Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 – SOSOK MISTERIUS
Jalanan yang biasanya damai dan sunyi di malam hari tiba-tiba terasa sangat berbeda. Udara menjadi dingin dan penuh dengan tekanan yang membelenggu dada, membuat Haruto sulit bernapas. Ia dan Daichi sedang dalam perjalanan pulang dari lembah tempat Mizuna tinggal, bercanda dan berbagi cerita tentang kemajuan Haruto dalam teknik sihir air tingkat 2. Namun suasana hangat itu segera sirna ketika bayangan tinggi muncul menghalangi jalan mereka di tengah hamparan pepohonan yang lebat.
“Sangat malang sekali bagi kalian untuk melewati jalan ini pada malam hari yang gelap seperti ini,” suara yang dalam dan penuh dengan kejam terdengar dari balik tudung hitam yang menutupi wajah sosok tersebut. Ia mengenakan baju besi gelap yang tidak memiliki lambang atau tanda apapun, dengan pedang panjang bergagang hitam yang tergantung di pinggangnya. Gerakannya yang stabil dan sikap yang penuh keyakinan menunjukkan bahwa ia bukanlah orang yang bisa dianggap remeh.
Daichi segera menghentikan langkahnya dan menarik Haruto ke belakangnya dengan cepat. Wajahnya yang biasanya rileks kini penuh dengan ketegangan. “Haruto, diam dan siapapun kamu, segera pindahkan diri dari jalan kami. Kita tidak ingin membuat masalah dengan siapapun,” ucap Daichi dengan suara yang tegas namun tetap menjaga kesabaran.
Sosok misterius hanya tertawa rendah, suara badannya bergema di antara pepohonan. “Masalah? Aku tidak datang untuk membuat masalah… aku datang untuk mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.” Ia kemudian mengangkat kepalanya sedikit, dan melalui celah tudungnya, bisa dilihat mata yang berwarna merah menyala seperti bara api. “Atau lebih tepatnya, seseorang yang seharusnya berada di bawah pengawasanku.”
Haruto merasa tubuhnya sedikit menggigil karena tekanan aura yang keluar dari sosok tersebut. Ia bisa merasakan bahwa kekuatan yang dimiliki orang ini jauh melampaui apa yang pernah ia alami sebelumnya. Bahkan aura yang dikeluarkan oleh Akira dan kelompoknya tidak sekuat ini.
Daichi perlahan mengeluarkan pedangnya dari sarungnya. Cahaya bulan yang redup menerangi bilah pedang yang sudah terasah tajam, memberikan kilau keperakan yang memantul ke sekelilingnya. “Saya tidak tahu apa maksudmu, tapi saya tidak akan membiarkanmu menyentuh Haruto atau mengambil apa pun darinya.”
Sosok misterius menghela napas dengan penuh rasa tidak sabar. “Sangat menyedihkan… saya memang berharap bisa melakukan ini dengan damai, tapi sepertinya pilihan itu sudah tidak ada lagi.” Tanpa memberi kesempatan lagi, ia dengan cepat mengeluarkan pedangnya dan menyerang Daichi dengan kecepatan yang luar biasa!
CLANG!!
Suara benturan pedang yang keras menggema di seluruh hutan. Daichi berhasil menghadang serangan itu dengan tepat waktu, namun gaya kakinya sedikit terpental mundur karena kekuatan yang luar biasa dari serangan musuhnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut—meskipun ia adalah mantan petualang tingkat A dengan kemampuan pedang yang sangat baik, ia merasa kesulitan menghadapi kecepatan dan kekuatan yang dimiliki oleh sosok misterius ini.
“Tingkat A… benar saja kamu memiliki kemampuan yang layak untuk menjadi bekas anggota Tim Azure,” ucap sosok misterius dengan suara yang penuh dengan penghinaan. “Tapi sayangnya, kemampuanmu sudah tidak sama seperti dulu ketika kamu masih dalam puncak kondisi. Kekuatanmu sudah memudar bersama dengan masa lalu yang kamu tinggalkan.”
Daichi tidak menjawab, ia hanya fokus pada setiap gerakan musuhnya. Ia tahu bahwa musuh yang dihadapinya saat ini adalah seseorang yang sangat kuat—bahkan mungkin berada pada tingkat yang sama atau bahkan lebih tinggi dari dirinya ketika ia masih aktif sebagai petualang tingkat A. Ia mulai bergerak dengan lebih hati-hati, mencari celah untuk menyerang sambil tetap menjaga jarak agar Haruto tidak terkena imbas pertempuran.
