NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:610.8k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Di rumah, suasana jauh lebih hangat. Azalea duduk di halaman belakang bersama Elora. Tanah gembur di bawah pohon mangga menjadi “dapur” mereka hari itu. Elora mengenakan topi kecil, tangannya penuh tanah, wajahnya berseri-seri.

“Mommy, ini kuenya sudah jadi!” Elora menyodorkan gumpalan tanah yang dibentuk bulat.

Azalea tertawa kecil. “Wah, kue cokelat spesial.”

“Aku jual seratus ribu aja,” kata Elora serius.

“Apa harganya tidak kemahalan? Seratus ribu,” tanya Azalea menahan tawa.

“Hmmm, kalau begitu harganya sepuluh ribu,” balas Elora setelah berpikir lama. Itu harga dia beli es krim ukuran kecil.

Azalea pura-pura membuka dompet imajiner. “Murah sekali. Mommy beli dua.”

Keduanya tertawa bersama. Tawa yang ringan dan lepas. Menghapus sisa ketegangan malam sebelumnya.

Azalea menepuk-nepuk tangan Elora pelan. “Nanti habis ini kita cuci tangan, ya.”

“Oke, Mommy!” jawab Elora patuh.

Kebahagiaan kecil itu tak pernah luput dari pandangan dingin. Wanita paruh baya itu berdiri dengan ekspresi wajah kesal.

“Apa-apaan ini?!” suara Mami Elsa terdengar tajam dari teras belakang.

Azalea menoleh. “Ada apa, Nyonya?”

Mami Elsa melangkah mendekat, wajahnya penuh ketidaksenangan. “Lihat tangan Elora! Kotor semua!”

Elora refleks menyembunyikan tangannya ke belakang, matanya membulat ketakutan.

“Kamu mengajarkan hal jorok pada anak!” bentak Mami Elsa. “Main tanah? Kamu tahu berapa banyak kuman dan bakteri di sana? Anak kecil bisa sakit!”

Azalea bangkit berdiri perlahan, lalu berjongkok di hadapan Elora. Ia meraih tangan kecil itu dengan lembut.

“Tidak apa-apa, Sayang,” ucapnya menenangkan. “Tanahnya tidak masuk mulut, kan?”

Elora menggeleng.

Azalea lalu menoleh ke Mami Elsa. Wajahnya tetap tenang, suaranya rendah, namun tegas. “Bermain tanah bukan hal yang salah, Nyonya.”

Mami Elsa mendengus. “Kamu ini selalu saja membantah ucapan ku. Anak-anak harus bersih. Steril!”

Azalea tersenyum kecil. “Anak-anak perlu bersih, iya. Tapi mereka juga perlu bermain.”

Wanita berjilbab itu berhenti sejenak, memastikan Elora mendengarkan dengan tenang. “Tidak semua yang kotor itu berbahaya,” lanjut Azalea.

“Dan tidak semua yang bersih itu menyehatkan.”

Mami Elsa terdiam, tetapi tatapnya tajam dan rahangnya mengeras.

“Selama kita mengajarkan cuci tangan setelah bermain, menjaga kebersihan, dan tidak memasukkan tanah ke mulut,” sambung Azalea lembut, “bermain seperti ini justru melatih imajinasi, keberanian, dan kebahagiaan anak.”

Azalea menggenggam tangan Elora lebih erat. “Dan anak yang bahagia biasanya lebih jarang sakit.”

Mami Elsa membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Tak ada kata yang langsung bisa ia sanggah tanpa terlihat berlebihan.

Azalea menunduk ke Elora. “Sekarang kita cuci tangan, ya.”

Elora mengangguk, lalu tersenyum kecil.

Saat mereka berjalan menuju keran, Mami Elsa berdiri terpaku di tempatnya. Wanita paruh baya itu kehabisan kata-kata.

Di halaman belakang itu, di bawah langit cerah dan tanah yang sederhana, Azalea kembali membuktikan satu hal, bahwa mendidik anak bukan tentang melarang segalanya demi ketakutan, melainkan mengajarkan cara hidup dengan seimbang, aman, dan penuh cinta.

Tanpa disadari siapa pun, di kantor dan di rumah, Enzo dan Azalea sedang berjalan di jalur yang sama. Belajar menahan amarah. Belajar memahami. Belajar menjadi orang tua dengan hati.

