Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 12 - Satu-satunya Jalan Terbaik
Menjelang malam suasana di mansion kembali tenang.
Ashlyn sudah tertidur lebih awal setelah seharian dipenuhi begitu banyak hal baru. Kepala pelayan menemaninya di kamar, memastikan gadis itu benar-benar beristirahat dengan nyaman.
Sementara itu lampu ruang kerja Ethan masih menyala terang. Sander datang dengan membawa sebuah map hitam yang cukup tebal di tangannya. Ia menghampiri meja kerja Ethan, lalu meletakkan map tersebut dengan hati-hati.
"Jenderal."
Ethan mengangkat pandangan.
"Saya sudah mendapatkan seluruh informasi mengenai Nona Ashlyn."
Tatapan Ethan langsung berubah serius. "Semuanya?"
Sander mengangguk. "Sesuai perintah Anda. Seluruh riwayat hidup, silsilah keluarga sampai tujuh turunan, catatan medis, pendidikan, kepemilikan aset, hubungan keluarga, hingga pergerakan seluruh anggota keluarganya saat ini."
Ethan membuka map tersebut. Halaman pertama langsung menampilkan identitas lengkap Ashlyn.
Nama lengkap gadis itu Ashlyn Erra Cattleya dan saat ini berusia 20 tahun. Tatapan Ethan berhenti cukup lama pada angka itu.
"Dua puluh tahun," gumam Ethan pelan. Selama ini ia benar-benar mengira Ashlyn masih berusia belasan tahun, lima belas atau enam belas tahun.
Cara bicara, kepolosan, hingga tingkah lakunya membuat siapa pun akan mengira gadis itu masih anak-anak. Tapi ternyata Ashlyn sudah menjadi wanita dewasa.
Ethan kembali membalik halaman demi halaman. Berikutnya adalah data kelahiran. Tanggal lahir, berat badan saat lahir, riwayat persalinan. Nama dokter yang membantu proses kelahiran, semuanya tercatat dengan sangat lengkap.
Ethan membaca setiap baris tanpa melewatkan satu pun. Beberapa menit kemudian ia meletakkan lembar itu perlahan.
"Semuanya normal."
Sander mengangguk. "Iya, Jenderal."
"Tidak ada komplikasi?"
"Tidak ada."
"Cedera otak?"
"Tidak."
"Riwayat kekurangan oksigen saat lahir?"
"Juga tidak ada."
Ethan kembali membuka halaman berikutnya. Catatan kesehatan Ashlyn sejak kecil juga menunjukkan hasil yang hampir sama. Tidak ada penyakit berat ataupun kelainan genetik. Tidak ada gangguan neurologis yang pernah didiagnosis, semuanya normal.
Perlahan Ethan teringat ucapan Dokter Aresha pagi tadi.
'Nona Ashlyn bukan anak yang bodoh. Saya justru merasa selama ini tidak pernah ada orang yang benar-benar mau mengajarinya dengan sabar.'
Kini Ethan mulai memahami maksud ucapan dokter Aresha tersebut. Ashlyn tidak terlahir seperti ini, tapi Ashlyn dibentuk menjadi seperti Ashlyn yang sekarang.
Gadis itu tumbuh tanpa pernah diberi kesempatan untuk belajar dengan benar. Tanpa pernah diajari membedakan mana yang benar dan salah.
Tanpa pernah diberi kasih sayang dan tak pernah dianggap sebagai manusia yang berharga.
Ethan tanpa sadar mengepalkan tangannya di atas meja. Tatapannya berubah semakin dingin menatap semua dokumen tersebut. Bagaimana bisa ada orang tua yang begitu tega pada bayi kecil. Naluri pelindungnya benar-benar terusik.
Ethan kembali membuka bagian silsilah keluarga. Beberapa generasi terdahulu terpampang tapi di sana.
Sander pun ikut menjelaskan. "Saya sudah mencocokkan seluruh nama keluarganya dengan database intelijen militer."
"Hasilnya?"
"Tidak ada satu pun yang memiliki hubungan dengan organisasi kriminal, kelompok bersenjata, ataupun musuh-musuh Jenderal."
Ethan mengangguk pelan. "Jadi dia bukan umpan."
