Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.
Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Balas Dendam Ekonomi dan Runtuhnya Kastel Pajak
Steep-Hill Village kini tidak lagi menjadi desa yang dihantui oleh ketakutan. Penduduknya kini sibuk dengan irigasi baru, namun di balik kesibukan itu, aroma konfrontasi masih menyengat. Berita tentang kekalahan memalukan pasukan bayaran Count Draken telah tersebar ke seluruh wilayah, membuat sang penguasa tanah yang korup itu murka di dalam menara gadingnya, Kastel Obsidian.
Raditya berdiri di atas dek kereta pabriknya yang terparkir di pinggir desa, memandang ke arah kastel megah di puncak bukit yang terlihat sombong di kejauhan.
"Dia tidak akan tinggal diam, Tuan," ujar Lira sambil menyiapkan amunisi sachet di mesin produksi. "Draken memiliki ksatria lapis baja. Jika kita hanya mengandalkan merica dan bubuk kopi, mereka mungkin akan membalas dengan pengepungan total."
Raditya tersenyum tipis. "Pengepungan? Itu justru yang kita inginkan."
Ting!
[Peringatan Sistem]:
Deteksi Ancaman: Pasukan Ksatria Hitam Count Draken sedang bersiap di gerbang kastel.
Analisis Ekonomi: Kastel bergantung sepenuhnya pada suplai logistik dari pedagang luar yang kini diblokir oleh Raditya.
Misi Utama: Runtuhkan Ekonomi Kastel Obsidian.
Raditya tidak memerintahkan serangan. Sebaliknya, ia memerintahkan penduduk desa untuk melakukan sesuatu yang tidak terduga: mereka membuat festival besar-besaran. Musik dimainkan, aroma sup ikan dan kopi menyeruak hingga ke puncak bukit.
"Vivienne, apakah kau sudah memastikan para pedagang logistik tidak ada yang berani mendekat?" tanya Raditya.
Vivienne mengangguk mantap. "Aku telah menggunakan segel resmi Oakhaven untuk menyatakan bahwa wilayah ini dalam kondisi 'Karantina Kesehatan Sachet'. Siapa pun yang berdagang dengan Kastel Obsidian akan dianggap sebagai penyebar wabah. Tidak ada satu pun pedagang yang berani mengambil risiko kehilangan izin dagang mereka."
Dalam dua hari, Kastel Obsidian mulai merasakan dampaknya. Di dalam sana, para ksatria yang terbiasa makan daging panggang mewah kini mulai kelaparan. Stok gandum mereka menipis. Raditya telah memotong akses pasokan mereka dengan sangat rapi, membuat kastel itu layaknya sebuah penjara emas yang tidak memiliki pintu keluar bagi perbekalan.
Tengah malam, kondisi di Kastel Obsidian sudah kacau. Count Draken, dengan wajah pucat dan perut keroncongan, berdiri di aula utama. Para pengawalnya yang biasanya tangguh kini terlihat lemah dan lunglai karena ketiadaan asupan gizi.
Raditya sengaja mengirimkan satu gerobak kecil ke gerbang kastel. Bukan gerobak penuh senjata, melainkan gerobak penuh sachet [Bubuk Kopi Pahit Ekstrem] yang dicampur dengan [Laksatif Ringan].
"Katakan pada Count," pesan Raditya kepada utusan kastel, "bahwa aku menawarkan pertukaran. Dia bisa membeli kopi sachet ini dengan harga sepuluh kali lipat per bungkusnya, atau dia bisa melihat pasukannya pingsan karena lapar di depan gerbang."
Draken, dalam keputusasaannya, terpaksa membeli sachet-sachet tersebut dengan emas murni untuk memulihkan energi pasukannya. Namun, itu adalah awal dari kehancurannya. Begitu pasukan meminum kopi tersebut, efek laksatif yang ringan namun tak tertahankan membuat mereka harus bolak-balik ke toilet. Kekuatan militer yang dibangga-banggakan Draken hancur bukan karena pedang, tapi karena mereka terlalu sibuk di kamar mandi.
Ting!
[Misi Sampingan Selesai: Sabotase Logistik Kastel]
Hadiah: +6.000 Poin Survival.
Gelar Absurd Baru: [Manajer yang Mengalahkan Tentara dengan Pencahar].
Saldo Poin: 22.850 Poin.
Paginya, Count Draken turun ke kaki bukit dengan bendera putih. Dia berjalan kaki, tidak lagi menunggang kuda megahnya karena kuda itu pun sudah dijual untuk membayar kopi sachet yang sangat mahal.
"Apa yang kau inginkan?!" teriak Draken dengan suara serak, menatap Raditya dengan penuh kebencian.
Raditya berdiri di depan gerobak kopinya, menyesap Moon-Bloom dengan tenang. "Draken, aku tahu kau harus membayar pajak ke Kerajaan. Jika pajak di sini kuhapus total, kau akan ditegur oleh takhta, dan kau akan kembali memeras warga dengan cara lain yang lebih kejam. Aku tidak mau itu."
Draken tertegun. Dia mengira Raditya akan memintanya menghapus seluruh pajak.
"Turunkan pajak menjadi 15% dari hasil panen," tegas Raditya. "Itu cukup bagi rakyat untuk hidup makmur dan cukup bagimu untuk tetap menyetor pajak ke Kerajaan tepat waktu. Jika kau melanggar ini, aku akan memastikan seluruh gudangmu hanya berisi sachet pencahar selamanya."
Draken gemetar. 15% adalah angka yang sangat rendah dibandingkan 80% sebelumnya, namun masih menyisakan ruang bagi kastel untuk tetap beroperasi. Dengan tangan gemetar, dia menandatangani dekrit baru di depan seluruh penduduk desa.
Ting!
[Misi Utama Selesai: Restrukturisasi Ekonomi Wilayah]
Hadiah: +8.000 Poin Survival.
Gelar Baru: [Arsitek Pajak Pro-Rakyat].
Saldo Poin: 30.850 Poin.
Penduduk desa bersorak meriah. Raditya bukan lagi sekadar pedagang, dia adalah penyelamat ekonomi yang berhasil menegosiasikan kesejahteraan tanpa merusak tatanan kerajaan.
"Tuan," Lira berbisik kagum, "Anda baru saja melakukan sesuatu yang lebih hebat daripada memenangkan perang. Anda mengubah sistem dari dalam."
Raditya menatap ke arah gerbang Ibu Kota yang kini semakin dekat. "Aku hanya memastikan bahwa di masa depan, saat aku menguasai pasar Ibu Kota, rakyat yang kumakmurkan di sini akan menjadi basis pendukungku yang paling setia."