NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Pertemuan tak sengaja di supermarket

Hari-hari berikutnya di kantor, bisik-bisik miring di kantin dan sindiran halus dari Pak Joko terus menguji kesabarannya setiap hari, tapi Larissa tetap berdiri tegap. Dia sengaja membiarkan semua orang mengira dia adalah wanita malang yang pasrah dan tak berdaya.

Hari Sabtu siang itu, langit ibu kota terasa sangat terik. Larissa memanfaatkan waktu libur satu-satunya minggu ini untuk menyetok kebutuhan pokok di sebuah supermarket besar yang terletak di dalam pusat perbelanjaan kelas menengah di daerah Jakarta Barat.

Tempat ini dipilihnya karena harganya yang relatif lebih miring dibandingkan supermarket lainnya.

Dengan keranjang plastik hijau di tangan, Larissa berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong rak.

Penampilannya sangat sederhana, dia hanya mengenakan kaus katun putih polos yang sudah agak longgar, celana denim panjang yang warnanya mulai memudar, dan sepasang flat shoes lama yang ujungnya sedikit lecet.

Rambut panjangnya dicepol asal ke atas menggunakan jepitan, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya yang tampak polos tanpa riasan sedikit pun.

Dia harus sangat bijak mengatur pengeluarannya. Jemarinya dengan teliti membandingkan harga dua merek sabun cuci baju botolan, menghitung selisih beberapa ribu rupiah demi memastikan uang gajinya yang pas-pasan cukup untuk bertahan hidup hingga akhir bulan dan menyisakan sedikit untuk tabungan daruratnya.

Saat dia sedang menimbang-nimbang botol detergen di tangannya, sebuah suara yang sangat familiar tiba-tiba memotong keheningan di lorong tersebut.

Suara itu melengking tinggi, penuh dengan nada manja yang dibuat-buat, disusul oleh tawa renyah yang sarat akan kepalsuan yang sangat Larissa kenali dari lubuk memorinya yang paling kelam.

"Ibu, lihat ini! Pengharum ruangan otomatis ini bagus sekali untuk dipasang di kamar mandi yang baru selesai direnovasi."

Tubuh Larissa seketika menegang di tempatnya berdiri, botol detergen di genggaman tangannya mendadak terasa luar biasa berat.

Jantungnya berdegup kencang, namun dia menolak untuk langsung membalikkan badan atau melarikan diri seperti seorang pecundang yang ketakutan.

Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan supermarket mengisi paru-parunya, mencoba menstabilkan emosinya agar tetap dingin.

Hanya berjarak beberapa meter dari lorong tempatnya berdiri, dua sosok wanita melangkah masuk dengan anggun. Ibu Maya berjalan paling depan, mengenakan dress sutra bermotif bunga-bunga besar yang mencolok dengan tas tangan kulit buaya yang berkilau mahal di lengannya.

Di sampingnya, Vera berjalan dengan langkah yang sengaja dibuat berlenggok, mengenakan blus sabrina putih dan celana kulot.

Tangan kanannya memegang troli belanjaan yang sudah dipenuhi oleh barang-barang berkualitas premium, mulai dari daging sapi wagyu, buah-buahan segar berlabel mahal, hingga perlengkapan rumah tangga lainnya.

Mereka berdua tampak begitu bahagia, memancarkan aura nyonya besar yang berkuasa.

"Iya, pilih saja apa pun yang kamu suka," sahut Ibu Maya dengan nada yang cukup keras.

"Sekarang setelah rumah itu bebas dari aura pembawa sial, semuanya memang harus diganti dengan yang baru dan berkelas. Bram juga bilang padaku kemarin kalau dia merasa jauh lebih betah pulang ke rumah semenjak kamu yang mengurus semuanya. Rumah itu akhirnya terasa hidup, tidak seperti lima tahun belakangan yang terasa suram seperti kuburan."

Vera terkekeh manja, membetulkan posisi tas branded keluaran terbaru di bahunya. "Ah, Ibu bisa saja. Aku kan hanya melakukan kewajibanku sebagai istri yang baik untuk Mas Bram. Oh ya, besok kita jadi kan pergi ke klinik kecantikan langganan Ibu untuk perawatan?"

