NovelToon NovelToon
Kembalinya Dewa Kematian

Kembalinya Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:516k
Nilai: 4.9
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.

Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.

Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Kecil Selesai

Kedua pelayan perempuan itu saling berpandangan. Salah seorang dari mereka baru saja hendak membuka mulut untuk kembali meminta maaf.

"Maaf, Tuan Muda. Kamar itu..."

Namun ucapannya belum sempat selesai.

Tap... Tap...

Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang.

Seorang perempuan yang usianya tampak lebih dewasa berjalan mendekat. Penampilannya jauh lebih rapi dibandingkan kedua pelayan muda tadi. Dari pembawaannya saja sudah terlihat bahwa ia memiliki kedudukan lebih tinggi.

Kemungkinan besar ia adalah senior mereka.

"Ada apa?"

Perempuan itu bertanya pelan sambil menghampiri meja administrasi. Namun begitu pandangannya jatuh kepada Boqin Changing, tubuhnya langsung membeku.

"...!"

Kedua matanya membelalak. Ia jelas mengenali wajah pemuda yang berdiri di hadapannya. Jantungnya bahkan sempat berdetak lebih cepat.

Namun sebagai seseorang yang telah lama bekerja di Penginapan Kayu Mawar, ia segera menarik napas panjang dan menenangkan dirinya. Sesaat kemudian, senyum ramah langsung menghiasi wajahnya. Ia sedikit membungkukkan badan.

"Selamat datang di Penginapan Kayu Mawar, Tuan Muda. Apa ada yang bisa kami bantu?"

Boqin Changing sedikit tersenyum melihat perubahan sikap perempuan itu. Ia yakin tidak mengenal perempuan itu. Namun dari reaksinya barusan, jelas perempuan ini mengenal dirinya.

Boqin Changing tidak mempermasalahkannya.

"Aku ingin menginap. Bisakah kau menyiapkan kamar terbaik di penginapan ini?"

Perempuan itu tertawa kecil.

"Tentu, Tuan Muda. Izinkan aku mengecek terlebih dahulu."

Ia segera membuka buku tamu yang berada di atas meja. Beberapa halaman dibalik perlahan. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan bahwa seluruh kamar terbaik memang telah terisi.

Namun berbeda dengan kedua juniornya yang sempat kebingungan, perempuan itu tetap terlihat tenang. Ia menutup buku tamu tersebut.

"Tentu saja masih ada. Namun... hanya tersisa satu kamar."

Boqin Changing melirik ke arah Long Aotian. Sebelum ia sempat berbicara, Long Aotian lebih dahulu memberi hormat.

"Tuan Besar. Satu kamar terbaik itu untuk Tuan saja. Aku tidak masalah menggunakan kamar biasa."

Perempuan itu tersenyum.

"Walaupun kamar satunya merupakan kamar biasa, tetap saja termasuk kamar mewah. Bahkan jendelanya menghadap langsung ke pemandangan terbaik Kota Anyang."

Long Aotian menganggukkan kepala.

"Itu sudah lebih dari cukup."

Boqin Changing pun tersenyum tipis.

"Kalau begitu kami tidak masalah. Kami akan menginap selama satu minggu. Mungkin setelah itu akan kuperpanjang."

"Baik, Tuan Muda."

Perempuan itu segera mengambil dua buah kunci dari laci di bawah meja. Ia menyerahkannya dengan kedua tangan.

"Ini kunci kamar terbaik. Dan ini kunci kamar satunya."

Boqin Changing menerima kedua kunci tersebut.

"Berapa biayanya?"

Mendengar pertanyaan itu, perempuan tersebut justru tertawa kecil.

"Tidak perlu membayar, Tuan Muda. Merupakan sebuah kebanggaan bagi Penginapan Kayu Mawar dapat menyambut kedatanganmu."

Boqin Changing menggeleng pelan.

"Tidak masalah. Aku bukan orang yang kekurangan hingga tidak mampu membayar biaya penginapan."

Suasana mendadak menjadi sedikit canggung. Perempuan itu tampak serba salah.

Di satu sisi ia tidak berani menerima uang dari tamu di hadapannya. Namun di sisi lain, ia juga tidak berani menolak secara terang-terangan.

Saat itulah...

Buk.

Long Aotian meletakkan sebuah kantong kulit di atas meja. Suara benturannya terdengar cukup berat.

Perempuan itu sedikit terkejut. Ia membuka kantong tersebut.

"...!"

Di dalamnya berisi penuh koin emas. Jumlahnya bahkan jauh melebihi biaya sewa dua kamar itu satu minggu.

Long Aotian berkata dengan tenang.

"Anggap saja aku yang membayarnya."

