Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18 . Menawarkan diri.
Matahari sore sudah condong ke barat, memancarkan semburat warna oranye di langit ketika Nadia melangkah masuk melewati gerbang rumah tua. Langkah kakinya terasa begitu berat, dan tas kuliah yang ia peluk di dada rasanya seperti beban berton-ton. Sepanjang waktu di kampus, otaknya sama sekali tidak bisa menyerap materi kuliah. Pikirannya terus tertuju pada janin di rahimnya dan nasib masa depannya yang abu-abu.
Namun, langkah Nadia seketika melambat saat melihat Ubay sudah duduk di undakan teras.
Pemuda gondrong itu masih mengenakan pakaian kerjanya, kaus oblong hitam yang sedikit berdebu dan celana jins belel. Disampingnya, terdapat beberapa nota setoran harian dari armada gerobak motor listrik biru yang ia kelola. Ubay sedang memegang segelas kopi hitam yang sudah dingin, matanya menatap lurus ke depan, tenggelam dalam lamunan yang sangat dalam.
Sepanjang hari di jalanan, sembari mengecek setoran Dika dan anak-anak buahnya yang lain, otak Ubay tidak berhenti berputar. Sebagai kepala pengelola usaha kopi keliling jalanan, penghasilannya memang tidak menentu, tapi cukup untuk hidup dan menabung sedikit demi sedikit. Masalahnya bukan soal uang, melainkan soal nama baik Nadia.
Ubay mendengar suara pagar berdecit dan menoleh. "Sudah pulang lu?" tanyanya lempeng, menaruh gelas kopinya ke lantai semen.
Ber-kamu dan ber-aku saat bicara sama dia sebulan ini, lidah Ubay sedikit gatal. Ia tidak terbiasa bicara formal kecuali pada orang tertentu. Sehari-hari Ubay lebih suka ber-gue dan ber-elu saja, biar lebih luwes.
"Sudah, Mas Ubay," jawab Nadia lirih, berjalan mendekat dan berdiri dengan canggung di dekat tiang teras.
Ubay menatap wajah Nadia. Sisa-sisa kecemasan dan ketakutan masih tercetak jelas di sana. Ubay menghembuskan napas pendek, lalu menepuk undakan semen di sampingnya. "Duduk sini sebentar. Ada yang mau gue omongin."
Nadia menurut. Ia duduk dengan jarak satu meter dari Ubay, meremas tali tasnya dengan gelisah. "Soal... soal yang tadi pagi ya, Mas?"
Ubay terdiam beberapa saat, memandang lurus ke arah jalan depan rumah yang mulai ramai oleh kendaraan orang-orang pulang kerja. "Gue udah mikirin ini seharian di jalanan tadi. Lu gak punya siapa-siapa lagi di kota ini, dan lu gak mungkin pulang kampung halaman lu dengan kondisi begini, kan?"
Nadia menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Nggak mungkin, Mas. Di kampung cuma ada bibi saya. Kalau beliau tahu, beliau bisa serangan jantung. Saya... saya buntu, Mas."
"Gue tahu tembok rumah orang kaya yang namanya Axel itu terlalu tinggi buat kita tembus. Kalau kita paksa minta tanggung jawab, lu cuma bakal dihina-hina lagi," ucap Ubay, suaranya terdengar sangat berat dan dalam. Ia menoleh, menatap Nadia lurus-lurus dari balik rambut gondrongnya. "Makanya, gue yang bakal kasih lu jalan keluar."
Nadia mengernyitkan dahi, bingung. "Maksud Mas Ubay?"
Ubay menarik napas panjang, memantapkan hatinya sebelum mengucapkan kalimat yang akan mengubah hidup mereka berdua. "Gue bakal nikahin lu."
Deg.
Jantung Nadia seakan berhenti berdetak. Ia menatap Ubay dengan mata melebar sempurna, benar-benar syok. "M-Mas Ubay... bicara apa? Nggak, Mas... nggak boleh begitu. Ini bukan anak Mas Ubay! Mas Ubay nggak salah apa-apa, kenapa harus nanggung noda orang lain?"
"Dengerin gue dulu, jangan dipotong," seru Ubay tegas, membuat Nadia langsung bungkam.
Ubay memajukan badannya, bertumpu pada kedua lututnya. "Gue nikahin lu bukan karena gue ambil keuntungan, dan bukan karena gue sok jadi pahlawan. Gue nikahin lu murni cuma sekadar untuk memberi status hukum buat anak itu di dalam akta kelahirannya nanti. Biar anak itu punya bapak yang sah di mata negara, dan biar lu gak jadi omongan tetangga di kampung ini atau di kampus lu."