"Tentu jadi, Sayang. Menantu kesayanganku yang cantik dan subur ini harus selalu dirawat biar Bram makin lengket," jawab Ibu Maya, menepuk-nepuk punggung tangan Vera dengan penuh kasih sayang, sebuah perlakuan hangat yang tidak pernah sekali pun Larissa rasakan selama lima tahun menjadi menantunya.

Ibu Maya kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling rak, berniat mencari produk pembersih kaca. Namun detik berikutnya, gerakan tangannya mendadak terhenti.

Sepasang mata yang tak lagi muda itu menangkap sosok Larissa yang sedang berdiri tegak menghadap rak detergen.

Suasana di lorong supermarket itu seketika berubah, senyum semringah di wajah Ibu Maya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kerutan dalam di dahi dan sorot mata yang penuh dengan rasa jijik dan benci. Dia menyenggol siku Vera dengan kasar, memberi isyarat dengan dagunya ke arah Larissa.

"Oh, lihat siapa yang ada di sini," Ibu Maya berseru dengan nada suara yang sengaja dibuat nyaring dan melengking, memotong keheningan lorong hingga beberapa pengunjung lain dan seorang petugas supermarket yang sedang menata barang menoleh ke arah mereka dengan pandangan penasaran.

"Ternyata dugaanku selama ini tidak salah. Dunia ini memang sempit, dan orang yang tidak tahu diri biasanya akan terdampar di tempat-tempat yang sesuai dengan kelas aslinya."

Larissa membalikkan badannya secara perlahan. Dia meletakkan kembali botol detergen ke atas rak, lalu menatap Ibu Maya dan Vera secara bergantian dengan sepasang manik mata yang datar.

Ibu Maya melangkah maju dua langkah, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap penampilan sederhana Larissa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan.

"Kamu benar-benar jatuh ke level serendah ini ya? Lihat baju apa yang kamu pakai itu? Lusuh, kusam, dan murahan sekali," sembur Ibu Maya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis.

"Benar-benar menunjukkan kualitas asli seorang wanita yatim piatu dari keluarga biasa yang dulu beruntung bisa mencicipi kemewahan keluarga Baskoro karena kelicikanmu menipu anakku. Sekarang setelah semua topengmu tanggal dan kamu diusir, kamu kembali ke habitat aslimu yang kumuh."

Mendengar makian mantan mertuanya yang membawa-bawa status yatim piatunya, dada Larissa sempat berdenyut perih. Namun dia mengepalkan tangannya di samping tubuh, menahan getaran emosi tersebut agar tidak naik ke permukaan wajahnya.

Vera yang sejak tadi diam kini mulai mengambil perannya. Dia melangkah maju, melepaskan pegangannya pada troli, lalu berdiri tepat di samping Ibu Maya dengan posisi tubuh yang sengaja di buat berwibawa bak seorang pemenang yang sedang berbelas kasihan kepada tawanannya.

Vera menampilkan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa simpatik yang dibuat-buat, matanya memancarkan binar kepuasan yang luar biasa melihat penampilan Larissa.

"Ibu, sudah... jangan berkata seperti itu pada Larissa. Kasihan dia," ujar Vera dengan yang diatur sangat lembut, mendayu-dayu, namun penuh dengan bisa yang mematikan.

Dia menatap Larissa dengan pandangan mata yang merendahkan. "Larissa kan sekarang harus berjuang keras menghidupi dirinya sendiri. Memang pasti berat dan mengejutkan ya, Ris, harus membiasakan diri dari yang tadinya hidup nyaman sebagai istri pewaris, sekarang harus banting tulang sendiri."

Vera menghela napas panjang, memasang wajah sok prihatin sembari membetulkan posisi tasnya.

"Tapi nggak apa-apa kok, Ris. Kita memaklumi keadaanmu, yang penting halal kan ya, daripada menganggur dan luntang-lantung di jalanan setelah dicerai karena rahimmu yang bermasalah. Kami semua mendoakanmu dari rumah mewah kami agar kamu bisa terus bertahan hidup di kosan kecilmu itu. Semangat ya, Ris."

Sindiran halus namun brutal yang keluar dari mulut Vera itu adalah garam yang sengaja ditaburkan tepat di atas luka Larissa yang masih basah. Vera sengaja menekankan kalimat yang ia ucapkan di depan pengunjung supermarket lain untuk mempermalukan Larissa hingga ke dasar tanah.

