NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Runtuhnya Kerajaan Bahar

Alana menatap uluran tangan besar yang bersih tanpa noda itu dengan tatapan kosong. Pikirannya masih berdengung kencang, berusaha mencerna semua kejadian gila yang baru saja berlangsung dalam waktu kurang dari lima menit. Tiga orang preman raksasa bertato, algojo paling kejam milik Juragan Bahar yang ditakuti di seluruh wilayah ini, baru saja ditumbangkan hingga tak sadarkan diri oleh pria yang berdiri di depannya.

​Dengan tangan gemetar, Alana akhirnya membalas uluran tangan itu. Genggaman tangan Xander terasa begitu kokoh dan hangat, menarik tubuh mungil Alana berdiri dari lantai yang dingin.

​"K-kau... bagaimana kau bisa melakukan semua itu?" suara Alana terdengar parau. Sepasang matanya menatap tajam ke dalam manik obsidian Xander, mencari kebohongan. "Kau mengalahkan mereka seolah-olah kau adalah seorang pembunuh bayaran profesional. Siapa kau sebenarnya, Xander?"

​Xander menatap balik mata gadis yang dipenuhi ketakutan dan kecurigaan itu. Sang triliuner tahu, satu langkah salah dalam memberikan alasan akan menghancurkan penyamaran amannya malam ini. Otak jeniusnya segera memutar sebuah narasi baru yang masuk akal.

​Tiba-tiba, Xander tertawa hambar. Tawa yang terdengar sarat akan rasa pahit dan keputusasaan yang dipalsukan dengan sangat sempurna. Pria itu mengacak-acak rambutnya yang setengah kering.

​"Pembunuh bayaran? Astaga, Alana. Imajinasi novel macam apa itu?" Xander tersenyum miring, lalu berjalan mendekati sisa-sisa meja dapur yang hancur. "Kau ingat saat aku bilang aku punya hutang besar pada sindikat lintah darat kasino?"

​Alana mengangguk pelan, masih menjaga jarak.

​"Selama lima tahun terakhir, demi mencicil bunga hutang gila itu, aku dipaksa bekerja sebagai tukang pukul dan penjaga pintu di klub malam bawah tanah milik mereka," ucap Xander dengan nada suara yang dibuat terdengar penuh penyesalan. "Setiap malam aku harus menghadapi para pemabuk berandalan, petarung jalanan, hingga mafia kelas teri. Kalau aku tidak belajar membela diri secara brutal, aku pasti sudah mati membusuk di selokan sejak lama. Preman-preman ibumu tadi belum ada apa-apanya dibandingkan monster-monster di klub bawah tanah."

​Mendengar penjelasan itu, sorot mata Alana perlahan berubah. Logika gadis itu mulai menerima alasan tersebut. Tentu saja! Pria malang ini terjebak dalam lingkaran setan rentenir, sama sepertinya. Lingkungan yang keras pasti telah memaksanya menjadi beringas demi bertahan hidup. Rasa curiga di hati Alana seketika menguap, digantikan oleh rasa bersalah yang amat dalam karena telah menuduh pria yang baru saja menyelamatkan nyawanya.

​"Maafkan aku, Xander," bisik Alana, menundukkan kepalanya. "Aku tidak bermaksud menuduhmu yang macam-macam. Kau baru saja menyelamatkanku, tapi aku malah mencurigaimu. Aku benar-benar berterima kasih. Kalau tidak ada kau malam ini... aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku."

​Xander tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini entah mengapa terasa sedikit lebih tulus dari sebelumnya. "Tidak perlu berterima kasih, Istriku. Mulai malam ini, itu sudah menjadi tugasku."

​Malam itu, mereka berdua bekerja sama menyingkirkan tubuh dua preman yang pingsan ke lorong luar apartemen. Karena engsel pintu kayu sudah hancur total, Xander dengan mudah mengangkat sebuah lemari pakaian yang cukup berat dan menggesernya untuk memblokir celah pintu, memastikan tidak ada yang bisa masuk menerobos saat mereka tidur.

​Keheningan perlahan menyelimuti apartemen kecil itu. Di atas sofa usang yang sempit, sang penguasa dunia bawah yang biasanya tidur di atas ranjang king size seharga ratusan juta, kini terlelap dengan kedua kaki panjangnya yang menggantung di ujung sofa. Anehnya, malam ini Xander tertidur lebih nyenyak dari biasanya, tanpa perlu memikirkan ancaman pembunuhan dari rival bisnisnya.

​Keesokan paginya, sinar matahari pagi menyelinap dari celah tirai yang tipis, menyilaukan mata Alana. Gadis itu menggeliat pelan, terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang ia lihat saat keluar dari area tempat tidur adalah sosok Xander. Pria itu masih tertidur lelap di sofa. Wajahnya yang tegas tampak begitu damai, mirip seperti sesosok malaikat pelindung, sangat jauh berbeda dengan iblis berdarah dingin yang mematahkan tulang preman tadi malam.

