Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Pecahan Cermin Kegelapan
Kegelapan yang menyergap bunker bawah tanah sektor empat seketika mengeskalasi situasi menjadi kekacauan masif. Bau mesiu yang menyengat langsung memenuhi ruangan sempit itu, berbaur dengan kepulan debu beton yang runtuh akibat rentetan peluru kaliber besar dari luar lorong. Suara teriakan para pengawal Arsen yang tumbang, dentuman senjata otomatis, dan desingan proyektil yang memantul di dinding besi menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga.
"Tuan Arsen! Faksi tak dikenal menerobos barikade barat! Mereka menggunakan granat asap termit!" suara Marco menggelegar di tengah kegelapan, disusul suara hantaman fisik yang brutal saat dia mencoba menahan pergerakan di dekat pintu masuk.
Arunika, yang baru saja tersungkur di atas lantai semen yang dingin, merasakan pergelangan tangannya dicengkeram semakin erat oleh sosok wanita misterius yang tiba-tiba muncul dari balik kegelapan. Cengkeraman itu dingin, kering, namun memiliki daya dorong yang luar biasa kuat.
"Berdiri, bodoh! Kalau kau tetap di lantai, kau akan mati tertembak anjing-anjing Valentino!" desis wanita itu kasar tepat di samping telinga Arunika.
Dengan kepala yang masih pening akibat sisa gas tidur dan syok emosional dari pengakuan Rangga, Arunika dipaksa bangkit. Langkah kakinya goyah, menyandung beberapa selongsong peluru yang berserakan di lantai. Di sekelilingnya, kegelapan total hanya terdistraksi oleh kilatan cahaya moncong senjata (*muzzle flash*) yang meletus bersahut-sahutan di ambang pintu bunker, menampilkan siluet-siluet bayangan pria yang saling hantam dengan brutal.
*Duar!*
Sebuah ledakan kecil kembali mengguncang sudut ruangan, meruntuhkan sebagian langit-langit beton. Kilatan api dari ledakan itu menerangi ruangan selama satu detik. Dalam satu detik yang krusial itu, Arunika refleks menoleh ke samping, mencoba melihat wajah wanita yang sedang menyeretnya.
Dada Arunika berdegup kencang hingga dia nyaris lupa cara bernapas. Wanita itu mengenakan pakaian taktis serba hitam tanpa lengan. Dan di atas bahu kirinya yang terekspos oleh kilatan api ledakan, terdapat sebuah tanda lahir yang sangat familier bagi Arunika. Sebuah bentuk bulan sabit merah yang terpotong di bagian tengahnya.
Tanda itu bukan buatan. Tekstur kulitnya, warnanya, semuanya sama persis dengan apa yang selama ini Arunika miliki di tubuhnya sendiri.
Belum sempat Arunika menyuarakan keterkejutannya, sebuah siluet tinggi tegap menerobos kabut asap dengan kecepatan yang mengerikan. Arsen Valentino muncul seperti malaikat maut yang mengamuk di tengah kegelapan. Pria itu mengayunkan pisau taktisnya dengan presisi mematikan, menyasar langsung ke arah leher wanita misterius tersebut.
*Tring!*
Suara benturan dua bilah baja bergema nyaring. Wanita itu ternyata telah mengantisipasi serangan Arsen. Menggunakan pisau komando kecil yang entah sejak kapan berada di tangan kirinya, dia menahan ayunan pisau Arsen, sementara tangan kanannya terpaksa melepaskan cengkeraman pada pergelangan tangan Arunika.
"Lama tidak bertemu, Arsen," ucap wanita itu, suaranya mengandung nada ejekan yang dingin di tengah dentingan senjata mereka yang saling bergesekan. "Kau masih saja lambat, sama seperti sepuluh tahun yang lalu saat kau menangis di samping jasad ibumu."
Rahang Arsen mengeras dengan ekstrem. Tanpa membalas ucapan itu, dia menggunakan berat tubuhnya untuk menekan pisau wanita itu ke bawah, lalu melepaskan satu tendangan lurus yang mendarat telak di dada sang wanita. Wanita berbaju hitam itu terdorong mundur tiga langkah, terbatuk kecil, namun segera menegakkan tubuhnya kembali dengan posisi siap bertarung.
