NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Dao Ketiadaan

Angin salju yang menderu di perbatasan barat Benua Utara perlahan menyapu sisa-sisa aroma darah dari Kota Salju Darah.

Di atas puncak tebing batu kapur yang diselimuti es abadi, Zeng Niu melayang tenang dalam jubah abu-abu kusamnya. Di sekeliling tubuhnya, tidak ada pendaran cahaya pedang atau gelombang Qi yang menggelegar. Sebaliknya, udara di sekitar Zeng Niu begitu senyap, seolah-olah tempat yang ia pijak telah dihapuskan dari lukisan alam semesta.

Zeng Niu perlahan membuka telapak tangannya. Selembar daun salju yang terbawa angin jatuh menuju tangannya.

Sebelum daun itu menyentuh kulitnya, Zeng Niu memutarkan seutas Niat Ketiadaan di dalam Dantiannya.

Bukan dengan menghantam daun itu dengan gaya fisik, dan bukan pula membakarnya dengan api elemen. Daun salju itu mendadak terhenti di udara, lalu perlahan memudar wujudnya, hawa dinginnya, hingga jejak pergerakannya di alam semesta lenyap begitu saja, seakan daun itu tidak pernah diciptakan.

Ini adalah pemahaman sejati dari Dao Ketiadaan yang diwariskan oleh Sang Tiran Zhao Xuan.

"Awal dari segala sesuatu adalah Ketiadaan, dan akhir dari segala wujud adalah kembali menjadi Ketiadaan," gumam Zeng Niu dalam hati, matanya yang sebelah emas dan sebelah hitam memancarkan kedalaman jurang kosmik.

Di masa lalu, Zeng Niu menggunakan Niat Ketiadaannya sekadar sebagai alat pemukul kasar yang mengandalkan gaya gravitasi dan daya hisap. Namun, setelah menyerap petunjuk dari pencerahan tingkat Dewa Sejati, ia mulai memahami bahwa Dao Ketiadaan adalah hukum tertinggi yang memotong benang keterikatan.

Ketika ia menghentikan serangan musuh, ia bukan memanipulasi hukum fana, melainkan menyelimuti serangan itu dengan Niat Ketiadaan, meniadakan hawa serangan dan kehendak pembunuh di dalamnya hingga tak berwujud.

"Sederhana, namun mematikan," desis Zeng Niu, mengepalkan tangannya kembali.

Dua Hari Kemudian — Celah Es Kelam

Celah Es Kelam adalah satu-satunya jalur sempit yang menghubungkan wilayah barat Benua Utara dengan Puncak Pedang. Lembah terjal yang diapit oleh dua gunung es raksasa ini selalu diselimuti oleh badai angin es yang mampu membekukan meridian kultivator Golden Core.

Di ujung celah tersebut, hembusan angin malam tiba-tiba terbelah oleh raungan belasan binatang buas dan gemuruh perahu perang.

Sebuah armada kecil yang terdiri dari lima Perahu Tengkorak Es meluncur cepat menembus badai salju. Di atas perahu-perahu tersebut, berkumpul lebih dari dua ratus kultivator berpakaian seragam putih bersulam benang perak. Niat Membunuh yang mereka pancarkan begitu pekat hingga membuat butiran salju di sekitarnya berubah warna menjadi merah suram.

Ini adalah pasukan utama dari Lembah Iblis Es, dipimpin langsung oleh penguasa tertinggi mereka: Patriark Han Gui, kakak kandung dari Tetua Han Ku yang telah dimusnahkan oleh Zeng Niu.

Kultivasi Patriark Han Gui telah mencapai puncak Soul Transformation Tahap Akhir Puncak, hanya selangkah kecil lagi menuju ranah Ascendant. Di sampingnya, berdiri empat tetua agung ranah Soul Transformation serta tiga ketua sekte kecil dari Aliansi Utara yang dipaksa ikut serta.

"Patriark!" seru salah satu tetua agung dengan wajah geram. "Berani-beraninya Sekte Angin Merah membunuh Tetua Han Ku dan belasan murid elit kita! Hari ini, kita harus membantai seluruh Puncak Pedang dan merampas urat nadi spiritual yang mereka sembunyikan!"

