NovelToon NovelToon
Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.

Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.

"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.

Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Besok paginya.

Tara menghela napas panjang. Jemarinya masih sibuk menutup kotak bekal milik Mateo dan Alisya, tetapi tatapannya kosong. Seolah masa lalu yang selama ini ia kubur perlahan kembali muncul ke permukaan.

Di meja makan, sarapan telah tertata rapi, saat Maya sudah tiba di apartemen itu. Sementara itu, Mateo dan Alisya yang sudah mengenakan seragam sekolah lengkap malah sibuk memakan roti mereka.

"Ayo cepat, nanti telat sekolah," ujar Maya, masih berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Ndak mau..." Alisya menggeleng keras.

"Aku juga nggak mau," sambung Mateo. "Aku sama Alisya mau lihat Daddy sama Mommy pergi ke kantor catatan sipil buat daftar nikah."

Sendok di tangan Maya nyaris jatuh.

"Apa?! Daftar nikah?!"

Alisya mengangguk polos. "Iya, hari ini Daddy sama Mommy mau daftar pernikahan."

Perlahan Maya mengalihkan pandangannya ke arah Tara yang sedang memasukkan buah ke dalam kotak bekal.

"Tara..."

Wanita itu menoleh.

"Jangan bilang kalau ini benar?"

Tara menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan.

"Iya, memang benar."

Maya mematung beberapa detik.

"Gila! Kamu sudah gila, Tara!" ucapnya setengah berteriak penuh kepanikan.

"Apa kamu tau siapa pria itu?"

Tara hanya diam.

"Itu bukan cuma pemilik De Luca Group! Dia bos besar! Dan..." Maya menurunkan suaranya. "Semua orang tau keluarga De Luca menguasai dunia bawah tanah. Kenzo Roman De Luca itu bos mafia yang kejam!"

Tara tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

"Tapi apa yang bisa ku lakukan?"

Maya menggenggam kedua bahunya.

"Kamu bisa menolak!"

"Aku sudah mencobanya..."

"Lalu?"

"Kontrak kerjaku bahkan di paksa untuk bayar denda kalau aku mengundurkan diri dari sana," Tara berjalan menuju meja makan, lalu duduk perlahan.

"Kalau aku mengundurkan diri sekarang, dendanya tujuh koma delapan miliar."

Maya membelalak, Gila! Uang dari mana sebanyak itu?!" Maya malah tambah syok.

Tara mengangguk, "itu bukan uang yang sedikit."

"Lalu tabunganmu?" Maya kembali bertanya.

"Aku memang punya lebih dari itu."

Maya tampak sedikit lega, "baguslah—"

"Tapi itu tabungan Mateo dan Alisya." Kalimat itu membuat Maya kembali terdiam.

"Itu uang masa depan mereka." Tara menatap kedua anaknya yang sedang bercanda memperebutkan potongan sosis.

"Aku nggak akan mengambil hak mereka." Lanjut Tara sedikit frustrasi.

Maya mengusap wajahnya ikut frustrasi.

"Ya Tuhan..."

Tara kembali berbicara pelan.

"Belum lagi akhir-akhir ini Mateo sedang senang belajar investasi."

Mateo yang mendengar namanya langsung mengangkat kepala.

"Aku beli saham lagi, Mommy."

"Iya, Sayang."

"Aku nanti jadi orang kaya bisa biaya sekolah Alisya. " Ucapan polos itu justru membuat dada Tara terasa sesak.

"Iya..."

Maya menatap Tara dengan iba.

"Lalu, kamu benar-benar menyerah?"

Tara menggeleng, "bukan menyerah."

"Lalu?"

"Aku memilih jalan yang paling sedikit menyakiti anak-anak."

Keheningan kembali memenuhi ruang makan. Beberapa detik kemudian Tara mengangkat wajahnya.

"Dan ada satu alasan lagi."

Maya mengernyit, "apa?"

Tara menatap lurus sahabatnya.

"Tuan Kenzo..." Ia berhenti sejenak.

"Adalah Daddy kandung Mateo dan Alisya."

Ting!

Sendok di tangan Maya terjatuh ke lantai, mata Maya membulat sempurna.

"Apa?!"

Tubuhnya seakan membeku, lalu dia menatap Mateo dan Alisya bergantian. Kemudian kembali menatap Tara. Maya langsung mendekat ke arah Tara yang duduk di meja makan. Membiarkan gelas teh hangat yang sedang diseduhnya.

"Bagaimana bisa?" Suaranya bergetar.

