Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan Dimulai
Suasana kebun jagung yang tadinya sepi, kini mulai ramai. Petugas yang menemukan jasad Nilan langsung menghubungi satuan reskrim.
Dalam waktu singkat kesunyian di pagi hari itu pecah dengan bunyi raungan sirine. Mobil patroli, ambulans dan tim forensik terparkir di jalan dekat kebun jagung. Warga yang tengah melintas pun dibuat penasaran.
Kabar penemuan mayat di kebun jagung langsung menyebar ke seluruh desa. Warga pun mulai berdatangan. Namun mereka dilarang mendekati lokasi. Khawatir akan merusak TKP karena penyelidikan masih berjalan.
Gilang masih belum bisa pergi. Pemuda itu ditahan oleh dua petugas tadi.
“Bagaimana kamu tahu kalau ada mayat di sini?” tanya sang petugas lagi.
“Kan saya sudah bilang, Pak. Arwah Nilan yang bilang sama saya.”
“Kamu jangan main-main, ya! Bisa saja kamu menggunakan alibi itu untuk menutupi kejahatanmu sendiri.”
“Bapak nuduh saya yang bunuh Nilan?” tanya Gilang dengan ekspresi terkejut. Niatnya ingin membantu arwah Nilan untuk menemukan jasadnya, justru sekarang dirinya yang dicurigai.
“Karena hanya itu penjelasan yang masuk akal. Hanya kamu yang tahu di mana mayat Nilan. Kamu juga mengatakan kalau dia dibunuh pada malam hari.”
“Coba Bapak lihat muka saya. Apa muka saya mirip pembunuh? Nggak mungkin saya yang ganteng dan soleh ini jadi pembunuh, Pak. Tega-teganya Bapak nuduh saya sebagai pembunuh Nilan. Apa Bapak punya bukti?”
“Kalaupun kamu bukan pembunuhnya, bisa jadi kamu adalah kaki tangannya. Kamu terbukti bersalah atau tidak, nanti akan diputuskan setelah penyidikan.”
“Ngapain saya harus menjalani penyidikan. Saya nggak salah. Saya aja nggak kenal Nilan. Apa motif saya bunuh dia?
Saya tahu jasadnya di sini karena dia sendiri yang datang ke sana dan minta dibantu menemukan jasadnya. Harusnya Bapak berterima kasih sama saya, bukannya nuduh saya,” sewot Gilang.
Sang petugas mengorek telinganya yang terasa pengang mendengar ocehan Gilang yang tanpa jeda.
Perlahan ketakutan mulai merayapi hati Gilang.
Bagaimana kalau polisi tidak mempercayai perkataannya?
Bagaimana kalau dirinya benar-benar dijadikan tersangka pembunuh Nilan?
“Haaiisshh … sial!” Gilang mengacak-acak rambutnya. Pemuda itu melihat pada Nilan yang sedang berdiri di dekat jasadnya. “Gara-gara nolong elo, gue jadi kena getahnya,” rutuk Gilang.
Bukannya dia tidak bersimpati pada Nilan. Namun keadaannya saat ini juga berada di ujung tanduk. Dia harus bisa membuktikan kalau dirinya bukanlah pembunuh Nilan.
Para warga mulai banyak berkerumun di jalan dekat kebun jagung. Mereka masih bertanya-tanya, mayat siapa yang ada di kebun jagung tersebut.
Dari tengah kerumunan, seorang pria muncul. Mendengar penemuan mayat di kebun jagung, pria itu bergegas menuju ke sana. Sejak semalam istrinya belum pulang ke rumah. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi.
Pria bernama Dadan itu hendak masuk ke kebun jagung untuk melihat mayat di sana. Namun dia segera ditahan oleh tiga petugas yang berjaga di jalan masuk menuju kebun.
“Tolong ijinkan saya masuk, Pak. Saya mau lihat siapa mayatnya,” mohon Dadan.
“Polisi dan petugas forensik masih melakukan penyelidikan. Harap Bapak bersabar.”
“Saya hanya ingin tahu apa itu istri saya. Dia tidak pulang sejak semalam, Pak.”
“Bapak tetap tidak bisa masuk!”
Ketiga petugas itu tetap menahan Dadan yang memaksa masuk. Salah seorang tetangga Dadan yang berada di sana langsung menenangkan pria itu. Dia mengajak Dadan sedikit menjauh.
“Sabar, Dan. Belum tentu mayat itu istrimu.”
Dadan hanya bisa mengamini dalam hati. Dia juga berharap kalau istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Namun sejak semalam perasaannya tidak enak dan dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
Dari kejauhan tampak sebuah mobil mendekat. Mobil tersebut berhenti beberapa meter dari jalan masuk menuju kebun jagung.
Dari dalamnya keluar dua petugas polisi mengenakan pakaian serba hitam. Di bagian belakang kaos hitam yang mereka kenakan tertera tulisan TURN BACK CRIME.
