NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Happy reading

Bab 7: Guncangan di Lantai Bursa

Kepergian Anastasia Wijaya bersama sepasang putra kembarnya meninggalkan keheningan yang mencekam di koridor lantai teratas gedung Mahendra Group.

Devan Mahendra masih berlutut di atas karpet tebal, kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi yang begitu pekat.

Napasnya memburu, sementara sisa air mata penyesalan yang tertahan selama lima tahun akhirnya luruh membasahi lantai marmer di bawahnya.

‘Anya... anak-anak itu...’ batin Devan menjerit pedih.

Rasa sakit yang menghujam ulu hatinya saat ini boro-boro sebanding dengan dinginnya aspal jalanan di malam ia membuang istrinya dulu.

Selama lima tahun ini, Devan hidup bagaikan mayat hidup yang menggilai pekerjaan demi melupakan rasa bersalah atas kematian Anya dalam kecelakaan bus tragis itu.

Namun hari ini, takdir menghantam wajahnya dengan kenyataan yang teramat kejam.

Anya masih hidup, menjelma menjadi Anastasia Wijaya yang berkuasa, dan ia telah menelantarkan darah dagingnya sendiri yang terlahir kembar.

Brak!

Suara pintu ruang rapat yang dibuka dengan kasar seketika membuyarkan lamunan Devan.

Siska melangkah keluar dengan raut wajah panik yang luar biasa, memegang ponselnya yang terus berdering tanpa henti.

Di belakangnya, beberapa jajaran direksi Mahendra Group tampak berbisik-bisik dengan wajah cemas yang amat sangat.

"Devan! Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!" teriak Siska dengan suara melengking, melupakan seluruh sikap anggun yang biasa ia pamerkan di hadapan publik.

"Kenapa Sekretaris Hendra baru saja mengirimkan surat elektronik resmi mengenai pembatalan investasi dua triliun rupiah ke bursa efek? Berita itu sudah bocor ke media massa! Nilai saham kita di bursa efek menukik tajam ke zona merah hanya dalam waktu sepuluh menit!"

Devan perlahan bangkit berdiri.

Pria itu menegakkan tubuh tegapnya, namun seluruh kehangatan yang tersisa di wajahnya telah menguap tanpa bekas.

Netra elangnya menatap Siska dengan pandangan yang begitu dingin, tajam, dan penuh dengan kilat kebencian yang belum pernah Siska lihat sebelumnya.

"Devan... kenapa kamu menatapku seperti itu?"

Siska melangkah mundur satu langkah, mendadak merasa bulu kuduknya meremang melihat perubahan drastis pada pria yang selama lima tahun ini selalu melindunginya.

"Keluar dari gedung ini, Siska," ucap Devan, suaranya terdengar begitu parau, rendah, namun sarat akan ancaman yang pekat.

"Apa maksudmu?! Perusahaan kita sedang mengalami krisis besar karena jalang bernama Anastasia itu membatalkan kontrak sepihak! Kita harus menuntut—"

"SAYA BILANG KELUAR DARI GEDUNG SAYA, SISKA AMALIA!" raung Devan dengan suara menggelegar yang mengguncang lorong koridor.

Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Siska dengan begitu kuat hingga wanita itu memekik kesakitan.

"Mulai detik ini, kamu diberhentikan secara tidak hormat dari jabatan Direktur Pemasaran.

Dan jangan pernah berani menapakkan kakimu di hadapanku lagi sebelum saya sendiri yang menyeretmu ke jalur hukum!"

"Devan! Kamu gila?! Aku melakukan semuanya demi kamu! Aku—"

"Pergi sebelum saya menyuruh petugas keamanan melemparmu ke jalanan secara paksa!" desis Devan dengan tatapan membunuh yang begitu nyata.

Melihat kemurkaan Devan yang sudah berada di puncak menara ego, Siska akhirnya melepaskan cengkeramannya dengan tubuh yang gemetar hebat.

Dengan wajah pias tanpa darah dan air mata ketakutan yang mengalir di pipinya, Siska berbalik dan berlari menuju lift karyawan, mengabaikan tatapan mencemooh dari para staf direksi yang menyaksikannya.

Setelah kepergian Siska, Devan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berantakan.

Pria itu melangkah masuk ke dalam ruang kerja CEO-nya dan langsung menekan tombol interkom di atas meja marmer.

"Rian, masuk ke ruangan saya sekarang. Bawa semua laporan pergerakan saham darurat," perintah Devan dengan nada suara yang datar namun dingin.

Dua menit kemudian, Rian, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Devan yang paling tepercaya, melangkah masuk dengan kepala tertunduk.

Wajah asisten itu tampak sangat tegang saat meletakkan sebuah map hitam di atas meja kerja Devan.

"Tuan Besar, situasinya sangat buruk," lapor Rian secara detail.

"Surat pembatalan kerja sama dari Wijaya Corps telah memicu sentimen negatif yang masif di kalangan investor publik.

Saham Mahendra Group saat ini telah menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). Beberapa bank sekunder yang menjadi penyokong dana proyek pelabuhan timur juga mulai mempertanyakan likuiditas modal kita. Mereka mengancam akan menarik agunan jika kita tidak bisa memberikan jaminan dana segar dalam waktu empat puluh delapan jam."

Devan menatap grafik penurunan saham di layar monitor komputer kerjanya yang memerah pekat.

