NovelToon NovelToon
The Extra Who Changed Fate

The Extra Who Changed Fate

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.

Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.

Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.

Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.

Namun kali ini, takdir berubah.

Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.

Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Senin pagi setelah festival, suasana sekolah kembali ke rutinitas biasa, meski gaung kemeriahan akhir pekan masih terasa di setiap sudut koridor. Beberapa dekorasi belum sepenuhnya dibongkar, dan siswa-siswa masih sibuk membicarakan momen-momen terbaik selama festival berlangsung.

"Stan kita jadi pembicaraan seluruh angkatan, lho," kata Lucas bangga saat mereka berkumpul di kelas. "Bahkan wali kelas 10-C sempat muji ke wali kelas kita."

Rean tersenyum kecil mendengarnya, meski masih belum terbiasa menerima pujian sebanyak itu. Sepanjang hidupnya sebelumnya, ia tidak pernah menjadi bagian dari pencapaian bersama semacam ini — semuanya terasa masih seperti mimpi yang belum sepenuhnya ia percaya nyata.

"Rean, kamu harus lebih pede," Ethan menepuk bahunya. "Idemu yang bikin stan kita sukses."

"Kalian juga yang kerja keras," jawab Rean merendah, meski dadanya terasa hangat mendengar pengakuan itu.

Pelajaran pagi berjalan seperti biasa, hingga wali kelas mengumumkan sesuatu yang membuat suasana kelas berubah drastis.

"Baik, semuanya, setelah festival selesai, kita akan segera memasuki masa ujian tengah semester dua minggu lagi. Manfaatkan waktu yang ada untuk belajar dengan baik."

Gumaman keluhan langsung terdengar dari seluruh penjuru kelas. Rean, yang belum pernah menghadapi ujian formal seumur hidupnya, merasakan sedikit kegugupan yang berbeda dari biasanya.

"Kamu kelihatan tegang," celetuk Ethan saat istirahat, memperhatikan raut wajah Rean yang lebih serius dari biasanya.

"Aku belum pernah ikut ujian sungguhan," aku Rean jujur. "Dulu belajarnya cuma sama tutor pribadi di rumah."

"Oh, jadi ini pengalaman pertamamu?" Ethan tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum menyemangati. "Tenang aja, aku bisa bantu kamu belajar kalau mau. Kita bikin kelompok belajar."

Tawaran itu membuat Rean merasa sedikit lega. Ia mengangguk setuju, berjanji dalam hati untuk belajar sebaik mungkin demi tidak mengecewakan siapa pun yang sudah membantunya sejauh ini.

---

Di ruang klub sastra sore harinya, suasana lebih santai dibanding biasanya. Beberapa anggota membahas rencana belajar kelompok menjelang ujian, sementara yang lain masih sibuk mengembalikan buku-buku pinjaman dari stan festival.

"Kudengar kamu belum pernah ujian formal," Elora duduk di sebelah Rean, menyerahkan setumpuk catatan miliknya. "Nih, kamu bisa pakai catatanku kalau mau. Lumayan lengkap, kok."

"Terima kasih banyak," jawab Rean tulus, menerima catatan itu dengan hati-hati seolah benda berharga.

"Kalau ada yang nggak ngerti, tanya aja," lanjut Elora, mencoba terdengar santai meski sebenarnya ia sudah merencanakan alasan ini sejak semalam sebagai kesempatan untuk menghabiskan lebih banyak waktu berdua.

"Aku pasti banyak tanya, kalau begitu," Rean tersenyum lebar, benar-benar bersyukur memiliki teman sebaik Elora.

Wajah Elora merona mendengar jawaban polos itu, meski maksud sebenarnya jauh lebih dalam dari sekadar berbagi catatan pelajaran.

Di sudut ruangan, Lily yang memperhatikan interaksi mereka dari kejauhan hanya bisa menahan senyum geli, membisikkan sesuatu pada Chloe di sampingnya.

"Kapan ya, Elora bakal berani ngomong langsung," bisiknya pelan.

"Kayaknya masih lama," jawab Chloe, ikut memperhatikan. "Rean-nya aja masih belum sadar sama sekali."

Keduanya tertawa kecil, memilih untuk tidak ikut campur dan sekadar menjadi penonton diam-diam dari perkembangan yang berjalan lambat namun pasti itu.

Sementara itu, Rean sama sekali tidak menyadari perhatian tersembunyi di sekelilingnya. Baginya, hari-hari belakangan ini hanyalah rangkaian kebahagiaan sederhana — punya teman yang peduli, kegiatan yang menyenangkan, dan kehidupan sekolah yang selama ini hanya bisa ia bayangkan lewat halaman-halaman buku.

Ia tidak tahu bahwa di balik kesederhanaan itu, benang-benang takdir baru terus terjalin, membawa perubahan yang jauh lebih besar dari yang bisa ia duga.

