NovelToon NovelToon
NIGHTMARE

NIGHTMARE

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:430k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dewinisme

Slowly Update!!

Berkedok sebagai jaminan hutang ayahnya, Ruma berhasil dijerat menjadi tawanan abadi oleh Rico Dzadakun. Alih-alih menjadikan Ruma salah satu penari striptis di club malam miliknya, Rico justru merasakan jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama pada gadis itu.

Sementara dibawah pengawasan Rico Dzadakun, diam-diam Ruma mendamba sebuah aksi balas dendam atas mimpi buruk yang selama ini ia dapatkan dari pebisnis kriminal tersebut.

Ditengah obsesi Rico terhadapnya, akankah Ruma berhasil melancarkan aksi balas dendam yang selama ini ia inginkan? ataukah Ruma justru semakin terjebak dalam jeruji-jeruji cinta yang Rico lilitkan dilehernya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Rico duduk bersandar di headboard tempat tidurnya. Ponsel dalam genggamannya baru saja mati setelah cukup lama ia berbincang dengan ayahnya di negeri seberang. Tidak diragukan lagi, Minas benar-benar tidak tahu jika Abdul terbang ke Indonesia. Lelaki tua yang memilih tidak menikah lagi setelah kematian istrinya itu, menaruh rasa khawatir atas kedatangan Abdul yang mungkin hanya ingin membuat masalah dengan Rico.

Dalam pembicaraan jarak jauh itu, Rico menangkap bahwa Minas akan mengambil alih kembali perusahaan senjata yang ia berikan pada Abdul. Entah kemarahan macam apa yang nanti akan terjadi ketika adiknya yang labil itu mengetahui rencana ayahnya sendiri.

Rico memijit keningnya perlahan, ia mengingat kembali peta panjang perseteruan yang tak pernah usai antara dirinya dan adiknya itu. Rasa lelah dan muak menghampiri jiwanya begitu kilasan kejadian demi kejadian menegangkan terputar otomatis dalam benaknya. Ia merasa semua yang tampak baik-baik saja sejak ia memilih bermukim di Indonesia, akan berubah kacau dalam satu jentikan jari akibat adik sialan itu.

Dalam kecambuk beban pikiran yang terasa menyiksa. Dengkuran halus Ruma yang tidur menghadapnya membuat tatapan Rico yang semula layu berubah menjadi segar kembali. Lelaki itu berdiam diri disamping tubuh Ruma. Memperhatikan irama tarikan nafas Ruma yang konstan sambil sesekali membelai mesra sisi wajahnya.

Langit kala itu berpendar jingga diluar sana, menyuguhkan keindahan senja yang tak terbantahkan. Percampuran dari berbagai macam warna menciptakan gambaran pemandangan sore hari yang hangat. Sore hari yang indah dengan sedikit gairah dari seorang musafir cinta.

Rico meletakkan ponsel yang semula ia genggam di atas nakas. Tubuh yang terbujur dengan lekukan sensual itu seolah memanggilnya untuk merapat. Dari jarak terdekatnya kini, Rico dapat menyaksikan paras cantik Ruma yang tidak pernah bosan ia tatap. Bahu telanjangnya membangkitkan keterpukauan sekaligus keinginan untuk meraba. Rico memaksakan diri untuk menyelinapkan sebelah tangannya di pinggang ramping Ruma, mendesak wanitanya itu untuk merapatkan diri dengannya. Kemudian ah, rasa hangat yang menenangkan terasa kembali olehnya. Rico tersenyum puas dibalik kelembutan leher Ruma.

"Ri-co"

Rico membatu mendengar suara lirih Ruma. Sungguh ceroboh! sikap serakahnya telah mengganggu ketentraman tidur sang jelita. "Ya, sayang" sahut Rico pelan. Tidak ada sahutan membuat Rico kembali menenggelamkan kepalanya di lekukan leher wanita itu.

"Kau bajingan" Bibir mungil itu kembali bersuara. Mengumpat dengan sangat fasih meski kedua matanya terpejam.

Rico merenggangkan sedikit pelukannya. Menatap wajah pulas Ruma dan mencoba memperkirakan dua kemungkinan yang ada dalam benaknya. Dalam pengamatan singkatnya, Rico menyimpulkan bahwa rasa lelah yang teramat membuat wanita itu mengingau. Dan benar saja, bibir Ruma terlihat menggumamkan sesuatu. Rico menajamkan telinganya demi mendapatkan gumaman yang jelas dari mulut mungil Ruma.

"Aku takut hamil" gumaman lirih itu akhirnya tertangkap indera pendengaran Rico.

Rico tertegun sesaat, sebelum ia membalas igauan Ruma. "Aku akan menikahimu, apa yang kau takutkan, sayang?"

