NovelToon NovelToon
Bos Galak Jadi Papa

Bos Galak Jadi Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Pernikahan rahasia / Pernikahan Kilat / CEO / Romansa
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Lu ngapain tidur di samping gue?"

Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

BAB 6

Malam sebelumnya, Ranu duduk diam di ruang kerjanya yang luas. Pikirannya melayang kembali ke kejadian siang tadi. Kata-kata pedas para tetangga itu terus terngiang di telinganya.

Dasar orang kota. Pasti cuma main-main. Nanti kalau sudah dapat enaknya pasti ditinggal.

Ranu mendengus kasar. Ia bukan tipe pria yang suka membiarkan orang yang berada di bawah lindungannya diperlakukan semena-mena. Ia tidak suka keluarganya dihina.

"Supardi," panggil Ranu lewat telepon.

"Iya Pak?"

"Besok pagi siapkan segalanya. Aku mau kirim beberapa barang ke rumah keluarga Burhan. Beli yang lengkap. Perabot, kebutuhan pokok, sembako, baju-baju baru, dan beberapa perhiasan sederhana. Kirim pakai truk pickup besar."

"Baik Pak. Segera saya siapkan."

"Dan satu lagi. Suruh sopir pickup itu bertanya dengan suara keras pada warga atau warung di sana. Tanyakan di mana rumah Pak Burhan. Biar semua orang tahu."

Supardi tersenyum mengerti. "Siap Pak. Mengerti."

 

Pagi itu, suasana desa kembali hiruk pikuk. Namun kesibukan warga terhenti saat sebuah truk pickup besar berwarna merah melintas pelan. Truk itu penuh sesak dengan kardus-kardus besar dan barang-barang yang terbungkus rapi.

Di kemudi, sopirnya sengaja menurunkan kaca jendelanya dan berteriak.

"Mohon maaf Bapak Ibu sekalian! Di mana alamat rumah Bapak Burhan? Kami ada kiriman barang banyak sekali!"

Suaranya lantang terdengar ke segenap penjuru. Warga yang tadinya sedang duduk-duduk di warung langsung melongo.

"Rumah Burhan?"

"Iya Pak. Ini kiriman dari majikan saya untuk keluarga Bapak Burhan."

Warga saling pandang. Mata mereka terbelalak.

"Itu kan rumah Galuh..."

"Cepat tunjukkan! Ikuti mobil itu!"

Tanpa sadar, banyak warga yang berjalan mengikuti pickup itu dari belakang. Penasaran setengah mati. Truk itu berhenti tepat di depan rumah panggung keluarga Burhan.

Belum sempat Galuh dan keluarganya keluar, Ranu sudah datang dengan mobil pribadinya. Ia turun dengan gagah.

Galuh dan Bu Burhan keluar dan langsung terpaku. Mulut mereka ternganga melihat tumpukan barang yang begitu banyak dan mewah.

"Pak Ranu... ini..." ucap Bu Burhan terbata-bata.

Ranu tersenyum tipis, lalu ia berbicara dengan suara yang cukup keras agar bisa didengar oleh para warga yang sudah berkerumun di depan pagar.

"Selamat pagi, Bu. Selamat pagi Bapak Ibu sekalian."

Ia menunjuk tumpukan barang itu.

"Mohon maaf sebelumnya. Waktu pernikahan saya dengan Galuh, keadaan memang mendadak dan tidak terduga. Mahar yang saya berikan waktu itu hanya dua ratus ribu rupiah. Itu karena keterbatasan saat itu saja."

Ranu berhenti sejenak, menatap kerumunan.

"Nah, ini semua adalah pelunasannya. Ini pengganti mahar yang sebenarnya. Maaf kalau baru bisa saya berikan sekarang."

Warga yang mendengar langsung heboh. Bisik-bisik terdengar lagi, tapi kali ini isinya berbeda.

"Wah... gila ya..."

"Jauh banget bedanya."

"Itu barang-barang bagus semua."

"Ternyata dia orang baik ya. Ternyata dia serius."

"Kita salah sangka selama ini."

Galuh masih mematung. Air matanya hampir jatuh lagi, tapi kali ini karena haru.

"Pak... kenapa Bapak repot-repot..."

"Sudah," potong Ranu lembut namun tegas. "Sekarang Galuh, Arkan. Cepat berkemas. Kita pindah ke rumah saya hari ini juga."

"Apa?!" seru Galuh kaget.

"Iya. Mulai hari ini kalian tinggal bersama saya. Tidak perlu tinggal jauh-jauh di sini lagi."

"HOREE!!" Arkan langsung melompat kegirangan. "AYAH! Arkan mau! Arkan mau pindah rumah!"

Galuh menatap ayah dan ibunya. Pak Burhan dan Bu Burhan hanya mengangguk sambil tersenyum bahagia.

"Pergilah Nak. Itu yang terbaik buat kamu dan Arkan," kata Pak Burhan pelan.