"Marco! Amankan gadis itu!" perintah Arsen dengan suara baritonnya yang menggelegar penuh otoritas, mengabaikan kekacauan di sekelilingnya. Fokusnya kini terkunci sepenuhnya pada wanita yang baru saja menghina memori ibunya.
Arunika yang terlepas dari cengkeraman merangkak mundur ke sudut ruangan, mencoba berlindung di balik tumpukan kotak besi tua. Pandangannya beralih pada Rangga yang tadi berlutut di lantai. Pria itu ternyata memanfaatkan situasi ricuh ini untuk meraih sebuah pistol dari salah satu pengawal Arsen yang telah tewas.
Dengan tangan bergetar, Rangga mengarahkan moncong pistol itu tepat ke arah punggung Arsen yang sedang bersiap menerjang kembali sang wanita misterius.
"Arsen, awas!" teriak Arunika tanpa sadar. Instingnya bertindak lebih cepat daripada rasa benci yang dia miliki pada raja mafia itu.
*Bang!*
Suara tembakan meletus, namun bukan dari pistol Rangga. Marco yang baru saja berhasil melumpuhkan seorang penyusup di dekat pintu, melepaskan tembakan presisi yang langsung melubangi dahi Rangga. Mantan tunangan Valeria itu ambruk ke lantai semen dengan mata melotot, tewas seketika sebelum sempat menarik pelatuknya.
Di sisi lain ruangan, wanita misterius itu menggunakan momen pengalihan tersebut untuk melempar sebuah granat kilat (*flashbang*) ke lantai.
*Blam!*
Cahaya putih yang luar biasa menyilaukan dan suara dengung frekuensi tinggi kembali menghantam ruangan beton itu. Arsen dan Marco terpaksa melindungi mata mereka sejenak. Ketika cahaya itu memudar dan kepulan asap termit mulai menipis, sosok wanita misterius itu telah lenyap dari dalam bunker, menyelinap keluar melalui celah ventilasi pembuangan udara yang hancur di bagian belakang.
Ruangan kembali sunyi, menyisakan deru napas Arsen yang memburu di tengah kegelapan yang kini mulai diterangi oleh lampu darurat berwarna merah yang menyala berkedip-kedip.
Arsen menyarungkan pisaunya dengan kasar. Pria itu berbalik perlahan, melangkah mendekati tempat Arunika bersembunyi. Sepasang mata elangnya yang merah karena amarah dan paparan asap menatap Arunika dengan intensitas yang sanggup membuat jantung gadis itu berhenti berdetak.
"Kau tahu siapa wanita itu, Arunika?" tanya Arsen, suaranya merendah, bergetar oleh kombinasi kebencian dan kebingungan yang jarang dia perlihatkan.
Arunika menggeleng dengan tubuh yang gemetar hebat, air matanya menetes melewati pipinya yang kuyu. "Aku... aku tidak tahu. Tapi di bahunya... dia memiliki tanda yang sama denganku."
Arsen terdiam sejenak. Pria itu merogoh saku jasnya yang robek, mengeluarkan berkas dokumen investigasi yang sempat dia bawa dari mansion, lalu melemparkannya ke atas lantai di depan Arunika.
"Wanita itu adalah Katarina Vane. Ibumu," ucap Arsen, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti hantaman palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. "Dia tidak mati sepuluh tahun lalu, dan dia tidak sedang bersembunyi di desa. Dia memimpin faksi penyusup malam ini untuk mengambilmu kembali."
Arunika tertegun, kepalanya mendadak kosong. Wanita kejam yang baru saja mencoba menggorok Arsen, wanita yang memiliki tanda lahir yang sama dengannya, adalah Katarina Vane? Ibunya yang selama ini dia tangisi kepergiannya?
Namun, kejutan terbesar malam ini belum berakhir.
