NovelToon NovelToon
SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 — SETELAH KALIMAT ITU

Keheningan yang menyelimuti kamar tidur lantai dua kediaman keluarga Pradipta malam itu terasa sangat berbeda dari keheningan malam-malam sebelumnya. Tidak ada lagi rasa sesak atau atmosfer permusuhan yang menusuk. Yang tersisa hanyalah kecanggungan manis yang luar biasa tebal, seolah-olah udara di dalam ruangan itu mendadak dipenuhi oleh helai-helai benang yang tak kasat mata.

Pengakuan jujur dari bibir Arka—“Aku tidak mau kehilangan kamu”—masih bergema berulang kali di dalam kepala Naya.

Naya berbaring terlentang di bawah selimut tebalnya. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Di sisinya, hanya terpisah oleh garis imajiner yang kini terasa kian samar, Arka berbaring memunggungi Naya. Namun, naik-turun napas Arka yang agak tidak teratur memberitahu Naya satu hal: Ketua OSIS itu juga sama sekali belum tertidur.

Naya memeluk gulingnya lebih erat, meresapi kehangatan yang menjalar liar di dadanya. Gila... gue beneran nggak bisa tidur kalau kayak gini, bisik Naya dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya menahan senyum yang terus-menerus ingin terbit tanpa permisi.

Di sisi lain, Arka memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pinggiran bantalnya. Laki-laki yang selalu mengagungkan logika dan ketenangan itu merasa ketenangannya runtuh total. Ia tak pernah menyangka bahwa mengucapkan isi hatinya secara utuh kepada Naya akan memberikan dampak sebesar ini pada ritme detak jantungnya sendiri.

Malam itu berlalu dalam diam, tetapi tatapan dan perasaan di antara mereka telah bergeser ke tempat yang tak lagi bisa diputar balik.

Kecanggungan itu berlanjut hingga matahari Minggu pagi menyiram hangat area dapur bersih di lantai bawah.

Tante Elena dan Om Adrian sedang pergi ke klub tenis sejak pukul enam pagi, meninggalkan Naya dan Arka menguasai dapur berdua.

Naya yang berniat menebus kesalahannya soal nasi goreng asin minggu lalu, berdiri di depan konter dapur untuk menyeduh cangkir kopi hitam kesukaan Arka dan segelas susu hangat untuk dirinya sendiri. Mengenakan piyama katun longgar bermotif celana pendek dan rambut yang digelung asal-asalan, Naya mencoba fokus pada teko air panas.

Srekk.

Suara langkah kaki Arka yang menuruni tangga membuat Naya refleks menegang kaku.

Arka melangkah masuk ke area dapur. Laki-laki itu mengenakan kaus oblong putih polos dan celana kain santai. Rambut depannya sedikit basah dan berantakan secara alami seusai mandi. Beda dengan penampilannya yang serba rapi di sekolah, Arka dalam mode rumah selalu berhasil membuat dada Naya berdebar abnormal—apalagi setelah kejadian semalam.

"P—pagi..." sapa Naya canggung, tangannya memegang sendok stainless steel dengan genggaman yang agak gemetar.

Arka menghentikan langkahnya di dekat meja makan, menatap Naya sejenak sebelum berdeham pelan untuk menutupi rasa salah tingkahnya sendiri. "Pagi."

Arka berjalan mendekati konter, berniat mengambil gelas di rak atas. Posisi berdiri Arka yang mendadak berada tepat di samping Naya membuat jarak di antara mereka tersisa kurang dari satu jengkal. Aroma sabun kayu dan kesegaran air dingin dari tubuh Arka langsung menyeruak menyelimuti indra penciuman Naya.

Naya menelan ludah kasar. Jarinya yang sedang menyeduh kopi mendadak hilang fokus total.

"Kopi saya sudah jadi?" tanya Arka pelan, suaranya yang khas di pagi hari terdengar agak rendah dan serak.

"I—iya! Ini lagi diseduh!" sahut Naya gelagapan, suaranya naik satu oktav.

Dalam kondisi panik dan salah tingkah yang luar biasa, Naya meraih tempat gula dari sudut konter. Tanpa melihat label atau mengukur takarannya dengan benar, Naya menyendokkan bubuk putih berbutir halus dari dalam wadah tersebut ke dalam cangkir kopi hitam Arka.

Satu sendok. Dua sendok. Tiga sendok makan penuh.

Naya mengaduknya cepat-cepat dengan gerakan berlebihan, lalu menyodorkan cangkir keramik biru tua itu ke hadapan Arka seperti seorang prajurit menyerahkan senjata.

"Nih! Kopi hitam panas tanpa ampas sesuai pesanan Pak Ketua!" seru Naya cepat, matanya bergerak panik menghindari tatapan mata hitam Arka.

Arka menaikkan sebelah alisnya, heran melihat tingkah gersang Naya yang penuh kecanggungan. Namun, laki-laki itu tidak berkomentar. Ia menerima cangkir hangat itu dari tangan Naya.

"Terima kasih," ujar Arka singkat.

Arka mendekatkan cangkir itu ke bibirnya, meniup uap panasnya pelan, lalu menyesap cairan hitam pekat itu dalam satu tegukan yang cukup mantap.

Naya menahan napasnya, memperhatikan reaksi Arka.

Dua detik berlalu.

Seketika itu juga, raut wajah Arka yang biasanya tenang bagaikan permukaan danau berubah drastis. Dahi cowok itu berkerut sangat dalam. Matanya membelalak kecil, dan tenggorokannya bergerak kasar berusaha menelan cairan manis yang luar biasa pekat itu.