---

Rumah Keluarga Ashford selalu terasa tenang di sore hari, jauh berbeda dari suasana ramai sekolah. Kieran duduk di ruang belajarnya, buku-buku pelajaran terbuka di meja, namun pikirannya sama sekali tidak fokus pada apa yang seharusnya ia pelajari.

Pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Kakaknya, satu-satunya orang di rumah yang berani masuk tanpa permisi, melangkah masuk sambil membawa dua gelas teh.

"Kamu belum makan malam," katanya, meletakkan salah satu gelas di meja Kieran.

"Belum lapar," jawab Kieran singkat, tidak mengalihkan pandangan dari buku yang tidak benar-benar ia baca.

Kakaknya duduk di kursi seberang, memperhatikan adiknya dengan tatapan yang sudah terlalu mengenal setiap perubahan sikap Kieran sejak kecil.

"Festival kemarin bagaimana?" tanyanya, mencoba memulai percakapan dari sisi yang lebih ringan.

"Lancar. Drama kami sukses," jawab Kieran, meski nada suaranya tidak menunjukkan kebanggaan yang seharusnya menyertai jawaban itu.

"Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti orang yang baru kalah lomba?"

Kieran akhirnya mengangkat kepala, menatap kakaknya dengan raut sedikit terkejut. "Nggak ada apa-apa."

"Kieran." Nada suara kakaknya berubah lebih serius, meski tetap lembut. "Aku kenal kamu dari kecil. Kalau kamu diam begini, biasanya karena ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."

Hening sejenak. Kieran menghela napas panjang, akhirnya menyerah menyembunyikan apa yang selama ini ia pendam sendirian.

"Ada anak baru di sekolah," katanya pelan. "Namanya Rean Vale."

"Dari Keluarga Vale?" Kakaknya mengangkat alis. "Aku dengar tentang mereka. Kenapa memangnya?"

"Elora... jadi sering dekat dengannya," lanjut Kieran, suaranya semakin pelan. "Dan aku nggak suka itu."

Kakaknya terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu dengan seksama sebelum akhirnya tersenyum tipis — bukan senyum mengejek, melainkan penuh pengertian.

"Kamu cemburu," katanya sederhana, bukan pertanyaan.

Kieran tidak menjawab, tapi diamnya sudah menjadi jawaban yang cukup jelas.

"Dengar," kakaknya melanjutkan, suaranya tetap tenang namun tegas, "perasaan cemburu itu wajar, Kieran. Tapi yang tidak wajar adalah kalau kamu membiarkan perasaan itu mengubahmu jadi orang yang tidak kamu kenal sendiri."

"Aku nggak akan melakukan apa-apa yang aneh," bantah Kieran cepat.

"Aku percaya itu," kakaknya mengangguk. "Tapi aku juga tahu, kalau perasaan seperti ini dibiarkan terlalu lama tanpa dihadapi dengan jujur, bisa berubah jadi sesuatu yang jauh lebih buruk."

Kieran terdiam, kata-kata kakaknya menohok lebih dalam dari yang ia duga.

"Kalau Elora memang memilih Rean," lanjut kakaknya pelan, "itu adalah keputusannya sendiri. Perasaan seseorang tidak bisa dipaksa untuk berpihak pada kita, sekeras apa pun kita berusaha."

"Terus aku harus apa?" tanya Kieran, nada frustrasinya mulai tak tertahan. "Diam saja dan lihat semuanya berubah?"

"Bukan begitu." Kakaknya menggenggam bahu Kieran, menatapnya lurus. "Kalau kamu memang punya perasaan pada Elora, tunjukkan dengan cara yang benar. Jangan berusaha menjatuhkan orang lain hanya demi mendapatkan sesuatu yang belum tentu jadi milikmu."

Kata-kata itu menggantung lama di udara. Kieran menunduk, menatap tangannya sendiri, mencoba mencerna nasihat yang sebenarnya sudah ia ketahui namun sulit ia terima.

"Aku cuma nggak mau kehilangan semuanya," gumamnya akhirnya, suara paling jujur yang keluar dari mulutnya sepanjang percakapan itu.

Kakaknya tersenyum lembut, menepuk kepala Kieran pelan seperti yang selalu ia lakukan sejak mereka kecil.

"Kamu nggak akan kehilangan apa-apa hanya karena bersikap adil," katanya. "Justru sebaliknya, Kieran. Kalau kamu tetap jadi dirimu yang sebenarnya, orang-orang akan tetap menghargaimu, apa pun hasilnya nanti."

Malam itu, Kieran tidak sepenuhnya menemukan jawaban atas semua kegelisahannya. Namun untuk pertama kalinya sejak festival berakhir, ia merasa sedikit lebih ringan — meski bara kecil di dadanya belum sepenuhnya padam, hanya tertahan sejenak oleh nasihat orang yang paling ia percaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!