NovelToon NovelToon
Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Legenda Pendekar Mata Pedang Hijau

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:28.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"

Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.

Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.

Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.

Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Langkah Pertama Meninggalkan Lembah

Pagi hari sebelum keberangkatan menuju Kota Lembah Hitam, kabut tebal masih menggantung di pucuk-pucuk pohon bambu.

Aturan Sekte Lembah Bambu Biru menetapkan bahwa setiap murid yang ditugaskan menjalankan misi luar sekte diizinkan memasuki gudang senjata untuk memilih satu bilah pedang baja asli sebagai pengganti pedang kayu latihan mereka.

Gudang senjata sekte itu tidak besar, hanya sebuah ruangan batu berbau minyak pelumas dan besi tua. Penjaga gudang, seorang kakek bungkuk yang setengah tuli, melambaikan tangannya tanpa minat saat Changqing dan Zhou Hao menunjukkan token izin misi mereka.

"Wah! Lihat ini, Changqing!" seru Zhou Hao dengan mata berbinar-binar. Ia langsung berlari menuju rak bagian tengah dan mencabut sebuah pedang dengan sarung bermotif ukiran macan. Saat dicabut, bilahnya memantulkan cahaya perak berkilau. "Pedang Baja Perak! Beratnya pas, tajam sekali! Kalau aku pakai ini di Kota Lembah Hitam, para gadis pasti langsung melirik!"

Changqing hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya. Di usia sembilan belas tahun, wajar jika seorang pemuda masih terobsesi pada penampilan eksternal dan kemilau sebuah senjata.

Namun bagi Changqing—yang pernah memegang Pedang Pusaka Pembelah Langit di masa depan sebelum hancur dalam perang—nilai sebuah senjata tidak terletak pada kilau sarungnya atau hiasan permata di gagangnya. Senjata yang terlalu mencolok di tangan seorang Pendekar Menengah justru merupakan undangan terbuka bagi para perampok jalanan untuk membunuh dan merampasnya.

Changqing berjalan melewati rak-rak pedang berkilau itu, mengabaikannya sepenuhnya. Langkahnya berhenti di sudut paling gelap gudang, di mana sebuah tong kayu berisi pedang-pedang cadangan yang jarang dirawat diletakkan.

Ia mengulurkan tangannya, lalu menarik sebuah pedang bersarung kulit hitam yang sudah memudar dan mengelupas di beberapa bagian.

Sring.

Changqing mencabut pedang itu separuh. Bilahnya terbuat dari besi hitam biasa yang agak kusam. Tidak ada ukiran naga, tidak ada pantulan cahaya silau. Bahkan bagian ketajamannya sedikit kasar karena jarang diasah.

"Astaga, Changqing!" Zhou Hao menghampiri dengan wajah heran. "Kenapa kau pilih rongsokan itu? Di rak sana masih banyak pedang baja mengkilap! Pedang hitammu itu kelihatan seperti pisau pemotong kayu bakar!"

"Justru ini yang terbaik, Hao," jawab Changqing tenang sambil menyarungkan kembali pedangnya dan mengikatkannya di pinggang. "Pedang ini beratnya merata dari gagang sampai ujung. Bilah besinya tebal dan tidak mudah patah kalau berbenturan keras. Lagipula... pedang jelek tidak akan memancing pencuri saat kita tidur di penginapan nanti."

Zhou Hao mendengus sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Dasar aneh. Sejak kau bilang dapet 'pencerahan dari daun bambu', kelakuanmu jadi seperti kakek-kakek umur delapan puluh tahun saja!"

Changqing hanya terkekeh pelan dalam hati. ‘Akankah kau percaya kalau kukatakan usiaku memang sudah lewat delapan puluh tahun, Hao?’

Siang harinya, roda gerobak kuda yang membawa delapan peti pasokan obat-obatan herbal berderit menuruni jalan setapak berbatu meninggalkan gerbang Sekte Lembah Bambu Biru.

Seorang kusir tua bertugas mengemudikan kuda, sementara Changqing dan Zhou Hao berjalan kaki di sisi kiri dan kanan gerobak sebagai pengawal.

Udara di luar lembah terasa berbeda. Ada kebebasan yang luas, namun juga aroma ketegangan yang samar. Jalanan tanah menuju Kota Lembah Hitam cukup ramai dilalui oleh karavan pedagang dan beberapa kelompok pendekar pengelana yang membawa senjata di punggung mereka.

Sepanjang perjalanan, Zhou Hao tidak henti-hentinya berbicara dengan penuh semangat tentang rumor dunia persilatan yang ia dengar dari para pedagang keliling.

"Kau tahu tidak, Changqing?" kata Zhou Hao sambil mengayun-ayunkan rumput kering di mulutnya. "Kudengar bulan lalu, murid utama dari Sekte Pedang Langit berhasil mengalahkan tiga jagoan aliran sesat sendirian! Wah, hebat sekali ya mereka. Kapan kira-kira sekte kecil kita bisa dihormati seperti Sekte Pedang Langit?"

Mendengar nama Sekte Pedang Langit, mata Changqing sedikit menggelap.

Di mata pemuda seperti Zhou Hao, Sekte Pedang Langit adalah simbol keadilan dan kehebatan mutlak. Namun dalam memori Changqing, sekte raksasa itulah tempat berkumpulnya para tetua munafik yang kelak memicu perang besar demi memperebutkan pusaka kuno.