Boqin Changing menoleh ke arah pengikutnya. Tatapannya sedikit heran.

Ia tahu Long Aotian baru berada di alam ini belum terlalu lama. Namun bagaimana orang itu bisa memiliki begitu banyak mata uang Kekaisaran Qin?

Menyadari dirinya sedang diperhatikan, Long Aotian segera tersenyum.

"Saat masih berada di Sekte, aku sempat mampir ke Kota Shui. Aku menjual beberapa harta milikku dan menukarkannya menjadi koin emas."

"Tuan tidak perlu khawatir."

Boqin Changing mengangguk pelan. Ia tentu mengetahui bahwa Long Aotian juga merupakan sosok yang sangat kaya di dunia asalnya.

Namun yang paling ia kagumi bukanlah kekayaannya. Melainkan cara berpikirnya.

Setiap langkah yang diambil Long Aotian selalu penuh perhitungan. Ia selalu mempersiapkan segala sesuatu bahkan sebelum dibutuhkan.

Boqin Changing tersenyum kecil sambil bergumam pelan,

"Benar-benar berbeda sekali dengan Paman Nuo..."

Long Aotian ikut tersenyum. Ia tentu memahami siapa yang dimaksud Boqin Changing. Sha Nuo, pengikut pertama Boqin Changing yang juga kuat namun sama sekali tidak pandai mengurus hal-hal seperti ini.

Long Aotian kemudian sedikit membungkukkan badan.

"Tuan Besar. Silakan menuju kamar.”

Sementara itu, perempuan di balik meja administrasi buru-buru mendorong kembali kantong berisi emas tersebut.

"T-Tuan... jumlahnya terlalu banyak..."

Namun Boqin Changing hanya melambaikan tangan dengan santai.

"Simpan saja. Kelebihannya anggap sebagai hadiah untuk kalian."

"Lagipula... aku tidak menerima penolakan."

Perempuan itu langsung membungkukkan badan dengan hormat.

"Terima kasih banyak, Tuan Muda."

Di sampingnya, dua pelayan muda hanya bisa saling berpandangan. Mereka benar-benar kebingungan. Mengapa senior mereka begitu menghormati pemuda itu? Identitas pemuda itu jelas bukan identitas biasa.

Boqin Changing kemudian melangkah ke depan. Long Aotian mengikuti satu langkah di belakangnya.

Namun baru beberapa langkah berjalan, Boqin Changing berhenti. Ia sedikit menoleh ke belakang.

"Kalian bertiga."

Ketiga pelayan itu langsung menegakkan tubuh.

"Ya, Tuan Muda."

Boqin Changing tersenyum tipis.

"Tolong rahasiakan kedatanganku di Kota Anyang. Bisa?"

Tanpa ragu sedikit pun, ketiganya menjawab serempak.

"Tentu bisa, Tuan Muda."

Boqin Changing menganggukkan kepala.

"Bagus."

Setelah itu, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai atas. Tak lama kemudian, kedua sosok itu menghilang di balik koridor.

Suasana tempat itu kembali sunyi. Barulah setelah memastikan tamu mereka benar-benar telah pergi, kedua pelayan muda itu langsung menoleh kepada senior mereka.

"Lung Jijie... Siapa sebenarnya pemuda itu?"

"Kenapa kau sampai memperlakukannya seperti itu?"

Perempuan yang lebih dewasa itu masih memandang ke arah tangga dengan wajah sedikit pucat. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata pelan,

"...Pemuda tadi adalah Boqin Changing."

"...!!"

Kedua pelayan muda itu langsung membeku di tempat. Nama itu tentu saja mereka pernah mendengarnya.

Boqin Changing, Seorang pendekar yang dikenal sebagai pendekar terkuat di Kekaisaran Qin.

Namanya tersebar ke seluruh penjuru kekaisaran setelah berkali-kali menyelesaikan berbagai peristiwa besar. Bukan hanya dunia persilatan, bahkan kalangan bangsawan dan para pejabat tinggi istana pun mengenalnya.

Lebih dari itu, semua orang mengetahui bahwa pemuda tersebut memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pusat kekuasaan Kekaisaran Qin. Ia adalah salah satu orang yang berdiri di puncak kekuatan kekaisaran ini.

Salah seorang pelayan muda spontan menutup mulutnya sendiri. Wajahnya perlahan memucat.

"T-Tadi... aku... tidak mengatakan sesuatu yang tidak sopan kepadanya, kan?"

Ia mulai mengingat kembali setiap kalimat yang baru saja diucapkannya beberapa saat lalu. Semakin diingat, semakin gugup pula dirinya. Syukurlah, ia tidak sampai mengucapkan kata-kata yang menyinggung tamu agung tersebut.

