NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

"Apa menurutmu..."

"...aku hanya membawa masalah?"

Lucas langsung menggeleng.

"Tidak."

"Tapi sejak aku bertemu denganmu..."

"Isabel diculik."

"Patrick mengejarku."

"Kau terluka."

"Perusahaanmu kacau."

"Pengawalmu dimarahi."

"Semua orang di mansion ikut waspada."

Air matanya mulai menggenang.

"Aku merasa..."

"...ke mana pun aku pergi..."

"...orang-orang di sekitarku selalu terluka."

Lucas tetap diam mendengarkan.

Alyssa melanjutkan dengan suara lirih.

"Dulu waktu aku masih tinggal di kampung..."

"Aku sering berpikir..."

"Kalau saja aku tidak ada..."

"...mungkin hidup Isabel lebih tenang."

Lucas mengernyit.

"Kenapa kau berpikir seperti itu?"

Alyssa tersenyum pahit.

"Karena setiap kali ada masalah..."

"Selalu ada orang yang berkata..."

"'Semua gara-gara Alyssa.'"

"'Kalau bukan karena anak itu...'"

"'Kalau saja dia tidak lahir...'"

Suara Alyssa mulai bergetar.

"Aku sudah terlalu sering mendengar kalimat seperti itu."

Lucas mengepalkan tangan tanpa sadar.

"Siapa yang mengatakan itu?"

Alyssa menggeleng.

"Sudahlah."

"Itu masa lalu."

"Tapi sampai sekarang..."

"Aku masih sulit menghilangkannya."

Ia menundukkan kepala.

"Aku takut..."

"Kalau aku terus berada di sini..."

"Kau dan Leonardo juga akan terus berada dalam bahaya."

Lucas memperhatikannya lekat.

Namun entah mengapa...

Hari itu ia merasa sulit berkonsentrasi.

Biasanya Lucas mampu membaca laporan ratusan halaman tanpa kehilangan fokus.

Namun malam ini...

Tatapannya beberapa kali justru berhenti pada wajah Alyssa.

Rambut bergelombang yang terurai.

Sorot mata yang jernih.

Ekspresi gugup yang begitu tulus.

Ia segera memalingkan pandangan.

"Fokus, Lucas."

"Dia sedang berbicara serius."

Namun beberapa detik kemudian...

Tatapannya kembali tanpa sengaja mengarah kepada Alyssa.

Cahaya lampu kamar membuat rambut Alyssa tampak berkilau.

Wajahnya yang masih sedikit pucat justru memberi kesan lembut.

Lucas bahkan tidak menyadari sejak kapan ia berhenti mendengar kalimat Alyssa.

"...jadi menurutmu bagaimana?"

Suara Alyssa membuat Lucas sedikit tersentak.

"Hm?"

Alyssa memiringkan kepala.

"Kau tidak mendengarkan ya?"

Lucas berdeham pelan.

"Aku..."

"...mendengar."

Alyssa menyipitkan mata.

"Benarkah?"

Lucas terdiam beberapa detik.

"Lanjutkan sekali lagi."

Alyssa spontan terkekeh kecil.

"Jadi benar tidak dengar."

Lucas mengusap tengkuknya sendiri.

"Itu..."

"...maaf."

Melihat Lucas yang biasanya selalu tenang kini tampak sedikit canggung membuat Alyssa justru tersenyum.

"Aku baru tahu."

"Ternyata Direktur Laurent juga bisa melamun."

Lucas ikut tersenyum tipis.

"Itu jarang terjadi."

"Berarti aku beruntung bisa melihatnya."

Lucas menggeleng kecil.

"Jangan jadikan itu kebiasaan."

Mereka berdua tertawa pelan.

Suasana yang tadi dipenuhi keresahan berubah sedikit lebih ringan.

Alyssa kembali berkata,

"Aku hanya ingin bilang..."

"Aku tidak ingin menjadi beban."

Lucas kali ini menatapnya dengan sungguh-sungguh.

"Dengarkan aku."

Alyssa mengangguk.

"Semua yang terjadi bukan salahmu."

"Patrick yang memilih jalan itu."

"Ariana yang mengambil keputusan keliru."

"Dan aku..."

Lucas berhenti sejenak.

"Aku membuat pilihanku sendiri."

"Aku melindungimu bukan karena terpaksa."

"Jadi jangan memikul semua kesalahan itu sendirian."

Mata Alyssa mulai berkaca-kaca.

"Terima kasih..."

Lucas tersenyum tipis.

"Kau seharusnya mulai percaya bahwa tidak semua orang akan meninggalkanmu."

Ruangan kembali hening.

Hanya terdengar suara hujan yang mulai mengecil.

Alyssa perlahan mengangguk.

"Baik."

Lucas baru hendak mengatakan sesuatu lagi.

Namun tiba-tiba...

Wajahnya berubah.

Entah kenapa ia merasa seperti mendengar getaran yang tidak biasa dari kejauhan.

"Apa kau dengar sesuatu?"

Alyssa mengerutkan dahi.

"Dengar apa?"

Lucas berdiri perlahan.

Belum sempat ia melangkah ke arah jendela...

DUAAARRRRR!!

Ledakan keras mengguncang seluruh mansion.

Kaca-kaca jendela bergetar hebat.

Lampu di langit-langit berkedip.

Alyssa refleks menutup telinganya.

"Apa itu?!"

Lucas langsung berdiri.

Wajahnya berubah sangat serius.

Detik berikutnya...

WIIIIUUUU...! WIIIIUUUU...!

Alarm darurat mansion meraung nyaring.