Haruto berdiri di belakang Daichi dengan hati yang penuh ketakutan tapi juga semangat untuk membantu. Ia mulai mengumpulkan mana di tubuhnya, mencoba membuat teknik sihir air tingkat 2 yang baru saja ia pelajari hari itu. Namun rasa takut dan kegelisahan membuat konsentrasinya terganggu, membuat air yang ia kumpulkan hanya berubah menjadi gumpalan yang tidak stabil.
“Jangan mencoba melakukan sesuatu yang tidak kamu kuasai, anak muda!” teriak sosok misterius sambil menghindari serangan memutar dari Daichi dengan mudah. Ia kemudian memberikan tendangan ke arah Daichi yang membuatnya terpental mundur dan hampir terjatuh. “Kamu masih terlalu lemah untuk bisa membantu temanmu yang sudah mulai tua ini.”
Daichi segera berdiri kembali, meskipun ada sedikit darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa bertahan lama melawan musuh yang begitu kuat ini. “Haruto, sekarang kamu lari dari sini! Cari jalan keluar dan hubungi Mizuna atau pergi langsung ke guild untuk meminta bantuan!” teriaknya dengan suara yang penuh desakan.
Tapi Haruto tidak mau pergi. Ia melihat bagaimana Daichi yang selalu melindunginya dan menjadi seperti orang tua baginya sedang kesusahan menghadapi musuh yang tidak dikenal. Ia menutup mata sejenak, mencoba mengingat semua yang diajarkan Mizuna padanya—tentang bagaimana harus tetap tenang dan bekerja sama dengan elemen air. “Tidak bisa, Daichi! Aku tidak akan pergi dan meninggalkanmu sendirian!”
Saat Haruto membuka mata kembali, tatapannya sudah berubah menjadi lebih fokus dan tegas. Ia mulai mengumpulkan mana dengan cara yang benar—napasnya menjadi teratur, pikirannya menjadi jernih, dan ia bisa merasakan kehadiran elemen air yang ada di sekitarnya, bahkan di malam hari yang kering seperti ini. Air mulai mengumpul di sekitarnya—dari embun yang ada di dedaunan, dari kelembapan yang ada di udara, bahkan dari sedikit keringat yang ada di tubuhnya sendiri.
Dalam sekejap, segerombolan ikan air kecil muncul di sekitar Haruto. Meskipun bentuknya masih tidak terlalu sempurna, mereka bergerak dengan cepat dan terkoordinasi ke arah sosok misterius. “Serang!” teriak Haruto dengan suara yang lebih kuat dari biasanya.
Ikan-ikan air itu melesat dengan cepat ke arah musuhnya. Sosok misterius sedikit terkejut dengan munculnya serangan sihir air yang tidak ia duga dari seorang pemula seperti Haruto. Ia terpaksa mundur sedikit dan menghindari serangan itu dengan mengayunkan pedangnya dengan cepat, membuat ikan-ikan air itu pecah menjadi tetesan yang menyebar ke segala arah.
“Sihir air tingkat 2… sungguh menarik,” bisiknya dengan suara yang kini penuh dengan rasa penasaran. Ia kemudian melihat langsung ke arah Haruto dengan mata merah yang menyala lebih terang. “Jadi inilah alasannya… kamu adalah murid dari Mizuna, bukan? Dan kamu memiliki potensi yang luar biasa dalam sihir air.”
Daichi menggunakan kesempatan ini untuk menyerang lagi. Ia melompat ke udara dan memberikan serangan memutar yang kuat ke arah sosok misterius. Namun musuhnya hanya mengangkat pedangnya dengan santai dan menghadang serangan itu dengan mudah. Dengan gerakan cepat, ia memberikan pukulan balik yang membuat Daichi terlempar jauh dan jatuh di tanah dengan keras.
“DAICHI!” teriak Haruto dengan penuh kesedihan. Ia segera berlari ke arahnya, namun sosok misterius sudah berdiri menghalangi jalannya.
“Jangan khawatir, dia tidak akan mati… belum,” ucapnya dengan suara yang dingin. “Aku datang bukan untuk membunuh kalian, tapi untuk memberikan pesan kepada Mizuna. Katakan padanya bahwa ‘Orde Air Kuno’ sudah mengetahui keberadaan anak muda ini, dan kita akan datang untuk mengambilnya ketika waktunya tiba.”
Sebelum Haruto bisa bertindak apa pun, sosok misterius itu mulai menghilang perlahan seperti asap yang menyebar ke udara. Suaranya masih terdengar bergema di sekitar mereka meskipun tubuhnya sudah tidak terlihat lagi. “Ingatlah, anak muda—potensi yang kamu miliki bisa menjadi berkah atau kutukan. Tergantung pada pilihan yang kamu buat nantinya.”
