NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Sosok gadis yang tengah terbaring di kasur pesakitan perlahan membuka mata. Satu tangannya secara reflek mengucek mata yang terasa tidak nyaman. Dia menatap bingung ke setiap sudut ruangan yang tidak lain adalah ruang rawat.

"Hanya ada aku." Valeska berusaha mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Kaivandra.

"Kok bisa ya, anaknya lagi sakit, malah nggak dijenguk?" tanya Valeska entah pada siapa.

Bang, Kaivandra.

|Bang, kapan pulang? Adek nggak mau di ruangan sendiri, takut bang. Di tempat lain, Kaivandra terkejut saat membaca pesan dari adiknya.

|Lho, mama sama papa memangnya belum ke sana? Abang kira, mereka udah nyampe rumah sakit.

|Kayak nggak tau aja, mereka sibuk, mana ada nyempetin waktu buat adek. Masih di dalam kelas, Kaivandra meraup wajahnya kesal.

"|Astaga, yaudah abang ke sana sekarang. Adek jangan khawatir, di sini ada abang, ok?

|Siap, hati-hati ya, jangan ngebut.

Kaivandra ingat betul dengan pesan yang dia kirim pada kedua orang tuanya. Tidak mungkin mereka tidak membaca, orang tanda bacanya sudah terlihat.

Harapan Kaivandra, sewaktu dia masuk kuliah hari ini, ada yang menemani adiknya, tapi ternyata tidak. Mereka benar-benar memprioritaskan pekerjaan daripada anaknya.

"Tahu gitu, gue jagain Valeska. Nggak usah masuk kuliah sekalian!" umpat Kaivandra dalam hati.

Mamaku.

|Send a pictures.

|Sudah dua hari adik demam tinggi, dan dirawat inap. Bisa ke sini sekarang?

|Ya ampun. Maafin mama,

|Mama bisa ke sini sekarang? Kasihan adik,

|Aduh gimana ya, masalahnya mama lagi ada kerjaan di kantor.

Lagi dan lagi soal kerjaan, rasanya Kaivandra ingin marah saat sebuah kerjaan dijadikan alasan agar tidak menemui anak-anaknya.

|Ke sini sebentar, nggak bisa? Lagian rumah sakitnya nggak jauh dari apartemen abang. Ma, please. Ini adik sakit lho, abang udah minta papa buat ke sini, tapi nggak bisa juga,

|Bang, ini mama juga lagi sibuk. Ini mama lagi di luar kota,

|Sebentar aja nggak bisa?

|Nggak bisa, sayang. Nomor rekening kamu, masih sama'kan? Biar mama transfer uang, buat kamu dan adik.

Kaivandra semakin di buat emosi saat sang mama mengirimkan pesan demikian.

|Nggak butuh. Uang abang masih banyak, kita hanya butuh kehadiran kalian aja.

Di tempat lain, Delina yang merupakan ibu kandung Kaivandra dan Valeska, sedang berjalan menuju ruang meeting. Dia benar-benar tidak peduli pada anaknya.

"Begitu mudahnya, para orang tua berkata seperti itu. Seakan-akan semua bisa diselesaikan dengan materi."

Lirih Kaivandra, sebelum keluar dari dalam kelas.

Tubuhnya sudah sangat lelah, ditambah dengan rasa bersalah karena seharian Valeska di rumah sakit seorang diri. Kaivandra masih ingat betul dengan sumpah serapah yang dikeluarkannya untuk seorang papa.

Dia tidak peduli terhadap dosa yang telah diperbuatnya, karena dirinya lebih peduli terhadap perasaan Valeska. Dengan berat hati, dia mengemis soal perhatian pada papanya.

Papaku.

|Pa, tadi pagi aku nyuruh papa ke rumah sakit, kenapa nggak datang?

|Papa nggak ada waktu, memangnya kamu nggak bisa nemenin Valeska?

|Abang kan ada kelas pagi nyampe sore, mana bisa pa,

|Kai, Valeska sudah besar, biarkan dia mandiri. Ini bukan masalah kecil yang harus diperdebatkan.

|Dia sudah besar, tapi dia lagi sakit!

|Pa, adik lagi butuh papa. Coba luangkan waktunya sebentar, meskipun sudah besar, tapi peran seorang ayah masih harus dipenuhi. Papa jadi orang tua jangan egois, jangan mementingkan urusan sendiri. Valeska butuh papa!

|Kaivandra Girga! Sekali lagi kamu bicara seperti itu, papa nggak akan kasih uang bulanan buat kamu!

Di depan kelas, Kaivandra terkekeh ringan saat membaca pesan dari sang ayah.

|Kenapa? Kok marah? Merasa gagal ya jadi orang tua?!

Karena merasa kesal setelah membaca pesan dari putranya. Tanpa banyak mikir, Girga pun menelpon Kaivandra, tapi naasnya diabaikan oleh anak sulungnya.

|Papa nggak pernah ngajarin kamu untuk seperti itu pada orang tua.

Percuma, pesan tersebut hanya dibaca. Kaivandra berpamitan pada teman-teman dekatnya, dia melangkah tergesa-gesa hingga sampai diparkiran.

Kaivandra tidak sempat menjawab satu persatu pertanyaan temannya, saat ini kunci motor sudah berada digenggamannya. Kebetulan malam ini kondisi jalan tidak begitu ramai, hanya ada suara motor miliknya yang melaju kencang menerjang waktu.

20 menit kemudian, Kaivandra sampai di lobi rumah sakit. Keringat membasahi pelipis, begitupun dengan napas yang masih tersengal saat melepaskan helm full face.Tanpa menunggu lama, dia langsung masuk ke dalam lift menuju lantai 3. Melewati tangga rasanya lebih lambat untuk hati yang sedang kalut.

 Langkahnya beradu dengan suara detak jantung bersamaan dengan emosi yang mulai naik saat mengingat orang tuanya tidak datang. Pintu kamar didorong dengan cemas. Di sana, hanya ada tubuh kecil Valeska yang sedang terbaring lemah, bahkan wajahnya masih terlihat pucat dengan selang infus menggantung di samping tempat tidur.

Sesekali, Valeska mendesah pelan, karena merasa jenuh dengan segala notifikasi yang terus berdatangan diponsel abangnya. Namun, Valeska memilih diam daripada menegur. Di sofa, Kaivandra hanya diam menatap layar ponsel dengan mata sendu, seakan bertanya tanpa suara.

"Kenapa jadi seperti ini?"Hingga akhirnya, kesunyian itu terpecah saat Valeska bertanya pada Kaivandra.

 "Bang, Mama sama Papa nggak bisa ke sini?"

'Lagi pada sibuk, dek. Gapapa, kan di sini masih ada abang," Valeska mengangkat kepala perlahan dan pandangannya bertemu dengan mata Kaivandra.

Dalam tatapan itu, ada lelah, tapi juga ada kasih yang tak pernah berubah. Relung hati Valeska tersentak. Tangannya terulur kemudian meraih tangan sang abang, lalu menggenggamnya erat.

"Maaf, Bang ..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Kaivandra hanya tersenyum tipis, seolah ingin mengatakan bahwa semua sudah dimaafkan sejak awal, karena bagi Kaivandra, kehadiran Valeska di sisinya saja sudah lebih dari cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!