Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Wanita Pertama Tuan Enzo
Chantika keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan sambil menahan rasa nyeri.
Enzo yang melihatnya langsung mengernyit.
"Kamu kenapa?"
Chantika tersenyum masam. "Sudah jelas karena ulahmu. Masih nanya juga."
Enzo segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Chantika. Tanpa banyak bicara, ia membungkuk lalu menyelipkan satu tangan di bawah lutut dan tangan lainnya menopang punggung wanita itu.
"Kau mau—"
Kalimat Chantika terputus ketika Enzo sudah lebih dulu mengangkat tubuhnya.
"Enzo!"
Refleks Chantika melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu. Enzo membawanya ke arah ranjang, lalu mendudukkannya perlahan di tepinya.
"Apa, sakit banget?" tanya Enzo.
"Lumayan," jawab Chantika sambil memalingkan wajahnya.
"Biar aku periksa," kata Enzo sambil berjongkok di depan Chantika.
"Jangan!" Chantika langsung merapatkan kakinya dan menyilangkan kedua tangan di depan lutut.
Enzo menengadah menatapnya. "Aku hanya ingin memeriksanya."
"Gak boleh."
"Kenapa malu? Aku udah lihat semuanya."
"Diam!"
"Biar kupanggil dokter."
"Jangan!"
Chantika melarang terlalu cepat hingga membuat Enzo menatapnya heran.
"Kenapa?"
"Aku... gak perlu dokter. Nanti juga membaik."
Enzo mengembuskan napas pelan. "Kalau begitu setidaknya kau harus minum obat."
Tanpa menunggu jawaban, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Marko."
"Ya, Bos?" jawab suara dari seberang.
"Aku mau obat untuk sakit karena berhubungan intim. Untuk perempuan."
Chantika membulatkan matanya. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Bagaimana bisa Enzo meminta obat seperti itu dengan nada suara datar.
"Tak tahu malu," gerutu Chantika.
Sang asisten yang sedang berolahraga pagi mendadak berhenti berlari. "A- apa, Bos?"
"Antar ke hotel," potong Enzo.
Lalu terdengar suara tut... tut... tut...
Sambungan telepon langsung terputus.
Sang asisten menatap ponselnya dengan ekspresi wajah yang sulit dideskripsikan.
"Bos minta obat untuk perempuan yang terluka karena berhubungan intim?"
Ia menatap layar ponselnya beberapa detik dengan ekspresi tidak percaya.
"Aku gak salah dengar, 'kan? Sejak kapan Bos memikirkan wanita?"
Meski dipenuhi rasa penasaran, Marko tahu satu aturan yang tak pernah berubah. Perintah Enzo tidak perlu dipertanyakan. Cukup dilaksanakan. Ia pun segera berbalik menuju mobilnya.
Sementara itu, Enzo meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
"Aku hanya nyuruh orang beli obat. Kenapa harus malu?" tanyanya tenang.
Chantika hendak menjawab, tetapi pandangannya justru tertuju pada blouse miliknya yang robek dan tergeletak di lantai.
"Kau merobek bajuku," gerutunya pelan. "Terus sekarang aku harus pakai apa?"
Enzo duduk di sampingnya, lalu mengusap pipinya lembut.
"Kau lebih cantik kalau gak pakai baju."
"Dasar mesum," Chantika menepis tangan Enzo.
Tapi pria itu malah terkekeh. Chantika tak pernah tahu bahwa hanya dia satu-satunya wanita yang mendapat perlakuan lembut dan mendengar tawa renyah Enzo. Di luar sana pria itu terkenal dingin, tak tersentuh.
"Berapa ukuran baju dan pakaian dalammu?" tanya Enzo seolah sedang menanyakan cuaca hari ini.
"Baju L."
"Pakaian dalam?"
"M."
"Bra?"
Chantika memalingkan muka. "Tiga puluh delapan."
Sumpah demi apapun, wajah Chantika terasa terbakar saat harus mengatakan ukuran pakaian dalamnya.
Enzo kembali mengambil ponselnya. "Marko, belikan pakaian dengan ukuran L dan pakaian dalam M, bra tiga puluh delapan."
Tut.
Seperti sebelumnya, ia mengakhiri panggilan tanpa mendengar lebih dulu jawaban dari sang asisten.
"Tenang saja. Aku sudah meminta Marko membelikan obat dan pakaian baru buatmu."
Chantika mendesah pelan. "Merepotkan sekali..."
"Tidak." Sudut bibir Enzo terangkat tipis. "Selama itu untukmu, tidak ada yang merepotkan."
Chantika hanya mendengus pelan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang kembali memerah. Ia tidak tahu bahwa dirinya adalah wanita pertama yang membuat Enzo memperlihatkan sisi selembut itu. Di luar sana, pria itu dikenal dingin, tegas, dan nyaris tak pernah tersenyum.
