Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Kenzo akhirnya terlelap, napasnya teratur dan tenang setelah perutnya kenyang. Dengan sangat hati-hati, Amara meletakkan bayi mungil itu ke dalam boks bayinya. Namun, saat Amara baru saja hendak menarik tangannya dan membenarkan letak pakaian rumahnya yang sudah sedikit berantakan, sebuah tangan kekar menyambar pinggangnya dari belakang.
Arlan tidak membiarkan Amara menjauh. Pria itu justru menahan tubuh Amara, menguncinya di antara dekapan hangatnya dan pagar kayu boks bayi yang kokoh.
"T-Tuan... Tuan Kenzo baru saja tidur," bisik Amara panik, suaranya bergetar hebat karena kedekatan mereka yang tiba-tiba.
"Kalau begitu, pastikan kau tidak bersuara dan membangunkannya, Amara," bisik Arlan rendah tepat di tengkuknya, mengirimkan sensasi menggelitik yang membuat Amara meremang. Arlan mengikis jarak di antara mereka tanpa celah, mencengkeram pinggang Amara dengan posesif hingga gadis itu bisa merasakan debaran jantung Arlan yang cepat di punggungnya.
"Pegang pagar boks itu kuat-kuat, Amara. Jangan sampai kau terjatuh," perintah Arlan dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Amara mencengkeram kayu pagar boks bayi itu hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba mencari pegangan di tengah rasa gugup yang melanda. Di belakangnya, aura dominan Arlan begitu kuat menuntut kepatuhannya, membuat seluruh tubuh Amara mendadak kaku sekaligus berdesir hebat.
"T-Tuan... ah!" Amara tersentak saat Arlan menarik tubuhnya semakin rapat, mengunci pergerakannya dalam sebuah pelukan yang begitu intens dari belakang.
Arlan tidak berniat melepaskannya dengan mudah. Pria itu menuntun ritme kedekatan mereka dengan perlahan namun pasti, membangkitkan ketegangan yang mendalam di antara mereka. Ia meremas pinggul Amara, memastikan gadis itu merasakan betapa besar pengaruh kehadiran Amara terhadap dirinya saat ini.
"Kau begitu tegang, Amara... tapi kau tidak benar-benar menolakku, bukan?" Arlan mulai menuntut balasan atas kedekatan fisik mereka. Amara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan desahan yang hampir lolos dari tenggorokannya.
"Ini hukumanmu karena sudah menguji kesabaranku seharian, Amara. Jangan harap aku akan melepaskanmu sebelum perasaanku benar-benar tenang," bisik Arlan.
Arlan seolah belum puas dengan kedekatan yang terbatas di balik pagar boks bayi. Keinginan untuk menyatukan keintiman mereka secara utuh sudah tidak terbendung lagi. Ia menuntun Amara ke tengah ruangan di mana sebuah karpet bulu tebal terhampar luas, membawa gadis itu ke dalam dekapannya di atas lantai yang nyaman.
Tanpa menunggu lebih lama, Arlan membawa Amara ke dalam pusaran gairah yang lebih dalam, menyatukan tubuh mereka dalam sebuah keintiman yang penuh tuntutan dan kerinduan yang tertahan.
"AAAKHHH—" Amara membekap mulutnya sendiri, matanya membelalak lebar saat merasakan gelombang sensasi yang luar biasa mendominasi seluruh kesadarannya.
"Diam, Amara... putraku sedang tidur," bisik Arlan dengan senyuman tipis yang penuh kemenangan.
Arlan mulai bergerak, membawa Amara larut dalam ritme yang ia ciptakan sendiri. Pria itu memimpin dengan perlahan pada awalnya, memastikan setiap sentuhannya membekas dalam pada sanubari Amara, sebelum akhirnya ritme itu berubah menjadi semakin dalam dan mengikat.
"Nngghhh... Tuan... ahhh... hhh..." Amara menggeliat di bawah rengkuhan Arlan. Sentuhan demi sentuhan yang diberikan pria itu membuat pertahanannya runtuh sepenuhnya, berganti menjadi sebuah kepasrahan yang mendalam.
"T-Tuan... tolong... jangan seperti ini," Amara meracau, tangannya mencengkeram lengan kekar Arlan, meminta kepastian di tengah badai emosi yang membingungkan. "Lebih... membawa saya lebih jauh, Tuan... kumohon..."
