Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29 — Guru Datang ke Pasira
Pak Ilyas turun dari kendaraan umum Pasira dengan wajah seolah-olah seluruh planet ini terlalu mahal.
Bu Wening turun di belakangnya, membawa tas kain, topi lebar, dan senyum yang membuat debu Pasira tampak sedikit lebih ramah.
Tri berdiri di depan halte bersama Hendra dan Rakha.
Ia sudah menghitung rute termurah tiga kali.
Ia juga sudah menghitung rute yang kelihatan layak untuk orang tua yang datang jauh-jauh dari Planet 3212.
Masalahnya, rute kedua tiga kali lebih mahal.
Bu Wening melambaikan tangan. “Tri!”
Tri berjalan cepat, menerima tas kain dari tangannya. “Bu, kenapa bawa banyak?”
“Untukmu.”
“Bu datang dari planet lain membawa makanan untuk orang yang sekarang tinggal di akademi militer?”
“Iya.”
Pak Ilyas menatapnya dari kepala sampai kaki. “Kau makin tinggi.”
“Makan gratis akademi membantu.”
“Jangan bohong. Kau tetap beli yang paling murah.”
Tri tidak punya bantahan.
Hendra membungkuk sopan. “Pak Ilyas, Bu Wening.”
Rakha ikut menyapa dengan kaku, terlalu formal untuk suasana halte.
Pak Ilyas menatap keduanya. “Kalian yang membiarkan dia memanjat dinding?”
Hendra menunjuk Tri. “Pak, saya berusaha gagal menghentikan.”
Rakha berkata jujur, “Saya baru tahu setelah forum ramai.”
Tri menatap mereka. “Pengkhianat.”
Bu Wening tertawa pelan.
Hari itu Tri membawa mereka melihat Pasira.
Bukan Pasira mahal untuk turis.
Pasira yang masih bisa dibayar tanpa membuat saldo harian mati: pasar alat bekas dekat Gang Kelabu, toko Kom yang menjual suku cadang legal setengah legal, jalan batu menuju gerbang Damokles, dan warung kecil yang porsinya besar karena pemiliknya bekas murid akademi.
Pak Ilyas berpura-pura tidak kagum saat melihat hanggar Damokles dari kejauhan.
Bu Wening tidak berpura-pura.
Ia berdiri di depan Alun Pedang Damokles, menatap patung pedang raksasa di tengah plaza, lalu berkata, “Jadi ini tempatmu belajar.”
Tri mengangguk.
“Tidak terlalu buruk.”
Pak Ilyas mendengus. “Terlalu banyak dinding untuk dipanjat.”
Hendra batuk menahan tawa.
Mereka sempat melewati pagar salah satu lapangan latihan terbuka. Beberapa murid sedang berlari membawa beban Mecha, wajah merah oleh panas. Pak Ilyas berhenti lebih lama dari yang ia akui, matanya mengikuti langkah mereka, lalu diam-diam memeriksa cara Tri berdiri.
“Kakimu tidak pincang lagi,” katanya.
“Sudah lama tidak.”
“Bahu kiri?”
“Masih bisa dipakai.”
“Jawaban orang yang menyembunyikan sakit.”
Tri ingin membantah, tetapi Bu Wening sudah menarik ujung lengan jaketnya. Ada robekan kecil di sana, mungkin dari kerja malam, mungkin dari latihan. Ia mengeluarkan jarum lipat dari tas kain dan menjahitnya di tempat, di pinggir jalan, tanpa bertanya dari mana robekan itu berasal.
Tri menunduk, melihat benang masuk keluar kain.
Hendra dan Rakha yang biasanya ribut ikut diam.
“Kalau bajumu sobek, bilang,” kata Bu Wening.
“Ini kecil, Bu.”
“Luka kecil juga bisa jadi besar kalau kau selalu pura-pura tidak melihat.”
Tri tidak punya jawaban murah untuk itu.
Mereka menyewa kendaraan terbang kecil untuk menghemat waktu menuju toko berikutnya.
Tri yang memilih.
Tentu saja yang paling murah.
Kendaraan itu bergetar sejak naik.
Rakha memegang pegangan kursi. “Ini aman?”
Tri melihat panel. “Menurut sistem, iya.”
Hendra menatap retakan kecil di kaca samping. “Menurut mata?”
“Mata sering bias oleh kekayaan.”
Kendaraan berbelok terlalu tajam di persimpangan udara.
Di jalur sebelah, satu kendaraan patroli militer muncul.
Tri menarik tuas manual.
Kendaraan mereka turun setengah meter, berputar, lalu berhenti tepat tiga jari dari kaca patroli.