"Iya Nak. Jaga diri baik-baik," tambah Bu Burhan.

Galuh memeluk orang tuanya sebentar, lalu segera masuk untuk membereskan barang-barang penting. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah siap.

 

Perjalanan menuju rumah Ranu terasa sangat menyenangkan bagi Arkan. Bocah itu terus melihat ke luar jendela, sesekali menyenggol lengan Ranu.

"Ayah... rumah kita besar nggak?"

"Besar."

"Ada kolam renangnya nggak Yah?"

"Ada."

"Wahh! Asyik!" Arkan berteriak senang.

"Arkan, jangan berisik. Ayah sedang menyetir," tegur Galuh pelan.

"Biarkan saja. Dia senang," sahut Ranu singkat.

Sesampainya di sebuah perumahan elit yang sangat asri dan besar, mobil memasuki gerbang otomatis yang terbuka sendiri. Rumah itu megah, luas, dan sangat bersih.

"Wahhh..." Arkan langsung berlari keluar begitu mobil berhenti.

Seorang wanita paruh baya dengan kain kebaya menyambut dengan ramah.

"Selamat datang, Tuan Muda. Oh ini pasti Nyonya dan Nonk kecil ya?"

"Iya Mbok Ijah. Ini Galuh, ini Arkan," kata Ranu.

"Mbok Ijah, tolong antar Arkan keliling lihat rumah. Kasih dia makan kue atau apa. Biarkan dia senang," perintah Ranu.

"Siap Tuan. Ayo Nak... ikut Mbok..."

Arkan langsung menggenggam tangan Mbok Ijah dengan antusias, meninggalkan Ranu dan Galuh yang berdiri berhadapan di teras.

Suasana menjadi hening. Ranu mempersilakan Galuh masuk ke ruang tamu yang luas.

"Duduk."

Galuh duduk dengan sopan di ujung sofa.

"Galuh," panggil Ranu.

"Iya Pak?"

"Dengar baik-baik. Kita memang suami istri. Di rumah ini status itu berlaku. Tapi ingat, di kantor tetap aturan yang berlaku. Saya bos, kamu staf. Tidak ada yang boleh tahu hubungan rumah tangga kita. Mengerti?"

"Mengerti Pak. Saya janji akan profesional," jawab Galuh cepat.

"Bagus. Kamar kamu ada di sebelah kamar Arkan. Kamarnya sudah siap. Kamu bisa istirahat di sana bersama anakmu."

Galuh menghela napas lega. Ia pikir akan dipaksa tinggal satu kamar.

"Terima kasih banyak, Pak. Bapak sangat baik. Sudah menyiapkan segalanya untuk kami."

Ranu menatap wajah Galuh lekat-lekat. Tatapannya masih dingin, namun ada sedikit senyum tipis yang tersungging.

"Hanya bilang terima kasih saja?"

Galuh tersentak. Wajahnya langsung memerah. Jantungnya berdegup kencang.

"Eh... maksud Bapak..."

1
Manis
ditungguin😭
delis armelia
aku kangeeeeeen ranu
Lisa
Aku mampir Kak
Sri Wahyuni
kak sekedar kasih saran aja ya sebaiknya satu novel diselesaikan dulu biar pembacanya tidak kecewa
sutiasih kasih
ap sdh g di lanjut lgi novelnya thor????🤔🤔🤔
delis armelia
ranu kangen
falea sezi
uda end kah
Kota Tegalan
Helehh kebiasaan pastii bab 26 , udah stopp LG
Kota Tegalan: nyebelin banget dl Ranu Pani jg di bab 26 , menghilangkan diri , di tunggu sampai jamuren malah gambar novel hilang
total 2 replies
delis armelia
ranu aku kangen
Sri Wahyuni
kak update nya kok lama benerr...
sutiasih kasih
nungguin upnya thor...
delis armelia
ko blm up date
Sri Wahyuni
semangat mamer utk menyatukan Ranu dan Galuh.... cepat unboxing 🤣🤣
Manis
Ranu belum tau kan ya Galuh masih tinggal ting
delis armelia: ranu istri mu masih tingting
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁ᴹᴵᴹᴵ a ʙᴊɴ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
karyawan julid bukannya kerja malah ghibahin istri bosnya pula minta dihempaskan ke planet Mars kyaknya klo tau faktanya bakal nyesel tuhh mereka🤣
𝐈𝐬𝐭𝐲
Ranu omes...🤣🤣🤣
Sri Wahyuni
gaassss juga kak up nya😍
Cinta_manis: siap kak. tunggu ya🙏😍
total 1 replies
Sri Wahyuni
wah sudah dapat lampu Hijau....gasss Ranu 🤣
Cinta_manis: iya, tuh 🤭
total 1 replies
delis armelia
kirain udh mau gol gawang
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 nanti ya kak
total 1 replies
Sastri Dalila
😅😅
Cinta_manis: makasih komennya kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!