Marco berjalan mendekati meja beton di tengah ruangan, mengambil sebuah alat pemutar kaset mini yang dia temukan di dalam saku pakaian taktis Rangga sebelum pria itu tewas. "Tuan Arsen, ada rekaman suara digital di dalam perangkat milik Rangga. Ini tampaknya direkam beberapa jam sebelum serangan di aula pernikahan dimulai."
Arsen memberikan anggukan kecil. Marco menekan tombol *play*.
Suara statis yang berisik terdengar sejenak dari pengeras suara kecil alat tersebut, sebelum digantikan oleh suara seorang wanita muda yang sangat akrab di telinga Arunika. Suara yang anggun, penuh percaya diri, dan selalu terdengar dominan. Suara kakaknya, Valeria.
*“Rangga, jika kau mendengarkan rekaman ini, artinya rencana kita berjalan lancar. Aku sudah berada di pesawat menuju Paris menggunakan paspor milik Arunika. Biarkan jalang kecil itu memakai namaku dan menghadapi kemarahan Arsen Valentino di mansion. Dia selalu menjadi bayangan yang tidak berguna di rumah ini, jadi biarkan dia melakukan tugas terakhirnya sebagai perisai darah untuk keluarga Baskoro.”*
Suara di dalam rekaman itu tertawa rendah, sebuah tawa yang begitu dingin dan manipulatif, sebelum melanjutkan kalimatnya.
*“Dan satu hal lagi, Rangga... pastikan Arsen melihat tanda lahir di bahu kirinya. Tanda buatan yang diukir Ayah menggunakan tinta kimia sepuluh tahun lalu itu pasti akan membuat Arsen mengira dia telah menangkap anak dari Katarina Vane. Sementara aku... anak kandung Katarina yang sebenarnya... akan menjual cetak biru teknologi militer milik faksi Valentino kepada faksi Volkov di Eropa. Kita akan kaya, Rangga. Dan Arsen tidak akan pernah tahu bahwa pengantin pengganti yang dia siksa di rumahnya... hanyalah seorang anak yatim piatu yang kami pungut dari jalanan.”*
*Klik.*
Rekaman itu berakhir, menyisakan kesunyian yang jauh lebih mematikan daripada ledakan bom sebelumnya.
Arunika merasa seluruh dunianya hancur berkeping-keping hingga menjadi debu yang tak bersisa. Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh rasa kebas yang luar biasa dingin di dalam dadanya. Jadi... selama dua puluh dua tahun kehidupannya, semuanya adalah kebohongan yang dirancang dengan sangat rapi. Dia bukan adik dari Valeria, dia bukan anak kandung dari Baskoro, dan dia bahkan bukan anak dari Katarina Vane.
Dia hanyalah seonggok daging tak bernama yang dipungut dari jalanan, diberi tanda lahir palsu di bahunya, dan dipelihara hanya untuk dijadikan tumbal berdarah di masa depan agar anak kandung mereka yang asli bisa hidup dalam kemewahan. Seluruh kasih sayang yang dia rasakan selama ini, semua penderitaan yang dia tanggung demi melunasi utang judi ayahnya... semuanya adalah bagian dari skenario sandiwara yang kejam.
Arunika menatap bahu kirinya sendiri dengan pandangan kosong yang mengerikan. Tanda bulan sabit merah ini... bukan simbol takdir berdarah dari ibunya. Ini adalah stempel kepalsuan yang diukir oleh pria yang selama ini dia panggil 'Ayah'.
Arsen Valentino berdiri diam di tempatnya, menatap Arunika yang kini tampak seperti cermin yang pecah berantakan. Kemarahan pria itu yang tadinya ditujukan pada Arunika sebagai anak musuh besarnya, kini mendadak kehilangan arah. Gadis di hadapannya ini ternyata sama setidakberdayanya dengan dirinya sepuluh tahun lalu—sebuah boneka yang dimanipulasi oleh keserakahan keluarga Baskoro.
Namun, Arsen tetaplah seorang raja mafia yang tidak mengenal kata belas kasihan dalam kamus hidupnya. Dia melangkah maju, mencengkeram dagu Arunika dengan jemarinya yang kuat, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang sedingin es.