Patriark Han Gui berdiri di haluan perahu, wajah tuanya yang tirus tampak seperti tengkorak hidup. Matanya menyipit menatap ke arah timur.

"Han Ku memang ceroboh, tapi dia membawa Giok Transmisi Aliansi," suara Han Gui terdengar parau, seperti dua bilah es yang saling bergesekan. "Puncak Pedang secara mendadak memiliki Qi yang begitu pekat hingga memicu fenomena langit. Mereka pasti telah membuka segel perbendaharaan kuno. Jika kita tidak menyerang sekarang sebelum mereka mencerna harta itu, Lembah Iblis Es kita akan tersingkir dari Utara!"

Namun, saat armada itu baru saja memasuki bagian terdalam Celah Es Kelam...

WUUUUUUNG!

Badai salju yang menderu gila-gilaan di dalam lembah tiba-tiba terhenti secara mendadak.

Bukan karena anginnya mereda, melainkan seluruh suara angin, gesekan salju, hingga deru mesin perahu perang itu mendadak padam. Keheningan yang tidak wajar dan mematikan merayap masuk, mencekik leher setiap kultivator di atas perahu.

"Waspada! Formasi musuh!" berteriak salah satu ketua sekte kecil, mencabut pedang esnya.

Di atas sebuah pilar es yang menjulang di tengah celah lembah, sesosok pria berpakaian abu-abu kusam duduk bersila. Ia memegang sebuah kendi arak tanah liat di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menopang dagu. Wajahnya disamarkan oleh topeng kulit manusia, dan fluktuasi Qi-nya sangat redup, hanya terlihat seperti Nascent Soul Akhir.

Itu adalah Zeng Niu.

Zeng Niu tidak menunggu musuh datang mengepung Puncak Pedang. Mengizinkan perang terjadi di pekarangan rumah saat murid-murid sedang berlatih di dalam Formasi Waktu adalah tindakan amatir. Sang Algojo selalu memotong ancaman di tengah jalan.

Zeng Niu menyesap araknya perlahan, menatap armada dua ratus kultivator di bawahnya dengan mata yang tenang sebening air kolam purba.

"Lembah Iblis Gletser menginginkan harta Puncak Pedang dan nama besar klan mereka. Sekte-sekte kecil di belakang mereka hanya menginginkan keselamatan dan sedikit sisa keuntungan." "Han Gui takut Sekte Angin Merah menjadi terlalu kuat dan memusnahkan klannya. Sekte-sekte kecil takut dijadikan umpan meriam oleh Han Gui." Zeng Niu memadatkan Niat Ketiadaan ke matanya, menembus pertahanan internal perahu utama. "Han Gui menderita luka dalam pada Dantiannya akibat kegagalan menembus ranah Ascendant lima puluh tahun lalu. Dia memaksakan kultivasinya menggunakan pil racun. Dia bertarung dengan waktu yang terbatas."

Zeng Niu menurunkan kendi araknya. Sebuah senyum tipis yang tak terlihat di balik topeng terukir.

"Patriark Han Gui," suara Zeng Niu mengalun pelan, namun kata-katanya bergema langsung di dalam Lautan Kesadaran setiap orang di armada tersebut. "Adikmu tewas karena dia melangkahi garis kematian yang tidak boleh disentuh. Apakah kau membawa seluruh klanmu kemari hanya untuk menyusulnya ke liang lahat?"

Han Gui terbelalak. Niat Spiritualnya melesat ke depan, mencoba memindai Zeng Niu. Namun, saat Qi spiritual Han Gui menyentuh pilar es tempat Zeng Niu duduk, Niat Spiritual itu lenyap seketika, seolah-olah diserap oleh lubang hitam tak kasat mata!

"Kau... pembunuh Han Ku?!" raung Han Gui, amarahnya meledak. "Serang! Hancurkan pilar es itu! Cincang dia menjadi seribu bagian!"

BAM! BAM! BAM!

