"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
"Mmph... lepas... Leon!" lenguh Elena tertahan di sela-sela ciuman pa-nas itu.
Kedua tangannya memukul-mukul dada bidang pria di hadapannya, namun tenaganya seolah menguap tak bersisa. Bukannya melepaskan, Leonard justru semakin merapatkan tubuh mereka ke dinding dingin ruangan itu.
Tangan kekar Leon merayap turun, meraba sisi pa-ha Elena yang terekspos karena belahan gaunnya. Jari-jari panjang itu menyusup naik dengan perlahan, mengusap kulit mulusnya dengan begitu lembut.
Sensasi menggelitik sekaligus panas itu sukses membuat napas Elena tercekat dan tubuhnya menegang salah tingkah.
Leon perlahan melepaskan tautan bibir mereka. Ia menempelkan dahinya pada dahi Elena yang terengah-engah, menatap tepat ke manik mata wanita itu dengan tatapan mengintimidasi.
"Apa kamu wanita tujuh tahun yang lalu itu?" tanya Leon lirih, suaranya yang serak dan berat, mengalun tepat di samping telinga Elena.
Elena menelan ludah kasar. Jantungnya berdebar gila-gilaan memukul tulang rusuknya.
"Mati aku! Haruskah aku menjawab iya? Tapi kalau aku mengaku sekarang, sandiwaraku dengan kakek Xander dan nenek Naomi akan gagal total!" batinnya menjerit.
"Bukan!" seru Elena cepat, berusaha keras memalingkan wajahnya yang merona merah.
Leon mendengus pelan, sebuah seringai tipis tercetak di bibirnya.
"Benarkah?" bisik Leon. Ia kembali mendekatkan wajahnya, menghirup aroma manis dari perpotongan leher Elena. "Lalu kenapa tubuhmu bereaksi seperti lain? Kamu lupa dengan sentuhan ini? Harus kuingatkan, Elena? Kamu adalah satu-satunya wanita yang tak membuat kulitku ruam alergi selain ibuku."
Leon kemudian menggigit kecil daun telinga Elena, membuat wanita itu memejamkan mata menahan desiran aneh di perutnya.
"Sialan! Kenapa dia terus bicara ngawur seperti ini sih?! Mana wajahnya tampan sekali, wanginya maskulin, badannya sempurna! Aku benar-benar sedang diuji habis-habisan!" gumamnya dalam hati.
Sadar dirinya akan segera luluh jika dibiarkan, Elena mengumpulkan sisa kewarasannya.
Ia menatap nyalang tepat ke mata tajam Leon, memutuskan untuk melempar kebohongan tergila yang terlintas di otaknya.
"Aku ini istri kedua kakekmu! Dan Noah adalah putra kandungnya!" sungut Elena dengan suara lantang.
Seketika, gerakan tangan Leon di paha Elena terhenti total. Tubuh pria itu membeku. Sorot matanya yang tadi penuh gai-rah kini berubah dipenuhi kebingungan tingkat dewa.
Leon menatap wajah Elena yang sudah berantakan dengan napas tertahan.
"Apa kamu bilang? Istri kedua?" ulang Leon, memastikan telinganya tidak salah dengar.
"Ya!" dusta Elena mantap, meski kakinya gemetar. "Malam itu aku melakukannya dengan kakek-kakek! Bukan dengan pria muda nan tampan sepertimu! Dan kakek Xander adalah pria malam itu! Makanya dia membawaku ke rumah ini sebagai bentuk tanggung jawab!"
Seketika, wajah Leon berubah merah padam. Urat-urat di pelipisnya menonjol, tangannya terkepal sangat erat hingga buku-bukunya memutih, dan rahangnya mengeras sempurna.
Cemburu, amarah, dan rasa tak percaya melebur jadi satu, menghantam harga dirinya telak.
"Apa-apaan wanita ini?! Malam itu yang mengenakan topeng silikon adalah aku! Aku yang bersamanya! Bagaimana bisa wanita bodoh ini salah mengenali orang dan mengira tubuh kekarku ini milik kakek-kakek peot?! Dan yang lebih gila lagi, kenapa kakek malah mengaku-ngaku sebagai pria malam itu?! Wah, Kakek benar-benar cari mati! Beraninya dia mengklaim wanitaku dan benihku sendiri!" batin Leon meledak, menahan amarah yang mendidih sampai ke ubun-ubun.