Di sisi lain, Marko segera menyalakan mesin mobilnya dan melaju keluar dari area taman tempat ia biasa berolahraga. Namun, pikirannya sama sekali tidak fokus pada jalan yang dilaluinya.
"Bos... nyuruh aku beli keperluan buat perempuan?" Ia menggeleng pelan. "Aku pasti belum benar-benar bangun."
Marko menepuk pipinya sendiri sekali. "Sadar, Marko. Sadar."
Tapi semakin dipikirkan, semakin sulit ia mempercayainya. Selama bertahun-tahun menjadi tangan kanan Enzo, jangankan menyuruh membeli kebutuhan perempuan, melihat bosnya berbicara lebih dari lima menit dengan seorang wanita saja hampir tidak pernah.
"Biasanya kalau ada tamu perempuan, Bos langsung nyuruh aku yang ngurus semuanya. Bahkan berjabat tangan pun gak mau."
Ia terkekeh pelan.
"Sekarang malah minta aku beli obat... dan pakaian wanita?"
Marko menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau aku kasih tahu orang kantor, pasti gak bakal ada yang percaya."
Bibirnya perlahan membentuk senyum lebar.
"Jangan-jangan... kutub utara akhirnya mencair juga."
Sesaat kemudian, ekspresinya berubah serius.
"Tapi siapa sebenarnya wanita itu?"
Rasa penasaran mulai memenuhi kepalanya.
Wanita itu pasti bukan orang biasa. Sebab selama ini, tidak pernah ada seorang wanita yang berhasil bertahan di dekat Enzo, apalagi sampai membuat pria sedingin itu memerhatikan kebutuhannya.
Marko tersenyum kecil sambil menginjak pedal gas.
"Sepertinya... sebentar lagi aku bakal punya nyonya bos."
Ia lalu menggeleng sendiri.
"Ah, sudahlah. Daripada banyak menebak, lebih baik cepat membeli semua yang diminta Bos. Kalau terlambat, yang kena marah juga aku."
***
Di dalam kamar hotel, Enzo beranjak dari duduknya saat mendengar pintu diketuk.
Tok! Tok!
Ia membuka pintu sedikit.
Seorang pramusaji hotel berdiri di depan sambil mendorong troli sarapan.
"Selamat pagi, Tuan. Sarapan yang Anda pesan."
Enzo mengangguk singkat lalu mengibaskan tangan sebagai isyarat agar pria itu pergi.
"Terima kasih."
Pramusaji itu kembali menundukkan kepala sebelum berbalik meninggalkan tempat itu.
Enzo mendorong troli masuk, lalu membawanya menuju ruang duduk kecil yang menyatu dengan kamar suite tersebut. Di sana terdapat sebuah meja makan bundar untuk dua orang yang berada di dekat jendela besar.
"Sarapan dulu," ucap Enzo sambil mulai menata hidangan di atas meja.
Chantika berjalan perlahan menuju meja. Langkahnya masih sedikit kaku.
Melihat itu, Enzo segera menghampiri dan membantu menarikkan kursi untuknya.
"Hati-hati."
"Terima kasih," gumam Chantika.
"Dia perhatian sekali," batinnya.
Selama ini hidup Chantika dipenuhi belajar, pendidikan kepolisian, lalu pekerjaannya sebagai polwan. Ia belum pernah benar-benar menjalin hubungan dengan seorang pria karena selalu memilih fokus mengejar karier.
Karena itu, ini adalah kali pertama ada seorang pria yang memperlakukannya dengan begitu perhatian.
Yang tidak diketahui Chantika, ia juga merupakan satu-satunya wanita yang pernah dilayani Enzo. Biasanya justru semua oranglah yang melayani pria itu.
"Makan yang banyak," ujar Enzo sambil mengambilkan makanan ke piring Chantika.
Mereka menikmati sarapan dalam keheningan.
Beberapa menit kemudian, Enzo mengusap sudut bibirnya menggunakan serbet kain yang terlipat rapi di atas meja.
"Siapa yang meracunimu?" tanyanya tiba-tiba.
...🔸🔸🔸...
..."Perhatian bukan diukur dari seberapa manis kata-kata, tetapi dari siapa yang diam-diam memastikan kita baik-baik saja."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Ssmangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Aku sudah ketimggalan kauh mih Kak Nana... 😁😁😁 Jadi belum bisa lomen sampai puluhan komen... 😁😁😁 Ketinggalan jauh banget nih Kak... 😁😁😁🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Tuan Rahardja nggk bisa Kamj tipu Saras... 😂😂😂 Dia bukan orang baru, di dunia bisnis... 😂😂😂 Sekaramg Apalagi alasan ysng akan kamu berikan? ha? 😂😂😂
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