NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Hari Pertama yang Berantakan

Nara Adeline berdiri di depan gedung kaca setinggi tiga puluh lantai dengan jantung berdebar lebih cepat dari biasanya.

Sudah bertahun-tahun ia memimpikan momen ini.

Bekerja di perusahaan besar.

Memiliki penghasilan tetap.

Dan yang paling penting, membantu keluarganya keluar dari kesulitan ekonomi yang selama ini membelenggu mereka.

Ia menarik napas panjang, lalu menatap pantulan dirinya di dinding kaca gedung.

Kemeja putih.

Rok hitam selutut.

Rambut yang diikat rapi.

Tidak sempurna, tetapi cukup profesional untuk hari pertamanya.

"Ayo, Nara. Kamu pasti bisa."

Ia menyemangati dirinya sendiri sebelum melangkah masuk.

Lobi perusahaan terlihat megah.

Lantai marmer mengilap.

Lampu gantung modern.

Serta puluhan karyawan yang berlalu-lalang dengan langkah cepat.

Nara sempat gugup.

Namun ia tidak membiarkan rasa gugup itu menguasainya.

Setelah menyelesaikan proses administrasi di bagian sumber daya manusia, ia diarahkan menuju divisi pemasaran.

Di sinilah kariernya akan dimulai.

Hari itu berjalan cukup baik.

Ia berkenalan dengan beberapa rekan kerja.

Mempelajari sistem perusahaan.

Dan mulai memahami tugas yang akan menjadi tanggung jawabnya.

Sampai menjelang siang.

Ketika semuanya berubah.

"Rapat tim dimulai lima menit lagi."

Suara seorang rekan kerja membuat Nara tersentak.

"Apa? Bukannya rapat jam satu?"

"Dimajukan jadi jam dua belas. Kamu belum tahu?"

Wajah Nara langsung pucat.

Ia memang tidak menerima pemberitahuan apa pun.

Mungkin karena masih karyawan baru.

Atau mungkin ia melewatkan informasi tersebut.

Tanpa membuang waktu, ia segera mengumpulkan dokumen yang dibutuhkan lalu berlari menuju ruang rapat.

Sayangnya...

Lift yang ia tunggu terasa bergerak sangat lambat.

Ketika pintu lift akhirnya terbuka, jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga menit.

Tiga menit terlambat.

Memang tidak lama.

Namun cukup untuk membuatnya panik.

Nara berlari kecil menuju ruang rapat.

Tangannya mendorong pintu.

Lalu...

Semua orang menoleh ke arahnya.

Jantungnya seakan berhenti.

Ruangan besar itu dipenuhi lebih dari dua puluh orang.

Dan mereka semua sedang memperhatikannya.

"Maaf... saya terlambat."

Suasana menjadi hening.

Sangat hening.

Di ujung meja rapat, seorang pria menutup laptopnya perlahan.

Tatapannya dingin.

Tajam.

Membuat Nara merasa seperti murid yang baru saja tertangkap melakukan kesalahan besar.

Pria itu mengenakan jas abu-abu gelap.

Wajahnya tampan.

Terlalu tampan, bahkan.

Namun ekspresinya sama sekali tidak ramah.

"Duduk."

Hanya satu kata.

Tanpa senyum.

Tanpa basa-basi.

Nara segera duduk di kursi kosong terdekat.

Ia berharap rapat bisa segera berlanjut dan semua orang melupakan keterlambatannya.

Sayangnya harapan itu tidak terkabul.

"Di perusahaan ini, waktu adalah tanggung jawab."

Suara pria itu kembali terdengar.

"Jika Anda tidak mampu menghargai waktu, bagaimana Anda bisa menghargai pekerjaan?"

Nara langsung tahu kalimat itu ditujukan kepadanya.

Pipinya memanas.

Ia menahan malu.

"Ada alasan?" tanya pria itu.

Nara mengangkat kepala.

"Saya tidak menerima informasi perubahan jadwal rapat."

"Alasan tidak akan mengubah fakta bahwa Anda terlambat."

Jawaban itu membuat suasana semakin canggung.

Beberapa karyawan menundukkan kepala.

Yang lain pura-pura fokus pada dokumen.

Nara mengepalkan tangannya di bawah meja.

Kesal.

Sangat kesal.

Memang benar ia terlambat.

Namun pria itu bisa saja menegurnya setelah rapat selesai.

Tidak perlu mempermalukannya di depan semua orang.

"Maaf. Itu tidak akan terulang lagi."

Pria itu mengangguk singkat.

Lalu rapat kembali berjalan.

