Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 18
Pagi itu, suasana di meja makan terasa lebih menyesakkan daripada malam sebelumnya. Alysia duduk di sudut meja, wajahnya pucat dengan riasan tipis yang tidak mampu menutupi kantung matanya yang bengkak. Dia hanya mengaduk sarapannya tanpa niat memakannya. Arkhasa, yang merasakan ketegangan orang tuanya, hanya diam membisu sambil memegang sendoknya. Sedangkan Damian tampak bingung mau bicara apa.
"Mama... Apa Mama sakit? Mata mama kenapa? Mama menangis?"
"Tidak sayang .. Mama tidak sakit dan tidak menangis kok... Mama cuma lelah saja!" bohong Alysia sambil memaksakan senyumannya.
Damian yang melihat hal itu merasa semakin bersalah. Dia yang menyebabkan wanita di depannya menangis semalamanan. Bahkan matanya sampai bengkak seperti itu.
"Mama, kalau mama lelah, hari ini Arkha pergi sekolah sama Mama Bian saja! Mama tolong telepon Mama Bian ya..." ucapan Arkhasa semakin membuat denyut di jantung Damian terasa semakin sakit.
Dia ayahnya masih berada di sana, tapi Arkhasa malah lebih memilih pergi ke sekolah di antar dengan orang lain. Hal itu benar-benar menampar Damian dengan sangat keras. Selama ini dia tak pernah, mungkin bisa di hitung dengan jari mengantarkan anaknya ke sekolah.
"Arkha... Papa bisa..."
"Mama masih sanggup mengantarkan kamu, Nak. Mama baik-baik saja kok. Nanti setelah mengantar kamu ke sekolah Mama akan mampir ke rumah Uti. Mama istirahat di sana," Alysia memotong ucapan Damian.
"Oke Mama. Tapi nanti pulang sekolah aku juga mau ke rumah Uti sebentar ya... Arkha kangen Uti..." jawab Arkhasa senang. Alysia mengangguk.
Damian menatap Alysia. Tak biasanya dia akan pergi ke rumah ibunya tanpa bicara terlebih dahulu. Dia tak akan mengizinkan Alysia pergi ke rumah orang tuanya dalam keadaan seperti itu. Nanti mereka akan curiga dan dia tak mau kalau sampai mertuanya tahu jika keadaan rumah tangga mereka sedang tak baik-baik saja. Apalagi selama ini kesan menantu baik dan idaman melekat padanya.
"Alysia... Aku tak mengizinkan kami pergi ke rumah orang tuamu dalam keadaan seperti ini!" ucap Damian.
"Aku tak butuh izinmu untuk pergi kemanapun, Pak Damian!" jawab Alysia.
'Pak' pertama kalinya setelah menikah enam tahun, Alysia memanggil seperti itu. Panggilan yang dulu dia gunakan saat magang di perusahaan sebelum menjadi istrinya. Tangan Damian terkepal dengan kuat. Dia tahu kalau dirinya salah. Tapi menurutnya, Alysia sudah keterlaluan kali ini.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang tegas bergema di lantai marmer, diikuti suara pintu utama yang terbuka kasar.
"Damian! Arkhasa..." panggil suara wanita yang sering di hindari oleh Alysia. Suara mertua perempuannya.
Itu adalah suara Ibu Damian, wanita paruh baya yang elegan namun memiliki tatapan tajam yang selalu menusuk Alysia. Belum sempat Damian berdiri, wanita itu sudah muncul di ruang makan, matanya langsung tertuju pada Alysia dengan kebencian yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.
"Mama... Oma..." panggil Damian dan Arkhasa bersamaan kaget.
"Apa kalian tidak kangen pada wanita tua ini?" tanya Bu Chintya.
Bu Chintya menyapu pandangan ke seluruh ruangan dengan tatapan yang dingin. Matanya berhenti tepat pada wajah Alysia yang masih pucat dan bengkak. Bukannya menunjukkan rasa khawatir, seulas senyum sinis justru tersungging di bibir wanita paruh baya itu.
"Apa yang terjadi dengan wajahmu, Alysia? Kamu terlihat seperti baru saja melewati perang dunia," ujar Bu Chintya sambil menarik kursi di samping Arkhasa, lalu duduk dengan anggun seolah dia adalah pemilik rumah tersebut.
Alysia hanya menunduk, meremas jemarinya di bawah meja. Dia tidak ingin berdebat di depan anaknya, apalagi dengan wanita yang selalu menganggapnya sebagai menantu tak berguna karena bahkan selama enam tahun menikah tak bisa menghadirkan anak di keluarga kecil itu. Dan dari awal dia juga tidak suka kepada Alysia karena menganggap Alysia dan mereka beda kasta. Apalagi mereka dia hanya seorang anak dari keluarga sederhana.
"Oma, Mama sedang lelah karena pekerjaan," sahut Arkhasa polos, mencoba membela ibunya.
Bu Chintya mengabaikan cucunya, matanya beralih menatap Damian dengan tajam.
"Damian, kamu tidak memberi tahu Mama kalau istrimu sedang tidak sehat. Lihatlah, dia bahkan tidak bisa menyajikan sarapan dengan layak untuk suaminya."
Damian terdiam. Dadanya sesak. Dia tahu bahwa kedatangan ibunya di pagi buta seperti ini adalah pertanda buruk. Sangat buruk.
"Mama, kedatangan Mama mendadak sekali," Damian mencoba mengalihkan pembicaraan, namun nadanya terdengar kaku.
"Memangnya seorang ibu tidak boleh mengunjungi anaknya sendiri tanpa janji temu? Atau mungkin, kedatanganku memang tidak diharapkan karena aku akan melihat sesuatu yang seharusnya ditutup-tutupi di rumah ini?" Bu Chintya menyindir, pandangannya tidak lepas dari Alysia.
Alysia menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit di hatinya semalam seolah tertumpuk oleh kehadiran wanita ini. Dia tidak bisa lagi menahan diri untuk tetap diam.
"Maaf, Mama. Jika Mama ingin bicara dengan Mas Damian, silakan gunakan ruang tamu. Saya harus mengantar Arkha sekolah," ucap Alysia tegas, meski suaranya sedikit bergetar.
Bu Chintya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tidak tulus.
"Wah, keberanianmu sudah bertambah ya, Alysia? Dulu kamu tidak akan berani memanggilku seperti itu tanpa rasa hormat."
"Banyak hal yang berubah, Ma. Termasuk cara saya melihat arti rasa hormat," jawab Alysia pelan namun menusuk.
Damian bangkit dari kursinya dengan kasar, membuat piringnya berdenting nyaring.
"Sudah! Cukup! Arkha, ayo, Papa antar kamu ke sekolah sekarang."
Arkhasa menatap ayahnya dengan ragu, lalu beralih ke Alysia. Alysia mengangguk perlahan, memberi isyarat agar anaknya menuruti kemauan papanya. Namun, sebelum Damian sempat memegang bahu Arkhasa, Bu Chintya lebih dulu angkat bicara.
"Tunggu, Damian. Ada hal penting yang ingin Mama bicarakan. Bukan hanya soal istrimu, tapi soal masa depan perusahaan dan posisi kamu di sana. Biar Arkha di antar sopir Mama kali ini!"
Kalimat itu membuat suasana di ruang makan berubah menjadi mencekam. Alysia merasakan firasat buruk yang jauh lebih besar daripada masalah rumah tangga mereka. Dia menatap Damian yang kini tampak tegang, seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertengkaran semalam.
Apakah ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh mertuanya ini?
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,