"Selama lebih dari lima tahun kita berteman kenapa aku baru tau sekarang?"

Tara menundukkan kepala.

"Aku juga baru tau kebenarannya,"

"Kenapa?"

"Karena itu adalah insiden yang nggak diharapkan oleh aku ataupun Tuan Kenzo."

Maya benar-benar kehilangan kata-kata.

"Jadi, one night stand yang dulu pernah kau ceritakan sekilas..."

Tara tersenyum pahit, "Pria itu adalah Tuan Kenzo Roman De Luca."

Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Ya Tuhan, berarti..." Ia kembali melihat wajah Mateo, pantas bentuk matanya, cara berbicara dan tatapan dinginnya ketika serius, dan bahkan lesung pipi kecil di pipi kanan, semuanya sangat mirip dengan Kenzo. Kemudian Maya menoleh kepada Alisya. Gadis kecil itu bahkan memiliki senyum yang sama persis seperti Tara perpaduan dengan Kenzo.

Air mata Maya perlahan jatuh.

"Kenapa kamu memikul semuanya sendirian, Tara?"

Tara tersenyum tipis.

"Karena sejak awal aku sudah terbiasa sendirian."

Maya langsung memeluk sahabatnya erat.

"Kamu bodoh,"

Tara membalas pelukan itu sambil memejamkan mata.

"Aku cuma ingin Mateo dan Alisya tumbuh tanpa kehilangan siapa pun."

Di sisi lain meja makan, Mateo memiringkan kepalanya.

"Alisya..."

"Hmm?"

"Kenapa Bibi Maya nangis?"

Alisya mengangkat bahu.

"Mungkin Bibi juga senang Daddy syama Mommy mau menikah."

Mateo mengangguk polos. "Iya ya."

Beberapa menit berlalu, mereka semua selesai sarapan. Mateo dan Alisya sudah siap berangkat ke sekolah dengan di antar oleh Maya sebelum berangkat kerja. Sedangkan, Tara telah membuat janji dengan Digo, asisten Kenzo untuk bertemu di depan gedung catatan sipil pagi ini.

Tepat jam 09.30, pagi.

Halaman kantor catatan sipil masih tampak lengang. Matahari baru saja naik, menyinari pelataran gedung dengan cahaya hangat. Beberapa pasangan terlihat keluar masuk gedung sambil membawa map berisi dokumen, sebagian tersenyum bahagia, sebagian lagi tampak gugup menanti giliran.

Di salah satu sisi pintu masuk, Tara berdiri seorang diri. Dia mengenakan blouse putih sederhana yang dipadukan dengan rok span berwarna krem. Rambut panjangnya diikat rendah, membuat penampilannya terlihat anggun tanpa berusaha berlebihan. Di tangannya terdapat sebuah map cokelat berisi seluruh dokumen yang telah ia siapkan semalam.

Sesekali ia melirik jam tangan dan sudah lewat hampir lima belas menit.

"Semoga mereka tidak membatalkan..." gumamnya pelan. Bukan karena ia berharap pernikahan ini terjadi, tetapi justru sebaliknya.

Di dalam hati, Tara masih berharap akan terjadi sesuatu yang membuat semua ini batal. Namun, ia juga sadar harapan itu terlalu kecil. Tak lama kemudian, suara mesin mobil mewah memecah keheningan. Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pintu kantor catatan sipil. Tatapan beberapa orang langsung tertuju pada kendaraan tersebut.

Pintu depan terbuka lebih dulu.

Digo turun dengan setelan jas abu-abu yang rapi. Seperti biasa, pria itu memasang senyum ramah.

"Pagi, Nona Tara."

"Pagi, Pak Digo."

"Maaf membuat Anda menunggu."

"Tidak masalah."

Digo mengangguk kecil sebelum berbalik membuka pintu belakang mobil.

"Silakan, Tuan."

Sepasang sepatu pantofel hitam menginjak aspal. Beberapa detik kemudian, Kenzo Roman De Luca keluar dari dalam mobil. Jas hitam yang melekat sempurna di tubuh tinggi tegapnya membuat auranya semakin berwibawa. Wajah tampannya tetap datar, tanpa senyum sedikit pun. Tatapan matanya dingin dan tajam seperti biasanya, seolah tidak ada emosi yang mampu mengusik ketenangannya.

Orang-orang di sekitar tanpa sadar menoleh berkali-kali. Sebagian bahkan berbisik pelan.

"Pria itu tampan sekali."

"Seperti model."

"Tapi wajahnya menyeramkan."

