Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYESALAN BU SARI
Langkah kaki Alena terasa berat sekali seolah ada beban berat yang mengikat kakinya. alena menggenggam erat amplop gaji beserta surat pemutusan hubungan kerja dari toko kain tempatnya bekerja selama ini. Pikirannya kacau balau, hatinya terasa perih.
Apa yang harus aku lakukan sekarang... Aku tidak punya pekerjaan, tidak punya tempat berteduh yang layak, dan sekarang aku harus membesarkan anakku seorang diri...
Alena mengusap air mata yang mulai menetes di pipinya, lalu berjalan menyusuri trotoar yang sepi. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam sebuah angkot yang sedang melaju pelan tak jauh di belakangnya, ada sepasang mata yang tak lepas menatap sosoknya.
Itu Bu Sari.
Ibu mertuanya yang dulu selalu menindasnya kebetulan sedang pulang dari pasar naik angkot. Saat pandangannya tak sengaja menyapu ke pinggir jalan, matanya langsung terbelalak.
"Itu... itu Alena!" seru Bu Sari kaget, tangannya langsung menepuk bahu sopir angkot dengan kasar. "Pak! Tolong berhenti sebentar! Cepat berhenti!"
"Eh, Ibu ini kenapa? Belum sampai tempat turunnya lho," protes sopir sambil mengerem mendadak hingga penumpang lain ikut terguncang.
"Jangan banyak bicara! Cepat saya mau turun!" Bu Sari langsung membayar ongkosnya, lalu bergegas turun dan berlari kecil mengejar Alena yang berjalan agak jauh di depan.
"Hei! Alena! Tunggu dulu!" teriak Bu Sari sambil melambaikan tangan.
Alena menoleh kaget. Saat melihat siapa yang memanggilnya, langkahnya seakan terpaku di tempat. Ada rasa takut, benci, tapi juga rasa sedih yang bercampur aduk di dadanya.
"Ibu..." gumam Alena pelan.
Bu Sari berdiri di hadapannya dengan napas sedikit terengah-engah. Matanya menatap tajam ke arah tangan Alena yang menyembunyikan sesuatu di balik punggung.
"Kamu jalan sendirian di sini? Kamu mau ke mana?" tanya Bu Sari dengan nada biasa, namun matanya terus mengawasi gerak-gerik Alena.
"Alena cuma lewat saja, Bu," jawab Alena singkat, mencoba mencari alasan untuk segera pergi.
"Jangan berputar-putar!kamu sembunyikan apa di belakang punggungmu itu?" tanya Bu Sari menunjuk tangan Alena.
"Ini bukan apa-apa, Bu. Cuma kertas biasa," jawab Alena sambil mencoba memasukkan kertas itu ke dalam tas kecilnya dengan tergesa-gesa.
Namun sudah terlambat. Saat Alena bergerak cepat, selembar kertas yang tadi diberikan dokter itu terlepas sedikit dari genggamannya. Bu Sari dengan sigap langsung menyambarnya.
"Jangan!" teriak Alena hendak merebut kembali, tapi Bu Sari sudah sempat membacanya sekilas.
Mata Bu Sari membelalak lebar-lebar, wajahnya pucat seketika. Tangannya bergetar hebat memegang selembar kertas hasil pemeriksaan kehamilan itu.
"Kamu... kamu hamil?" tanya Bu Sari dengan suara bergetar, matanya menatap tak percaya ke arah perut Alena yang masih rata, lalu kembali menatap wajah gadis itu.
Alena menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke mata Bu Sari dengan pandangan dingin dan tegas.
"Kenapa Ibu harus tahu? Ini bukan urusan Ibu lagi," jawab Alena ketus.
Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Bu Sari. Hatinya terasa perih sekali. Ada rasa haru yang mendadak muncul, rasa sedih yang menyesakkan dada, rasa kecewa yang tak terlukiskan, dan rasa penyesalan yang begitu dalam menyergap seluruh jiwanya. Ia juga merasa kesal dan marah, bukan pada Alena, tapi pada dirinya sendiri dan pada keadaan yang terjadi.
"Alena... maksud Ibu..." Bu Sari terbata-bata, tak tahu harus berkata apa lagi. Lidahnya terasa kelu.
"Maaf Bu, Alena harus pergi dulu," Alena langsung berbalik dan pergi meninggalkan Bu Sari yang masih terpaku mematung di pinggir jalan dengan kertas itu di tangannya.