Petugas bernama Nino dan Asep itu segera menuju TKP.
Nino dan Asep sudah empat tahun bekerja di kepolisian. Keduanya tergabung di Direktorat Reserse Kriminal Umum, Subdit Jatanras atau Kejahatan dan Kekerasan. Mereka berada di tim dua, di bawah pimpinan Miko.
Cukup banyak kasus yang sudah mereka selesaikan. Tentu saja prestasi keduanya tidak luput dari peran Ahqam dan Eris. Kedua makhluk astral itu masih setia mendampingi duo kancing cetet tersebut.
Saking sibuknya menangani kasus, baik Nino dan Asep sampai saat ini masih setia menyandang status jomblo.
Keduanya kalah oleh Ahqam yang sudah memiliki pasangan. Dan pasangannya siapa lagi kalau bukan Eris.
Sesampainya di TKP, tampak petugas forensik tengah melakukan tugasnya. Selain itu, mereka melihat arwah Nilan berdiri di dekat jasadnya. Nino dan Asep mengenakan dulu sarung tangan sebelum mendekati TKP.
Nino berjongkok di dekat mayat Nilan. Dia melihat luka-luka yang ada di tubuh korban. Pakaiannya masih utuh, itu artinya korban bukanlah korban pelecehan seksual.
Kalung dan cincin juga masih berada di tubuhnya, berarti bukan korban perampokan juga.
“Dilihat dari jasadnya, sepertinya baru semalam dia dibunuh,” ujar Nino.
“Ya. Dia juga bukan korban pelecehan seksual dan perampokan”, sahut Asep.
“Dilihat dari luka-luka yang dialami, sepertinya pelaku memiliki dendam pada wanita ini.”
“Dia tidak langsung menghabisinya. Dia menyiksa perempuan ini dengan memukulnya beberapa kali.”
“Apa penyebab kematiannya, dok?” tanya Nino pada dokter forensik yang juga datang ke lokasi.
“Diperkirakan luka di kepalanya. Seperti yang kamu bilang, pelaku memang menyiksanya lebih dulu, seolah sedang melampiaskan kemarahan atau ada dendam di antara mereka.”
“Jam berapa perkiraan kematiannya?” kini Asep yang bertanya.
“Diperkirakan dia dibunuh saat malam hari,” dokter bernama Bagas itu melihat jam di pergelangan tangannya sebentar. “Kurang dari dua belas jam. Tapi akan diketahui pastinya setelah dilakukan autopsi.”
Asep hanya menganggukkan kepalanya. Dia melihat pada Ahqam yang sedari tadi hanya berdiri di dekatnya.
Lewat isyarat mata dia memerintahkan pada jin pendampingnya itu untuk mulai mencari informasi pada teman sejenisnya yang ada di lokasi.
Ahqam mendelik kesal pada Asep. Namun akhirnya jin itu melakukan juga tugas yang diberikan padanya.
Nino mengambil tas Nilan yang tergeletak tak jauh dari jasadnya. Pria itu mengeluarkan isi tas korban, kemudian mengambil dompetnya. Di kartu identitas tertera nama Nilan Sari dan alamat tempat tinggalnya ternyata tidak jauh dari sini.
“Tadi di depan aku sempat mendengar ada pria yang ingin masuk. Dia bilang kalau istrinya tidak pulang semalam. Cepat bawa dia ke sini untuk mengidentifikasi jenazah,” titah Nino pada salah satu petugas.
Tanpa menunggu lama, petugas tersebut langsung mencari pria yang dimaksud Nino.
Sementara Asep yang berdiri di dekat Nilan sudah gatal ingin bertanya. Namun dia menahan diri. Soal kemampuannya dan Nino hanya diketahui Miko saja.
“Siapa yang pertama menemukannya?” tanya Asep pada petugas yang menghubunginya tadi.
“Ada yang melaporkannya, anak itu,” tangan sang petugas menunjuk pada Gilang yang sedang duduk berteduh di dekat pohon pisang. “Dia melaporkan ada mayat di kebun jagung. Dia mengatakan siapa nama korban, kapan korban meninggal. Bahkan dia yang mengantar kami ke sini.”
“Dia bilang tahu dari mana?”
“Katanya arwah korban yang kasih tahu dia. Dasar gila!”
Tidak ada jawaban dari Asep. Pria itu memandangi Gilang yang sedang asyik memainkan ponselnya. Melihat pemuda itu, dia jadi teringat masa di awal-awal mendapat kemampuan melihat makhluk astral.
Sementara itu, Dadan yang diizinkan masuk oleh petugas segera berlari menuju TKP. Begitu jaraknya hanya tinggal beberapa meter lagi, pria itu langsung berteriak kencang. “NILAAAAN!”
***
Siapa ya yang bunuh Nilan?🤔
Jangan lupa klik bintang 5 ya🤗
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/