***

Pintu depan terbuka, dan Enzo melangkah masuk dengan beberapa kantong di tangannya. Wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan sehabis pulang kerja, tetapi sorot matanya lembut, tidak dingin dan kaku.

“Daddy pulang,” ucap Enzo pelan.

Erza dan Elora yang sedang duduk di karpet langsung menoleh. Elora refleks berdiri, tapi langkahnya terhenti sejenak, masih ada sisa takut dari kejadian semalam.

“Harusnya mengucapkan assalamualaikum, Daddy,” ucap Erza mengingatkan.

“Assalammualaikum," ucap Enzo tersenyum malu.

Azalea yang duduk tidak jauh dari kedua anak itu pun ikut menoleh.

Enzo berjongkok, meletakkan kantong-kantong itu di lantai. Ia mengeluarkan sebuah boneka beruang kecil berwarna cokelat, lalu dua buku cerita anak dengan sampul cerah. Terakhir, ia mengangkat satu kantong plastik dingin.

“Ini buat kalian,” kata Enzo lirih.

Mata Elora membulat. “Boneka beruang,” bisiknya.

“Dan buku cerita,” sambung Enzo, lalu tersenyum kecil. “Sama es krim.”

“Asyik!” Erza bersorak kecil, tapi Elora masih ragu. Ia melirik Azalea, mencari isyarat aman.

Azalea mengangguk pelan, tersenyum lembut. Elora melangkah maju perlahan. Enzo membuka kedua tangannya.

“Papa minta maaf,” ucap Enzo dengan suara yang jujur dan rendah. “Semalam Daddy marah berlebihan. Daddy salah.”

Elora menunduk. Jemarinya memainkan ujung bajunya. “Aku … aku juga minta maaf, Daddy” katanya pelan, hampir tak terdengar. “Aku enggak akan pegang barang Daddy lagi. Kalau Daddy kerja.”

Enzo menutup mata sejenak. Lalu ia menarik Elora ke dalam pelukannya. “Terima kasih,” bisiknya. “Daddy janji… Daddy akan lebih sabar.”

Erza ikut mendekat dan memeluk mereka berdua.

Pemandangan itu membuat dada Azalea menghangat. Matanya berkaca-kaca. Ia menahan napas, tidak ingin mengganggu momen itu. “Inilah yang seharusnya kalian lakukan,” batinnya. Bukan teriakan yang membuat rasa takut, tetapi pelukan hangat yang menenangkan.

Beberapa menit kemudian, mereka duduk bersama di ruang keluarga. Es krim dibagikan. Elora memegang sendok kecil, matanya berbinar.

“Mommy dulu,” katanya sambil menyuapi Azalea.

Azalea terkejut, tapi tersenyum dan menerima suapan itu. “Terima kasih.”

“Sekarang Daddy,” lanjut Elora, menyodorkan sendok yang sama ke Enzo.

Gerakan kecil itu membuat udara di antara orang dewasa mendadak canggung. Azalea dan Enzo saling berpandangan sepersekian detik. Bagi orang dewasa, itu terasa seperti batas yang samar, cium tidak langsung, sesuatu yang terlalu intim untuk dipikirkan.

Namun, Elora tersenyum polos, menunggu.

Enzo mengalah. Ia menunduk dan menerima suapan itu. “Enak,” katanya singkat.

Elora tertawa senang. “Ternyata Daddy suka es krim juga!”

Azalea menahan senyum, menepis rasa kikuk. Ia tahu jika ditolak, Elora bisa sedih. Dan malam ini, mereka semua sedang belajar tentang kehangatan, bukan batasan yang kaku.

Tak lama kemudian, Erza berdiri. “Mommy, aku mau sosis bakar.”

“Sekarang?” Azalea tertawa kecil.

“Iya. Sedikit aja.”

“Baik,” jawab Azalea sambil bangkit. “Mommy ambil alat bakarnya dulu.”

Azalea melangkah ke tempat penyimpanan barang di sudut ruang dekat dapur. Rak besi tinggi berisi panci, wajan, dan peralatan lama. Azalea berjinjit, meraih alat pembakar yang terselip di rak atas.

Pada saat yang sama, Enzo berjalan ke arah dapur.