"Katakan lebih jelas, sayang. Apa yang kau inginkan dariku?" Arlan sengaja menahan gerakannya, membiarkan ketegangan di antara mereka semakin memuncak dan menyiksa Amara dalam ketidakpastian.
"Bawa saya... penuhi keinginan saya, Tuan! Saya sudah tidak kuat!" Amara terisak frustrasi, menyerah sepenuhnya pada pesona dan dominasi pria di hadapannya.
Melihat Amara yang sudah kehilangan seluruh kendali dirinya, Arlan tidak lagi menahan diri. Ia mendekap Amara semakin erat, mengunci tubuh gadis itu dalam kuasanya, lalu membawa mereka berdua ke puncak keintiman dengan ritme yang semakin cepat, intens, dan penuh gairah yang meluap-luap.
Suara napas yang memburu dan penyatuan yang penuh emosi memenuhi kamar bayi yang kedap suara itu. Amara hanya bisa pasrah saat Arlan memacu seluruh energinya, mengirimkan gelombang kebahagiaan dan kepuasan yang begitu dahsyat hingga ia merasa dunianya seolah melebur bersamanya.
Setelah badai gairah di atas karpet tebal itu perlahan mereda, Arlan masih mendekap tubuh Amara yang lemas, membiarkan napas mereka perlahan kembali teratur dalam keheningan malam. Arlan bangkit sedikit, lalu meraba saku jasnya yang ia lempar ke sofa kamar bayi tadi. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam yang nampak sangat mewah.
Dengan tangan yang masih hangat karena sisa keintiman mereka, Arlan membukanya di depan mata Amara yang masih sayu dan tatapannya masih berkabut. Di dalamnya melingkar sebuah kalung emas murni dengan liontin permata kecil yang berkilau sangat indah.
"Pakai ini," ucap Arlan singkat, suaranya berat dan penuh wibawa.
Amara tersentak, ia mencoba bangkit dan merapikan kembali pakaiannya yang sempat tersingkap untuk menutupi dadanya. "T-Tuan... ini apa? Saya tidak bisa menerimanya. Ini... ini pasti sangat mahal."
Arlan terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar dingin namun juga sarat akan kepemilikan. Ia menarik tubuh Amara agar kembali mendekat dalam pelukannya. "Jangan menolak, Amara. Aku tahu kau pantas mendapatkan benda-benda indah seperti ini."
"Tapi Tuan, ini terlalu berlebihan," Amara mencoba menolak. Ia merasa seolah perhiasan ini adalah sebuah imbalan atas penyerahan dirinya baru saja, membuatnya merasa rendah di mata tuannya.
Arlan mencengkeram dagu Amara dengan lembut namun tegas, memaksanya menatap mata tajamnya yang tidak menerima bantahan. "Anggap saja ini hadiah karena kau sudah menyenangkan hatiku seharian ini. Mulai dari video tadi siang sampai kepasrahanmu di karpet ini... kau layak mendapatkannya."
Kata-kata Arlan seperti sembilu yang mengiris hati Amara. Menyenangkan hati. Jadi bagi Arlan, semua keintiman ini hanyalah sebuah bentuk kepuasan yang bisa dinilai dengan materi. Namun, di saat yang sama, Amara tidak bisa memungkiri bahwa sentuhan Arlan dan bagaimana pria itu memujanya malam ini telah membangkitkan sisi lain dalam dirinya yang mendamba. Ia merasa terluka, namun hatinya tidak bisa menolak getaran yang tersisa.
"Pakai, atau aku sendiri yang akan memasangkannya di tempat lain yang membuatmu tidak bisa melepasnya," ancam Arlan pelan sambil mengelus leher Amara yang kini dihiasi rona merah akibat kecupan-kecupannya yang intens tadi.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang hampir jatuh, Amara akhirnya pasrah dan membiarkan Arlan memakaikan kalung itu di lehernya. Logam emas yang dingin itu bersentuhan dengan kulitnya yang masih hangat, menjadi tanda tak kasat mata bahwa ia kini benar-benar berada di bawah kendali pria ini.
"Cantik sekali," bisik Arlan sambil mengecup lembut liontin yang menggantung pas di atas dada Amara. "Setiap kali kau melihat kalung ini di cermin, ingatlah siapa pria yang memiliki hak penuh atas dirimu."
Amara hanya bisa menunduk, memegang emas mahal itu dengan perasaan campur aduk antara harga diri yang terusik dan sisa gairah yang masih berdenyut di dalam hatinya.
papahmu memang harus diganggu 😁😁😁😁