"Bukankah, itu Tuan Kenzo Roman De Luca? Pemilik bisnis raksasa di kota ini,"

Kenzo sama sekali tidak memedulikan bisikan itu. Tatapannya langsung berhenti pada sosok wanita yang sudah menunggunya sejak tadi, Tara.

Wanita itu tersenyum kecil, "selamat pagi, Tuan Kenzo."

Kenzo membalas dengan anggukan tipis.

"Pagi." Hanya dengan satu kata.

Namun, bagi Digo yang sudah bekerja bertahun-tahun dengannya, itu sudah termasuk kemajuan besar. Biasanya, atas urusan pribadi seperti ini, Kenzo bahkan tidak akan repot menyapa. Digo menyembunyikan senyumnya, sejak kemarin ada sesuatu yang berubah dalam diri Kenzo.

Kemarin Kenzo melihat Tara tersenyum lepas, malamnya bayangan senyum itu beberapa kali muncul di pikirannya. Anehnya, selama hidupnya, ia bertemu begitu banyak perempuan cantik. Model, artis, putri konglomerat, hingga pewaris perusahaan besar pernah mencoba mendekatinya. Tak satu pun berhasil menarik perhatiannya. Namun, wanita sederhana di depannya, justru membuat pikirannya terusik.

Kenzo mengamatinya diam-diam, 'wanita ini berbeda.' batinnya berpikir sekilas tentang Tara.

Sementara itu, Tara sama sekali tidak menyadari tatapan tersebut. Dia justru membuka map di tangannya.

"Semua dokumen sudah saya siapkan. KTP, kartu keluarga, surat pernyataan, dan berkas lainnya."

Kenzo menerima map itu sekilas, "bagus."

Jawabannya singkat, lagi-lagi hanya satu kata. Tara tersenyum tipis, dia sudah mulai terbiasa dengan sifat dingin pria itu.

"Kalau begitu, kita masuk?"

Kenzo mengangguk pelan. "Iya."

Ketiganya melangkah menuju pintu masuk kantor catatan sipil.

Tiga puluh menit berlalu, seluruh proses administrasi akhirnya selesai. Petugas kantor catatan sipil menyerahkan dokumen terakhir dengan senyum ramah.

"Selamat, seluruh berkas sudah selesai diproses."

"Terima kasih."

Tara menerima sebuah buku nikah berwarna cokelat muda, menatapnya beberapa saat dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Dia tidak pernah membayangkan hari itu akan datang secepat ini.

Di sampingnya, Kenzo juga menerima buku nikah miliknya. Wajah pria itu tetap datar, seolah baru saja menyelesaikan rapat bisnis, bukan mendaftarkan pernikahan. Mereka bertiga kemudian melangkah keluar dari gedung. Udara pagi terasa lebih hangat dibandingkan saat mereka datang.

Tara membuka tas tangannya, lalu menyimpan buku nikah itu dengan hati-hati. Sementara itu Kenzo bahkan tidak melihatnya lebih dari satu detik. Ia langsung menyerahkan buku nikah tersebut kepada Digo.

"Digo."

"Ya, Tuan."

"Simpan."

"Baik, Tuan."

Digo menerimanya dengan kedua tangan sebelum memasukkannya ke dalam map dokumen. Belum sempat Tara mengatakan apa pun, Kenzo kembali berbicara.

"Digo, urus kepindahan Nona Tara ke rumah saya."

"Baik, Tuan."

Tara langsung menoleh cepat. "Tunggu,"

Kenzo ikut memandangnya.

"Apa itu tidak terlalu cepat?" Nada bicaranya terdengar hati-hati.

"Kita baru saja selesai mendaftarkan pernikahan."

Kenzo menjawab tanpa ragu.

"Tidak."

"Tapi—"

"Ini demi anak-anak."

Hanya itu, kalimat singkat, tegas, tanpa memberi ruang untuk berdebat. Setelah mengatakannya, Kenzo berbalik dan melangkah menuju mobil. Langkahnya tenang, bahunya tegap, seolah keputusan yang baru saja ia buat adalah sesuatu yang mutlak.

Digo hanya tersenyum canggung kepada Tara.

"Maaf, Nona Tara. Kalau Tuan sudah memutuskan sesuatu, biasanya memang sulit diubah."

Tara hanya bisa mengembuskan napas panjang. Ia menatap punggung Kenzo yang semakin menjauh.

"Pria ini..." Ia menggumam pelan agar tidak terdengar.

"Terlalu sombong."