Empat tetua agung ranah Soul Transformation dan belasan murid elit melesat dari perahu perang. Mereka menyatukan Qi elemen es mereka, memanggil seekor Naga Es Raksasa sepanjang tiga ratus tombak yang membawa Niat Kehancuran, meluncur lurus menghantam pilar tempat Zeng Niu berada!

Serangan gabungan dari lima ahli Soul Transformation itu cukup untuk meratakan sebuah kota kecil dalam sekejap.

Namun, Zeng Niu bahkan tidak beranjak dari posisi duduknya.

Ia hanya mengangkat lengan kanan jubah abu-abunya, menyapukan jemarinya ke udara dalam gerakan melingkar yang sangat halus.

[Dao Ketiadaan!]

ZRAAAAAAAAASH!

Tidak ada gelombang ledakan. Tidak ada percikan api atau cahaya yang membumbung.

Naga Es Raksasa sepanjang tiga ratus tombak itu, saat berjarak sepuluh tombak dari dada Zeng Niu, tiba-tiba memudar. Pembengkakan Qi elemen di dalamnya mendadak sirna. Esensinya dihapuskan dari alam nyata, dan dalam hitungan satu detik, naga es raksasa itu hancur menjadi kabut salju biasa yang berjatuhan tanpa daya ke dasar lembah!

Keheningan kembali melanda Celah Es Kelam.

Keempat tetua agung yang memimpin serangan itu terhenti di udara. Mata mereka melotot nyaris keluar dari kelopaknya. Rahang mereka jatuh, tubuh mereka gemetar hebat oleh ketakutan yang melanggar nalar.

"S-Serangan kita... ditelan?!" jerit salah satu tetua agung, suaranya melengking ketakutan. "Tidak ada gelombang Qi! Tidak ada mantra! Bagaimana bisa serangan lima ahli Soul Transformation lenyap begitu saja?!"

Ini bukan sekadar kekalahan; ini adalah demonstrasi kekuatan dari ranah yang tidak sanggup digapai oleh imajinasi mereka.

Di atas perahu utama, Patriark Han Gui jatuh mundur satu langkah. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahi tuannya. Sebagai seseorang yang berada di puncak Soul Transformation Akhir, ia memahami lebih banyak daripada bawahannya. Pemuda bertopeng di depannya ini... sedang menggunakan Hukum Dao Murni!

Zeng Niu perlahan berdiri di atas pilar es. Ia melirik tiga ketua sekte kecil dari Aliansi Utara yang berdiri paling belakang di perahu musuh.

"Kalian bertiga," ucap Zeng Niu dingin, menunjuk mereka. "Sekte kalian tidak memiliki dendam dengan Puncak Pedang. Jika kalian membalikkan perahu kalian sekarang dan bersumpah tidak akan pernah melangkah ke wilayah timur Benua Utara... aku akan membiarkan kalian bernapas hari ini."

Ketiga ketua sekte kecil itu saling pandang. Mereka telah melihat bagaimana naga es raksasa tadi lenyap tanpa bekas. Mereka menyadari bahwa Han Gui telah membawa mereka ke dalam mulut iblis primordial!

"Kami mengundurkan diri! Aliansi kami batal!" teriak salah satu ketua sekte kecil tanpa ragu sedikit pun. Mereka bertiga langsung meremukkan jimat pelarian dan melesat pergi membawa pasukan mereka ke arah barat dengan kecepatan maksimal!

Dengan menelanjangi ketakutan musuh dan menghancurkan moral sekutu mereka, Zeng Niu telah memangkas separuh dari kekuatan armada musuh tanpa menumpahkan darah mereka.

Kini, hanya tersisa Lembah Iblis Es dan Patriark Han Gui yang terkepung oleh kebingungan dan amarah mereka sendiri.

Wajah Han Gui terdistorsi gila. "Pengecut! Sekumpulan pengecut! Pria bertopeng... kau pikir kau bisa menakutiku dengan trik ilusi ketiadaanmu?!"

