NovelToon NovelToon
Menikahi Tunangan Kakakku

Menikahi Tunangan Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Asmara / Penikahan Kontrak / Percintaan Konglomerat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bella

Kirana Wijaya tidak pernah membayangkan hari pernikahan kakaknya akan berakhir dengan dirinya memakai gaun pengantin. Ketika pengkhianatan Laras terbongkar tepat sebelum pesta, keluarga Wijaya memilih cara paling kejam untuk menyelamatkan muka: menyerahkan Kirana sebagai pengganti.
Damar Mahendra, pria dingin yang selama lima tahun ia panggil kakak ipar, menerima pernikahan itu tanpa ragu. Bagi semua orang, Kirana hanya solusi darurat. Namun di rumah baru, di balik sikap tenang dan perintah-perintah singkat Damar, Kirana perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri: tempat, perhatian, dan keberanian untuk dipilih.
Di antara kakak yang ingin merebut kembali masa lalunya, keluarga yang selalu menuntut Kirana mengalah, dan suami yang semakin sulit ia pahami, Kirana harus memutuskan apakah pernikahan yang dimulai sebagai pengganti bisa menjadi cinta yang benar-benar miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Hadiah?

Aku membuka mata.

Ah.

Itu.

Dia mandi cepat untuk meminta hadiahnya.

Bukan untuk...

Tidak.

Lebih baik tidak menyelesaikan pikiran itu.

Aku bernapas sedikit lebih lega.

Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.

Damar menunduk di atasku.

Baru selesai mandi.

Rambut basah.

Beraroma sabun mint dan kulit hangat.

Dan memakai handuk di pinggang, longgar, terlalu rendah untuk ketenangan pikiranku.

Mataku melakukan kesalahan dengan turun.

Perut tegas.

Garis pinggul.

Kulit masih basah.

Wajahku panas.

Aku sudah melihatnya.

Lebih dari sekali.

Itu tidak berarti otakku tahu cara bersikap.

"Hadiahnya," kataku, membuang pandangan. "Di bawah selimut."

Maksudku sisi ranjangnya.

Bantalnya.

Kotak tempat kutaruh dasi.

Damar mengerti hal lain.

Matanya menggelap.

Tangannya turun ke dadaku.

Menggenggam selimut.

"Tunggu. Apa yang kamu lakukan?"

"Membuka hadiahku."

"Apa?"

Aku tidak sempat.

Dia mengangkat selimut sekaligus.

Aku membeku, refleks memeluk dada.

Damar melihat.

Dan terdiam.

Di bawahnya tidak ada renda.

Tidak ada kain hitam.

Tidak ada apa pun yang transparan.

Yang ada piyama beige-ku, lengan panjang dan celana panjang, nyaman dan sama sekali tidak menggoda.

Kekecewaan melintas di wajahnya begitu cepat sampai aku hampir akan tertawa kalau tidak sedang setengah mati karena malu.

"Hadiahku?" tanyanya.

Aku menunjuk bantalnya.

"Di sana."

Damar menoleh.

Di atas bantalnya ada kotak hitam.

Kecil.

Elegan.

Sangat jauh dari apa yang, tampaknya, baru saja ia bayangkan.

"Itu?"

"Iya. Buka."

Aku duduk, masih meremas selimut ke tubuh, menatapnya dengan gugup.

Damar mengambil kotak itu.

Jari-jarinya yang panjang membuka tutupnya.

Dasi warna anggur tampak di dalam, terlipat rapi.

Selama sedetik dia tidak mengatakan apa-apa.

Aku makin panik.

"Kalau tidak suka, aku bisa tukar."

"Aku suka."

Aku menatapnya.

"Sungguh?"

"Ya."

Dia menyentuh kainnya.

"Kamu memilihnya untukku?"

"Iya."

Jawaban itu keluar lebih lembut daripada yang kuinginkan.

Damar mengangkat wajah.

Matanya tidak berada di dasi.

Matanya berada di tanganku.

Lalu pergelangan tanganku.

Lalu kembali ke dasi.

Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku curiga.

"Apa yang kamu pikirkan?"

"Tidak ada."

Bohong.

Damar memikirkan video yang baru saja ia tonton.

Tentang bagaimana sebuah dasi bisa dipakai untuk jauh lebih banyak hal daripada menutup kerah kemeja.

Tentang pergelangan tangan Kirana.

Tentang wajahnya kalau Damar menjelaskan, dengan tenang, untuk apa hadiah itu bisa digunakan.

Tenggorokannya kering.

Aku tidak tahu semua itu.

Tapi aku tahu tatapan itu tidak polos.

"Bagus kalau kamu suka," kataku cepat. "Sudah malam. Aku mau tidur."

Damar menutup kotak.

