Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Qin Shang pun berkata, "Kami berdua memang sudah terbiasa hidup sendiri dan tidak suka diatur. Jadi kami tidak ingin merepotkan kalian."
Setelah mengatakan itu, Qin Shang dan Lu Chen segera pergi.
Gu Yang mengernyit, seolah masih ingin mengatakan sesuatu.
Namun, Wen Ren langsung menyela, "Ketua Kelas, biarkan saja mereka. Dari dulu mereka memang selalu merasa paling hebat. Sekarang Qin Shang sudah mencapai Alam Peningkatan Darah, dia pasti merasa dirinya makin luar biasa. Tidak perlu terus menempelkan wajah ke pantat dingin mereka."
"Sayangnya, mereka tidak tahu kalau Alam Peningkatan Darah tahap pertama hanyalah permulaan. Jalan yang harus ditempuh masih panjang."
Nada bicara Wen Ren dipenuhi penghinaan.
Tadi ia memang sempat terkejut saat mengetahui Qin Shang berhasil menembus Alam Peningkatan Darah.
Namun setelah dipikir-pikir lagi, ia sendiri berhasil mencapainya hanya dalam waktu dua puluh hari, bahkan tanpa terlalu banyak meminum Sup Peningkat Darah.
Jika benar-benar dibandingkan dari segi bakat, ia bahkan merasa dirinya jauh lebih unggul daripada Ma Haoran.
Belum lagi, pekerjaan yang diperolehnya menghasilkan lima puluh poin kontribusi setiap bulan, ditambah dukungan penuh dari Lin Yan.
Meski Qin Shang kini telah mencapai Alam Peningkatan Darah tahap pertama, kecepatan kemajuannya di masa depan tetap tidak mungkin bisa menyamai dirinya.
"Kak Wen Ren, kamu juga, sih. Kita semua berasal dari kelas yang sama. Tidak perlu sampai membuat hubungan jadi setegang ini."
Gu Yang menghela napas sambil mengeluhkan sikap Wen Ren.
Namun, ia juga tidak berusaha menghentikan Qin Shang. Bahkan, cara ia memanggil Wen Ren pun telah berubah.
Sapaan "Kak Wen Ren" membuat hati Wen Ren berbunga-bunga.
Ia tahu perubahan itu terjadi karena kekuatan, bakat, dan sumber daya yang kini dimilikinya, sampai-sampai Gu Yang rela menempatkan dirinya sedikit lebih rendah.
Meski sangat puas, Wen Ren tidak sampai kehilangan akal sehat.
Ia segera berkata, "Ketua Kelas, kamu saja yang mengantar mereka menyewa rumah. Aku tidak ikut. Aku masih harus pergi meminum Sup Peningkat Darah dan terus berkultivasi supaya bisa secepatnya menembus tahap berikutnya."
Usai berkata demikian, Wen Ren segera menghilang di tengah kerumunan.
"Ketua Kelas, kok Wen Ren masih bisa minum Sup Peningkat Darah?"
"Iya. Tadi dia juga memanggil Kak Lin sebagai guru. Sebenarnya apa hubungan mereka?"
Gu Yang menjelaskan, "Wen Ren sudah diterima sebagai murid pribadi Kak Lin. Kak Lin memberinya poin kontribusi agar kultivasinya bisa meningkat secepat mungkin."
"Keberuntungan Wen Ren benar-benar luar biasa."
"Benar. Tapi kalau dipikir-pikir, bakatnya memang mengagumkan. Hanya butuh dua puluh hari untuk mencapai Alam Peningkatan Darah."
"Masa depannya pasti sangat cerah. Mulai sekarang kita harus banyak bergantung pada Wen Ren."
"Masih panggil Wen Ren? Mulai sekarang kita harus memanggilnya Kak Wen Ren, sama seperti Ketua Kelas."
Semua orang memandang Wen Ren dengan penuh rasa iri atas keberuntungannya.
Gu Yang mengernyit.
"Sudahlah. Ayo cepat pergi menyewa rumah. Perjalanan kita masih panjang. Kalian juga tidak perlu berkecil hati. Selama hasil akhirnya belum ditentukan, kita semua masih punya peluang menjadi kuda hitam."
...
Setelah berpisah dari rombongan Kelas 11, Qin Shang langsung berkata kepada Lu Chen, "Lu Chen, kita bahkan tidak punya uang sepeser pun. Bagaimana kita bisa menyewa rumah? Bukankah tadi kamu agak terlalu gegabah?"
Lu Chen menyeringai sambil mengeluarkan sebuah kantong uang.