Beberapa orang di sekitar lorong mulai berbisik-bisik, melayangkan pandangan menilai ke arah Larissa yang berdiri sendirian dikeroyok oleh dua wanita glamor tersebut.

Ibu Maya tertawa sinis, merasa sangat puas dengan serangan menantu barunya. "Halal kamu bilang, Vera? Wanita malas dan mandul seperti dia mana tahu arti kerja halal! Paling-paling dia open BO."

Larissa menatap Ibu Maya yang terus mengoceh, lalu mengalihkan pandangan matanya tepat ke arah manik mata Vera.

Dia tidak berteriak, tidak memaki balik, dan tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa mentalnya runtuh oleh lontaran hinaan itu. Sebaliknya, dia melangkah maju satu langkah besar, mengikis jarak di antara mereka hingga dia bisa melihat dengan jelas pori-pori wajah Vera yang dilapisi bedak mahal.

Sorot matanya mendadak berubah menjadi begitu gelap dan tajam. "Vera," suara Larissa mengalun dengan sangat rendah.

Vera yang semula tersenyum penuh kemenangan, tiba-tiba merasa senyumnya membeku di bibir begitu bertatapan langsung dengan sepasang mata gelap Larissa yang tampak begitu mengintimidasi.

"Kamu merasa telah memenangkan segalanya, bukan?" Larissa berucap tanpa ada nada gemetar sedikit pun. "Kamu berhasil merombak kamar tidurku, kamu berhasil memakai perhiasan yang dibeli dari uang perusahaan, kamu berhasil berdiri di samping Bram sebagai nyonya baru."

Vera menelan ludahnya dengan susah payah, instingnya mendadak mengirimkan sinyal bahaya yang tak rasional ke otaknya. Dia mencoba mempertahankan posisi tegaknya, namun tangannya yang memegang tali tas mulai bergetar samar.

"Nikmati saja apa yang kamu miliki sekarang. Habiskan uang itu, pakailah gaun mewah itu, dan nikmatilah posisi nyonya besar Baskoro selagi kamu bisa," Larissa melanjutkan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin.

"Karena di dunia ini... sesuatu yang dibangun dari hasil kebohongan dan mencuri milik orang lain secara keji... biasanya tidak akan pernah bisa bertahan lama. Kamu mungkin bisa merenovasi rumah itu agar jejakku hilang, tapi kamu tidak akan pernah bisa merombak kebenaran di atas fondasi pernikahan busuk yang kamu mulai dengan kelicikan."

Larissa menjeda kalimatnya sejenak, menatap lekat-lekat pada pupil mata Vera yang mulai melebar karena rasa syok. "Waktu masih berjalan, dan ketika fondasi busuk itu runtuh nanti, pastikan kamu siap untuk jatuh lebih keras dan lebih hina daripada apa yang aku rasakan hari ini."

Suasana di lorong supermarket itu mendadak jatuh ke dalam keheningan yang luar biasa mencekam. Kata-kata yang diucapkan Larissa dengan penuh ketenangan namun sarat akan ancaman terselubung itu bergema tajam di telinga Vera, terasa bagaikan sebuah ramalan kutukan buruk yang menghunjam tepat ke ulu hatinya.

Vera yang biasanya lincah bersandiwara dan selalu memiliki jawaban manipulatif untuk membalikkan situasi, mendadak bungkam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu, dan wajahnya yang semula memerah merona akibat sapuan perona pipi perlahan-lahan mulai memucat pasi.

Sebuah ketakutan yang luar biasa besar mulai mencekik leher Vera detik itu juga.

Apakah wanita ini tahu sesuatu? Apakah Larissa sebenarnya tahu kalau dia tidak mandul? Apakah dia tahu tentang rahasia kotor di balik rekam medis palsu dari dr. Hendra yang sengaja aku dan Bram beli dengan uang ratusan juta? Pikiran Vera mendadak kacau balau, dipenuhi oleh spekulasi mengerikan yang mengancam posisinya yang baru saja aman.

Ibu Maya, yang sama sekali tidak memiliki kepekaan dan tidak menyadari perubahan drastis pada mimik wajah menantunya yang memucat ketakutan, langsung mendengus kencang melihat ketenangan Larissa.

Bagi Ibu Maya, ucapan Larissa hanyalah gertakan kecil dari seorang mantan istri yang frustrasi dan kalah.