Arka menatap cangkir di tangannya dengan pandangan horor, lalu berpindah menatap Naya yang sedang memiringkan kepala bingung.

"Naya..." suara Arka terdengar agak tercekat. "...kamu memasukkan apa ke dalam cangkir ini?"

Naya mengerutkan keningnya, memasang wajah defensif secara refleks. "Gula lah! Masa semen?! Kan lo biasa minum kopi pakai gula!"

"Berapa sendok kamu tuang?" tanya Arka sambil meletakkan cangkir itu kembali ke konter dapur dengan hati-hati, seolah-olah cangkir itu berisi zat kimia berbahaya.

"Tiga sendok!" jawab Naya mantap.

"Tiga sendok makan?"

"Iya!"

Arka menghembuskan napas panjang lewat hidung, mengusap bibirnya dengan tisu dapur. Ia menatap Naya dengan pandangan prihatin yang teramat jujur.

"Ini bukan kopi, Naya. Ini sirup karamel pekat beraroma biji kopi," kata Arka datar, namun ada binar geli yang tak sanggup disembunyikannya di sudut matanya. "Manis sekali. Ini bisa bikin orang kena diabetes seketika dalam satu kali teguk."

"Bohong banget lo!" pekik Naya panik sekaligus malu luar biasa. "Gue tadi cuma nuang tiga sendok makan biasa kok!"

"Coba kamu cicipi sendiri kalau tidak percaya," tawar Arka, memajukan cangkir itu satu senti ke arah Naya.

Naya menyambar sendok tehnya dengan emosi yang membumbung tinggi, menyendok sedikit cairan kopi itu lalu melahapnya.

Sreeek!

Mata Naya melotot lebar seketika. Rasa manis yang luar biasa dahsyat—rasa manis biang gula yang menyengat tenggorokan—langsung menghantam lidahnya. Rasanya benar-benar seperti meminum sirup pekat tanpa campuran air yang cukup.

"Uhuk! A—anjir... manis banget!" rintih Naya batuk-batuk pelan, wajahnya merona merah padam gara-gara malu setengah mati. "Kok bisa manis banget begini sih?!"

Arka yang memperhatikan raut wajah Naya yang panik, merah padam, dan menggebu-gebu itu tidak sanggup lagi menahan tawanya.

Sebuah tawa renyah, halus, dan teramat lepas lolos dari tenggorokan sang Ketua OSIS. Arka tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menyandarkan pinggulnya di tepi konter dapur.

Naya membeku menatap Arka yang sedang terkekeh manis di hadapannya. Kerutan di mata Arka saat tertawa, deret giginya yang rapi, serta bahunya yang berguncang pelan membuat Naya lupa bagaimana cara memprotes.

"Lo... lo ngapain ketawa?!" sembur Naya gelagapan untuk menutupi detak jantungnya yang berdebar makin tak terkontrol. "Enggak ada yang lucu ya!"

"Bagaimana tidak lucu?" sahut Arka pelan, sisa tawa masih mengurai di bibirnya saat ia menatap Naya lurus-lurus. "Kamu itu kalau lagi salah tingkah, bikin kopi saja sampai lupa takaran."

"Si—siapa yang salah tingkah?!" elak Naya dengan nada tinggi, menyilangkan tangan di dada. "Gue cuma... cuma kurang fokus aja tadi!"

"Kurang fokus gara-gara memikirkan perkataan saya semalam?" goda Arka pelan, melangkah satu jengkal lebih dekat.

Wajah Naya makin menyala merah bagaikan kepiting rebus. "Arka Pradipta! Jangan kegeeran ya!"

Naya menyambar botol susu hangatnya, berniat kabur ke meja makan. Namun karena gerakannya yang terlalu terburu-buru, ujung piyamanya tersangkut di sudut pintu konter.

"Eh—!"

Naya kehilangan keseimbangan, tetapi sebelum tubuhnya terjatuh, tangan kanan Arka dengan sigap melingkar di pinggang Naya, menarik cewek itu rapat ke dadanya.

Sret!

Mereka berdua terpaku dalam posisi berdekapan erat di depan konter dapur. Napas Naya memburu di dada Arka, sementara tangan Arka menggenggam hangat pinggang Naya.

Mereka saling bertatapan dalam keheningan yang amat dekat. Binar tawa di mata Arka perlahan berganti menjadi tatapan hangat yang penuh dengan rasa kasih sayang yang tak bisa lagi disembunyikan.

"Lain kali..." bisik Arka pelan, suaranya sangat serak tepat di atas dahi Naya, "...kalau buat kopi, tidak usah pakai gula banyak-banyak. Senyum kamu dari tadi pagi saja sudah bikin kopi ini terlalu manis."

Deg.

Jantung Naya seperti meledak bahagia di dalam dadanya. Kalimat godaan polos dari Arka itu membuat lidah Naya mati rasa total.

Naya menyembunyikan wajahnya yang terbakar panas di dada Arka, meremas kaus oblong cowok itu pelan. "Nyebelin lo, Robot..."

Arka terkekeh pelan, makin mempererat pelukannya di pinggang Naya.

Pagi itu, di tengah pertengkaran konyol soal cangkir kopi yang terlalu manis, mereka berdua sama-sama menyadari: pertengkaran yang dulunya berisikan kebencian, kini telah sepenuhnya menjelma menjadi momen-momen paling membahagiakan dalam hidup mereka.

1
Adinda
bukannya nama orang tuanya naya Raka thor,pengusaha juga seperti Orangtuanya Arka
Lolita Febiyanti
kak ini tayang setiap hari apa kak??
Secret A: iya dong kak pasti, di setiap harinya selalu ada bab baru yakk 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!