"Kehormatan yang terlalu besar sering kali datang bersamaan dengan badai yang besar pula, Hao," ucap Changqing santai sambil menatap jalanan di depan. "Menjadi sekte kecil yang damai di lembah bambu terkadang jauh lebih beruntung daripada menjadi sekte raksasa yang dikelilingi musuh berbulu domba."

Zhou Hao menatap Changqing dengan dahi berkerut. "Tuh kan! Ngomong mu seperti kakek-kakek lagi!"

Saat mereka sedang bergurau, telinga Changqing—yang kepekaan inderanya berada di tingkat Pendekar Nirwana—menangkap getaran halus dari arah hutan pohon besar sekitar lima ratus meter di depan mereka.

Kring... Kring...

Itu bukan suara angin biasa. Itu adalah suara benturan senjata logam dan hawa membunuh yang samar. Ada pertarungan yang sedang terjadi di dekat jalur masuk Kota Lembah Hitam!

‘Hawa pembunuhan ini... kasar dan penuh bau darah. Ini bukan duel pendekar biasa, ini metode serangan kelompok aliran sesat,’ analisis Changqing dalam sepersekian detik.

Ia segera mempercepat langkahnya sedikit, mensejajari posisi kusir gerobak.

"Paman Kusir, perlambat jalan kudanya. Kita berhenti sejenak di bawah pohon rindang itu untuk memberi minum kuda," instruksikan Changqing dengan nada tenang namun mengandung wibawa yang membuat sang kusir tua tanpa sadar langsung menuruti perintahnya.

"Eh? Kenapa berhenti?" tanya Zhou Hao heran. "Kota Lembah Hitam tinggal dua kilometer lagi di balik bukit depan itu!"

"Kudanya kelelahan, Hao," jawab Changqing sambil mengelus leher kuda penarik gerobak. Matanya menatap tajam ke arah tikungan bukit di depan. ‘Jika ingatan masa laluku tidak salah... komplotan penculik anak-anak dari fraksi Bayangan Gerhana beroperasi di sekitar gerbang Kota Lembah Hitam pada bulan ini.’

Saatnya telah tiba. Baii Ling, Akar Perang ketiga yang di masa depan menjadi iblis pembantai karena diculik dan disiksa oleh aliran sesat, kemungkinan besar sedang berada tak jauh dari balik tikungan bukit itu.

Changqing meraba gagang pedang besi hitam kusam di pinggangnya.

"Di kehidupanku yang dulu, aku terlambat sepuluh tahun untuk menyelamatkanmu dari kegelapan, Baii Ling. Hari ini... takdirmu akan kuubah."

1
baca yg gue suka
dari pahlawan berbalik jd iblis.
mana pemikiran dr kehidupan 80 thn?
hrs kah jd iblis utk membuat kedamaian?
baca yg gue suka
pasukan bayangan gerhana byk yg dibantai, tp kok gak abis2 ya?
msh brp byk lg yg tersisa?
baca yg gue suka
juara turnamen gak dpt apa2?
minimal senjata, sumberdaya atau koin emas gitu? payah
baca yg gue suka
masak petinggi sekte gak ada satupun yg merasakan kedatangan Mo Ya?
Raju
ditunggu cerita serumu Thor...💪💪💪
Celestial Quill: jangan lupa di baca Kaisar Bela Diri Legendaris ya🤭
total 1 replies
Raju
ahir daricsebuah pembantaian
Raju
anak mudanya mati diahir episode.... wkwkwkwwk
baca yg gue suka
sblm mjd kuat, taring hrs disembunyikan rapat2 dulu👍
baca yg gue suka
awal cerita menarik, bahasa gak membosankan.
mudah2an novel bagus
jhoni
drama apa ini, mc nya sangat membagong kan kaga jelas
Raju
ketua sekte pada sinting semua...
keserahakannya sudah berakar ke ubun³.
g bisa mmbedakan mana gertakan mana ancaman nyata...!!
si hantu bayangan cangqiang kmna ni.... g kliatan ??
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Raju
shen yu gadis bodoh....
sama kea bpk nya...
g bsyukur dselamatkan..
malah menggila menganggap org lain iblis...
Raju
pemusnahan di Mulai
Raju
bantai semua ketua aliansi...
sisakan kultivator dan rakyat ta berdosa....
Raju
ahir dri sebuah keputusan...!!
Raju
kesian cangqiang...harua menjadi iblis pembantai demi kedamaian dunia kultivasi...
Celestial Quill
semakin kacau dunia persilatan, pengorbanannya changqing yang di musuhi semua pendekar.
Raju
akan kah dunia kultivasi menjadi damai seperti yg telah dijanjikan cangqiang !!
Raju: atau bakal ada jamur² baru tumbuh, menjilat. penuh hasut, yg bakal mnusuk dri belakang....!!
total 1 replies
Raju
apakah yg akan terjadi ketika cangqiang keluar dari mkn nanti ??
dtingkat apakah kultivasi MC nanti nya ??
apakah akan menjadi dewa. atau iblis haus darah !!
Raju: kita do'akan semoga Author selalu sehat. aamiin.
total 1 replies
Raju
rampok... habiskan semua isi makan kaisar beladiri didalam itu changqiang... jgn sisakan 1 pun...
agar yg serakah hanya bisa menangis darah...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!