Tidak ada sahutan atas pertanyaan Rico. Lelaki itu mendesah kesal melihat Ruma tampak pulas, pengingau itu benar-benar berada dalam dunia mimpinya sendiri. Dalam ketidaksadarannya, Ruma mendorong dada Rico agar menjauh. "Kau selalu menghimpit dadaku, bagaimana jika jantungku berhenti, bodoh!" cerocos Ruma.

Bola mata Rico terkesiap mendengar kekesalan bercampur dengkuran dari mulut Ruma, satu kekehan tanpa suara dari mulut Rico tidak bisa ia tahan. Lelaki itu menutupi mulutnya dengan selimbut, dia tidak ingin tawanya meledak dan menyadarkan Ruma dari igauan parahnya.

Tiba-tiba terdengar lagi igauan itu. "Bukan kucing yang itu, ayah. Tidak-tidak! Aku ingin yang berbulu abu" ucap Ruma dengan suara seperti merajuk.

Rico tampak berpikir sesaat, satu hal baru yang ia ketahui tentang Ruma. Wanita itu tampaknya menyukai kucing. Rico menggaris bawahi warna abu-abu dalam benaknya. Sepoi angin sore berhembus melalui jendela yang setengah terbuka. Tirainya melambai memberi kesempatan pada mentari untuk mengucapkan salam perpisahan dengan mempersembahkan kelembutan pada dua insan dalam pembaringan. Ruma terlihat mengeratkan selimbutnya, hawa dingin nyatanya terlalu menusuk bagi tubuhnya yang letih.

Tiba-tiba gerakan impulsif yang kekanakan membuat hati lelaki yang terjaga berdesir. Ruma menggulung tubuhnya ke arah Rico. Merapatkan pipinya pada dada bidang Rico yang hangat. Oh shit! Rico tidak percaya bahwa gerakan kecil seperti apa yang baru saja Ruma lakukan, memberi pengaruh besar pada denyutan jantungnya yang semakin cepat. Sekonyong-konyong wanita itu melingkarkan tangannya di pinggang Rico. Membuat mimik wajah Rico sedikit terkejut namun kesenangan, mengingat itu adalah perbuatan manis pertama yang Ruma lakukan padanya--meski dalam kondisi tak sadar.

Kenikmatan lain yang lebih dahsyat mendera tubuh Rico. Lelaki itu tidak bisa berpikir jernih ketika payudara Ruma yang menempel erat pada bagian sisi tubuhnya terasa bergesekkan dengan permukaan kulitnya. Oh Tuhan, siksaan macam apa lagi ini? Puncak payudara Ruma terasa mengeras. Wanita cantik itu ternyata ingin membuat Rico mati untuk kedua kalinya akibat perbuatannya.

"Shit! Berhenti, sayang.. Berhenti bergerak" Rico mengumpat dalam hati.

Meski tingkah Ruma dianggap mengganggu olehnya, tetapi dengan senang hati Rico mengatakan Ruma memiliki daya tarik sensual yang memuaskan dahaganya sebagai pecumbu ulung. Rico merasa terpuruk mengetahui bahwa dirinya tidak mungkin membawa Ruma kembali dalam gelombang erotis bersamanya saat itu juga, setelah kelelahan yang ia ciptakan di pergulatannya tadi siang.

Saat itu Rico terpaksa memilih keputusan bijak untuk melepaskan diri dari tubuh Ruma. Ia bersiap untuk bangkit dari tempat tidur sambil berjuang untuk tidak berpikir macam-macam tentang tingkah sensual Ruma. Sialan, Ruma memang menggoda. Sorot mata Rico lekat memandang lekukan tubuh polos dalam selimbut ketika kakinya berhasil menjejak lantai. Legamnya tersihir pada bibir ranum yang menakjubkan itu. Siapapun yang melihatnya saat ini, tentu tidak akan bisa mengendalikan diri. Begitu pun dengan Rico.

🍁🍁🍁

"Suruh beberapa pengedarmu bersiaga dini hari nanti. Akan ada perantara yang akan mengambil barang itu untuk para kapitalis muda di Olympus Palace" ucap Rico pada Don yang kini berada di Nightmare.

"Baik, Tuan" sahut Rico.

Suara bising dari teriakan pada karyawan Rico yang sedang bersiap untuk membuka Nightmare, terdengar mengganggu di telinga Rico. "Apa Abdul datang lagi?" tanyanya.

" Tidak Tuan ... Tuan Abdul tidak keluar dari hotel sejak kembali dari rumah Tuan" ucap Don. "Mendengar dari laporan suruhan saya, seorang wanita masuk ke kamarnya dan belum juga keluar hingga saat ini, mungkin--"

"Biarkan saja" potong Rico yang tampak mengerti. "Dia sedang menikmati liburannya" sambungnya.