Digo yang berdiri di sampingnya hampir saja tersenyum, tetapi segera menahannya.

"Saya dengar, Nona."

Wajah Tara langsung memerah.

"E-eh..."

"Tenang saja." Digo terkekeh pelan.

"Kalau soal itu, saya sudah sering mendengarnya."

"Benarkah?"

"Bahkan para direktur di perusahaan pernah bilang begitu."

Tara menghela napas sambil melipat kedua tangan di depan dada.

"Mana ada orang mengajak pindah rumah tanpa bertanya pendapat orang yang diajak lebih dulu."

Digo tersenyum maklum.

"Itu memang cara Tuan Kenzo."

"Selalu seperti itu saat memberi perintah?"

"Iya."

"Tidak pernah meminta?"

"Hampir tidak pernah."

Tara menggeleng pelan.

"Benar-benar menyebalkan."

Digo menahan tawa.

"Kalau boleh jujur, sejak saya bekerja dengannya, baru kali ini saya melihat Tuan memikirkan orang lain sampai sejauh ini."

Tara mengernyit, "maksudnya?"

"Biasanya beliau hanya berkata, kerjakan dan itu akan selesai."

"Lalu?"

"Hari ini beliau berkali-kali menyebut alasan yang sama."

"Apa?"

"'Demi anak-anak.'"

Tara terdiam, Digo melanjutkan dengan suara pelan.

"Mungkin Tuan memang tidak pandai menunjukkan perhatian lewat kata-kata. Tapi kalau beliau sudah mengambil keputusan seperti ini, biasanya karena beliau merasa itulah cara terbaik melindungi orang yang menjadi tanggung jawabnya."

Tara memandang ke arah mobil hitam yang terparkir di depan.

Melalui kaca samping, ia melihat Kenzo sudah duduk di kursi belakang sambil membaca beberapa dokumen pekerjaan, seolah urusan pernikahan barusan hanyalah satu agenda kecil di antara kesibukannya.

"Benar-benar aneh..." gumam Tara lirih.

Namun, tanpa ia sadari, sejak mengenal Kenzo, ia tidak lagi melihat pria itu hanya sebagai atasan yang dingin dan arogan.

Di balik sikapnya yang kaku dan penuh perintah, tersimpan seseorang yang lebih memilih bertindak daripada menjelaskan perasaannya. Meski begitu, bagi Tara, hal itu tetap tidak mengubah satu kesimpulan.

"Tetap saja..." bisiknya pelan sambil berjalan menuju mobil.

"Dia seorang pria paling sombong yang pernah ku temui." Tara membuka pintu mobilnya dan langsng masuk, untuk meninggalkan tempat tersebut.

1
Teh Euis Tea
Kenzo udah suami istri msh aj ketus sm Tara, dari sekarang belajar lemah lembut sm ibunya anak2mu, ntar ga di kasih ehem ehem loh ken 🤭🤭🤭🤭🤭
Lisa Halik
semangat thor..gift menyusul
Lisa Halik
daddy kenzo😍😍😍😍
mimief
wkwkwkkw
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
dewi rofiqoh
Mungkin kenzo mau minta panggilan khusus dari kamu tara🤔🤔
Rudy satria
loh,ko bukannya di bab sebelumnya Tara dah di perkenalkan sebagai istri,tiba² bgt ganti topik😅😅
dewi: 🤣🤣🤣 iya kk
total 4 replies
dyah EkaPratiwi
jangan galak2 sama Tara ya kenzo
dyah EkaPratiwi
jangan galak2 sama Tara ya kenzo
dyah EkaPratiwi
love sekebon Daddy sat set sekali
Esther
Kenzo bkn orang yg suka basa basi....satset langsung diumumkan pernikahannya dan nama istrinya👍👍
+52
dad.. anakmu tidak bisa dikondisikan mulutnya 😭
Mukeseh
hohoho gercep amat bsng 😂
Rokhyati Mamih
sat set apalagi kalau up nya banyak banyak 💪💪💪
neny
keren,,gk mau bertele tele ya zo,,god luck pokok nya mah
Rohmi Yatun
sangat gentleman sekali.. 👍
Ita rahmawati
jeng jeng pada kaget pasti 😂
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Al Fatih
waow.....,, sat set yaa Daddy ken🤭...
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅
Helen@Ellen@Len'z: yess....yess.................,.
total 2 replies
Ema Susanti
mana up lagi
Lisa Halik
🤣🤣jujurnya kenzo
Lisa Halik
mati kutu kamu kenzo🤣🤣🤣 bersabarlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!