NovelToon NovelToon
Menggembala CEO Pemalas

Menggembala CEO Pemalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!

Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.

Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lowongan Kerja atau Jebakan Batman?

Jika ada yang mengatakan bahwa takdir suka bercanda, maka Aulia Putri adalah orang pertama yang akan mengangguk paling keras hingga kepalanya terasa ingin copot.

Enam bulan lalu, sebelum ia terjebak di lantai 42 gedung pencakar langit KALUMPERRI CORP sebagai seorang "gembala" manusia, Aulia hanyalah seorang wanita muda ambisius yang sedang berada di titik nadir kehidupannya. Pagi itu, Jakarta sedang diguyur gerimis tipis yang membuat aspal jalanan Sudirman tampak berkilau abu-abu. Aulia berdiri di trotoar, merapikan blazer hitam murah seharga seratus ribuan yang ia beli dari platform belanja daring.

Ujung lengan blazernya sedikit longgar, dan sepatu hak tahu yang ia kenakan sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan, lem di bagian sol kanannya sedikit mengelupas, mengeluarkan bunyi keplak-keplak yang memalukan setiap kali ia melangkah terlalu lebar.

Di tangan kanannya, ia mendekap sebuah map cokelat tebal berisi berkas CV, transkrip nilai, dan tumpukan sertifikat kompetensi yang ujung-ujungnya sudah agak melengkung karena terlalu sering keluar-masuk tas. Jantungnya berdegup kencang, menabuh dada dengan ritme yang layaknya genderang perang.

Ia mendongak, menatap menara Kalumperri Corp yang menjulang tinggi menembus awan kelabu. Gedung itu adalah simbol kemapanan mutlak. Dinding kaca antipelurunya memantulkan pemandangan megah ibu kota, dijaga oleh barisan sekuriti berbadan tegap dengan seragam safari yang rapi.

Orang-orang yang berlalu-lalang di lobi utama tampak seperti potongan gambar dari majalah bisnis kelas atas, pria-pria dengan setelan jas tiga bagian yang pas di badan, serta wanita-wanita karier dengan tas tangan desainer bermerek Prancis yang harganya setara dengan biaya hidup Aulia selama setengah tahun.

Aulia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir rasa minder yang mendadak menyerang. “Jangan takut, Aulia. Kamu lulusan terbaik ilmu manajemen. IPK-mu hampir sempurna. Kamu tidak datang ke sini untuk mengemis, kamu datang untuk menjual otakmu,” bisiknya pada diri sendiri, mencoba membangun benteng kepercayaan diri yang rapuh.

Namun, kenyataan pahit di kosan sempitnya di daerah Setiabudi selalu berhasil meruntuhkan semangat itu dalam sekejap. Pagi tadi, Ibu Kos yang terkenal berhati batu sudah berdiri di depan pintunya dengan tangan berkacak pinggang.

Tagihan sewa kamar yang menunggak selama dua bulan menjadi ultimatum mutlak, jika sebelum akhir minggu ini Aulia tidak bisa melunasi tunggakan beserta denda-dendanya, seluruh kardus pakaiannya akan diletakkan di depan pagar tanpa ampun.

Pekerjaan ini adalah satu-satunya pelampung penyelamat yang tersisa bagi Aulia.

Ketika lowongan Executive Assistant to the Chief Executive Officer di Kalumperri Corp muncul di situs pencari kerja, Aulia mengira matanya sedang bermasalah. Gaji pokok yang ditawarkan setara dengan upah manajer senior di bank swasta papan atas.

Belum lagi tunjangan kesehatan kelas satu, voucer makan harian di restoran bintang lima, dan bonus tahunan yang jumlahnya bisa membuat mata siapa pun melotot.

Namun, ada satu kejanggalan besar yang seharusnya disadari Aulia sejak awal jika otaknya tidak sedang buntu karena tagihan kosan. Lowongan pekerjaan untuk posisi yang sama selalu dibuka kembali setiap dua atau tiga bulan sekali. Di forum-forum diskusi pencari kerja, posisi ini bahkan dijuluki sebagai "Kursi Listrik Kalumperri". Tingkat pergantian karyawannya sangat tidak masuk akal.