Nadia membekap mulutnya, air matanya menetes deras mendengarkan ketulusan yang terbalut sikap kasar cowok di sampingnya ini. "Tapi... pernikahan itu sakral, Mas. Masa depan Mas Ubay gimana? Mas Ubay bisa dapat perempuan yang jauh lebih baik, yang nggak kotor seperti saya..."
"Gue ini cuma anak jalanan, Nadia. Masa depan gue ya di atas aspal ini," potong Ubay dengan senyum sinis yang getir. "Gue gak peduli soal itu. Rencana gue begini, kita nikah siri atau nikah resmi di KUA secara diam-diam, gak usah pakai pesta. Cukup ada wali dan saksi yang sah. Setelah anak itu lahir dan surat-suratnya lengkap... kalau lu ngerasa beban lu udah selesai dan lu mau pergi, gue bakal lepasin lu. Kita bisa cerai baik-baik. Gue gak bakal nuntut apa-apa dari lu."
Nadia menggelengkan kepalanya nelangsa, hatinya tercabik-cabik antara rasa bersalah yang amat sangat pada Ubay, dan kenyataan bahwa tawaran Ubay adalah satu-satunya pelampung penyelamat hidupnya saat ini.
"Kenapa... kenapa Mas Ubay baik banget sama saya? Kita bahkan baru kenal sebulan..." bisik Nadia di sela tangisnya.
Ubay berdiri, merapikan kaos hitamnya, lalu menatap Nadia dari ketinggian dengan tatapan yang melunak.
"Gue cuma nggak suka lihat orang kecil diinjak-injak sama orang kaya yang ngerasa punya segalanya," jawab Ubay pendek dan dingin. "Pikirin baik-baik tawaran gue. Kalau lu setuju, minggu depan kita urus. Kalau gak... ya kita cari cara lain. Sekarang masuk, cuci muka, terus makan jatah lu."
Ubay melangkah pergi menuju motor RX-King-nya, meninggalkan Nadia yang bersimpuh di teras dengan tangisan yang pecah, namun kali ini bercampur dengan rasa syukur yang luar biasa pada sosok berandalan jalanan yang memiliki hati jauh lebih mulia daripada pria kaya raya di dalam kastil megahnya.
**
Nadia terdiam di tempat duduknya. Kalimat Ubay tentang "nikah diam-diam" awalnya terdengar seperti jalan keluar yang cepat, tetapi logika Nadia sebagai perempuan yang tahu hukum masyarakat atau sosial langsung berputar. Di Indonesia, terlebih di lingkungan perkampungan padat penduduk seperti ini, tidak ada rahasia yang benar-benar bisa disimpan rapat di balik dinding rumah.
Nadia meremas jemarinya yang dingin, lalu mendongak menatap Ubay yang baru saja memegang kunci motornya.
"Mas... Mas Ubay, tunggu sebentar," panggil Nadia, suaranya masih agak bergetar namun terdengar lebih kokoh dari sebelumnya.
Ubay menghentikan langkahnya di dekat motor, menoleh dengan kening berkerut. "Apa lagi?"
"Kalau kita nikahnya diam-diam banget... tanpa ada yang tahu selain saksi, rasanya nggak mungkin, Mas," ucap Nadia lirih. "Kita ini tinggal di lingkungan kampung. Kanan-kiri tetangga bertelinga tipis, mata mereka selalu melihat. Kalau tiba-tiba beberapa bulan lagi perut saya membesar tanpa ada pemberitahuan kalau kita sudah sah, apa kata orang-orang sini? Apa kata tetangga kanan-kiri?"
Nadia menarik napas pendek, mencoba menahan air mata barunya. "Bukan cuma nama saya yang hancur, tapi nama Mas Ubay dan almarhumah Nenek Mas Ubay juga bakal diseret-seret dituduh kumpul kebo atau berbuat zina di rumah ini. Biar bagaimanapun, kita harus lapor Pak RT, Mas. Biar lingkungan tahu kalau saya ini sudah jadi istri sah Mas Ubay, walau tanpa pesta."
Ubay tertegun. Langkah kakinya mundur dua tapak. Otak jalanannya yang terbiasa menyelesaikan masalah secara instan dan mandiri di atas aspal mendadak terbentur oleh realitas sosial masyarakat. Apa yang dikatakan Nadia seratus persen benar. Di kampung, gosip bisa lebih tajam daripada belati preman. Jika tiba-tiba perut Nadia membesar tanpa ada kejelasan status yang diumumkan, mereka berdua bisa digerebek atau diusir warga karena dianggap membawa sial ke kampung.
Ubay menyimpan kembali kunci motornya ke dalam saku. "Lu bener. Gue terlalu mikirin singkatnya aja tadi," sahut Ubay, rahangnya mengetat. "Ya sudah. Berhubung ini sudah sore, biasanya Pak RT ada di rumah jam-jam segini habis asar. Kita ke rumahnya sekarang. Biar gue yang bicara langsung." ujar Ubay.
***