Bu Sari hanya bisa diam menatap punggung Alena yang menjauh perlahan. Air mata tiba-tiba menetes di pipi kerutnya.
"Hamil... Alena hamil... Cucu kandungku sendiri..."
Sementara itu di rumah, suasana justru berkebalikan dengan kesedihan yang dirasakan Bu Sari. Siska duduk di ruang tengah dengan santai sekali. Di hadapannya bertumpuk banyak sekali makanan ringan, keripik, kue, dan buah-buahan yang dibeli Hendra pagi tadi.
Ia makan seenaknya, kadang membuang kulit sembarangan di atas meja, kadang memakan sebagian lalu membuangnya lagi jika rasanya tidak pas di lidah.
Dinda lewat dari dapur dan hendak mengambil sepotong pisang yang ada di piring besar.
"Mau apa kamu?" tanya Siska dengan nada tinggi.
"Ini pisang banyak sekali, Dinda mau ambil satu saja," jawab Dinda pelan.
"Jangan! Itu semua milikku! Kalau kamu mau makan beli sendiri sana! Jangan suka mengambil barang orang lain!" bentak Siska sambil menepis tangan Dinda dengan kasar.
"Tapi Kak Siska... Ini kan dibeli Kakak Hendra buat kita semua," protes Dinda menahan sakit di tangannya.
"Kamu bicara apa? Hendra beli itu buat aku! Kalau dia sayang kalian, pasti dia belikan juga untuk kalian. Jangan serakah!" Siska mendengus kasar, lalu mengambil satu bungkus keripik lagi dan membukanya dengan kasar hingga isinya tumpah ke meja.
Dinda hanya bisa menahan tangis dan masuk ke dalam kamar.
Tak lama kemudian Hendra pulang kerja. Ia melihat meja makan penuh dengan sampah makanan dan sisa camilan yang berantakan.
"Siska... Kamu makan apa saja sampai begini?" tanya Hendra lelah.
"Lho, kan aku lapar. Lagian uangmu kan banyak, masa beli makanan sedikit saja pelit?" jawab Siska santai sambil mengunyah permen karet.
"Ini bukan soal pelit atau tidak. Kamu lihat sendiri, banyak makanan yang tidak habis lalu kamu buang begitu saja. Itu namanya boros," tegur Hendra.
"Kamu malah menegur aku? Aku kan sedang mengandung anakmu! Jadi wajar kalau aku sering lapar dan ingin makan ini itu. Kalau kamu tidak mau, nanti aku minta uang saja sama orang lain!" ancam Siska sambil membuang keripik yang masih banyak ke lantai.
Hendra menghela napas panjang, ia tak berdaya menghadapi sifat istri yang semakin hari semakin menjadi-jadi itu.
"Ya sudah... Hendra tidak menegurmu lagi. Tapi tolong kurangi borosnya ya," ucap Hendra pasrah.
"Baru gitu saja sudah banyak omong. Kamu ini memang tidak asik," omel Siska sambil berdiri lalu berjalan ke arah dapur dengan langkah angkuh. Ia mengambil minum dari kulkas, meminumnya setengah lalu meletakkannya begitu saja di meja tanpa menutup rapat.
Tepat saat itu Bu Sari masuk ke rumah dengan wajah yang masih terlihat kacau. Matanya merah sembab, dan langkahnya terlihat lemah.
"Ibu sudah pulang? Dari mana saja Bu?" tanya Hendra menyambut ibunya.
Bu Sari tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam ke arah Siska yang sedang berdiri di dapur sambil memasukkan sepotong daging ke mulutnya dengan santai. Hati Bu Sari rasanya panas sekali. Membayangkan Alena yang dulu selalu menurut, rajin, hemat, dan penuh kasih sayang, lalu membandingkannya dengan Siska yang egois, boros, dan tidak tahu berterima kasih ini, rasa sesal di dadanya semakin menjadi-jadi.
"Ibu kenapa?" tanya Siska ketus melihat tatapan Bu Sari.
Bu Sari hanya diam, lalu berjalan perlahan masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, mengeluarkan selembar kertas yang tadi diambilnya. Ia menatap nama Alena yang tertulis di sana dengan pandangan yang penuh rasa bersalah.
"Maafkan Ibu ya, Nak... Ibu benar-benar menyesal..."