Disela pembicaraannya dengan Don. Terdengar suara tapak kaki dari arah tangga. Rico yang masih mendengarkan laporan tangan kanannya itu, menolehkan kepalanya kesana. Senyumnya begitu tulus pada wanita cantik bergaun pink pucat yang berjalan menuruni tangga disana.

"Baiklah. Laporkan kembali hasilnya padaku" Rico mengakhiri panggilan itu dan sepenuhnya memfokuskan diri menatap Ruma.

"Apa kau lapar?" tanya Rico menghampiri Ruma yang telah sampai di lantai dasar.

Ruma mengangguk. "Kau membuatku lupa untuk mengisi perutku tadi siang" dengus Ruma meraba perut laparnya.

Rico tersenyum tipis. Tangannya terangkat untuk membelai pipi Ruma. "Oh kekasih cantikku, lihat wajah kesalmu itu--"

"Hentikan, Rico!" tukas Ruma menghentikan rayuan lelaki menyebalkan di hadapannya. "Aku ingin makan" sambungnya lagi.

Rico mengecup pipi Ruma, lalu merangkul pundaknya mesra. "Kembalilah ke kamar. Ganti pakaianmu. Aku akan mengajakmu makan diluar" ucap Rico membuat Ruma menoleh padanya.

"Makan diluar?" Ruma membeo.

Bola mata Rico bersinar terang. Lelaki itu mengangguk sebagai jawaban. "Lekas bersiap, aku menunggumu disini"

Tanpa menunggu lama, Ruma berbalik badan. Menjejakkan kembali kaki jenjangnya di barisan tangga yang menanjak. Ini kali pertama Ruma keluar dari rumah Rico. Satu hal yang amat Ruma rindukan ditengah kebosanannya menjadi seorang tawanan. Rico memandang Ruma dari lantai bawah. Kibaran rambut Ruma yang menjuntai menghilang dibalik pintu kamar yang tertutup rapat. Rico tersenyum simpul, benaknya sibuk menyusun rencana makan malam yang akan ia akhiri dengan membawa Ruma ke sebuah toko hewan.

Betapa manis dan romantisnya senja yang berangsur menghilang di ujung cakrawala kala itu. Rico menggenggam jemari Ruma dan menuntun wanita cantik itu berjalan menuju mobil mewahnya di halaman depan. Rico terkekeh geli dalam hati, ketika ia berpikir bahwa ia bisa saja menjadi kekasih yang mungkin diimpikan para gadis muda diluaran sana. Ia memperlakukan Ruma bak seorang Ratu dari antah berantah. Mempersilahkan wanita itu duduk dengan anggun setelah ia membukakan pintu mobil untuknya. Dan menjaganya agar tetap nyaman di sepanjang perjalanan yang mereka tempuh.

Hawa musim hujan dalam suasana kehangatan yang tercipta, membuat hati lelaki berwajah tegas itu merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Disana, disisi tubuhnya yang bergejolak oleh api asmara, sepasang manik sejernih embun pagi menatap jalanan ibukota dengan antusias layaknya seorang anak kecil. Perhatian Rico tersita sebagian besar padanya.

"Kita akan makan dimana?"

Rico tersenyum mendengar suara mendayu itu. Ekor matanya memberi lirikan yang misterius pada Ruma. "Tempat istimewa untuk wanita istimewa" ucapnya penuh makna.

Oh Tuhan, delikan mata Ruma sungguh menimbulkan kesan berbeda padanya. "Jangan mendelik padaku, Ruma! Tidak dengan mata indah itu" gumamannya meronta dalam hati.

"Semakin lama, kau semakin pintar merayu" ujar Ruma dengan maksud mencibir ucapan Rico.

Rico tersenyum santai. Lelaki itu harus memahami bahwa Ruma masih terlalu naif untuk mengerti ucapannya yang bermuatan asmara. Memaksa Ruma untuk terikat padanya memang beresiko pada kepercayaan Ruma yang minim akan semua hal yang coba ia sampaikan pada wanita itu. Tetapi diluar dari ketidakpercayaan Ruma yang begitu menyiksa, Rico meyakini bahwa perasaan itu akan tumbuh seiring waktu.

Ruma akan mengerti bahwa Rico tidak sekedar menjadikannya sebagai wanita pemuas nafsu kebinatangannya saja. Namun lebih luhur dari itu, Rico telah menjadikan Ruma sebagai semestanya. Ruma adalah Venus yang datang membawa jiwa Rico tenggelam dalam buai keindahan yang magis. Tebing curam yang runcing nan gelap dalam hatinya, melandai diantara ceruk-ceruk kehangatan tubuh Ruma yang eksotis.