"Halah! Dasar wanita stres! Kerjaanmu cuma bisa mengutuk dan mengarang cerita khayalan karena kamu iri melihat kehidupan Vera yang jauh lebih sempurna dan terhormat daripada kamu!" bentak Ibu Maya dengan kasar.

Ibu Maya langsung menyambar pergelangan tangan Vera dengan sentakan kuat. "Ayo, Vera, kita pergi dari sini sekarang! Jangan membuang-buang waktu berhargamu yang mahal hanya untuk meladeni omongan sampah dari wanita mandul pembawa sial ini! Bisa-bisa aura miskin dan sialnya menular pada janin yang sedang kita usahakan!"

Ibu Maya terus berjalan menjauh menyusuri koridor supermarket sembari memaki-maki Larissa dengan kalimat kasar, menarik troli mereka dengan berangasan. Namun, langkah kaki Vera terasa begitu berat dan kaku, seolah-olah sepasang kakinya baru saja ditanami timbunan timah.

Saat tubuhnya ditarik paksa oleh Ibu Maya menuju meja kasir di ujung depan, Vera tidak bisa menahan diri untuk tidak menolehkan kepalanya sekali lagi ke belakang, melirik ke arah lorong tempat Larissa berdiri melalui celah di antara rak-rak tinggi.

Di kejauhan sana, Larissa masih berdiri diam di tempatnya semula, memegang keranjang plastiknya dengan tegap. Dia tidak melarikan diri, tidak menangis, dan tidak menundukkan kepalanya.

Sepasang mata gelapnya terus menatap lurus, mengunci pandangan mata Vera dari kejauhan dengan sorot mata sedingin es yang sarat akan ancaman kematian bagi masa depannya.

Bersambung

1
sunaryati jarum
Semua manipulatif Bram dan Vera dikuliti publik, rasain
sunaryati jarum
Tanggung jawablah Vera kau kan sudah menikmati Bram dan hartanya, sekarang kau tinggal membayar sebagai penghuni hotel prodeo
YAM
smpe sini terlalu greget ma mc nya bego gampang di tindass😡😡
Sindy Puspita: Hehehehe, hidup kadang emang harus bego dulu kak🤭🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Maya langsung koit
sunaryati jarum
Emak tunggu hasilnya, Larissa
sunaryati jarum
Ingat kamu hamil jangan terlalu emosi
Batara Kresno
makin seru bagus ceritanya lanjut thor
sunaryati jarum
Hanya dengan mengumumkan kehamilan Larissa kebohongan Bram dan Vera terbongkar dengan sendirinya.Jika sejak awal jujur sama Bu Maya, mungkin dia tidak mengecap Larissa mandul,dan cari solusi bersama.Kalau sudah begini kalian sendiri yang hancur, bahkan Bram tidak tahu dirinya menghina Vera juga,lucu .Sudah tahu dirinya yang bermasalah kok melempar kekurangan pada orang lain🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Nah bagaimana Bu Maya masih mempertahankan jika Larissa mandul?
sunaryati jarum
Selamat Larissa akhirnya bersama Sultan Sang Penguasa Raja Bisnis kamu hamil, semoga sehat bayi dan kamu
Sindy Puspita
Terima kasih atas dukungannya kak🙏 Ditunggu updatenya besok malam ya
Batara Kresno
masih kurang thor dirunggu upnya ttp semangat trimakasih udah up 3 bab🙏🙏🙏
Batara Kresno
mampus lho bu maya
Batara Kresno
ko cuma 1 tumben pengin liat keluarga bram mampus
sunaryati jarum
Lanjut
sunaryati jarum
Nah,kan tanpa Larissa membalas sakit hatinya, mereka sudah mendapatkan balasan atas kejahatan mereka
sunaryati jarum
Terbongkar kebohongan kamu,ingin hati menutupi kekurangan Bram,namun merugikan diri sendiri
sunaryati jarum
Tidak usah membalas mereka sudah kenaa karma karena ulahnya dan provokasi Vera.Hiduplah dengan bahagia sudah
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut
sunaryati jarum
Jatuh mental sekarang , orang yang kalian hina bersanding dengan pria terkaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Waah mantap Bos Bayu to the point , langsung gass pool.Langsun nikahin,Bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!