"Siapa bilang kita tidak punya uang?"
Qin Shang melihat isi kantong itu. Di dalamnya ada satu keping koin emas, persis seperti yang tadi dibagikan Wen Ren.
Dengan heran ia bertanya, "Dari mana kamu mendapatkannya?"
"Tidak usah pedulikan dari mana asalnya. Yang penting, biaya hidup kita untuk setengah bulan ke depan sudah aman. Setelah itu kita cari cara lain. Yang penting, kita bisa bertahan selama sebulan."
Lu Chen hanya tersenyum tanpa menjelaskan dari mana asal koin emas itu. Qin Shang pun tidak sempat mengajukan pertanyaan lagi.
Keduanya mulai berkeliling mencari tempat tinggal.
Meski tidak terlalu tekun berkultivasi selama ini, Lu Chen justru sangat giat mempelajari bahasa Dunia Xuanwu.
Ia bahkan lebih memfokuskan diri pada kemampuan berbicara, sehingga kini sudah mampu melakukan percakapan sederhana.
Sekitar setengah jam kemudian, setelah bertanya ke sana kemari, mereka akhirnya mengetahui bahwa harga sewa rumah ternyata cukup mahal. Namun, mereka juga menemukan sebuah pola.
Wilayah hulu di sisi timur sungai memiliki harga sewa paling tinggi, disusul hulu di sisi barat. Setelah itu barulah hilir di sisi timur, sedangkan yang paling murah adalah hilir di sisi barat.
Perbedaan harga di keempat wilayah itu sangat mencolok. Sewa rumah di hulu sisi timur yang paling mahal bisa mencapai lima kali lipat dibandingkan rumah di hilir sisi barat yang paling murah.
Padahal, jarak antara kedua wilayah itu bahkan tidak sampai satu kilometer.
"Sial, ini benar-benar nggak masuk akal. Selisih harganya sejauh ini, padahal rumah-rumahnya kelihatan nggak ada bedanya. Orang bodoh saja yang mau tinggal di daerah hulu."
Lu Chen mengumpat.
Qin Shang juga merasa ada yang janggal.
Namun, ia percaya orang-orang di tempat ini bukanlah orang bodoh. Pasti ada alasan di balik perbedaan harga tersebut.
"Kita tinggal di hulu sisi barat saja. Sewa untuk satu bulan," kata Qin Shang setelah berpikir sejenak.
"Nggak perlu, kan? Uang kita cuma cukup buat satu orang. Kalau tinggal di hilir sisi barat, kita bisa bertahan sebulan penuh. Tapi kalau tinggal di hulu sisi barat, paling-paling cuma cukup setengah bulan."
Qin Shang berkata, "Justru karena uang ini hanya cukup untuk satu orang, berarti secara tidak langsung Kak Lin Yan menganggap kita memang tidak seharusnya tinggal di daerah termurah, yaitu hilir sisi barat."
"Baiklah. Aku ikut keputusanmu."
Lu Chen tahu Qin Shang selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan, jadi ia tidak membantah lagi.
Tak lama kemudian, mereka berhasil menyewa sebuah rumah kayu di kawasan hulu sisi barat.
Pemilik rumah mengambil koin emas mereka, lalu mengembalikan lima keping koin berwarna cokelat sebagai uang kembalian. Itulah seluruh biaya makan Qin Shang dan Lu Chen untuk bulan ini.
Qin Shang mendorong pintu rumah itu.
Luasnya sekitar lima puluh meter persegi. Di dalamnya hanya terdapat sebuah tempat tidur dan sebuah tungku.
Namun, kondisi sesederhana itu sama sekali bukan masalah bagi mereka.
Sebelumnya mereka bahkan sanggup tinggal selama sebulan di dalam gua. Dibandingkan tempat itu, rumah ini sudah jauh lebih nyaman.
Mereka segera merapikan ruangan, lalu menggunakan beberapa papan kayu untuk membuat sebuah tempat tidur tambahan.
"Qin Shang, gula darah rendahmu sudah nggak kambuh lagi!"
Tiba-tiba Lu Chen menyadari sesuatu dan langsung berkata kepada Qin Shang.
Sebenarnya Qin Shang juga sudah lama menyadari hal itu. Ia mengangguk.
"Benar. Memang sudah tidak kambuh lagi."
"Cepat tidur. Besok kita mulai bekerja."
Qin Shang segera berbaring.
Tak lama kemudian, ia kembali terlelap dan sekali lagi memasuki alam mimpi, muncul di dalam cangkang telur misterius itu.