Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melangkah lebih berani : 35
“Jangan, Nyonya!” jeritan Siska bak orang ketakutan, wajahnya seperti tidak dialiri darah.
“Ambil Alam, Rianti!” Ganira pun ikutan panik, sementara kedua laki-laki terdiam, masih memproses apa yang terjadi.
Rianti menarik terlalu kencang, mengejutkan bayi yang tertawa riang.
Alam menangis kencang, mainannya dijatuhkan dan badannya melengkung, tantrum.
Suara tangis bayi membahana. Helyara mundur agar bisa menyaksikan drama pagi hari.
Bukan sang nyonya rumah yang bertingkah seperti orang gila, namun para tamu menumpang di huniannya.
‘Baru segitu kalian sudah cemas luar biasa. Takut ya, terjadi sesuatu kepada orang terkasih? Bagaimana denganku bertahun-tahun diperlakukan tak manusiawi?’ hatinya merasa puas menyaksikan Siska kehilangan kendali diri, melewati batas aman.
Alamsyah dipeluk lalu di timang-timang sayang. Saat Siska hendak menyingkap baju mau menyusui, Alan mencegahnya.
“Sini, biar Paman menenangkan anak ganteng ini.” Bayi masih menangis kencang didekap, di bawa jalan-jalan ke depan.
Bukannya diam, Alam merasa tidak nyaman sebab pakaian olahraga ayahnya basah.
Ganira meradang, dia menyentak lengan Helyara, berniat mau menampar. Namun sang menantu langsung menepis kuat, sampai tubuh kurus itu terjengkang.
Bugh!
Akhhh!
“Pinggangku! Kurang ajar kamu, Helyara!” Ganira kesulitan berdiri, terjatuh dengan posisi duduk.
“Helyara!” bentakan Sapto menambah volume tangis cucunya sampai wajah berkeringat.
“Papa gak buta kan? Jelas-jelas tadi melihat kedua tangan Mama berayun mau menamparku? Aku cuma membela diri!” tegasnya menekankan setiap kata.
“Ya gak pakek acara dorong juga kali!” Rianti yang biasa diam, tiba-tiba menyeletuk.
Senyum miring nan tipis tersungging, Helyara berputar sampai menghadap wanita berambut keriting. “Ayo kita reka ulang. Aku jadi Mama yang berniat mau menampar, apa kamu tetap bisa bilang seperti itu?”
Rianti terperanjat, bingung antara menanggapi atau mundur.
“Sudah! Pagi-pagi bukan disambut bahagia malah ribut seperti di pasar!” Alandi membantu ibunya berdiri seraya menghardik dua wanita bersitegang.
Helya menangkap siluet Siska yang menggendong Alam dan di bawah masuk ke kamar tamu. Tanpa mengintip ke dalam sana, dia sudah dapat menebak seorang ibu pasti akan menyusui bayinya agar tenang.
“Kamu ini kenapa sih, Helyara?” suaranya menggeram, belakangan ini sulit sekali memainkan peran sosok suami penyayang.
Jari telunjuk menuding wajahnya sendiri. “Bukan aku yang kenapa, tapi kalian mengapa? Seperti melihat hantu saja saat aku menggendong Alamsyah.”
“Itu karena cara menggendongmu salah! Bisa-bisa terkilir dia!” bentak sang ibu mertua sambil memijat pinggang terasa mau patah.
“Dimana salahnya? Aku cuma mengangkat dia dengan kedua tangan memegang ditempat aman. Bukan melemparnya ke atas lalu ditangkap lagi. Lantas, letak salahnya di mana?” tanyanya ulang.
Sesaat tidak ada yang bisa menjawab. Memori otak semua orang mengulang tayangan sewaktu Helyara menggendong bayi jalan enam bulan.
“Tau apa kamu tentang bayi? Bahkan mengandung saja belum,” sindiran keras dilayangkan Ganira.
Helyara menyanggah, kali ini membela diri. “Dari umurku masih 12 tahun, aku sudah bersahabat dengan bayi-bayi di panti asuhan milik Paman. Bukan cuma menggendong, sering juga memandikan, menyuapi makan, dan membacakan dongeng sampai mereka terlelap.”
Ganira terdiam, kehilangan kata-kata. Dia memang tahu jika Helyara kerap kali mengunjungi panti asuhan milik saudara ibunya.
“Nyonya, sarapannya sudah bisa di santap,” bi Isa menyela.
Sementara Sinta diam-diam tertawa tanpa suara. Ekspresinya sumringah. Senang sekali mendapatkan tontonan gratis.
‘Ternyata seru juga adu mulut pagi-pagi, anggap saja olahraga menggerakkan rahang,’ Helyara puas sekali, dia berjalan menuju kursi meja makan.