Orang-orang pintar lulusan luar negeri yang menduduki posisi itu biasanya langsung mengajukan surat pengunduran diri dalam waktu singkat dengan wajah pucat dan tingkat stres yang tinggi.

"Peserta nomor urut 45, Saudari Aulia Putri. Silakan menuju ke Ruang Wawancara Utama di lantai 40," suara merdu dari pengeras suara lobi membuyarkan lamunan Aulia.

Aulia tersentak. Ia meraba dadanya yang berdetak makin liar, lalu melangkah menuju lift eksekutif dengan punggung tegak. Di dalam lift yang bergerak cepat tanpa guncangan itu, ia berdiri berdampingan dengan dua kandidat lain, wanita-wanita dengan riasan wajah sempurna tanpa celah dan setelan jas desainer yang tampak sangat mahal.

Mereka berdua sempat melirik sol sepatu Aulia yang agak mangap, lalu saling berbisik sambil tersenyum sinis.

Aulia mengabaikan mereka. Ia fokus merapikan rambutnya yang diikat ekor kuda dengan rapi.

Ketika pintu Ruang Wawancara Utama dibuka, suasana di dalam langsung terasa dingin dan intimidatif. Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.

Di tengah ruangan, terdapat meja konferensi panjang dari kayu mahoni yang mengilap. Di balik meja itu, duduk dua orang pewawancara dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

Di tengah duduk Pak Haryo, Direktur Senior sekaligus paman dari pemilik perusahaan. Wajahnya keras dengan gurat-gurat usia yang tegas, rambutnya yang memutih disisir rapi ke belakang.

Di sebelah kirinya adalah Ibu Widya, Kepala Divisi HRD, seorang wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai tipis yang menatap Aulia dari balik lensanya dengan pandangan yang sangat jeli dan menilai.

Sementara di sebelah kanan Pak Haryo... terdapat sebuah kursi kulit kosong yang sangat mewah. Di atas meja di depan kursi itu, diletakkan sebuah papan nama kristal bertuliskan, Khatyr Ali Fatih - Chief Executive Officer.

"Silakan duduk, Saudari Aulia Putri," ujar Ibu Widya dengan suara yang renyah namun sarat akan otoritas.

"Terima kasih, Ibu, Bapak," jawab Aulia dengan sopan. Ia mengatur posisi duduknya agar tetap tegak namun tidak terlihat tegang, lalu meletakkan map cokelatnya di atas meja dengan gerakan halus.

Pak Haryo membuka berkas milik Aulia, membolak-baliknya dengan dahi yang berkerut dalam. Keheningan di dalam ruangan itu berlangsung selama hampir satu menit, hanya diiringi oleh suara lembaran kertas yang dibalik.

"Lulusan terbaik dengan IPK 3,92 dari universitas negeri ternama," gumam Pak Haryo, suaranya yang berat bergaung di ruangan yang sunyi itu. "Memiliki sertifikasi manajemen risiko, fasih berbahasa Inggris dan Mandarin, aktif dalam organisasi senat mahasiswa, dan memiliki rekam jejak magang yang sangat baik di perusahaan multinasional. Secara portofolio, Anda sangat overqualified untuk sekadar menjadi asisten administrasi. Kenapa Anda tertarik dengan posisi ini, Aulia?"

Aulia meneguk ludahnya perlahan, lalu menyunggingkan senyum profesional yang sudah ia latih berkali-kali di depan cermin kecil kamar kosnya.

"Bagi saya, Kalumperri Corp adalah puncak dari industri modern saat ini, Bapak. Menjadi asisten eksekutif untuk CEO di perusahaan ini bukan sekadar pekerjaan administratif biasa bagi saya. Ini adalah sebuah kesempatan emas untuk belajar langsung dari kepemimpinan tertinggi dan berkontribusi secara nyata dalam skala korporasi yang lebih besar. Saya adalah tipe orang yang menyukai tantangan, berorientasi pada solusi, dan saya yakin kompetensi akademis serta organisasional saya bisa mendukung efisiensi kerja Pak CEO secara maksimal."

Pak Haryo dan Ibu Widya saling bertukar pandang. Namun, alih-alih terlihat kagum dengan jawaban diplomatis dan percaya diri itu, ada kilat aneh yang melintas di mata mereka berdua, sebuah perpaduan antara rasa kasihan yang mendalam, rasa tidak percaya, dan seulas senyum misterius yang membuat bulu kuduk Aulia tiba-tiba meremang.