Namun, fokus pikirannya sama sekali tidak tertuju pada angka-angka kerugian yang bisa mencapai ratusan miliar tersebut.

Di dalam benaknya, batin Devan justru terus mengulang kalimat tajam dari putra sulungnya, Alta, di koridor tadi.

“Ibu kami mengajarkan kami untuk tidak pernah memberikan informasi kepada pria yang tidak memiliki integritas.”

Anak berusia empat tahun itu menolak sentuhannya dengan keangkuhan yang persis sama dengan dirinya.

Devan memejamkan matanya rapat-rapat, meremas dahinya yang mulai dibanjiri keringat dingin.

‘Mereka membenciku... Anastasia melatih mereka untuk membenci ayah kandung mereka sendiri,’ batin Devan dengan kepedihan yang mencabik-cabik kewarasannya.

"Rian, kesampingkan dulu urusan bursa saham untuk sementara waktu. Biarkan divisi keuangan yang menanganinya," ucap Devan, suaranya terdengar begitu parau dan lelah. Pria itu membuka laci mejanya, mengeluarkan selembar salinan koran bisnis lama yang memuat berita kematian Anya lima tahun lalu.

"Tuan Besar? Tapi proyek pelabuhan—"

"Panggil tim detektif swasta terbaik dari jaringan bawah tanah kita," potong Devan tanpa mengalihkan pandangannya dari koran tersebut.

"Saya ingin mereka menyelidiki manifestasi medis di Rumah Sakit Pusat Wijaya tepat pada malam badai lima tahun lalu. Manipulasi data kematian berskala besar seperti ini pasti meninggalkan jejak keuangan. Dan cari tahu di hotel mana rombongan Anastasia Wijaya menginap selama di Jakarta."

Rian tertegun sejenak sebelum akhirnya membungkuk hormat.

"Baik, Tuan. Saya akan segera mengoordinasikan tim untuk bergerak secara rahasia. Mengingat kekuasaan Keluarga Wijaya sangat ketat, pengamanan informasi mereka pasti berlapis."

 

Sementara itu, di dalam Penthouse mewah lantai teratas Hotel Wijaya Internasional, atmosfer justru terasa begitu hangat dan menenangkan, berbanding terbalik dengan kekacauan yang melanda Mahendra Group.

Anastasia Wijaya duduk di tepi ranjang besar bernuansa putih, memperhatikan kedua putra kembarnya yang kini sedang asyik bermain dengan miniatur kereta api di atas karpet bulu yang tebal.

Arka tampak tertawa ceria sembari menirukan suara lokomotif, sementara Alta duduk bersila di sampingnya, memandangi jalur kereta dengan tatapan yang sangat serius dan penuh analisis.

Anastasia perlahan mengulurkan tangannya, mengusap lembut helai rambut Alta dan Arka secara bergantian.

Kehangatan fisik dari anak-anaknya adalah satu-satunya obat yang mampu meredakan gemuruh amarah dan trauma masa lalu yang sempat bangkit kembali setelah konfrontasi dengan Devan tadi.

"Mami,"

Alta tiba-tiba mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata ibunya dengan ketajaman netra elang yang melampaui usia bocah seusianya.

"Paman tadi... yang memegang tangan kami di koridor... apakah dia pria jahat yang ada di kliping koran lama milik Kakek?"

Anastasia tercekat.

Jemarinya yang sedang mengusap rambut Alta mendadak berhenti bergerak di udara.

Ia tidak pernah menyangka bahwa putra sulungnya yang memiliki kemampuan gifted dan memori fotografis itu akan mengajukan pertanyaan seberani ini.

"Alta... kenapa kamu bertanya seperti itu, Sayang?"

Anastasia mencoba menstabilkan nada suaranya agar tetap terdengar lembut, menyembunyikan getaran kecemasan di dalam hatinya.

"Wajah paman itu... sangat mirip dengan wajahku dan Arka saat berkaca," jawab Alta dengan nada datar namun penuh keyakinan yang mutlak.

"Dan saat dia melihat Mami, matanya terlihat sangat sedih sekaligus takut. Tapi aku tidak suka cara dia memegang tangan kami tadi. Dia membuat Mami marah, jadi bagi Alta, dia adalah orang jahat."

Air mata Anastasia nyaris luruh mendengar penuturan putra sulungnya.

Ia membawa Alta dan Arka ke dalam dekapannya, memeluk kedua tubuh mungil itu dengan begitu erat.

Rasa bersyukur karena kedua anaknya selamat dan tumbuh dengan genius mengalahkan semua penderitaan masa lalunya.

‘Dan untukmu, Devan Mahendra,’

batin Anastasia menjerit pekat di balik keheningan pelukannya, sementara sepasang matanya menatap tajam ke arah jendela yang menampilkan gedung pencakar langit Mahendra Group di kejauhan.

‘Ini baru langkah pertama dari kehancuran sistematis yang sudah kurancang. Pembatalan dua triliun itu hanyalah umpan awal agar bursa saham meruntuhkan fondasi perusahaanmu. Aku akan memastikan kamu kehilangan segala hal yang paling kamu banggakan, sampai kamu merangkak di bawah kakiku.’

Pertempuran bisnis dan batin ini telah resmi bergeser dari ruang rapat menuju ranah yang jauh lebih personal.

Anastasia kini telah siap mengerahkan seluruh kekuasaan Wijaya Corps untuk menjatuhkan Mahendra Group ke titik terendah tanpa belas kasihan.

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!