Namun sejak saat itu, Nara sudah memiliki kesan pertama yang buruk terhadapnya.

Sangat buruk.

---

Setelah rapat selesai, Nara segera keluar dari ruangan.

Ia mengembuskan napas panjang.

"Selamat datang di perusahaan ini."

Suara seorang wanita terdengar di sampingnya.

Nara menoleh.

Wanita itu tersenyum ramah.

"Aku Siska."

"Nara."

"Jangan terlalu dipikirkan."

"Maksudmu?"

"Teguran tadi."

Nara langsung tahu yang dimaksud.

"Dia memang seperti itu?"

Siska tertawa kecil.

"Lebih parah, sebenarnya."

"Aku baru datang dan langsung dipermalukan."

"Itu berarti kamu resmi menjadi bagian dari tim."

Nara mengerutkan dahi.

Siska kembali tertawa.

"Percayalah. Hampir semua orang pernah kena."

Nara menggeleng pelan.

"Siapa dia sebenarnya?"

"Kamu serius tidak tahu?"

Nara mengangguk.

Siska tampak terkejut.

"Itu Damar Wijaya."

Nama itu terdengar asing.

"Manajer proyek."

"Oh."

"Hanya 'oh'?"

"Memangnya aku harus bagaimana?"

Siska mendekat.

Lalu berbisik.

"Dia legenda di sini."

"Legenda?"

"Proyek yang dia pegang hampir selalu berhasil."

Nara melipat tangan.

"Kalau begitu mungkin dia harus belajar cara berbicara dengan manusia."

Siska tertawa keras.

"Kamu berani juga."

Nara hanya mendengus.

Dalam pikirannya, Damar Wijaya tetap menyebalkan.

Setidaknya untuk saat ini.

---

Menjelang sore, seluruh tim kembali berkumpul.

Kali ini untuk pembagian proyek baru.

Nara duduk dengan tenang.

Berharap hari pertamanya segera berakhir.

Namun takdir tampaknya memiliki rencana lain.

Damar berdiri di depan ruangan.

"Tiga bulan ke depan, perusahaan akan menangani proyek kerja sama terbesar tahun ini."

Semua orang langsung fokus.

"Karena itu, saya akan membentuk tim khusus."

Beberapa nama mulai disebut.

Lalu...

"Nara Adeline."

Nara tersentak.

Ia mengangkat kepala.

"Ya?"

"Anda masuk tim inti."

Ruangan mendadak ramai.

Beberapa orang tampak terkejut.

Bahkan Siska terlihat membelalak.

"Karyawan baru langsung masuk tim inti?" bisik seseorang.

Nara sendiri tidak tahu harus merasa bangga atau takut.

Namun perasaan itu hanya bertahan beberapa detik.

Karena Damar melanjutkan kalimat berikutnya.

"Dan Anda akan bekerja langsung di bawah pengawasan saya."

Seketika senyum Nara menghilang.

Apa?

Bekerja langsung dengan pria itu?

Setiap hari?

Selama tiga bulan?

Ia merasa semesta sedang mempermainkannya.

Damar menatap seluruh anggota tim.

"Mulai besok, kemungkinan besar kita akan sering lembur."

Keluhan kecil terdengar dari berbagai sudut ruangan.

Namun tidak ada yang berani membantah.

"Proyek ini harus berhasil."

Damar lalu menutup rapat.

Semua orang mulai keluar.

Nara masih duduk di tempatnya.

Mencoba menerima kenyataan pahit yang baru saja menimpanya.

"Nara."

Suara dingin itu kembali terdengar.

Ia mendongak.

Damar berdiri di depannya.

"Ada masalah?"

"Tidak."

"Bagus."

Pria itu menyerahkan sebuah map.

"Pelajari semua dokumen ini malam ini."

Nara menerima map tersebut.

Tebalnya hampir seperti buku.

"Malam ini?"

"Besok pagi saya ingin mendengar pendapat Anda."

Tanpa menunggu jawaban, Damar langsung pergi.

Meninggalkan Nara yang terpaku di kursinya.

Siska mendekat beberapa saat kemudian.

"Kenapa wajahmu seperti habis melihat hantu?"

Nara mengangkat map tebal itu.

"Kurasa aku baru saja menemukan musuh pertamaku di kantor ini."

Di sisi lain koridor, Damar berjalan menuju ruang kerjanya tanpa mengetahui satu hal.

Hari itu bukan hanya awal proyek besar bagi mereka.

Melainkan awal dari hubungan rumit yang akan mengubah hidup keduanya.

Dan semuanya dimulai...

Dengan kebencian.

bersambung....

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!