"Kau mendengar semuanya, Arunika?" tanya Arsen, suaranya tidak lagi membara oleh dendam, melainkan dipenuhi oleh perhitungan dingin yang baru. "Keluarga yang kau bela dengan nyawamu ternyata menganggapmu lebih rendah dari seonggok sampah di pinggir jalan."
Arunika tidak berkedip. Tatapan matanya yang semula dipenuhi ketakutan kini berubah menjadi hampa, mati, seperti sepasang mata boneka porselen. "Lalu... apa yang akan kau lakukan padaku sekarang? Jika aku bukan anak Katarina, aku tidak lagi berguna untuk dendammu, bukan? Bunuh saja aku, Arsen. Tidak ada lagi yang tersisa dariku."
Arsen menyipitkan matanya, melihat perubahan drastis pada psikologis gadis di depannya. Sesuatu di dalam diri Arunika telah mati malam ini, dan apa yang tersisa di sana adalah ruang kosong yang siap diisi oleh apa saja.
"Membonusmu sekarang adalah tindakan yang bodoh, Arunika," ucap Arsen perlahan, sebuah senyuman baru yang sarat akan intrik gelap muncul di garis rahangnya yang tegas. "Keluarga Baskoro dan faksi Volkov mengira mereka telah memenangkan permainan ini dengan mengirim Valeria yang asli ke Paris. Mereka mengira aku akan membuangmu setelah mengetahui kebenaran ini."
Arsen melepaskan cengkeramannya di dagu Arunika, lalu mengulurkan tangannya yang kokoh ke depan.
"Kau ingin membalas dendam pada orang-orang yang telah mencuri kehidupanmu selama dua puluh dua tahun ini, Arunika?" bisik Arsen, nadanya terdengar seperti bisikan iblis yang menawarkan perjanjian terlarang. "Tetaplah di sisiku. Tetaplah menjadi pengantin penggantiku. Kita akan membalikkan panggung sandiwara ini. Kau akan memakai identitas Valeria, dan bersama-sama, kita akan memburu mereka hingga ke ujung Eropa."
Arunika menatap tangan Arsen yang terulur di hadapannya. Ini bukan lagi uluran tangan seorang penculik atau pelindung palsu. Ini adalah undangan untuk melangkah masuk ke dalam kegelapan yang sesungguhnya. Dia tidak lagi memiliki masa lalu, tidak lagi memiliki keluarga, dan tidak lagi memiliki nama yang nyata. Jika dia harus menjadi monster untuk menghancurkan orang-orang yang telah menjadikannya tumbal, maka dia akan melakukannya.
Dengan gerakan yang lambat namun pasti, Arunika mengangkat tangan kanannya, menyambut genggaman tangan Arsen Valentino.
Tepat ketika jemari mereka saling mengunci, sebuah alarm darurat bersuara melengking kembali berbunyi dari arah luar bunker. Layar monitor darurat yang terpasang di dinding beton mendadak menyala, menampilkan rekaman langsung dari ruang isolasi medis bawah tanah di mansion utama Valentino—tempat Baskoro sedang dirawat.
Di dalam video tersebut, seluruh tim medis internal tampak tergeletak bersimbah darah di atas lantai lantai. Dan di depan ranjang Baskoro yang kosong, seseorang telah menuliskan sebuah pesan baru di dinding menggunakan darah segar para dokter yang tewas.
Sebuah pesan pendek yang membuat napas Arunika kembali tercekat dan genggaman tangan Arsen seketika mengencang hingga retak.
_____________________________
**Bersambung ke Bab 10...**
*Pesan mengerikan apakah yang tertulis di dinding ruang medis setelah Baskoro diculik kembali dari bawah hidung faksi Valentino? Siapakah dalang sebenarnya yang berhasil membobol pengamanan paling ketat di mansion utama Arsen di saat mereka semua berada di pelabuhan utara? Dan rahasia berdarah apa lagi yang menanti Arunika saat dia memutuskan untuk membuang nama lamanya dan hidup sebagai sang ratu mafia baru? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memanas dan penuh plot twist di bab berikutnya!*