkikan aneh sebelum berlari mendekat.
Muzan menghentikan langkahnya. Ia menatap bebek setinggi dua meter itu dengan penilaian dingin. "Tepat waktu. Pemanfaatan sumber daya alam yang efisien."
Tanpa membuang waktu, mereka menaikkan perbekalan dan mendudukkan Vivi serta Mr. 9 di punggung Eyelash, sementara kelompok Erebus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di sampingnya. Kecepatan gerak mereka disesuaikan dengan langkah kaki super Muzan dan Mustang, membuat sang bebek super harus berlari kecil untuk mengimbangi mereka.
Namun, di tengah perjalanan melintasi padang pasir yang sunyi, keheningan itu mendadak pecah oleh getaran halus di dalam tanah.
Getar... getar... getar...
Enel, yang sejak tadi melayang beberapa meter di atas kepala mereka dengan mata tertutup, tiba-tiba membuka kelopak matanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis.
"Yahahahaha... Rupanya kita punya penyusup dari bawah tanah, Pencipta," suara Enel menggema langsung di benak Muzan. "Seekor hewan pengerat yang membawa pisau dan senapan, ditemani oleh seorang wanita berpakaian koboi yang bau keringat dan mesiu."
Muzan mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada rombongan untuk berhenti.
"Turun dari bebek itu, Vivi," perintah Muzan tenang.
Sebelum Vivi sempat bertanya, pasir di depan mereka meledak ke udara.
BOOOM!
Hamburan pasir emas menutupi pandangan sesaat. Dari dalam kawah galian tersebut, dua sosok melompat keluar dengan gerakan akrobatik yang terlatih.
Pria bertubuh gempal dengan cakar besi besar di kedua tangannya—Mr. 4—mendarat dengan suara debuman keras, sementara partnernya, seorang wanita berambut ungu pendek dengan pakaian minim bergaya koboi dan kacamata hitam—Miss Merry Christmas—muncul dari dalam pasir dengan wujud setengah Moles-Moles Fruit (Buah Mol-Mol), hidungnya berubah menjadi moncong tikus tanah yang panjang.
"Kikikiki! Mau ke mana kalian, Putri pengkhianat?!" seringai Miss Merry Christmas, menggali tanah di sekitarnya dengan cepat menggunakan cakar cakarnya. "Bos besar sudah tahu semuanya! Kalian tidak akan pernah bisa keluar hidup-hidup dari gurun Alabasta!"
Mr. 4 di belakangnya mendengus, menarik senapan bisbol raksasa miliknya, sementara bola bisbol peledak yang diselimuti oleh hidung anjing peliharaannya (Lassoo yang memakan Buah Iblis) bersiap untuk dilontarkan.
Vivi menjerit tertahan. "Mr. 4 dan Miss Merry Christmas! Agen elit Baroque Works!"
Roy Mustang menghela napas pendek, mengeluarkan suara decakan lidah yang menyiratkan kebosanan. "Agen kelas bawah terus berdatangan seperti kecoa di dapur yang kotor. Apakah organisasi ini tidak memiliki manajemen sumber daya manusia yang layak?"
Muzan Kibutsi melangkah maju melewati Mustang. Matanya menatap tajam ke arah kedua agen elit tersebut. Tidak ada ekspresi di wajahnya, hanya kalkulasi dingin seorang dalang yang sedang menghitung nilai buronan.
"Urus mereka dengan cepat, Mustang," perintah Muzan. "Kita tidak punya waktu meladeni badut-badut pasir ini."
"Serahkan pada saya, Tuan," jawab Mustang, merapatkan sarung tangannya.
Sebelum Miss Merry Christmas sempat menyelam kembali ke dalam pasir untuk melancarkan serangan kejutan, Mustang telah mengangkat tangan kanannya.
SNAP!
Percikan api alkimia menyambar. Suara ledakan termobarik mengguncang padang pasir, menciptakan gelombang panas yang langsung memanggang kelembapan di sekitar area tersebut dan mengirimkan kedua agen elit Baroque Works itu terpental jauh ke belakang dalam keadaan hangus dan pingsan tak berdaya.
Muzan melangkah melewati tubuh mereka yang tak sadarkan diri. Tangannya melayang di udara, memanggil sistem penyimpanan.
"Sistem, masukkan Mr. 4 dan Miss Merry Christmas ke dalam Stasis Inventory," perintah Muzan dalam hati.
Seberkas cahaya keemasan menyapu kedua tubuh agen tersebut, melenyapkannya dari permukaan gurun pasir.
Panel sistem holografik berkedip lembut di sudut pandang Muzan, melaporkan pembaruan logistik.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
STATUS SISTEM
Nama : Muzan Kibutsi
Belly : 29.369.850 Belly
Level Sistem : Tier 1 (Optimized)
Puppet :
Giyu Tomioka (Tersimpan / Siap Rotasi)
Zenitsu Agatsuma (Tersimpan / Siap Rotasi)
Neji Hyuga (Tersimpan / Siap Rotasi)
Roy Mustang (Aktif / Independen Command)
Gaara (Tersimpan / Siap Rotasi)
Uchiha Itachi (Tersimpan / Siap Rotasi)
Enel (Aktif / Udara)
Mission :
[Saga: Alabasta - Intervensi Baroque Works & Runtuhnya Kekuasaan Crocodile] (Aktif)
Achievement :
[Bertahan dari Puncak Dunia]
[Pembersih Nanohana]
Inventory :
Daging Panggang Raksasa (Kosong - Telah digunakan)
Eternal Pose Alabasta
Stasis: Mr. 4 & Miss Merry Christmas
Shop :
[Shop Standar] (Terbuka)
[Shop: Black Market Tier 1] (Terbuka)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Muzan menutup panel sistemnya saat ia merasakan angin gurun berembus semakin kencang, membawa aroma kematian dari kejauhan. Perjalanan menuju Rainbase baru saja dimulai, dan sang Shichibukai di ujung sana pasti sedang menunggu dengan cakar yang terbuka lebar.
Di bawah terik matahari Alabasta, bayangan Erebus semakin mendekati takhta pasir Crocodile.