NovelToon NovelToon
Lautan Cinta

Lautan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Tampan Dari Singapura

​Nena melepaskan jambakannya dengan kasar, membuat Rafa terhuyung ke belakang.

​"Kamu itu sampah, Rafa," tambah Zaskia yang kini sudah berdiri di samping Nena, menatap Rafa dengan tatapan jijik. "Wanita mandul, miskin, dan tidak punya harga diri. Lihat dirimu sekarang, kamu sendirian, tidak punya uang, dan dicap sebagai pezina oleh pengadilan. Siapa lagi yang mau membelamu sekarang?"

​Rafa membetulkan letak kerahnya, lalu perlahan mendongakkan kepala. Sesuatu di dalam dirinya—api yang selama ini berkobar—kini mulai menyala lebih terang dari sebelumnya. Ia tidak lagi melihat Nena dan Zaskia sebagai orang yang menakutkan, melainkan sebagai orang bodoh yang sedang menggali kuburan mereka sendiri.

Rafa menatap Nena tepat di matanya, lalu beralih ke Zaskia. Senyum tipis yang dingin terukir di bibirnya.

​"Kalian tertawa terlalu dini," suara Rafa pelan, namun terdengar sangat berat dan penuh keyakinan. "Kalian berpikir bahwa dengan menyuap hakim dan memfitnah saya, kalian sudah menang. Kalian lupa satu hal yang paling krusial."

​Nena mengernyitkan dahi, merasa terganggu dengan ketenangan Rafa. "Apa maksudmu, hah?! Jangan berani-berani kamu mengancamku!"

​Rafa melangkah mendekati Nena, lalu berbisik pelan, "Saya memang tidak punya uang dua miliar. Tapi saya punya bukti yang bisa membuat keluarga Wirya Negara bangkrut total, dan membuat hakim yang baru saja menyidangkan kasus saya ini kehilangan jabatannya karena kasus penyuapan. Flashdisk itu bukan sekadar data, Nyonya Nena. Itu adalah tiket menuju kehancuran total bagi kalian semua."

​Wajah Nena mendadak pucat. Untuk sesaat, topeng kesombongannya retak. Namun ia segera menguasai diri. "Omong kosong! Kamu cuma menggertak karena kamu sudah kalah!"

"Kita lihat saja nanti," ucap Rafa dengan nada tenang. Ia membalikkan badan, berjalan meninggalkan ruang sidang dengan punggung tegak, mengabaikan teriakan ejekan Zaskia yang masih terdengar di belakangnya.

​Di luar gedung pengadilan, matahari bersinar terik. Rafa berdiri sejenak di trotoar, menarik napas dalam-dalam. Ia tahu ia baru saja kalah dalam satu pertempuran kecil—namun perangnya, perang yang akan menghancurkan Evan, Nena, dan Zaskia, baru saja dimulai. Ia tidak membutuhkan pengadilan agama untuk mendapatkan keadilan. Ia memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat: kebenaran yang akan menghantam mereka tepat di jantung kekuasaan mereka.

​"Bersiaplah, Evan," bisik Rafa pada angin. "Karena sandiwara kalian akan segera menemui akhirnya."

****

​Langkah Rafa Sasmita terasa sangat berat setelah keluar dari gedung pengadilan. Pikirannya berkecamuk, menimbang-nimbang antara kemarahan yang membuncah dan kelelahan batin yang menghimpit. Dunianya seolah sedang dihujani kerikil tajam, dan ia merasa seakan-akan kakinya tidak lagi berpijak di atas tanah yang nyata.

Ia berjalan di trotoar yang ramai, matanya menatap lurus ke depan tanpa arah tujuan yang pasti. Pikirannya melayang pada flashdisk di dalam tasnya, pada wajah angkuh Nena, dan pada tawa histeris Zaskia yang masih terngiang-ngiang di telinganya. Begitu tenggelam dalam lamunannya, Rafa tidak menyadari bahwa lampu penyeberangan bagi pejalan kaki sudah berubah menjadi merah.

​Ia melangkah turun ke aspal tepat saat sebuah sedan hitam mewah melaju kencang dari arah tikungan.

​Citttttt!

Suara gesekan ban dengan aspal terdengar memekakkan telinga, disusul suara klakson yang panjang dan keras. Rafa tertegun, membeku di tengah jalan. Tubuhnya seakan tak mampu bergerak karena syok. Kilatan cahaya lampu mobil menyilaukan matanya, dan dalam sepersekian detik, ia merasa ajal sudah berada tepat di depan hidungnya.

