Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Keangkuhan Runtuh Berkeping-keping
Tawa Jenderal Bintang Tie bergema di Dataran Utara.
Ia menatap Ye Cangtian yang melayang di udara dengan penuh penghinaan. Seorang manusia fana, makhluk yang umurnya tak lebih panjang dari seekor lalat di mata dewa, berani menodongkan sepotong besi ke arahnya.
"Kau pikir karena punya percikan kecil energi di perutmu, kau bisa berdiri sejajar denganku?" suara Tie bergetar amarah dan geli.
Tie merentangkan kedua lengannya. Otoritas Tanah yang murni meledak dari pori-pori kulitnya.
Tanah di bawah kakinya merespons. Dalam hitungan detik, material tanah itu terkompresi jutaan kali lipat, membentuk zirah gelap setebal setengah meter yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Tie membungkuk, menancapkan kedua tangannya ke tanah, lalu mencabut dua pilar batu raksasa.
"Mati!"
Ia melompat dengan kecepatan yang tak masuk akal untuk ukuran tubuhnya, mengayunkan pilar batu raksasa itu ke arah Cangtian. Daya hantam ayunan itu begitu besar hingga angin yang terbelah menciptakan pisau udara yang merobek tanah di bawah mereka.
Cangtian tidak menangkis. Ia memusatkan Qi di telapak kakinya, menciptakan pijakan udara, lalu melesat ke samping seperti hantu keemasan.
Booooom!
Pilar batu Tie menghantam ruang kosong tempat Cangtian berada sebelum nya. Udara meledak, menciptakan kawah selebar dua puluh meter.
"Teruslah berlari, tikus!" raung Tie, terus mengayunkan pilar batu ganda itu dalam rentetan serangan brutal yang menghancurkan dataran terbuka. Setiap hantamannya menciptakan lembah dan bukit kecil dari debu yang beterbangan.
Di tengah badai debu dan hantaman maut itu, Cangtian meliuk, menukik, dan berputar.
Ototnya tidak ada habisnya, dan zirah itu terlalu tebal, analisis Cangtian tenang di tengah pertempuran. Kalau aku memaksakan adu kekuatan mentah, atau memakai tebasan, Dantianku akan terkuras habis sebelum zirahnya retak.
Cangtian mendarat di atas salah satu pilar batu tajam yang menonjol dari tanah, menatap pedang hitamnya.
Di Akademi Fajar, ia mengajarkan bahwa kultivasi bukan sekadar ledakan besar, melainkan kontrol. Presisi adalah perbedaan antara petarung biasa dan seorang Master.
Ia menarik napas dalam. Tiba-tiba, aura keemasan raksasa yang sedari tadi menyelimuti tubuhnya menghilang sepenuhnya. Tekanan gravitasinya lenyap.
Melihat lawannya kehilangan aura, Tie menyeringai buas. "Kehabisan tenaga, ya?!"
Ia mengangkat kedua pilar batunya tinggi-tinggi, bersiap menghancurkan Cangtian.
Tapi aura Cangtian tidak menghilang. Ia hanya menariknya ke dalam. Seluruh lautan energi dari Pusaran Emas di Dantiannya dikompresi, didorong naik lewat meridian di lengannya, dipaksa masuk sepenuhnya ke dalam bilah Pedang Pemutus Surga.
Bilah hitam legam itu tak lagi bercahaya menyilaukan. Sebaliknya, di sepanjang mata pedangnya muncul garis emas yang teramat tipis—bergetar dalam frekuensi luar biasa tinggi, memancarkan dengungan tajam, yang membuat telinga prajurit manusia dan dewa di sekitar medan perang mengeluarkan darah.
"Mari kita lihat sekeras apa keangkuhanmu."
Cangtian tidak menghindar kali ini. Saat Tie mengayunkan kedua pilar batu raksasa ke arahnya, ia justru menekuk lutut dan melesat maju menyongsong serangan itu.
"Hancur!" raung Tie.
Cangtian memutar pinggangnya, mengayunkan pedang hitamnya ke atas.
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada suara benturan keras.
Bilah pedangnya, bergetar dalam frekuensi ekstrem, menembus pilar batu padat itu.
Kedua pilar batu raksasa di tangan Tie terpotong mulus. Bagian atas pilar itu bergeser dari potongannya, jatuh ke tanah dengan debuman berat, menyisakan Tie memegang dua gagang batu buntung dengan ekspresi kebingungan.
Otaknya membutuhkan sedetik penuh untuk memproses apa yang baru terjadi.
Cangtian tidak memberinya sedetik itu.
Dengan kecepatannya, ia menukik melewati pertahanan Tie yang terbuka.
"Seni Pemutus Surga: Tebasan Hantu."
Ia muncul di belakang punggung raksasa Tie, mendarat dengan lutut ditekuk, dan perlahan menyarungkan pedang hitamnya.
Keheningan mencekam turun menyelimuti medan pertempuran.