"Yakin?"

"Iya."

"Tidak ada hadiah lain?"

Aku berkedip.

"Tidak."

Dia mendekat.

Aku mundur sedikit.

Kesalahan.

Ranjang tidak tak terbatas.

"Aku tidak percaya."

"Kenapa?"

"Aku melihatnya."

Perutku serasa jatuh.

"Kamu melihat apa?"

"Pakaian hitam. Transparan. Dengan renda."

Mataku membesar.

"Bagaimana kamu tahu soal itu?"

Damar mempertahankan wajah serius, sempurna, wajah pria yang mustahil melakukan sesuatu yang tidak pantas.

"Kotaknya jatuh. Aku mengangkatnya."

"Damar."

"Tidak sengaja."

"Tentu."

"Memang."

Aku menutup wajah.

"Itu bukan milikku."

Keningnya bertaut.

"Bukan?"

"Itu milik Sofia."

"Milik Sofia?"

"Iya. Kantong kami tercampur di restoran. Dia membelinya untuk pacarnya yang pulang dari perjalanan."

Damar terdiam.

Terlalu diam.

Saat itulah aku mengerti.

Mengerti semuanya.

Aku mengangkat wajah pelan.

"Kamu pikir itu untukmu."

Keheningan menjadi mengerikan.

Pipiku terbakar.

Pipinya tidak.

Tapi matanya berubah.

"Kamu pikir aku akan memakai itu untukmu malam ini."

Entah kenapa aku mengatakannya.

Mungkin karena mulutku membenci ketenanganku.

Damar menatapku dengan ketenangan yang terlalu berat.

"Itu salah satu kemungkinan."

"Bukan."

"Sekarang jelas."

Oh.

Dia kesal.

Tidak marah besar.

Kesal.

Seperti pria yang kehilangan sesuatu yang sudah telanjur ia bayangkan.

Damar menghabiskan lebih dari dua jam di ruang kerja menonton video, berpikir untuk tidak menyia-nyiakan kejutan yang ia kira dari Kirana.

Dan sekarang ternyata kejutan itu bukan untuknya.

Bukan pula dari Kirana.

Itu milik Sofia untuk pacarnya.

Sofia menyiapkan hal seperti itu untuk pacarnya.

Kirana, untuk suaminya, membeli dasi.

Dasi yang bagus.

Iya.

Tapi tetap dasi.

Damar menarik napas panjang.

"Kita tidur."

Suaranya rendah.

Sedikit lebih kering.

Aku cepat berbaring.

"Iya."

Aku membungkus diri dengan selimut dan menempelkan wajah ke kain dingin.

Aku ingin menghilang.

Lampu dimatikan.

Kamar menjadi gelap.

Damar berbaring di sampingku.

Dia tidak menyentuhku.

Entah kenapa, itu justru membuatku lebih gugup.

Keheningan terlalu jelas.

Terdengar napasku.

Napasnya.

Gesekan paling kecil dari seprai.

Damar terjaga.

Aku juga.

Dia memegang dasi itu.

Dia mencoba memejamkan mata.

Tidak bisa.

Aroma Kirana ada di mana-mana: sabun, krim tubuh, sesuatu yang lembut dan bersih dari kulitnya yang baru mandi.

Dia kembali membuka mata.

Menatapnya.

Kirana diam, kaku, pura-pura tidur terlalu baik.

"Kirana."

Aku tidak menjawab.

Tentu saja.

"Aku tahu kamu belum tidur."

Napasku mengkhianatiku.

Kurasakan tangannya mencari tanganku di bawah selimut.

Dia menggenggam jariku.

"Damar..."

Dia tidak mengatakan apa-apa.

Hanya mulai mengusap telapak tanganku dengan ujung jari.

Pelan.

Sekali.

Lagi.

Seolah menggambar lingkaran kecil di kulitku.

Aku geli.

Tapi bukan hanya di tangan.

Sensasi itu naik ke lengan dan masuk ke dadaku.

"Geli," bisikku. "Jangan begitu."

"Kenapa kamu tidak menyiapkan satu untukku?"

"Satu apa?"

"Pakaian seperti itu."

Aku menutup wajah dengan tangan lain meskipun gelap.

"Kita akan membahas itu sekarang?"

"Ya."

"Damar."

"Kenapa?"

"Aku tidak tahu kamu suka."

"Pria suka."

"Semua?"

"Banyak."

"Informasi yang sangat berguna."

Jarinya kembali menyapu telapak tanganku.

Aku menggigil.

"Kalau begitu..." gumamku, dengan suara tidak sekokoh yang kuinginkan, "aku siapkan lain kali?"

Damar terdiam.

Tekanan di tanganku berubah.

"Ya."

