Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Sandiwara Tingkat Tinggi
Suasana malam di kediaman Ziko terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Bu Rani sengaja menyewa Asisten Rumah Tangga paruh waktu untuk membantu memasak beberapa hidangan istimewa guna menyambut Clarissa yang malam ini kembali bertamu.
Di meja makan yang tertata rapi, Ziko, Bu Rani, dan Clarissa duduk bersama, menikmati hidangan sambil berbincang hangat.
Sementara itu, Mahira hanya bertugas melayani mereka dari kejauhan. Ia berdiri di sudut dekat pantry, siap mengangkat piring kotor atau menyajikan isi ulang air bening jika diminta. Wajahnya tetap datar sempurna, seolah semua percakapan di meja makan itu hanyalah angin lalu yang menembus telinganya.
"Clarissa, makan yang banyak ya, Nak," ucap Bu Rani dengan suara yang lembut. Tangannya menggeser mangkuk sup asparagus ke samping piring Clarissa. "Tante senang sekali kamu mau sering-sering main ke sini. Rumah ini jadi terasa lebih bernyawa kalau ada kamu."
"Terima kasih banyak, Tante Rani," jawab Clarissa manis. Tangannya terulur dengan anggun mengambil sendok sup. "Masakan di rumah ini memang selalu cocok di lidah aku. Apalagi kalau dimakan bareng Tante dan Ziko."
Ziko tersenyum tipis, matanya menatap Clarissa dengan binar penuh kekaguman. Pria itu meneguk air beningnya sebentar sebelum akhirnya mengarahkan pembicaraan ke topik yang sejak tadi mengusik pikirannya.
"Oh ya, Clarissa... Soal perkembangan proposal kita di Grand Wijaya Group, apakah ada kabar terbaru hari ini?" tanya Ziko dengan nada yang tertahan, mencoba menutupi kecemasan yang membayanginya.
Clarissa meletakkan sendoknya perlahan. Ia menyapu sudut bibirnya dengan serbet kertas secara perlahan sebelum menatap Ziko dengan percaya diri.
"Sebenarnya aku mau kasih tahu kabar ini nanti setelah makan malam, Ziko. Tapi karena kamu sudah tanya, ya sudah aku kasih tahu sekarang," kata Clarissa dengan senyum misterius.
Bu Rani langsung memajukan duduknya, matanya berbinar penasaran. "Kabar apa, Clarissa? Soal uang pinjaman itu ya?"
"Iya, Tante," jawab Clarissa dengan yakin. "Tadi siang aku sempat mampir ke gedung pusat Grand Wijaya Group di kawasan bisnis utama. Aku sengaja menemui salah satu pejabat tinggi di sana, salah satu jajaran direksi yang memang kenalan lama keluargaku."
Ziko membelalakkan mata, napasnya tertahan sejenak. "Kamu bertemu langsung dengan jajaran direksi mereka?"
Clarissa mengangguk pelan, menikmati raut terkejut dan kagum dari Ziko serta Bu Rani. "Tentu saja. Kalau cuma lewat jalur staf biasa, berkas Adhi Jaya Perkasa pasti cuma menumpuk di meja administrasi sampai berbulan-bulan. Tapi berkat akses pribadi yang aku punya, aku bisa minta beliau langsung meninjau proposal perusahaanmu."
"Lalu apa katanya, Clarissa?" potong Bu Rani tidak sabar, tangannya sampai menggenggam erat serbet di pangkuannya.
"Beliau bilang, secara finansial dan konsep proyek, perusahaan Ziko sangat potensial," ujar Clarissa dengan nada meyakinkan. "Hanya saja, karena dana yang diajukan sangat besar, mencapai puluhan miliar, mereka butuh sedikit waktu untuk verifikasi akhir. Tapi beliau menjamin, selama aku yang mengawal berkas ini dari luar, peluang Adhi Jaya Perkasa untuk lolos dan mendapatkan dana segar itu mencapai sembilan puluh persen!"
Mendengar penuturan itu, Ziko menghela napas lega yang sangat panjang. Beban berat yang menghimpit dadanya selama beberapa minggu terakhir seolah terangkat seketika. "Luar biasa... Terima kasih banyak, Clarissa. Aku benar-benar tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa lagi."
"Ya ampun, Clarissa! Kamu ini benar-benar juru selamat untuk keluarga kami," seru Bu Rani dengan wajah berseri-seri. Ia menggenggam erat tangan Clarissa di atas meja. "Tante tidak bisa bayangkan kalau Ziko tidak kenal dengan kamu. Mungkin perusahaan Ziko sudah bangkrut gara-gara tidak punya koneksi hebat!"