"Anda bilang Anda menyukai tantangan, Aulia?" Pak Haryo mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan. Tatapannya sangat mendalam, seolah-olah sedang menguji ketahanan mental gadis di depannya. "Pekerjaan ini tidak membutuhkan kemampuan Anda dalam menganalisis matriks BCG, menyusun proyeksi keuangan kuartalan, atau membuat strategi pemasaran global. Kami memiliki ratusan analis berbakat dengan gelar master dari Harvard dan Wharton untuk melakukan hal-hal rumit seperti itu di lantai bawah."

Aulia agak berkedip, merasa sedikit bingung. "Maaf, Bapak? Jika demikian, boleh saya tahu apa yang menjadi fokus utama dari tugas asisten eksekutif di sini?"

Sebelum Pak Haryo sempat membuka mulut untuk menjawab, pintu kaca ganda di belakang Aulia tiba-tiba terbuka dengan bunyi sentakan yang kasar dan tidak sabaran.

Brak!

"Aduh, maaf, maaf! Saya terlambat lagi ya? Lift eksekutifnya lambat sekali hari ini!"

Aulia tersentak dan refleks menoleh ke belakang. Detik itu juga, matanya membelalak lebar. Sosok pria yang baru saja masuk ke dalam ruang wawancara formal itu benar-benar mengacaukan seluruh definisi "CEO" yang ada di dalam kepala Aulia.

Pria itu memiliki proporsi tubuh yang luar biasa proporsional, setinggi kira-kira 185 sentimeter dengan fisik tegap yang terlihat jelas di balik pakaian kasualnya. Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan sepasang matanya yang berwarna gelap tampak tajam namun diselimuti oleh kabut kantuk yang sangat pekat.

Rambut hitam tebalnya agak acak-acakan, gaya rambut berantakan yang seolah-olah menegaskan bahwa ia baru saja bangun tidur lima menit yang lalu, namun anehnya tetap terlihat sangat menawan layaknya model yang baru keluar dari studio foto.

Ia mengenakan kemeja putih mahal berbahan katun Italia yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka begitu saja tanpa dasi. Jas hitam formalnya yang berharga ratusan juta rupiah justru disampirkan di bahu kirinya seperti jaket biasa, sementara lengan kemejanya digulung asal-asalan hingga ke siku.

Yang paling membuat Aulia syok adalah barang bawaan di tangan kanan pria itu, sebuah kantong plastik transparan minimarket yang berisi satu kotak susu cokelat ukuran sedang dan sebungkus keripik kentang rasa rumput laut.

Pria yang tak lain adalah Khatyr Ali Fatih, sang CEO tertinggi Kalumperri Corp, langsung melangkah santai menuju kursi kosong di sebelah Pak Haryo.

Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi kulit mewah itu dengan desahan malas yang sangat panjang, lalu tanpa memedulikan atmosfer formal yang membeku di dalam ruangan, ia langsung menusukkan sedotan ke kotak susu cokelatnya dan mulai menyedotnya dengan santai.

Slurp.

"Khatyr! Jaga sikapmu! Kita sedang berada di tengah proses wawancara kandidat penting untuk posisimu!" tegur Pak Haryo dengan urat leher yang mulai menegang dan wajah yang memerah menahan malu di depan kandidat.

Khatyr hanya melambaikan tangan kirinya yang bebas ke udara dengan gerakan malas. "Iya, iya, Paman... maksud saya, Pak Haryo. Lanjutkan saja wawancaranya. Saya mendengarkan dengan sangat baik, kok." Ia lalu melirik ke arah Aulia dengan mata elangnya yang sayu, tampak seperti orang yang tidak tidur selama tiga hari berturut-turut. "Hai. Siapa namamu?"

"Aulia Putri, Pak Khatyr," jawab Aulia, berusaha sekuat tenaga untuk menjaga nada suaranya agar tetap terdengar profesional meskipun batinnya sedang berteriak histeris melihat kelakuan ajaib pria di depannya ini.

1
falea sezi
nyimak klo bagus q ksih hadiah thor🤭
Althea Shalmaira: semoga suka kak/Smile//Whimper/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!