Aku menggigit bibir.

Aku tidak bertanya lagi.

Aku tidak mau tahu apa yang dia bayangkan.

Atau sebenarnya mau.

Itulah masalahnya.

Tiba-tiba Damar melepaskan tanganku dan bangkit.

Ranjang bergerak.

Aku membuka mata.

Dalam gelap, siluetnya tinggi di samping ranjang.

"Ada apa?"

"Aku mau mandi."

"Lagi?"

Dia tidak menjawab.

Dia masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.

Damar membuka air dingin.

Sangat dingin.

Hantamannya ke kulit membuat napasnya terputus, tapi tidak langsung menghilangkan panas.

Dia sempat mengira malam ini akan berakhir dengan cara lain.

Dia sudah membayangkan Kirana dengan kain hitam itu.

Dia sudah belajar seperti orang bodoh.

Dan sekarang dia berdiri di bawah air sedingin es, tubuh masih tegang dan kepala penuh olehnya.

Dia tidak akan kembali ke ranjang untuk merenggut hasrat dari perempuan yang sudah bersembunyi di bawah selimut.

Tapi tubuhnya tidak memahami harga diri.

Juga tidak memahami kesabaran.

Damar menumpukan satu tangan ke dinding pancuran.

Memejamkan mata.

Air mengalir di bahunya, di dadanya, di perutnya.

Dia mencoba memikirkan hal lain.

Tidak bisa.

Dia memikirkan tangan Kirana yang menyentuh pinggangnya pagi itu.

Jari-jari kecilnya di kulitnya.

Wajah merahnya saat menyadari salah paham soal pakaian itu.

Janjinya untuk menyiapkan sesuatu lain kali.

Napasnya menjadi lebih berat.

Dia membayangkan Kirana dengan kain hitam itu, berdiri di depannya, ingin menutupi tubuh dan gagal.

Membayangkannya di atas ranjang, mulut gemetar karena malu dan kaki terbuka meski berkata tidak tahu caranya.

Damar menurunkan tangan.

Air dingin tidak berguna.

Dia harus menyelesaikannya dengan dahi menempel di keramik, gigi terkatup, menelan suara serak agar Kirana tidak mendengarnya dari ranjang.

Di ranjang, aku mendengar suara air.

Lama sekali.

Lalu suara lain.

Lebih rendah.

Lebih sulit diabaikan.

Aku memerah dalam gelap.

Aku menutupi kepala dengan selimut.

Aku tidak mendengar apa-apa.

Tidak memikirkan apa-apa.

Tidak membayangkan apa-apa.

Bohong.

Damar butuh lebih dari satu jam untuk keluar.

Saat itu aku sudah benar-benar tidur.

Aku memeluk hampir seluruh selimut, dan satu kaki berada di atasnya, menekannya seolah itu milikku secara hukum.

Damar menatapku.

Dia tidak ingin membangunkanku.

Juga tidak ingin mengambil selimut dariku.

Dia berbaring di sampingku, masih dingin karena mandi, lalu memejamkan mata.

Dia tidak mendekat.

Dia tahu kalau mendekat terlalu jauh, tubuhnya akan bereaksi lagi.

Itu juga membuatnya kesal.

Dia bukan pria yang mudah dipancing.

Tidak pernah.

Dalam posisinya, tidak pernah kurang perempuan yang mencoba mendekat: di makan malam, perjalanan, rapat, hotel. Perempuan yang dikirim rekan bisnis, lawan, orang-orang yang mengira semua pria bisa dibeli dengan cara sama.

Dia tidak pernah tertarik.

Sebaliknya.

Usaha untuk merayunya justru membuatnya tidak nyaman.

Dengan Kirana, berbeda sejak awal.

Dia mengingat Kirana di rumah keluarga Wijaya, selalu agak terpisah. Menyapa sopan, menundukkan mata, berkata kakak ipar dengan suara lembut itu, lalu pergi sebelum ada yang bisa menahannya.

Dia tidak menempel.

Tidak meminta apa pun.

Tidak berusaha membuatnya suka.

Mungkin karena itu Damar tidak menolaknya ketika keluarga Wijaya mengusulkan agar ia menggantikan Laras.

Dia tidak menolaknya.

Tidak di meja makan.

Tidak di rumah.

Tidak di ranjang.

Itu cukup.

Sisanya bisa ia selesaikan dengan tanggung jawab.

Dengan uang.

Dengan perhatian.

Dengan kehadiran.

Satu-satunya yang tidak bisa ia berikan adalah cinta.

Atau begitu pikirnya sebelum tertidur.

Aku terbangun karena batuk.

"Kof, kof..."

Datangnya dari sisiku.

Aku membuka mata, masih berat karena tidur, lalu berbalik.

