Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, hiduplah Arka, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Di mata rekan kerjanya, termasuk Dinda—wanita tulus yang diam-diam dicintainya—Arka hanyalah pegawai biasa yang hidup pas-pasan, tenang, dan tidak memiliki apa-apa. Namun, tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik penampilan sederhana itu, Arka adalah pewaris tunggal dan pemilik sah Grup Wijaya, konglomerasi bisnis terbesar di negeri ini.
Atas pesan terakhir mendiang ayahnya, Arka sengaja menyembunyikan identitasnya selama dua tahun untuk merasakan getirnya kehidupan rakyat kecil dan memahami dunia dari bawah, sebelum memegang kendali penuh. Di siang hari ia mengurus berkas-berkas kantor, namun di malam hari, dari kamar apartemen sempitnya, ia mengendalikan kerajaan bisnisnya dan mengawasi gerak-gerik orang-orang yang berniat jahat merugikan perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertarungan di ambang pintu
Arka berdiri kaku di ujung lorong lantai dua, napasnya tertahan di tenggorokan. Di depannya, sosok tinggi besar yang tubuhnya basah kuyup dan berbau anyir itu berdiri menghalangi pintu kamar tempat istrinya dan anaknya bersembunyi. Di balik pintu kayu tebal itu, terdengar suara tangis dan ketukan panik, membuat hati Arka terasa tercabik-cabik. Rasa takut yang tadi sempat ia tahan kini meledak menjadi amarah yang membara. Ia tidak peduli lagi apakah lawannya manusia, roh, atau iblis sekalipun. Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang berhak mengancam nyawa keluarganya.
"Minggir!" bentak Arka, suaranya bergema keras di lorong yang sepi itu. Ia melangkah maju, tidak mundur selangkah pun, meski hawa dingin yang menusuk tulang keluar dari tubuh makhluk itu dan menyelimuti seluruh ruangan. "Aku bilang minggir! Jangan pernah kau sentuh mereka!"
Sosok itu tidak bergerak. Ia hanya tertawa, suara tawanya berat, serak, dan bergema di dalam kepala Arka, bukan di telinganya. "Kau berani berbicara keras padaku, anak manusia? Kau yang hidup mewah di atas penderitaan kami? Kau yang menikmati hasil kerja keras darah dan tulang kami? Kau pikir kau bisa datang dan memerintah? Kami adalah pemilik sejati tanah ini. Kami adalah kekuatan yang membuat keluargamu menjadi kaya raya. Dan sekarang, saat kami menuntut hak kami, kau berani melawan?"
"Kekayaan ini dibangun atas nama penipuan dan kejahatan!" seru Arka balik, matanya menatap tajam ke arah mata merah menyala itu. "Aku tidak mengakui perjanjian kotor itu! Aku tidak mengakui dosa yang tidak aku buat! Tapi aku datang ke sini untuk memperbaikinya, untuk mengakhiri penderitaan kalian, dan untuk membebaskan jiwa-jiwa kalian yang terperangkap di sini selama puluhan tahun! Jika kau ingin marah, marahlah pada kakekku yang membuat perjanjian itu! Jangan kau libatkan orang-orang yang tidak bersalah!"
"Semua keturunan Wijaya bersalah! Semua yang menikmati hasilnya bersalah! Hanya darah yang bisa membasuh dosa! Hanya kematian yang bisa memuaskan rasa sakit kami!" makhluk itu berteriak, dan seketika itu juga, udara di sekitar berubah menjadi kacau. Benda-benda hiasan di sepanjang lorong terlempar ke segala arah seolah diterpa angin badai yang tak terlihat. Lampu-lampu meledak satu per satu, meninggalkan cahaya remang-remang yang mengerikan.
Arka melindungi wajahnya dengan lengan, melangkah terus maju menembus kekacauan itu. Kacanya pecah, kayunya berderak, tapi ia tidak berhenti. Di dalam saku jasnya, ia meremas buku catatan hitam itu dengan kuat, merasakan tekstur kulit tua dan kertas di dalamnya. Ia sadar, buku ini adalah kunci segalanya. Di dalamnya tertulis asal mula, dan di dalamnya pasti tertulis cara mengakhirinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil apa pun dariku!" teriak Arka lagi, berusaha mengatasi suara gemuruh dan bisikan-bisikan yang memenuhi kepalanya. "Aku Arka Wijaya, dan aku bertanggung jawab atas apa yang ada di bawah namaku! Aku tidak akan lari, aku tidak akan sembunyi! Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu menindas orang yang aku cintai!"
Saat ia tinggal beberapa langkah lagi dari sosok itu, makhluk itu mengangkat tangannya yang panjang dan kurus, penuh luka dan kerak darah kering. Sebuah kekuatan tak terlihat mendorong dada Arka dengan sangat keras, membuat tubuhnya terlempar ke belakang dan menabrak dinding dengan hentakan yang menyakitkan. Arka terbatuk, rasa sakit menjalar di seluruh punggungnya, tapi ia segera bangkit kembali, napasnya memburu namun semangatnya tidak padam.
"Kau lemah..." suara makhluk itu mengejek. "Sama seperti ayahmu. Sama seperti kakekmu. Kau punya kekuasaan, tapi kau tidak punya kekuatan untuk mengendalikan apa yang kau miliki. Kau pikir kebaikan hatimu bisa melawan amarah kami? Kau salah besar."