Clarissa tertawa kecil, membalas genggaman tangan Bu Rani dengan lembut. "Tante jangan bicara begitu. Ini sudah jadi kewajiban aku untuk bantu Ziko. Aku kan tidak tega melihat Ziko berjuang sendirian tanpa ada yang mendukung dari belakang."
Saat mengatakan kalimat terakhir, mata Clarissa melirik tajam ke arah Mahira yang berdiri diam di dekat pantry. Sindiran itu terlontar sangat jelas, ditujukan untuk memojokkan Mahira yang dianggap tidak berguna sama sekali bagi karier Ziko.
Bu Rani yang menangkap arah lirikan mata Clarissa langsung mendengus sinis. Wanita tua itu menoleh ke belakang, menatap Mahira dengan pandangan menghina.
"Kamu dengar itu, Mahira?" tegur Bu Rani dengan suara keras. "Buka telingamu lebar-lebar! Lihat bagaimana Clarissa berjuang menggunakan koneksi kelas atasnya demi menyelamatkan Ziko dan rumah ini. Tidak seperti kamu, cuma bisa jadi beban, sapu lantai, cuci piring, dan bikin pusing!"
Mahira membalas tatapan Bu Rani dengan tenang. Tidak ada riak emosi di matanya, tidak ada juga raut sedih atau marah. Wajahnya datar.
"Iya, Bu. Saya dengar," jawab Mahira pendek dan sangat lempeng.
Ziko mengernyitkan kening melihat respons Mahira yang terkesan sangat acuh tak acuh. "Mahira! Bisakah kamu menunjukkan sedikit rasa terima kasih atau menghargai usaha Clarissa? Dia baru saja membuka jalan untuk masa depan keluarga kita!"
"Untuk apa aku berterima kasih pada hal yang belum terjadi, Mas Ziko?" sahut Mahira datar. Suaranya terdengar begitu santai namun menohok. "Bukankah tadi Clarissa bilang berkasnya masih dalam verifikasi dan belum ditandatangani?"
Kata-kata Mahira seketika membuat suasana di meja makan mendadak hening. Wajah Clarissa berubah agak pucat untuk sepersekian detik, terkejut dengan jawaban Mahira yang sangat tepat menyentil celah dari kebohongannya. Namun dengan cepat, Clarissa menguasai diri kembali.
"Mbak Mahira mungkin tidak paham bagaimana birokrasi di korporasi raksasa seperti Grand Wijaya Group," potong Clarissa dengan nada yang dibuat prihatin namun meremehkan. "Proses verifikasi itu cuma formalitas hukum, Mbak. Yang terpenting adalah lampu hijau dari jajaran direksi, dan aku sudah memegang kata-kata itu dari orang dalam."
"Bener itu!" bentak Bu Rani membela Clarissa. "Kamu itu tahu apa soal bisnis besar, Mahira? Lulusan kuliah saja tidak jelas, cuma anak desa yang beruntung diangkat derajatnya sama Ziko. Jangan sok tahu dan meragukan kemampuan Clarissa!"
Ziko menatap Mahira dengan pandangan dingin dan penuh kejengkelan. "Sudahlah, Bu. Tidak ada gunanya bicara soal bisnis dengan Mahira. Otaknya tidak akan sampai ke sana." Ziko lalu beralih menatap Clarissa dengan raut penyesalan. "Maafkan sikap Mahira ya, Clarissa. Dia memang tidak tahu tata krama."
"Tidak apa-apa, Ziko. Aku maklum kok," jawab Clarissa manis, menyunggingkan senyum kemenangan.
Mahira tidak membalas sepatah kata pun lagi. Ia hanya menundukkan kepala sedikit, lalu membalikkan badan dan melangkah ke dapur belakang untuk mengambil teko air yang baru.
Di balik dinding dapur yang sepi, Mahira menarik napas pelan. Di bibirnya terukir senyum tipis yang sangat dingin. Ia tahu persis bagaimana aturan main di Grand Wijaya Group. Tidak ada satu pun jajaran direksi yang mengenal wanita bernama Clarissa ini.
Bahkan, Jessi, sahabatnya yang menjabat sebagai direktur pelaksana di sana, sudah mengonfirmasi sendiri bahwa Clarissa hanyalah orang luar yang mencoba mencari peruntungan dengan mendekati staf administrasi bawah.
Clarissa sedang memainkan sandiwara yang sangat berbahaya, menjual angin surga demi mendapatkan hati Ziko dan Bu Rani.
Dan Mahira hanya perlu duduk manis, membiarkan Clarissa menggali lubang kuburnya sendiri semakin dalam. Saat waktunya tiba nanti, kebohongan ini akan meledak dan menghancurkan seluruh impian mereka tanpa sisa.