"Bukan."
"Bukan pula mata-mata."
"Tidak." Sander berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Kemungkinan besar semua yang terjadi di perbatasan memang murni kebetulan."
Ruangan kembali sunyi dan Ethan melanjutkan membaca. Kini dokumen yang ia lihat adalah tentang kehidupan keluarga Ashlyn.
Nama ayahnya Derick, ibu kandung Ashlyn adalah Emira dan ibu tirinya Sinta. Kemudian tertulis pula nama Sandrina sebagai saudara tiri Ashlyn.
Ethan membaca laporan itu dengan wajah tanpa ekspresi. Namun semakin banyak halaman yang dibaca, sorot matanya berubah semakin dingin.
Semua perlakuan yang selama ini diterima Ashlyn tertulis jelas di sana. Mulai dari tidak diperbolehkan makan bersama keluarga seperti ucapan Ashlyn padanya.
Dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, sering dipukul dan dihina sebagai pembawa sial. Tidak pernah disekolahkan secara layak, hingga dijauhkan dari lingkungan luar agar tidak memiliki teman.
Semuanya tercatat berdasarkan kesaksian para tetangga dan berbagai sumber lain yang berhasil dihimpun oleh tim Sander.
Beberapa saat kemudian Ethan membuka halaman terakhir. Di sana terdapat laporan terbaru bahwa seluruh keluarga inti Ashlyn tengah berada di kota Servo.
Ethan sedikit mengangkat alis. "Mereka berada di Servo?"
"Iya, Jenderal. Mereka datang tepat di hari yang sama saat Anda bertemu dengan nona Ashlyn .
Ethan terus membaca.
Derick.
Sinta.
Sandrina.
Ketiganya kini tinggal di sebuah rumah yang sangat layak. Tujuan kedatangan mereka pun tertulis jelas.
"Mempersiapkan pernikahan Sandrina," gumam Ethan.
Sander mengangguk. "Calon suaminya adalah seorang pengusaha cukup terkenal. Karena kecantikan Sandrina, pria itu tertarik untuk menjadikannya istri."
Ethan kembali membaca bagian akhir laporan. Di sana tertulis jelas alasan sebenarnya mengapa Ashlyn dibuang. Karena keberadaan Ashlyn dianggap dapat membawa sial dan merusak masa depan Sandrina.
Mereka sengaja meninggalkan Ashlyn di wilayah perbatasan agar tidak pernah kembali.
Ethan menutup map itu perlahan, membuat ruangan ini menjadi sangat sunyi. Beberapa detik lalu berganti menit, tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Ethan.
Sander mengenal atasannya dengan sangat baik. Semakin diam Jenderal Ethan, berarti pikirannya sedang bekerja semakin dalam.
Akhirnya Sander membuka suara. "Jenderal."
Ethan mengangkat pandangan.
"Apa yang akan Anda lakukan sekarang..." Tatapan Sander sempat bergeser ke arah map hitam di atas meja."terhadap Nona Ashlyn?"
Ethan tidak langsung menjawab, tak mungkin Ethan meninggalkan Ashlyn dalam keadaan seperti ini. Di saat Ashlyn masih begitu yakin bahwa dia adalah suaminya. Meninggalkan Ashlyn sekarang justru akan membuatnya kembali teringat dengan keluarganya sendiri yang telah tega membuangnya. Gadis itu akan semakin terluka.
Satu-satunya jalan terbaik adalah membuat Ashlyn mengerti lebih dulu keadaan yang sebenarnya, bahwa mereka bukanlah suami dan istri. Setelahnya perpisahan itu pasti tak akan melukai Ashlyn.
"Ashlyn akan tetap berada di sini, panggil psikiater terbaik untuk membantu Ashlyn sembuh," titah Ethan.
"Baik Jenderal."
Ashlyn menemukan tempat terfavoritnya pada Ethan yaitu pangkuannya yang membuat badan ethan panas dingin karena ada sesuatu dibawah yang mengeras karena Ashlyn goyang goyang terus 🤭🤭🤭😄😄😄😄
🤣🤣🤣
yg ada ethan pening atas bawah itu🤣🤣🤣