Sosok itu perlahan mengulurkan tangannya yang kotor dan basah ke arah gagang pintu kamar tidur. Perlahan namun pasti, gagang pintu itu berputar. Dari dalam kamar, terdengar jeritan Dinda yang semakin keras. Arka merasa dunianya runtuh. Ia tidak bisa membiarkan pintu itu terbuka. Ia tidak bisa membiarkan mereka masuk.
Dengan sisa tenaga yang ada, Arka merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan buku catatan hitam itu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas kepalanya. Ia berteriak sekuat tenaga, memanggil segala keberanian dan keyakinan yang ia miliki.
"Jika kau mengaku terikat dengan buku ini, dengan perjanjian ini, maka kau harus mendengarkanku! Aku pemilik sah buku ini, aku pemilik sah semua aset dan tanah yang tertera di dalamnya! Dan sebagai pemilik sah, aku membatalkan semua perjanjian, semua ikatan, dan semua kewajiban yang pernah dibuat oleh leluhurku mulai detik ini juga! Aku membebaskan kalian dari perbudakan ini! Aku membebaskan kalian dari tanah ini! Pergilah... dan temukan kedamaian yang seharusnya kalian dapatkan puluhan tahun yang lalu!"
Arka merobek halaman-halaman terakhir buku itu, halaman yang berisi tulisan perjanjian dan sumpah setia, lalu meremukkan kertas-kertas itu di tangannya.
"Sebagai ganti dosa yang telah dilakukan keluargaku, aku berjanji akan membangun tugu peringatan besar di setiap lokasi, aku akan mengadakan doa dan upacara pembebasan sesuai agama masing-masing, aku akan menebus semua kerugian dan penderitaan yang pernah kalian alami! Tapi dengan kekuasaanku sebagai pemilik terakhir, aku perintahkan kalian: Pergilah! Jangan pernah kembali lagi!"
Keheningan mendadak menyelimuti seluruh rumah. Angin yang mengamuk tadi berhenti seketika. Benda-benda yang beterbangan jatuh ke lantai dengan lembut. Cahaya yang meredup kembali terang benderang. Sosok tinggi besar di depan pintu itu berhenti bergerak. Matanya yang merah menyala perlahan meredup, berubah menjadi abu-abu pucat, penuh kebingungan dan kesedihan yang mendalam.
"Kau... membebaskan kami?" suara itu terdengar lemah, hampir seperti bisikan manusia biasa. "Selama puluhan tahun... kami dikurung... dipaksa menjaga... dipaksa marah... Kau benar-benar membebaskan kami?"
"Aku membebaskan kalian," jawab Arka tegas, namun nadanya penuh rasa hormat dan penyesalan. "Maafkan kami... maafkan kesalahan besar yang telah dilakukan leluhur kami. Kalian berhak beristirahat dengan tenang sekarang. Tidak ada lagi kewajiban, tidak ada lagi perbudakan. Kalian bebas."
Perlahan-lahan, sosok itu mulai memudar, berubah menjadi kabut tipis yang berwarna keperakan, naik ke atas, melewati langit-langit, menghilang ke arah langit yang cerah. Bersama dengan lenyapnya sosok itu, hilang pula semua rasa berat, dingin, dan menakutkan yang menyelimuti rumah itu. Udara kembali segar, damai, dan hangat.
Arka berlari ke pintu kamar, membukanya dengan cepat. Di sana, Dinda berlutut di lantai, memeluk Aditya yang masih menangis ketakutan. Wajah Dinda pucat pasi, matanya basah kuyup, namun saat melihat Arka, air mata bahagia segera mengalir kembali.
"Arka!" serunya, bangkit dan berlari memeluk suaminya seerat-eratnya, seolah takut Arka akan hilang jika ia melepaskan pelukannya. "Aku takut sekali... ada suara-suara... ada hal mengerikan... aku pikir kita akan mati."
Arka memeluk erat istri dan anaknya, mencium kening mereka berdua bergantian, napasnya lega luar biasa. Ia mengusap punggung mereka dengan lembut, berusaha menenangkan diri dan mereka berdua. "Sudah selesai, Sayang. Semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi yang akan mengganggu kita. Aku janji."
Namun di dalam hatinya, Arka tahu ini baru permulaan. Ia baru saja membebaskan satu roh penjaga, tapi ada puluhan, mungkin ratusan roh lain yang terikat di berbagai lokasi tanah milik Grup Wijaya. Ia baru saja membatalkan perjanjian, tapi ia harus menepati janjinya: menebus dosa, membersihkan sejarah, dan memastikan semua jiwa yang terperangkap mendapatkan kebebasan dan kedamaian yang layak mereka dapatkan.
Malam itu, Arka tidak tidur. Ia duduk di ruang kerja, di samping istrinya yang sudah terlelap, menatap sisa-sisa buku catatan hitam yang kini sudah tidak memiliki kekuatan lagi. Ia sadar, peran sebagai CEO Tersembunyi telah berubah total. Dulu ia menyembunyikan identitasnya untuk belajar memimpin. Sekarang, ia harus tampil sepenuhnya sebagai pemimpin sejati yang berani mengakui kesalahan masa lalu, berani membersihkan noda sejarah, dan berani memimpin negaranya menuju kebenaran, meski itu berarti harus membongkar aib keluarganya sendiri ke hadapan publik.
Besok pagi, ia akan memanggil Clara. Ia akan menyusun rencana besar. Ia akan mengubah seluruh arah kebijakan perusahaan. Dan ia akan pergi ke setiap lokasi, mulai dari yang terdekat hingga yang paling jauh, untuk menuntaskan janjinya, satu per satu.