Sepuluh ribu prajurit elit klan dewa berhenti bernapas. Lima ribu prajurit manusia membelalak.
Tie berdiri kaku. Zirah hitam yang menyelimuti tubuhnya, tiba-tiba memunculkan garis miring bercahaya emas.
Zirah tak tertembus itu terbelah dua, meluncur jatuh ke tanah. Sedetik kemudian, kedua lengan raksasa Tie terputus dari pangkal bahunya, menyemprotkan darah keemasan.
Tie mencoba menoleh ke belakang, mencoba menatap manusia yang baru saja menghancurkan kebanggaan dewanya. Tapi begitu ia menggerakkan lehernya, garis merah tipis muncul di lehernya.
Kepala Jenderal Bintang Tie tergelincir, jatuh berguling-guling di atas debu Dataran Utara, berhenti tepat di depan barisan anggota Serigala Besi miliknya sendiri. Mulutnya masih setengah terbuka dalam kebingungan abadi.
Sang Jenderal Bintang berelemen Tanah yang abadi, tewas hanya dalam tiga gerakan.
Melihat dewa terkuat mereka dipenggal sangat mudah, sisa sembilan ribu lebih pasukan klan dewa kehilangan akal sehat mereka. Semangat tempur dan arogansi yang mereka bangun selama berabad-abad hancur berkeping-keping.
"Monster! Dia Monster!" jerit salah seorang prajurit emas.
Mereka memutar tunggangan, menjatuhkan senjata, lari kocar-kacir ke utara dalam kepanikan mutlak. Bahkan anggota serigala buas mereka ketakutan, berlari seolah dikejar dewa kematian itu sendiri.
Pasukan Pembelah Langit terdiam sejenak, masih mencerna pemandangan mustahil di depan mata.
Lalu Long Zhan mengangkat tombaknya tinggi-tinggi. "Hidup Kaisar Bela Diri!"
"Hidup Kaisar! Hidup Umat Manusia!"
Sorakan euforia meledak bagai guntur. Lima ribu manusia bersorak, menangis bahagia, saling berpelukan. Mereka baru saja menang telak dalam perang terbuka pertama mereka. Mereka telah membantai pasukan inti langit.
Di tengah sorak-sorai itu, Ye Cangtian berdiri perlahan.
Alih-alih tersenyum, wajahnya pucat pasi. Ia memuntahkan seteguk darah hitam ke pasir. Getaran tinggi dari Niat Pedang tadi tidak hanya memotong musuh, tapi juga memberi beban luar biasa pada Dantian dan meridian lengannya. Ranah Master Bela Diri memang kuat, tapi menuntut bayaran fisik yang setimpal.
Xing Yun dan Long Zhan berlari menghampirinya.
"Kita berhasil, Saudaraku!" Long Zhan tertawa, menepuk punggung Cangtian. "Kita memenggal Jenderal Bintang!"
"Jangan merayakan terlalu dini." Cangtian menyeka darah dari sudut bibirnya, matanya menatap tajam ke langit utara yang masih merah darah. "Tie elemen Tanah. Tangguh, sangat kuat, tapi gerakan dan serangannya lambat. Itu sebabnya aku bisa menebasnya."
Xing Yun mengerutkan kening. "Maksudmu... akan ada yang lebih buruk?"
"Ini baru permulaan, Xing Yun." Cangtian membalikkan badan, menatap pasukannya yang masih bersorak. "Gerbang Bencana masih terbuka. Tie cuma barisan depan yang paling lambat. Jenderal Bintang pewaris otoritas Angin, Petir, atau Cahaya, kecepatan mereka tidak akan memberiku kesempatan memusatkan Niat Pedang."
"Tarik pasukan kembali ke kota. Perkuat pertahanan. Perang pemusnahan yang sesungguhnya baru saja dimulai hari ini."
Jauh di belahan barat benua purba, ratusan mil dari Dataran Utara.
Sebuah kamp pemberontak manusia yang menampung tiga ribu budak pelarian baru saja diratakan dengan tanah. Bukan oleh pedang, melainkan badai angin puyuh raksasa berisi bilah-bilah bertekanan tinggi. Mayat-mayat terpotong halus berserakan di mana-mana.
Di atas awan berdarah, melayang sesosok pria ramping berseragam perak. Angin di sekitarnya bergerak membentuk sayap di punggungnya. Salah satu Jenderal Bintang terkuat: Jenderal Lu, pemegang Otoritas Angin.
Jenderal Lu menolehkan kepalanya ke timur, tepat saat batu jiwa Tie di sabuknya retak dan hancur menjadi debu.
Senyum tipis yang mematikan muncul di bibirnya.
"Si Tie yang bodoh itu sudah mati?" gumamnya pelan. "Menarik. Sangat menarik. Mari kita lihat, apakah 'Kaisar' fana ini bisa membelah udara yang tidak bisa ia lihat."