Damar berbaring miring, menghadapku.

Dia memakai piyama abu-abu tipis, kedua lengan terlipat di dada, tubuh sedikit meringkuk.

Dia batuk lagi.

Tidak membuka mata.

Wajahnya merah.

Bukan merah karena malu.

Merah karena demam.

Aku langsung terjaga.

"Damar."

Kusentuh dahinya.

Langsung kutarik tangan.

"Kamu panas sekali."

Dia membuka mata dengan susah payah.

"Air."

Suaranya kering, serak.

Aku turun dari ranjang dan berlari mengambil botol air mineral yang ada di kamar.

Aku kembali, membantunya duduk, lalu membuka botol.

"Minum."

Damar meneguk beberapa kali.

Tenggorokannya bergerak sulit.

"Kamu demam," kataku.

"Aku tahu."

"Gara-gara mandi semalam."

Dia menatapku.

"Kamu tahu dari mana itu air dingin?"

Wajahku merah.

"Menebak."

Aku tidak akan bilang aku mendengar terlalu banyak.

Damar batuk.

"Saat aku keluar, kamu mengambil semua selimut."

Aku membeku.

"Apa?"

"Tidak ada yang kupakai untuk menutupi diri."

"Kenapa tidak membangunkanku?"

"Kamu tidur pulas."

Rasa bersalah jatuh menimpaku.

"Maaf. Aku tidak tahu."

"Tidak apa-apa."

"Ini apa-apa. Kamu panas sekali."

Kusentuh lagi dahinya.

Masih terlalu panas.

"Ada termometer? Obat?"

"Tidak perlu."

"Tentu perlu."

"Ini demam."

"Tepat."

Dia memejamkan mata sejenak, seolah berdebat denganku lebih melelahkan daripada sakit.

"Sarapan dulu, lalu obat."

"Itu lebih baik."

Dia batuk lagi.

Kudekatkan air.

"Lagi."

Damar membuka mata.

Menatapku.

Ada sesuatu yang aneh dalam tatapannya.

"Apa?"

"Tidak."

"Minum."

Dia menurut.

Setelah itu aku menepuk punggungnya pelan, tanpa berpikir.

Dia terdiam.

"Obat disimpan di mana?"

"Nanti."

"Damar."

"Setelah sarapan."

Aku tidak suka, tapi kubiarkan untuk sekarang.

"Aku mau cuci muka," katanya.

"Bisa?"

"Bisa."

Dia mencoba berdiri.

Kelihatan lemah.

"Aku bantu."

Dia hendak menolak.

Kulihat di wajahnya.

Tapi lalu dia menatapku.

Dan berubah pikiran.

"Sini."

Dia duduk di tepi ranjang dan meletakkan satu lengan di bahuku.

Berat tubuhnya jatuh padaku.

"Aduh."

"Berat?"

"Sangat."

"Jujur sekali."

"Kamu sakit, bukan rapuh."

Dia melingkarkan lengan di atasku dan aku menahannya di pinggang.

Pinggangnya kokoh.

Lebih ramping daripada seharusnya untuk pria sebesar itu.

Tidak.

Ini bukan waktunya memikirkan itu.

Aku membantunya berjalan ke kamar mandi.

Damar bersandar kepadaku sedikit lebih banyak daripada perlu.

Aku merasakannya.

Tapi aku juga merasakan demamnya.

Dan batuknya.

Jadi aku tidak mengatakan apa-apa.

Saat dia mencuci muka, aku tetap di dekatnya kalau-kalau dia pusing. Lalu aku membantunya kembali.

Ketika keluar dari kamar mandi, dahiku sudah lembap karena usaha dan rambut menempel di pipi.

"Hampir sampai," kataku.

"Mmm."

"Jangan sampai jatuh."

"Tidak."

Pembohong.

Tiba-tiba beratnya berubah.

"Damar."

Aku kehilangan keseimbangan.

Dia menahan tengkukku dengan satu tangan dan pinggangku dengan tangan lain.

Kami jatuh ke ranjang.

Aku di bawah.

Dia di atas.

Mulutnya menempel di pipiku.

Jantungku naik ke tenggorokan.

"Kamu jatuh?" bisikku.

Damar tidak menjauh.

Napas panasnya menyapu kulitku.

"Sepertinya begitu."

1
Zalmah Adiwi
saat bertunangan dg Laras mngkn damar sdh menyukai kirana..
Zalmah Adiwi
konflikx kurang kuat..alur ceritax jg trll lamban bergerak.. 🤭
Zalmah Adiwi
knp mesti minum pil KB.. 🤦‍♀️🤣🤣🤣
Zalmah Adiwi
ibu kirana GILA..pikirx pernikahan ini macam beli bajukah.. 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!