Rico tidak pernah mengingat bagaimana ia mulai memuja Ruma. Namun dari genggaman tangannya yang kini menggiring kembali Ruma untuk keluar dari mobil, Rico tahu bahwa wanita itu telah menggenggam erat sum-sum kehidupannya. Seakan-akan hidupnya hanya bergantung pada kerelaan Ruma untuk tetap bersama dengannya. Selamanya.

Rico tersenyum lembut melihat wanitanya melahap beberapa hidangan yang tersaji di atas meja. Kemudian senyumnya tiba-tiba hilang, ketika sebuah tepukan ringan mendarat di bahunya.

"Hai. Kau Rico, bukan?!" tanya seorang wanita bergaun seksi yang menghampirinya tiba-tiba. "Kekasih Meggy. Aku pernah satu film dengannya" sambungnya.

Rico menatap dingin pada wanita itu. Diliriknya Ruma yang menatapnya dengan sorot mata penasaran. "Ya. Tapi hubungan kami sudah berakhir" jawabnya singkat.

Wanita bergaun seksi itu terperangah tak percaya dengan yang ia dengar. Matanya melihat pada Ruma yang telah menghentikan sejenak acara makannya. "Apakah dia ... kekasihmu?" tanyanya sedikit Ragu.

Rico menggenggam jemari Ruma di atas meja. Tidak ada keraguan dalam sorot mata legamnya. Sebelah matanya mengedip pada Ruma, menyadari begitu banyak hal yang pasti ingin ditanyakan wanita itu padanya. "Bukankah itu sudah pasti?! Wanita ini adalah kekasihku" jawab Rico tegas.

Ruma membelakakan matanya. Dia kesal mendengar bualan lelaki yang tersenyum senang padanya. Sementara wanita bergaun seksi yang berdiri di dekat meja mereka menatap mereka dengan rasa terkejut yang sama dengan Ruma.

Wanita bergaun seksi itu mengundurkan diri setelah berbasa basi dengan Rico. Ia berjalan meninggalkan pasangan itu sambil merogoh quilted bag bermotif diamond miliknya. Sorot matanya berubah licik ketika ia menemukan ponsel didalam sana.

"Halo, Meggy? Aku menemukan sesuatu untukmu," ungkapnya dengan ekor mata yang terus melirik pada Rico dan juga Ruma.

🍁🍁🍁

1
Ita Listiana
sungguh aq suka banget sama semua novelmu yg tamat yg aq baca, aq suka bahasamu thor, gk bertele" gk kayak drama ikan terbang muter" gk jelas, tapi kenapa yg baca cuma dikit ya?? btw sukses terus buat othor semangat terus buat berkarya. dan novelmu yg ngegantung tolong dilanjutkan dong thor../Drool//Grin/
Greenenly
ya ampun..sangat menyedihkan sekali, aku menangis pilu😭
Made Ayu
Kecewa
Made Ayu
ini sdh kesekian x baca ulang tetep suka 😍
Fe☕
Alur cerita ringan , enak dibaca

bbrp kalimat yg digunakan memabukkan berasa baca karya sastra 👌

mksh Author
tetap semangat berkarya ✒️📱
Cia²
👍👍
sherly
terbaik
sherly
mantull
sherly
part ini paling mengelikan.. asli Thor sampai ngakak pas si Rico ngk mau nyamar malah komplain
sherly
woh
sherly
ini karyamu yg ke 3 yg aku baca Thor dan beneran smuanya bangus pakai banget .. kisah cinta dimana si cowok beneran sayang banget sama pasangannya.. msh blm bisa move on dr sabiel dan Laura, Raka dan raya eh ternyata Rico dan ruma ngk kalah bucin
sherly
keren thor
sherly
seru
sherly
keren banget
sherly
ceritanya bagus, penulisan dan kata2nya luar biasa..
sherly
ngeri ya
sherly
bahasamu Thor sungguh luar biasa
Sang Dewi: terima kasih kaka.. aku baca setiap komen kaka, dan terharu hihi.. makasih banyak sudah mampir 🙏😉
total 1 replies
sherly
ini yg ke 3 karyamu yg aku baca thorr... semoga keren juga seperti yg lain
Hanifah Ifah
rico kamu hrs hati2 jg sm meggy dan ayahnya lucas..... mreka ingin balas dendam
Wanda Sukma
aku yakin ini novel bagus, karna bs dilihat dr pemilihan kosa katanya autor memiliki wawasan luas.
tp aku heran dg algoritma noveltoon ini, knp novel2 receh yg alur ga jelas arahnya mau kemana dan blundet ga masuk akal justru bisa di up, sdngkan novel yg rata2 bagus sprti ini justru ga di up.

krn sblm aku baca aku paasti lihat dulu komen2 jika ada 1 komen yg buruk sdh pasti alurnya emng buruk. tp dikomen ini baik dan menarik jd aku baca.

sejauh ini masih suka sih, semangat thor meski ga trending yg penting ttep berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!