Pelayan muda lainnya juga masih belum bisa menenangkan diri. Namun rasa penasarannya jauh lebih besar.

"Lung Jijie... tadi bukankah semua kamar terbaik sudah penuh? Lalu... kamar siapa yang sebenarnya Jijie berikan kepada Tuan Muda Chang?"

Bang Lung mengembuskan napas pelan.

"Kamar pemimpin."

"...!!"

Kedua pelayan muda itu kembali terkejut.

"Kamar Pemimpin?"

Bang Lung menganggukkan kepala.

"Kebetulan kamar itu sedang kosong. Pemimpin kita tidak sedang menginap di sana. Itulah satu-satunya kamar yang pantas untuk Tuan Muda Chang saat ini.

Ia kemudian menatap ke arah lantai dua, memastikan Boqin Changing benar-benar sudah tidak terlihat.

"Besok pagi aku akan menjelaskan semuanya kepada Pemimpin Duang Yu. Aku akan mengatakan bahwa malam ini aku mengizinkan Tuan Muda Chang menggunakan kamar tersebut."

Kedua pelayan muda itu saling berpandangan. Sesaat kemudian, salah seorang dari mereka seperti baru mengingat sesuatu. Wajahnya langsung berubah.

"Eh... tunggu dulu."

"Lung Jijie, bukankah tadi Tuan Muda Chang meminta kita merahasiakan kedatangannya di sini?"

"Kalau Jijie melapor kepada Pemimpin Duang Yu... bukankah itu berarti kita justru memberitahukan keberadaannya kepada orang lain?"

"..."

Bang Lung langsung membeku. Ekspresinya yang semula tenang perlahan berubah menjadi kaku.

Benar juga, barusan ia hanya memikirkan bagaimana menjelaskan penggunaan kamar pemimpin. Namun ia sama sekali lupa dengan permintaan Boqin Changing.

Sudut bibirnya berkedut pelan.

"Lalu..."

Ia menatap kedua juniornya dengan wajah getir.

"...aku harus bagaimana?"

Kedua pelayan muda itu hanya saling berpandangan. Tak seorang pun mampu menjawab.

Untuk pertama kalinya malam itu, Bang Lung benar-benar merasakan dilema yang sangat besar. Di satu sisi, ia harus mempertanggungjawabkan penggunaan kamar khusus milik pemimpin. Namun di sisi lain, ia juga sama sekali tidak berani melanggar permintaan Boqin Changing.

Suasana di meja administrasi pun kembali sunyi. Ketiga perempuan itu hanya bisa saling memandang, sama-sama memikirkan cara terbaik agar tidak mengecewakan kedua belah pihak.

1
mbono keling
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
Mahayabank
Mantap Lanjuuuut lagi.. 🔁👍💪💪
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁👀
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Bantai semuanya 🔥🌽
Zainal Arifin
joooooooosssss....💪💪😍😍😍
Raju
ya akulah naga langit yg bernama lou lou gua gua...
Nanik S
Kenapa ada Sistem.. harusnya tidak ada di Cerita Dewa kematian yang ada hanya Kekuatan Kultivasi dan Tempur agar ceritanya lebih menarik hapus saja itu sistem Tor, tak kira para reader juga setuju jika sistem dihapus
budiman
satu mawar 🌹
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe... ayoooo bantaaaaaaaiiiiii
Ipung Umam
lanjutkan terus menerus Thor 👍
Joedhi Ghenitz
sodara luo... aku pengikut tuan besar yang ke sepuluh.. 😄😄
Jeffie Firmansyah
apakah erperangan ini berada tdk jauh dari kekaisaran Zhou kah?
kalau betul , pas dong Paman Nuo sdg berada disana
yayat
bantaiiiii kelompok pei
Sahrul Akbar
keren thor
asammanis
hemm.. kalau punya sistem ada kemungkinan potensi pertumbuhan kekuatan yan luo bisa lebih dari boqin changing🤔🤔🤔
☛𝑮𝒂𝒊𝒋𝒊𝒏☚
kak, karena di cerita ini tokoh pendukung memiliki sistem. Aku berharap alur cerita nya hampir mirip seperti cerita Xuan ji. Yang mana sistem yang dimiliki tokoh pendukung tidak bisa mengukur kekuatan atau potensi pemeran utama. Dengan alur seperti itu, maka fokus alur cerita masih ke pemeran utama
Nanang Jamu: xuan ji, novel apa om
total 2 replies
y@y@
💥👍🏿👍🏼👍🏿💥
Asha Channel
aku datang pertama kisanak🫢
AA_5174_ZZ
top
Maria Sayem
Kebiasaan yang sudah menjadi keharusan buat Boqin Changing.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!