Tanpa gosok gigi, belum juga cuci muka, Helya mulai menikmati sarapan dengan perasaan senang campur kemenangan.
“Dasar jorok! Bukannya cuci muka malah makan dulu yang diutamakan,” cibir Ganira dengan suara lantang. Kemudian dia masuk kamar.
Helyara tidak mau meladeni, asik mengunyah roti panggang sambil minum teh tawar hangat.
Sinta menggerutu, tangannya lamban sekali memetik sayur bayam yang tersimpan dalam kulkas.
“Meladeni para Lampir ya butuh tenaga. Apalagi tiga orang sekaligus, kalau aku jadi nyonya Helyara, sudah tak kareti mulut mereka.”
Hust!
“Mulutmu di jaga!” ibunya memperingati.
“Seru ya, Buk, disini? Berasa di desa, pagi-pagi ada aja yang ribut. Jadi inget aku adu mulut sama tetangga sebelah rumah,” ia terkikik.
Bi Isa melototi putrinya, posisi berdiri mereka membelakangi Helyara dan lainnya.
Rianti juga masuk ke dalam kamar, dia pun belum gosok gigi maupun cuci muka.
“Helyara, kapan mobilnya bisa diambil?” Alandi menghampiri.
‘Mobil terus yang kamu pikirkan. Hei! Itu bukan punyamu, mau diapakan juga terserahku,’ sayangnya hanya bergema dalam sanubari saja.
“Belum tau, nanti aku mau kesana lagi,” jawabnya malas-malasan.
“Kamu gimana sih? Harusnya paksa sampai mereka ngasih jawaban memuaskan, Helya!” suaranya menuntut, memerintah.
Helyara mengelap sudut mulut menggunakan tisu, lalu mendongak menatap tepat pada manik pria yang kini teramat dibencinya. “Kenapa bukan kamu saja yang mengurus di kantor polisi, Mas? Biasanya kan pria lebih tegas, siapa tau langsung bisa bawa pulang mobil penyok. Terus masukin ke bengkel.”
Alandi terlihat gelisah, tampak sekali sedang mencari-cari alasan sampai garuk-garuk kepala.
‘Mirip sekali dia sama Kera,’ hina Helya.
“Kalau Mas yang urus, gimana sama toko Emas Utomo?”
“Biar gantian aku yang jaga,” tantang Helyara.
Mata Alandi membulat, badannya tersentak samar. “Kamu bercanda ya, Sayang?”
“Anggap saja begitu.” Helyara berdiri seraya mendorong kursi ke belakang, lalu melangkah melewati Alandi, tiba-tiba dia berhenti. “Silahkan tentukan pilihanmu, Mas. Mau ngurus mobil di kantor polisi, atau aku yang jaga toko?”
‘Sialan! Sudah berani dia mengancam!’ di belakang istrinya, Alandi menahan buncahan amarah seraya mengepalkan tangan.
Helya tidak menoleh ke belakang, memilih masuk ke dalam kamar, lalu mandi dan bersiap-siap untuk pergi menjalani hari yang sudah pasti melelahkan bagi seorang berkepribadian introvert.
“Ini lebih baik, daripada berdiam diri dirumah, tanpa tahu sedang diracuni dan ditargetkan dibuat gila lalu masuk rumah sakit jiwa, dan semua hartaku dirampas mereka!” ia menyemangati, mensugesti, meyakini kalau bisa melewati semua ini.
Hampir satu jam kemudian, Helyara keluar dari dalam kamar. Penampilannya rapi, wangi dalam balutan tunik bahan katun dipadukan dengan celana kulot lembut.
Dia sedikit heran memperhatikan suasana rumah teramat sepi. Diperiksanya tempat gantungan kunci mobil, kosong.
Kemudian Helya mencari keberadaan Sinta dan bi Isa, ternyata mereka menyapu halaman belakang rumah yang luas.
Dipanggilnya dengan nada formal, seakan-akan memang benar atasan dan bawahan baru saja berkenalan.
Sinta berlari cukup kencang untuk ukuran badan berlemak. Bokongnya bergoyang ke kanan kiri. Buah dada ikutan berguncang.
Napasnya tersengal-sengal, kalimatnya tersendat-sendat. “Saya gak bohong kan, Nya? Kalau bisa lari kayak dikejar-kejar Anjing gila?”
.
.
Bersambung.
mau minta duitmu itu, Hel...
tabok aja mukanya...bilang aja, reflek karena kaget 🤭
mobil udah di jual..
abis ini cari rumah baru.
rumah lama mau di apain nih?
kan umumnya yg dtang ke toko emas,orang yg punya duit 🤭