Memanfaatkan Leon yang masih loading memproses kenyataan absurd tersebut, Elena mendorong dada pria itu sekuat tenaga.
Pegangan Leon pun terlepas.
Elena buru-buru merapikan gaunnya yang sedikit tersingkap dan mengusap bibirnya.
"Tolong jaga batasanmu, Tuan Leonard! Panggil aku nenek tiri mulai sekarang!" cetusnya ketus, lalu berbalik dan berlari keluar ruangan secepat kilat.
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Leonard yang masih diam mematung sendirian di tengah ruangan. Kepalanya pening. Ia benar-benar cemburu buta pada kakeknya sendiri!
Dengan napas memburu, Leonard merogoh saku jasnya dengan kasar dan meraih ponselnya. Ia mencari kontak asisten kepercayaannya dan langsung meneleponnya.
Begitu panggilan terhubung, ia meledak.
"Joni! Hubungi pembuat topeng silikon itu sekarang juga!" titah Leon dengan suara menggelegar bak singa kelaparan.
"Aku tidak peduli bagaimana caranya, aku mau topeng wajah asliku yang dulu itu tiba di tanganku secepat mungkin! Kalau tidak, aku akan meratakan lab mereka sengan tanah."
Tut! Leon memutus sambungan telepon itu secara sepihak. Matanya menyalang menatap pintu tempat Elena menghilang.
"Lihat saja nanti, nenek tiri. Akan kubuat kamu sadar siapa kakek-kakek yang membuatmu tak bisa berjalan keesokan paginya malam itu!" gumam Leon sembari mengusap bibirnya sendiri, dimana lipstik merah milik Elana menempel di sana.
*
*
Elena melangkah ke ruang makan dengan napas yang masih sedikit memburu, lipstiknya sedikit berantakan, dan wajahnya merona merah padam seperti tomat rebus.
Melihat ibunya kembali, Noah yang sedang duduk di sofa langsung melompat turun. Wajah mungilnya seketika berubah garang.
Dengan gaya sok jagoan, bocah itu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku.
"Mama kenapa lama sekali? Apa yang paman Singa itu lakukan pada Mama di dalam sana?!" cecar Noah dengan nada tinggi, matanya menatap tajam ke arah lorong seolah ingin menerkam Leon saat itu juga.
"Biar aku yang ke sana dan memberinya pelajaran!"
Elena tidak menjawab. Wanita itu justru berjongkok dan memeluk tubuh mungil putranya erat-erat. Jantung Elena masih berdebar tak karuan. Dulu, ia bertekad mati-matian ingin kabur dan bersembunyi dari pria tua malam itu.
Namun sekarang, setelah melihat wajah asli Leon dan merasakan sentuhan bibirnya yang memabukkan, pertahanan Elena rasanya runtuh seketika. Apalagi saat menyadari pria itu ternyata sama sekali tidak tua, melainkan sangat tampan, gagah, dan beraroma maskulin yang menggoda iman!
"Mama kenapa? Kok mukanya merah dan napasnya ngos-ngosan begitu?" panggil Noah heran, menepuk-nepuk punggung ibunya dengan lembut.
Elena melerai pelukannya. Ia menatap lekat manik mata putranya yang benar-benar replika sempurna dari mata tajam Leon.
"Noah, Mama baru tahu sesuatu. Ternyata, paman Singa yang pemarah itu... dia papa kamu, Sayang. Dia papa kandungmu."
Bukannya terkejut hingga menangis terharu, bocah enam tahun itu justru memutar bola matanya malas.
"Cih. Aku sudah tahu."
Elena mengerjap bingung, menatap putranya tak percaya.
"Sudah tahu? Lalu kenapa reaksi kamu datar begitu? Kamu tidak bahagia seperti anak-anak lain di luar sana saat akhirnya bertemu papanya?"
Noah mendengus angkuh, menyilangkan kedua tangan di depan serigai tipis di bibirnya.