NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#35

Pendar fajar berwarna abu-abu pucat baru saja merayap menembus celah-celah gedung pencakar langit Los Angeles. Jam di dasbor mobil sport hitam milik Braxton menunjukkan pukul lima pagi lewat sedikit ketika ia memarkirkan kendaraannya di garis privat Penthouse.

Sepanjang malam yang dingin di Mansion Valerio-Desmon, Braxton sama sekali tidak sanggup memejamkan mata.

Rasa bersalah, rindu yang membakar, serta ketakutan akan kehilangan menghantuinya tanpa ampun.

Bayangan air mata Lux dan jeritannya di garasi semalam berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan siksaan abadi.

Itulah mengapa, tanpa menunggu matahari terbit sepenuhnya, Braxton memilih memacu mobilnya kembali ke Penthouse—siap berlutut, membuang seluruh gengsinya, dan memohon ampun di hadapan sang istri.

Braxton menempelkan kartu aksesnya pada pintu utama.

Klek.

Pintu kayu mahoni itu bergeser terbuka. Braxton melangkah masuk dengan jantung berdebar kencang, menggenggam seikat bunga mawar putih segar yang sempat dibelinya di toko bunga dua puluh empat jam di perjalanan.

"Lux... Sayang?" panggil Braxton dengan suara rendah yang sedikit parau, memadukan kelembutan dan nada penyesalan yang murni.

Keheningan yang dingin dan mati menyambut panggilannya. Tidak ada aroma parfum vanila khas Lux yang biasa menyeruak di ruang tengah. Tidak ada ketukan langkah kaki anggun yang datang menyambutnya dengan tatapan galak.

Kening Braxton berkerut rapat. Ia melangkah cepat menuju kamar tidur utama. "Lux? Aku pulang, Sayang... Maafkan aku soal semalam—"

Langkah Braxton terhenti mendadak di ambang pintu kamar.

Kamar tidur berukuran besar itu tampak begitu rapi, kaku, dan terasa dingin—seakan-akan tidak tersentuh atau dihuni sepanjang malam.

Sprei sutra di atas tempat tidur king-size mereka tertata licin tanpa kerutan sedikit pun. Bantal yang biasa diusap istrinya masih berada di posisinya, utuh dan tak berbekas.

Braxton memeriksa kamar mandi utama, ruang Seni Lux, hingga balkon privat. Semuanya kosong.

Seketika itu juga, kepanikan dingin yang amat pekat menghantam dada Braxton bagaikan godam berat. Napasnya mendadak sesak.

"Oh, shit!" umpat Braxton serak, meremas rambut hitamnya secara kasar.

Pikiran buruk seketika menguasai otaknya. Jika Lux tidak berada di Penthouse semalam setelah ia tinggalkan, hanya ada satu tempat yang mungkin dituju oleh wanita seanggun dan sesombong istrinya: Kediaman utama keluarga besar Victoria. Lux pasti pulang ke rumah orang tuanya untuk mengadukan pertengkaran hebat mereka semalam.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Braxton membalikkan tubuhnya tegap-tegap. Ia melempar buket bunga mawar itu ke atas meja dapur dan bergegas melangkah lebar menuju pintu keluar, berniat memacu mobilnya ke Mansion Victoria untuk menjemput istrinya dan memperbaiki segalanya.

Namun, tepat saat jemari Braxton menyentuh gagang pintu utama—

Dering ponsel pintarnya memecah keheningan Penthouse dengan getaran yang amat nyaring.

Braxton merogoh saku jasnya dengan terburu-buru. Di layar sentuh itu, tertera nama kontak yang membuat dadanya makin berdebar kencang: TUAN MARCUS VICTORIA—ayah mertuanya.

Braxton menarik napas panjang, mencoba menetralkan nada suaranya sebelum menggeser ikon hijau.

"Selamat pagi, Dad. Maafkan aku, Lux—"

"Aku sudah membatalkan pernikahanmu dengan putriku."

Suara dingin, berat, dan tanpa emosi dari Tuan Marcus Victoria memotong kalimat Braxton secara brutal dari seberang telepon.

Braxton membeku kaku di ambang pintu. Darah di seluruh tubuhnya serasa mendadak berhenti mengalir. "D-Dad... apa maksudmu? Apa yang—"

"Hari ini, detik ini, aku—Marcus Victoria, ayah dari putriku Lux Victoria—membebaskan mu dari semua beban yang berkaitan dengan Lux, putriku," potong Marcus dengan penekanan kata yang teramat kaku, seolah-olah sedang membaca sebuah memorandum perpisahan yang dingin. "Maafkan atas sikapnya selama dua bulan terakhir pernikahan kalian."

Kepanikan di dada Braxton meledak menjadi rasa takut yang membakar. "Dad! Aku tidak bermaksud untuk—"

Tut... Tut... Tut...