Setelah sosok misterius benar-benar menghilang, Haruto segera berlari ke arah Daichi yang masih terbaring lemah di tanah. Ia membangunkannya dengan hati-hati, melihat bahwa ada beberapa luka di tubuhnya namun tidak terlalu parah. “Daichi, kamu baik-baik saja kan?! Tolong jangan apa-apa!” ucap Haruto dengan suara yang bergetar.
Daichi sedikit membuka mata dan memberikan senyuman lembut. “Aku baik-baik saja, nak… cuma sedikit capek saja.” Ia kemudian mengambil napas dalam dan mencoba berdiri dengan bantuan Haruto. “Siapa sebenarnya orang itu? Dan apa maksudnya dengan pesan untuk Mizuna?”
Haruto menggeleng kepalanya dengan rasa bingung dan ketakutan. “Aku tidak tahu, Daichi… tapi aku merasa bahwa apa yang terjadi malam ini bukanlah akhir dari semuanya. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi, dan aku merasa bahwa aku terlibat di dalamnya.”
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah yang lebih hati-hati. Daichi berjalan dengan sedikit kesusahan, namun ia menolak untuk berhenti sampai mereka sampai di rumah dengan aman. Sepanjang jalan, tidak ada yang berbicara—kedua-duanya sedang memikirkan sosok misterius yang menyerang mereka dan pesan yang diberikan kepadanya.
Saat mereka tiba di rumah kecil yang terletak di pinggiran kota, Daichi langsung berbaring untuk beristirahat. Haruto merawat luka-lukanya dengan ramuan sihir yang ia dapatkan dari guild, hatinya penuh dengan rasa bersalah karena merasa bahwa ia adalah penyebab masalah yang menimpa Daichi.
“Jangan berpikir seperti itu, nak,” ucap Daichi dengan suara yang lembut setelah melihat ekspresi wajah Haruto. “Musuh itu datang karena alasan yang lebih dalam, sesuatu yang mungkin sudah ada jauh sebelum kamu datang ke dunia ini. Yang penting adalah kita tetap bersama dan saling melindungi satu sama lain.”
Haruto mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ia kemudian mengambil keputusan dalam hatinya—besok paginya ia akan segera pergi menemui Mizuna untuk memberitahu apa yang terjadi malam ini. Ia perlu tahu siapa sosok misterius itu dan apa maksud dari kata-kata yang diucapkannya tentang “Orde Air Kuno”.
Saat malam semakin larut dan suara hutan yang damai kembali mengisi udara, Haruto duduk di sisi tempat tidur Daichi yang sudah mulai tertidur lelap. Pochi sedang berada di pangkuannya, tubuhnya bergetar pelan seolah merasakan kekhawatiran yang ada di hati Haruto. Ia melihat ke arah jendela yang terbuka, di mana bulan sedang bersinar terang di langit malam yang penuh dengan bintang.
“Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti orang-orang yang aku sayangi lagi,” bisik Haruto dengan suara yang penuh tekad. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan belajar lebih keras lagi, menguasai semua teknik sihir air yang bisa diajarkan Mizuna dan sang Master Sihir Air. Karena ia tahu bahwa tantangan yang lebih besar akan datang menghadapinya, dan ia harus siap untuk menghadapinya agar bisa melindungi teman-temannya yang tersayang.
Di saat yang sama, jauh di dalam hutan yang gelap dan terpencil, sosok misterius yang menyerang Haruto dan Daichi sedang berdiri menghadap ke arah Kota Lumin. Di belakangnya berdiri beberapa orang lain yang mengenakan pakaian serupa, semua dengan wajah yang ditutupi dan aura yang kuat.
“Apakah dia benar-benar yang kita cari, Kael?” tanya salah satu dari mereka dengan suara yang pelan.
Sosok yang disebut Kael hanya mengangguk tanpa menghiraukan mereka. “Ya. Dia memiliki darah dan potensi yang sama seperti pemimpin kita dulu. Kita harus mengambilnya sebelum dia jatuh ke tangan yang salah dan kekuatan yang ada di dalam dirinya digunakan untuk tujuan yang salah.” Ia kemudian melihat ke arah langit malam dengan mata merah yang masih menyala. “Mizuna pasti sudah tahu bahwa kita akan datang. Tapi kali ini, kita tidak akan membiarkan dia menghalangi kita lagi.”
setelah itu, mereka semua menghilang ke dalam kegelapan hutan, menyisakan hanya kesunyian dan rasa ancaman yang mengendap di udara malam.