​Tanpa sadar, sudut bibir Alana terangkat membentuk senyuman kecil. Ia segera bergegas ke dapur mini. Menggunakan sisa-sisa bahan makanan seadanya di kulkas, Alana memasak dua porsi nasi goreng telur sederhana. Aroma gurih bawang putih dan kecap segera menguar, memenuhi ruangan kecil itu.

​Aroma masakan itu rupanya berhasil membangunkan Xander. Pria itu membuka matanya perlahan, mengerjap menyesuaikan cahaya. Ia duduk dan menatap hidangan sederhana yang sudah tersaji di atas meja kecil ruang tengah. Di mansion mewahnya, Xander selalu dilayani oleh koki pribadi asal Prancis pemegang bintang Michelin. Namun pagi ini, melihat seorang gadis memakai celemek memasak untuknya, ada sebuah kehangatan aneh yang menyusup ke dalam hatinya yang selama ini beku.

​"Makanlah. Maaf hanya ada nasi goreng telur seadanya," ucap Alana sambil menyodorkan segelas teh hangat.

​Xander menyuapkan sesendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Matanya sedikit membesar. "Ini enak. Sangat enak," pujinya jujur.

​Alana tersipu malu. Ia lalu duduk di seberang Xander, bersiap menyantap sarapannya sebelum berangkat kerja sebagai desainer perhiasan junior di sebuah perusahaan. Sambil mengunyah, Alana meraih ponselnya yang sedang diisi daya untuk memeriksa notifikasi.

​Baru saja ia membuka layar beranda, sebuah notifikasi berita sela Headline News nasional langsung memenuhi layar ponselnya dengan huruf kapital berwarna merah menyala.

​"BREAKING NEWS: KERAJAAN BISNIS JURAGAN BAHAR RUNTUH SEMALAMAN! ASET DISITA, KASINO BAWAH TANAH HANGUS TERBAKAR, DAN SANG RENTENIR KINI BERSTATUS BURONAN NEGARA!"

​Sendok di tangan Alana langsung terjatuh berdenting ke atas piring. Gadis itu ternganga, matanya membelalak lebar membaca rentetan paragraf berita tersebut. Dilaporkan bahwa tadi malam, sebuah kekuatan misterius yang sangat masif telah menghancurkan seluruh pusat operasi Juragan Bahar. Semua lumbung uangnya dirampok bersih, perusahaannya dinyatakan bangkrut karena sahamnya anjlok 100%, dan Bahar sendiri kini sedang diburu oleh polisi atas berbagai tuduhan kejahatan berat.

​"Astaga... Ya Tuhan... Xander! Lihat ini!" jerit Alana histeris, menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah pria itu. Tangannya bergetar karena syok sekaligus bahagia yang tak terkira.

​Xander melirik sekilas ke arah layar ponsel itu. Pria itu lalu menyesap teh hangatnya dengan sangat elegan, diam-diam menyembunyikan seringai iblis di balik cangkirnya. Pekerjaan Dante dan anak buahnya memang selalu memuaskan.

​"Juragan Bahar hancur, Xander! Rentenir gila itu bangkrut semalaman! Ini keajaiban! Tuhan benar-benar menjawab doaku!" ucap Alana dengan mata berkaca-kaca menahan tangis haru. Mimpi buruknya selama ini akhirnya sirna begitu saja. Beban berat seolah baru saja diangkat dari kedua pundaknya.

​"Begitulah," sahut Xander dengan nada suara datar namun menyimpan nada geli yang tersembunyi. "Tuhan memang selalu bekerja dengan cara yang sangat misterius, Alana."

​Alana langsung bangkit berdiri dan melompat kegirangan. "Aku harus segera mandi dan berangkat kerja! Hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku!"

​Setengah jam kemudian, Alana berlari keluar dari apartemen menuju stasiun bus, meninggalkan Xander sendirian. Pria itu menatap kepergian istrinya dari jendela. Sesaat setelah Alana menghilang dari pandangan, ponsel di saku Xander bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Dante.

​"Tuan Besar," lapor suara Dante dari seberang telepon. "Tugas semalam sudah selesai tanpa jejak. Selain itu, jadwal Anda hari ini adalah melakukan inspeksi dadakan ke perusahaan perhiasan Viora yang baru saja kita akuisisi minggu lalu."

​Xander tersenyum miring. Viora. Itu adalah nama kantor tempat istri kecilnya bekerja.

​"Siapkan mobilku, Dante. Aku akan datang meninjau kantorku," perintah Xander, matanya berkilat penuh antisipasi.

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!