Sambungan telepon terputus secara sepihak.

Braxton terpaku dengan ponsel yang masih menempel kaku di earphone-nya. Dunianya seketika hancur berkeping-keping di bawah pendar fajar yang remang.

Di dalam otaknya yang tersulut guncangan emosi dan rasa lelah luar biasa, logika Braxton tersumbat sepenuhnya.

Pria itu menyimpulkan perkataan tegas ayah mertuanya sebagai titah langsung dari Lux sendiri.

Bagi Braxton, Marcus Victoria hanya menyuarakan keputusan dingin sang putri—bahwa Lux telah menyerah, bahwa Lux telah mengakhiri hubungan mereka, dan bahwa Lux menganggap pertengkaran semalam sebagai alasan absolut untuk membuang pernikahan mereka yang baru berjalan beberapa minggu.

Braxton mendongakkan kepalanya ke langit-langit Penthouse, menahan air mata kekecewaan dan rasa terluka yang merembas kencang di sudut mata cokelatnya.

Tawa pahit yang kering dan menyakitkan lolos dari tenggorokannya.

"Masalah sepele seperti ini... dan kau langsung ingin bercerai, Lux?" bisik Braxton serak, suaranya bergetar oleh kepahitan jiwa yang tak terukur. "Hahaha... Luar biasa..."

BRAAAK!

Braxton melempar ponselnya ke dinding marmer hingga pecah berantakan.

Amarah, rasa terhina, dan rasa sakit batin yang meluap-luap meledak dalam satu ketegangan liar.

Pria yang telah mengorbankan seluruh ego dan hatinya selama dua bulan terakhir untuk mencintai dan mengabdi pada Lux kini merasa dipermainkan secara tragis.

"Kau benar-benar menganggap pernikahan kita lelucon murahan, Lux!" jerit Braxton histeris, suaranya membahana memecah keheningan Penthouse.

BRAAAK!

BUGH!

BUGH!

Braxton mengamuk liar di ruang tengah. Ia menyapu vas guci antik berharga ratusan ribu dolar di samping lorong hingga hancur berkeping-keping di atas lantai.

Pria itu melayangkan tinjunya berturut-turut ke pintu kayu mahoni dengan penuh daya gempur, tidak peduli pada buku-buku jarinya yang pecah dan mengeluarkan darah segar yang menetes membasahi lantai.

Seluruh ingatan tentang masa-masa dua bulan terakhir berputar bagaikan kaset rusak di kepala Braxton. Ia teringat bagaimana Lux selalu melontarkan kata 'cerai' setiap hari sebelumnya, bagaimana sikap galak dan dingin istrinya selalu dipendamnya dengan sabar, dan bagaimana puncaknya semalam Lux menyebut pernikahan mereka hanyalah "kesalahpahaman medis" yang disesali.

"Baik... Jika itu yang kau mau!" teriak Braxton dengan napas memburu hebat, air mata amarah akhirnya menetes membasahi wajah tampannya yang tercoreng noda darah dari tangannya sendiri. "Aku bahkan tidak akan lagi merendahkan harga diriku di hadapanmu, Lux! Aku terima keputusanmu!"

ARGGGH!

BRAKKK!

Braxton menendang meja kaca di sebelahnya hingga hancur berantakan, meluapkan seluruh gumpalan rasa sakit, cinta yang terkhianati, dan kekecewaan mendalam atas pernikahan yang ia sangka akan abadi—tanpa pernah menyadari sedikit pun bahwa pada detik yang sama, di dalam ruang perawatan intensif rumah sakit kota, tubuh wanita yang dituduhnya itu sedang bertarung nyawa dalam keheningan koma yang abadi.

Napas Braxton memburu di tengah puing-puing kaca yang berserakan di lantai Penthouse.

Tangannya berdarah, tetapi rasa sakit di jemarinya sama sekali tak sebanding dengan kehancuran di dalam dadanya. Pria itu menyandarkan punggungnya di dinding dingin, lalu perlahan merosot duduk di atas lantai dengan wajah tertutup kedua telapak tangannya.

Ia merasa begitu bodoh karena telah menyerahkan seluruh hatinya pada wanita yang dengan mudahnya membuang komitmen mereka.

Dalam kegelapan amarah dan rasa terhina, Braxton bersumpah tidak akan pernah lagi memohon atau melangkah mendekati kehidupan Lux Victoria.

Namun, di balik kebisuan Penthouse yang hancur itu, Braxton sama sekali tidak tahu bahwa keputusan dingin keluarga Victoria bukanlah bentuk penolakan atas dasar benci.

Marcus Victoria mengucapkan kalimat pembatalan itu sambil berdiri di balik kaca ruang ICU—menatap tubuh putri tunggalnya yang kaku, dibantu mesin, dan berjuang melintasi garis tipis antara hidup dan mati.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!