Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
Sebenarnya Rendra sangat malas bepergian. Tapi karena pekerjaan, di harus tetap pergi walau rasanya sangat malas.
Bahkan sepanjang perjalanan menuju tempat acara dia masih diam tanpa ingin bhacra sepatah katapun.
"Kita sampai, Pak." kata supirnya ketika mereka sampai di tempat acara pertemuan bisnis tahunan.
Rendra tidak menjawab, dia langsung turun dari mobil dan siap melihat para penjilat nantinya.
Saat dia berjalan memasuki hotel, langkahnya terhenti saat menghirup aroma parfum milik seseorang yang sangat di kenalnya.
"Oke, kita harus cepat. Sebentar lagi para tamu akan hadir. Beritahu pada tim untuk segera menghidangkan mami pembuka." mendengar suara itu membuat Rendra semakin yakin jika suara itu, adalah suara wanita yang di carinya.
Dan benar saja, ketika dia mengikuti arah sumber suara apa yang di lihatnya. Alice, wanita itu berada di kota ini ternyata.
"Baik, Mbak. Kami permisi." pamit rekan kerjanya dan mereka kembali sibuk mengurus pekerjaan mereka masing-masing.
Deg!
Jantungnya seperti berhenti berdetak saat melihat siapa yang sudah berada di belakangnya.
Alice tidak bisa berkata-kata lagi melihat Rendra yang tiba-tiba saja berada di tempat ini.
Melihat Alice yang ketakutan membuat Rendra tersenyum tipis disana. Akhirnya dia bertemu dengan wanita ini lagi. Di saat orang-orang sibuk mencarinya, dia malah langsung bertemu.
"Pak, lepaskan tangan saya." pinta Alice saat dia hendak pergi tangannya di tahan oleh Rendra disana.
"Kita harus bicara!" ajak Rendra memaksa Alice untuk mengikutinya.
"Lepaskan saya, tolong lepaskan!" Alice berusaha memberontak.
Dia benar-benar berusaha melepaskan diri dari cengkraman Rendra saat ini.
"Tolong lepaskan, tolong." pintanya memelas, tapi Rendra seolah-olah tidak mendengarnya dan terus menyeret Alice bersamanya.
Sampai dimana mereka masuk ke sebuah kamar kosong disana. Alice sudah mulai panik. Dia benar-benar panik ketika Rendra membawanya ke dalam kamar seperti ini.
Apa yang akan di lakukan Rendra padanya? tidak mungkin laki-laki ini akan melakukan sesuatu kan?
"Kenapa, kau takut?" tanya Rendra dengan tatapan dinginnya.
Dia benar-benar seperti ingin menguliti Alice hidup-hidup saat ini.
"Maaf, saya harus pergi!" ucap Alice yang hendak pergi setelah Rendra melepaskan tangannya.
"Apa yang kau lakukan 7 tahun yang lalu?" tanya Rendra tiba-tiba membuat tubuh Alice membeku.
Tangannya gemetar. Apa ini? kenapa Rendra tiba-tiba menanyakan soal 7 tahun yang lalu?
"Apa yang saya lakukan bukan urusan anda, Pak Rendra." jawab Alice berusaha tenang, tapi Rendra seperti tersulut emosinya.
"Kenapa kau menggugurkan kandungan mu hah? kenapa tidak berusaha mencari ku? kenapa kau melakukan itu Alice?!" tanya Rendra to the point membuat Alice semakin panik.
Tapi dia tetap berusaha untuk tenang, agar laki-laki ini tidak curiga padanya.
"Kenapa kau melakukan itu Alice? kenapa kau tidak berusaha menghubungiku dan mengatakan jika kau hamil? Kenapa, Alice kenapa?!"
"Kenapa jika aku menggugurkan-nya hah? Apa gunanya aku menghubungi anda? Apa jika aku menghubungi anda semua akan baik-baik saja? tidak! semua tidak akan baik-baik saja. Aku di usir oleh keluargaku, mereka meninggal setelah mengetahui anak mereka mengandung anak laki-laki yang telah bersuami. Andai anda masih ada disana mungkin aku tidak akan kehilangan hidupku. Anak itu tidak pantas hidup! Untuk apa dia hidup? Lebih baik dia mati sebelum lahir!" ucap Alice dengan berani membuat Rendra menggeram marah.
Wanita ini benar-benar berani melawannya. Lihat tatapannya, bahkan terlihat seperti menantangnya saat ini.
"Lepaskan!" teriak Alice saat Rendra menyeretnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Bahkan laki-laki itu terlihat hendak melepas pakaiannya membuat Alice langsung panik. Dia berusaha melepaskan diri dari Rendra.
"Lepaskan aku! Bajingan!!" umpat Alice yang masih berusaha melepaskan diri dari Rendra disana.
"Lepaskan! Lepaskan aku!!! Tolong!!!" teriak Alice yang berusaha meminta pertolongan, barang kali ada yang bisa menolongnya.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi! Tidak akan pernah!" ucap Rendra penuh emosi karena sikap Alice yang membangkang. Bahkan tatapan manja yang dulu sering di lihatnya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian padanya.
"Tolong!!! Tolong lepaskan aku, tolong!!!" teriak Alice yang terus berteriak meminta pertolongan bahkan dengan berani di menampar wajah Rendra.
PLak!
Sebuah tamparan keras berhasil membuatnya berhenti. Melihat ada kesempatan untuk melarikan diri membuat Alice dengan cepat mendorong tubuh besar itu hingga di kehilangan keseimbangan.
***