Mobil itu berhenti tepat beberapa sentimeter dari tubuh Rafa. Hentakan pengereman mendadak itu membuat tubuh Rafa kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terduduk di atas aspal dingin, jantungnya berdegup kencang seperti hendak melompat keluar dari rongga dadanya.

****

Pintu pengemudi terbuka dengan cepat. Seorang pria bertubuh tinggi keluar dari mobil tersebut dengan raut wajah yang tampak khawatir namun tenang. Ia mengenakan kemeja formal berwarna biru navy yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan pergelangan tangan yang kokoh. Wajahnya oriental yang rupawan—kulit putih bersih, sepasang mata sipit yang tajam namun memancarkan kehangatan, dan potongan rambut hitam pendek yang tertata rapi.

​"Ya Tuhan! Anda tidak apa-apa?" suara pria itu terdengar berat, dengan logat asing yang samar namun sopan. Ia segera menghampiri Rafa dan mengulurkan tangannya. "Maafkan saya. Saya benar-benar tidak melihat Anda tadi."

Rafa menatap tangan yang terulur itu sejenak sebelum mendongak menatap wajah sang pengemudi. Ia masih gemetar, napasnya tersengal. Dengan perlahan, ia menerima uluran tangan pria itu dan membiarkannya menarik Rafa berdiri.

​"Saya... saya yang salah," jawab Rafa lirih, suaranya parau. "Saya tidak melihat lampu jalan."

​Pria itu menatap Rafa lekat-lekat, memperhatikan wajah Rafa yang pucat dan mata yang tampak sembap setelah sidang tadi. "Anda terlihat tidak baik-baik saja. Bukan hanya karena insiden ini, tapi... sepertinya Anda sedang membawa beban yang sangat berat."

****

​Rafa tertunduk. Ia merasa malu, namun di saat yang bersamaan, ada sesuatu dari aura pria di depannya ini yang membuatnya merasa aman.

"Saya hanya... sedikit lelah dengan hari ini."

​Pria itu mengangguk mengerti. "Nama saya Sean Andrew Lee. Saya baru saja tiba di Jakarta dari Singapura untuk urusan bisnis. Jika Anda tidak keberatan, bolehkah saya mentraktir Anda kopi di kafe depan itu? Hanya untuk memastikan Anda benar-benar baik-baik saja setelah kejadian tadi."

Rafa ragu sejenak, namun rasa lelah yang menderanya memenangkan egonya. Ia mengangguk lemah.

​Mereka pun berjalan menuju sebuah kafe bernuansa tenang di sudut jalan. Kafe itu tidak terlalu ramai, memberikan privasi yang cukup bagi mereka untuk bicara. Sean memesankan segelas hot chocolate untuk Rafa dan kopi hitam untuk dirinya sendiri.

****

​Setelah beberapa saat terdiam, Sean memecah kesunyian dengan nada yang sangat ramah. "Anda terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan dunianya, Nona. Apakah Anda keberatan berbagi cerita dengan orang asing seperti saya?"

​Rafa menatap cangkir cokelat panasnya, lalu menatap Sean yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Entah mengapa, ia merasa perlu mengeluarkan segala beban yang menumpuk di dadanya. Mungkin karena Sean adalah orang asing, mungkin karena ia tidak akan pernah bertemu pria ini lagi, Rafa pun mulai bicara.

​Ia menceritakan semuanya. Mulai dari pengabdiannya selama empat tahun untuk Evan Wirya Negara, pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya dengan Zaskia Mulandari, perlakuan kejam Nena Apriandini yang selalu menghinanya karena masalah keturunan, hingga sandiwara di pengadilan agama tadi pagi yang membuat dirinya harus membayar denda dua miliar rupiah atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan.

​Sean mendengarkan dengan seksama. Tidak ada tatapan merendahkan, tidak ada sindiran, hanya perhatian yang tulus. Sesekali ia mengerutkan keningnya mendengar betapa liciknya keluarga Wirya Negara.

​"Jadi," kata Sean setelah Rafa selesai bercerita, "Anda adalah korban dari sebuah konspirasi keluarga kaya raya yang merasa mereka bisa membeli hukum dan keadilan?"

​Rafa mengangguk getir. "Begitulah. Mereka pikir saya hanyalah wanita lemah yang akan hancur hanya dengan satu putusan pengadilan yang tidak adil. Mereka tidak tahu bahwa saya memegang kunci yang bisa meruntuhkan segalanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!