Lampu merah berkedip di sepanjang koridor.

Suara otomatis dari sistem keamanan terdengar melalui pengeras suara.

"Peringatan. Peringatan. Terdeteksi ledakan di area luar bangunan."

"Aktifkan prosedur evakuasi tingkat satu."

Lucas langsung meraih ponselnya.

"Adrian!"

Tak ada jawaban.

Ia mencoba lagi.

Masih sunyi.

Pada saat yang sama...

Terdengar suara langkah kaki para pengawal berlari di koridor.

"Tuan!"

"Tetap di dalam!"

"Tidak aman!"

Di kejauhan...

Terdengar teriakan para pelayan.

"Asap!"

"Ada asap di taman timur!"

"Padamkan api!"

Leonardo yang berada di kamarnya ikut berteriak panik.

"Daddy!"

"Nenek!"

"Ada apa?!"

Alyssa berdiri dengan wajah pucat.

"Lucas..."

"Ini ulah Patrick?"

Lucas tidak sempat menjawab.

Tatapannya tertuju ke monitor keamanan yang tiba-tiba menyala sendiri di dinding kamar.

Satu demi satu kamera pengawas mulai kehilangan sinyal.

Layar pertama...

Gelap.

Layar kedua...

Gelap.

Layar ketiga...

Muncul bayangan seseorang berpakaian hitam yang berjalan melewati halaman belakang mansion.

Lalu gambar itu terputus.

Lucas mengepalkan tangannya.

"Mustahil..."

Belum selesai keterkejutannya...

Ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

Hanya satu pesan yang muncul di layar.

"Ledakan itu hanya salam pembuka. Kali ini aku datang mengambil sesuatu yang menjadi milikku."

Lucas membaca kalimat itu dengan tatapan membeku.

Lalu perlahan ia mengangkat kepalanya.

Di luar koridor...

Terdengar suara tembakan pertama.

DOR!

Dan sesaat kemudian...

Seluruh lampu mansion padam.

Kegelapan langsung menyelimuti setiap sudut bangunan.

Kegelapan langsung menyelimuti seluruh Mansion Laurent.

Suara alarm masih meraung tanpa henti.

Lampu-lampu utama padam total, hanya sesekali terlihat percikan listrik dari panel yang rusak.

Di luar...

Suara hujan bercampur dengan teriakan para pengawal.

"Amankan perimeter!"

"Tim Bravo ke sisi timur!"

"Jangan biarkan ada yang masuk ke bangunan utama!"

Di dalam kamar...

Lucas tetap berdiri tegak.

Berbeda dengan semua orang yang mulai panik, napasnya justru terdengar tenang dan teratur.

Pengalaman bertahun-tahun menghadapi situasi darurat membuat pikirannya tetap jernih.

Alyssa menatapnya.

"Lucas..."

"Apa yang harus kita lakukan?"

Lucas tidak langsung menjawab.

Ia lebih dulu memperhatikan arah suara langkah kaki di luar.

Matanya menyapu setiap sudut ruangan.

Kemudian ia berkata dengan nada rendah namun mantap.

"Dengarkan aku."

Alyssa mengangguk.

"Jangan panik."

"Aku..."

"...aku akan berusaha."

Lucas mengangguk tipis.

"Itu sudah cukup."

Saat itu pula...

Pintu kamar diketuk cepat.

"Tuan!"

Suara Adrian terdengar dari luar.

Lucas membuka pintu sedikit.

"Lapor."

"Terdeteksi penyusup di sisi timur."

"Jumlah pasti belum diketahui."

"Tim perimeter sedang menahan mereka."

Lucas berpikir cepat.

"Status keluarga?"

"Nyonya Claire dan Tuan Kecil Leonardo sudah diamankan oleh Tim Delta."

Lucas mengangguk lega.

"Bagus."

Adrian melanjutkan,

"Namun jalur menuju bunker harus segera diamankan."

Lucas menjawab singkat.

"Kita bergerak sekarang."

Ia menoleh kepada Alyssa.

"Mulai saat ini."

"Kau tetap di belakangku."

Alyssa mengangguk pelan.

Lucas berkata lagi,

"Pegang bajuku."

Alyssa sedikit terkejut.

"Hah?"

"Jangan sampai terpisah."

"Di keadaan gelap seperti ini aku tidak ingin kehilangan jejakmu."

Perlahan Alyssa mengulurkan tangan.

Dengan sedikit ragu ia memegang bagian belakang kemeja Lucas.

"Begini?"

Lucas mengangguk.

"Iya."

"Kalau aku berhenti."

"Kau berhenti."

"Kalau aku menunduk."

"Kau ikut menunduk."

"Jangan bergerak sendiri."

Alyssa menarik napas panjang.

"Baik."

Mereka keluar dari kamar.

Koridor yang biasanya terang kini hanya diterangi lampu darurat redup berwarna kemerahan.

Bayangan para pengawal bergerak cepat di setiap persimpangan.

Lucas mengamati keadaan sekitar.

Di ujung lorong, seorang anggota tim keamanan menyerahkan sebuah senjata laras panjang kepada rekan yang berada di posisi depan.

Lucas menghampiri.

"Lapor."

Pengawal itu memberi hormat singkat.

"Tuan, perlengkapan sudah dibagikan sesuai prosedur darurat."

Lucas memeriksa kondisi senjata tersebut secara singkat untuk memastikan semuanya siap digunakan oleh tim yang bertugas.

"Pastikan hanya personel yang berwenang yang membawanya."

"Siap, Tuan."

Alyssa memperhatikan Lucas dengan kagum.

Di tengah situasi yang begitu kacau...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!