Han Gui memuntahkan seteguk darah hitam ke tangannya. Ia membakar sisa-sisa umur dan Dantiannya yang cacat, mengorbankan fondasi hidupnya untuk memanggil kekuatan terakhirnya. Sebuah cakar es raksasa berwarna merah darah bermanifestasi di atas langit lembah, memancarkan fluktuasi Setengah Langkah Ascendant!

"Mati bersamaku!" raung Han Gui, mendorong cakar darah itu ke arah Zeng Niu.

Zeng Niu menggelengkan kepalanya pelan. "Kekuatan yang didapat dari membakar sampah tetaplah sampah."

Zeng Niu melangkah keluar dari pilar es. Kali ini, ia tidak meniadakan serangan itu dari jauh.

Tulang Emas Asura-nya yang disembunyikan di bawah jubah abu-abu berderak halus. Kecepatan fisik murninya merobek ruang, menciptakan ledakan hampa udara di dalam celah lembah.

BOOM!

Zeng Niu muncul tepat di tengah cakar es merah darah tersebut. Tangan kanannya melesat maju, mengepal, dan meninju lurus ke dalam inti cakar tersebut.

[Dao Ketiadaan!]

PRANGGGGG!

Cakar darah tingkat Setengah Langkah Ascendant itu hancur berkeping-keping bagaikan kaca tipis di bawah kombinasi ketebalan fisik Emas Asura dan Niat Ketiadaan yang memutus jalinan Qi di dalamnya.

Sebelum pecahan es sempat menyentuh tanah, Zeng Niu telah berdiri di atas geladak perahu utama Lembah Iblis Es, tepat di hadapan Patriark Han Gui.

Cengkeraman tangan Emas Asura Zeng Niu langsung mengunci leher Han Gui, mengangkat Patriark tua itu ke udara layaknya membawa seekor anak anjing.

"U-Uhhk..." Han Gui meronta, matanya memancarkan keputusasaan absolut saat ia menatap ke dalam topeng kulit manusia Zeng Niu. Di balik mata pemuda itu, ia melihat jurang ketiadaan tanpa dasar yang sedang menatap jiwanya.

Empat tetua agung yang tersisa di perahu tidak berani maju satu langkah pun. Mereka berlutut di geladak, membuang senjata mereka, dan menangis memohon ampun.

Zeng Niu menatap Han Gui yang napasnya semakin melemah.

"Adikmu mati karena mencoba mengintip wanitaku," bisik Zeng Niu tepat di telinga Han Gui. "Dan kau mati hari ini... karena kau membawa niat buruk."

KRAAAAAAK!

Zeng Niu mematahkan leher Patriark Lembah Iblis Es itu dengan satu sentakan pelan, lalu menyedot seluruh energi Dantiannya yang tersisa ke dalam Benih Dunia sebelum melempar mayatnya ke dasar lembah.

Faksi terbesar kedua di wilayah barat Benua Utara telah dihancurkan dalam satu pertempuran di Celah Es Kelam.

Zeng Niu memungut cincin penyimpanan Han Gui dan para tetuanya, lalu menatap sisa-sisa murid Lembah Es yang gemetar di geladak.

"Kembalilah ke Lembah Iblis Es," perintah Zeng Niu dingin, suaranya diperkuat oleh Niat Asura. "Buka perbendaharaan kalian dan serahkan delapan puluh persen sumber daya klan kalian ke Puncak Pedang dalam waktu tiga hari. Jika ada satu keping batu roh yang kurang... aku sendiri yang akan berjalan ke lembah kalian dan meratakannya dengan tanah."

"K-Kami mengerti! Hamba mengerti!" para murid itu bersujud histeris.

Zeng Niu berbalik, melangkah pergi menembus badai salju yang kembali menderu.

Badai lokal di Utara telah dipadamkan oleh tangan dingin Sang Algojo. Namun, saat Zeng Niu menatap ke arah langit benua tengah, ia tahu bahwa pesan palsu yang ia kirimkan melalui Tuan Bai hanya akan memberi waktu beberapa bulan sebelum anjing-anjing sejati dari Istana Pusat dan Keluarga Ye menyadari penipuan tersebut.

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!