Di dalam kendaraan patroli, Mayor Bara Nurwana menatap mereka.
Sangat pelan.
Sangat dingin.
Tri menelan.
Pak Ilyas melihat mayor itu, lalu melihat Tri. “Kau kenal?”
“Sedikit.”
Mayor Bara membuka saluran suara. “Tri.”
“Pagi, Mayor.”
“Ini kendaraanmu?”
“Sewa, Mayor.”
“Kacanya retak.”
“Sebelum saya sewa.”
“Sekarang tambah retak.”
Tri melihat kaca.
Benar.
Ada garis baru.
Hendra langsung memalingkan wajah.
Rakha melihat langit-langit.
Pak Ilyas berkata datar, “Bayar.”
Tri memegang dada. “Pak bahkan belum tanya harga.”
“Bayar.”
Mayor Bara menutup saluran dengan wajah puas yang sangat tipis.
Lima belas menit kemudian, Tri kehilangan uang untuk kaca, dan Bu Wening membeli minuman dingin untuk semua orang karena menurutnya wajah Tri seperti baru pulang dari perang.
“Ini bukan perang,” kata Tri. “Ini perampokan prosedural.”
Pak Ilyas memukul belakang kepalanya pelan. “Salah sendiri hampir menabrak mayor.”
“Mayor yang muncul di jalur mahal.”
“Tri.”
“Saya diam.”
Menjelang sore, mereka kembali ke Alun Pedang Damokles.
Plaza itu ramai oleh murid, keluarga, pedagang makanan, dan anak-anak kecil yang ingin difoto di depan patung pedang. Bu Wening duduk di bangku batu, membuka bekal dari tas kain. Pak Ilyas berdiri di sampingnya, masih mengamati setiap sudut seolah-olah plaza bisa menyerang.
Tri menerima kotak makan.
Isinya terlalu penuh.
“Bu.”
“Makan.”
Ia makan.
Tidak ada perdebatan yang bisa menang melawan nada itu.
Hendra dan Rakha duduk di sisi lain bangku, ikut menerima bagian makanan seolah-olah mereka sejak lahir punya hak atas bekal Bu Wening. Bu Wening tampak senang memberi. Tri pura-pura tidak melihat, tetapi ia menghitung bahwa dua orang ini sekarang punya utang makan yang suatu hari bisa ditagih dalam bentuk bantuan.
Pak Ilyas menatapnya. “Kau kelihatan lebih hidup.”
Tri berhenti mengunyah.
“Saya memang hidup, Pak.”
“Bukan itu maksudku.”
Tri melihat kotak makan, patung pedang, gedung Damokles di kejauhan, Hendra yang berdebat dengan Rakha soal harga bahan, dan Bu Wening yang diam-diam menaruh potongan daging tambahan di kotaknya.
“Saya belum membayar semua,” katanya.
Pak Ilyas menghela napas. “Aku tidak datang menagih.”
“Saya tahu.”
“Aku datang melihat apakah uang yang kau kirim itu membuatmu melakukan hal bodoh.”
Tri memikirkan Bengkel Hitam, Malaikat Maut, kristal tingkat S, dan Titis Darah.
“Definisi bodoh bisa sangat luas, Pak.”
Pak Ilyas memejamkan mata seperti menahan sakit kepala.
Sebelum ia sempat menjawab, tanah bergetar.
Getaran pertama kecil.
Orang-orang mengira itu kendaraan berat lewat di bawah jalur plaza.
Getaran kedua membuat gelas minuman jatuh dari meja pedagang.
Tri berdiri.
Hendra juga.
Rakha menoleh ke arah patung pedang.
Retakan muncul di lantai plaza, dari dasar patung menyebar seperti garis hitam.
Mayor Bara yang baru turun dari kendaraan patroli di sisi utara langsung berteriak, “Semua mundur!”
Lantai pecah.
Batu plaza meledak ke atas.
Satu kepala serigala muncul dari bawah tanah, tetapi kulitnya bukan bulu. Permukaannya berkilat seperti logam buruk. Ekor panjangnya berujung duri, menyapu udara dan memotong papan kios menjadi dua.
Lalu yang kedua muncul.
Ketiga.
Keempat.
Jeritan pecah di Alun Pedang Damokles.
Salah satu serigala logam melompat ke arah bangku tempat Bu Wening baru berdiri.
Cakar metaliknya turun.
Tri bergerak sebelum pikirannya selesai menghitung.
Ia mendorong Bu Wening ke belakang tubuhnya, tangan kirinya menggenggam kalung merah di dada.
Titis Darah menyala di telapak tangannya.
Mata Tri dingin.
“Jangan sentuh Ibu.”