“Azalea—”

1
Dini Anggraini
Enzo Azalea sekarang hamil besar semoga kamu cepat angkat tlv istrimu sebelum semua terlambat seperti jasmine saat itu pendarahan di temukan Erza keesokan harinya saat jasmine sudah meninggal. Karena hamil muda saja gak boleh stress berlebihan bisa keguguran apalagi hamil tua bisa bahaya, jangan mentang2 kamu menyesal telantarkan jasmine kamu juga abaikan tlv Azalea juga. 🙏🙏😍😍😍
Ruwi Yah
jangan sampai kamu kehilangan untuk kedua kalinya enzo kebetulan posisi keduanya sama2 sedang hamil besar
Ariany Sudjana
Enzo penyesalan selalu datang terlambat, dan semoga dengan kamu mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama, dengan mengabaikan Azalea seharian penuh 😄
dewi wijayanti
❤️❤️❤️❤️
Arwondo Arni
berziarah ke makam Jasmin biar hatinya lapang dan Jasmin maafin,mungkin kl kamu cerita Lea kamu akan didiemin Lea Krn mengabaikan kakaknya yg hamil besar
Arwondo Arni
semoga Kel mama Elsa atau Kel kecil Enzo terhindar dr niat jahat karmila
dewi wijayanti
lea❤️❤️❤️
ken darsihk
Pengalaman terdahulu adalah guru terbaik dan untuk itu , belajar lah dari pengalaman itu jangan sampai penyesalan itu hadir lagi
Angkat telpon nya Azalea, Enzo
Esther
Tragis nasibmu Jasmine.
Dan kebenaran baru terungkap saat ini, membuat Enzo hidup dalam penyesalan.
Apa reaksi Azalea kalau tahu kakaknya meninggal, karena kecerobohan Enzo
sunaryati jarum
Lanjuut
ken darsihk
Nah ini dia yng menjadi penyesalan Enzo selama ini , dia tidak mempercayai Jasmine dan itu penyesalan Enzo yng terus menghantui hidup nya
Sugiharti Rusli
semoga apa yang terjadi pada mendiang Jasmine dulu jadi pelajaran yah bagi Enzo, dan beruntung saat sekarang Azalea tertimpa gosip video editan, Enzo bergerak cepat dan cari tahu kebenarannya terlebih dulu dan memang sang istri hanya jadi korban pihak yang tidak bertanggung jawab
Sugiharti Rusli
pengorbanan Jasmine ga sia", meski nyawa nya sendiri jadi taruhannya demi sang putri
vania larasati
lanjut
Sugiharti Rusli
yah pada akhirnya penyesalan datang belakangan bagi Enzo, sebetulnya dia masih beruntung tidak kehilangan Elora juga saat itu,,,
Sugiharti Rusli
dia lebih percaya gambar tak bergerak dibandingkan istrinya sendiri saat itu,,,
Sugiharti Rusli
semua berasal dari praduga sih yah, dan kemarahan menutup pintu hati Enzo saat itu,,,
Susma Wati
untuk kali ini enzo tidak terjebak akan permainan karmila, enzo mendapatkan kebenaran akan apa yang terjadi pada jasmine adalah permainan karmila dan dia teramat menyesal, tapi dengan apa yang menimpa azelea yang di fitnah terkuak sudah kejahatan karmila yang tidak dapat di maafkan oleh enzo dan mama elsa, tapi bagaimana dengan azelea jika tahu kakaknya meninggal karena fitnah karmila dan ketidak percaya an enzo terhadap jasmine yang membuat dia bersedih dan meninggal?
Ita rahmawati
huh dasar Enzo 😏
gimana kalo azalea tau ceritanya,,tp gpp sih azalea kan bijaksana pasti gpp sambil tersenyum menyejukkan 😂
SasSya
💔💔💔💔💔💔😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
sakit hati rasanya
remuk redam
Jasmine 🫂🫂🫂🫂
entahlah!!!
Enzo pantas menyesali semua
tapi ingat!!!
jangan berlarut2 meratapi masa lalu!!!!!
jangan mengulang!
kasih kabar istri di rumah!!!
Azalea khawatir itu
ah!!!!
entahlah!!!!
zo Enzo!!!
tragis sekali nasib Jasmine 🫂🫂🫂🫂😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!