Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
"G-Gua?! Dijadiin kalung?!" Agus yang sedang asyik mengunyah es lilin di dekat pintu gerbang toko mendadak tersedak. Dia menunjuk dadanya sendiri dengan jari yang masih ternoda semen kering, matanya melotot selebar piring makan.
"R-Riyan... lu bercanda kan?!" suara Valerie bergetar hebat. Wajah cantiknya pucat pasi, menatap Riyan seolah pria di hadapannya adalah makhluk asing dari planet lain.
"Itu Patek Philippe Grandmaster Chime! Mahakarya horologi tertinggi di dunia! Kasingnya terbuat dari emas putih 18 karat dan dihiasi 200 berlian langka! Lu mau gantung itu di leher satpam kaos kutang lu?!"
"Siapa yang bercanda?" Riyan merogoh saku jasnya, mengeluarkan kartu debit khusus berlogo Zevan-Black Card yang berisi dana triliunan.
'Biarin! Begitu jam antik langka ini digantung di leher si Agus yang keringetan dan kena gesekan kaos kutang, sertifikat keasliannya pasti gugur! Harganya bakal hancur total dan gak bakal ada kolektor yang mau beli lagi! Kerugian murni 500 Miliar!'
"Gesek sekarang, Pirang! Lima ratus miliar! Cash!" Riyan melempar kartu hitam itu ke atas meja etalase kaca dengan gaya sengak.
[Denting Sistem! Pembelian Jam Mewah Berhasil Dilakukan!]
[Log Transaksi: Pembayaran Rp500.000.000.000 kepada Vandersen Luxury Gallery telah diverifikasi.]
[Saldo Terkini Anda Berkurang Menjadi: 3,72 Triliun Rupiah!]
'YES! Setengah triliun melayang! Riyan hampir saja mengepalkan tangannya gembira saat melihat notifikasi sistem.
Manajer toko dengan tangan gemetar membawa kotaknya yang terbuat dari kayu mahoni langka. Valerie yang masih syok hanya bisa menyaksikan dengan mata melotot ketika Riyan mengambil jam tangan mahakarya tersebut.
Riyan membuka talinya, menyambungkannya dengan rantai besi bekas ikatan rantai gembok pagar proyekan yang dia minta dari Ujang, lalu tanpa ragu menyangkutkannya tepat di leher Agus!
"Nah! Pas banget di leher lu, Gus!" kata Riyan puas sambil menepuk bahu Agus.
"Inget ya, Gus! Jam setengah triliun ini jangan pernah dilepas! Mau lu ngaduk semen, mau lu mandi pakai sabun colek, mau lu keringetan pas ronda malam, tetep pake ini kalung!"
Agus menunduk menatap benda berkilauan yang menggantung di dadanya, bertengger pas di atas kaos kutang Swan putihnya.
"A-Aduh, Yan... eh, Pak Dirut... ini rasanya leher gua berat banget bukan karena bobot jamnya, tapi karena beban hidup lima ratus miliar menggantung di leher gua..."
Seluruh pengunjung galeri dan para wartawan media sosial yang sejak tadi merekam kejadian itu langsung riuh. Kilatan lampu kamera (flash) menyambar-nyambar tanpa henti!
"Gila! Riyan Sadewa benar-benar menghancurkan nilai prestise barang antik!"
"Jam tangan 500 miliar cuma dijadiin kalung satpam kuli?! Ini penistaan terhadap kaum borjuis atau gaya hidup tingkat dewa?!"
Valerie mengepalkan tangannya rapat-rapt hingga kukunya memutih.
"Riyan... lu bener-bener merusak reputasi jam koleksi galeri gua! Sekarang semua kolektor bakal menganggap merek itu murahan karena dipakai sama satpam lu!"
"Memang itu tujuan gua, Pirang," sahut Riyan santai dengan senyum penuh kemenangan.
'Mampus lu! Mereknya jatuh, harga jamnya anjlok 100%, duit gua melayang setengah triliun tanpa sisa!'
Namun, di tengah rasa bangga Riyan atas kebangkrutannya, Kezia Zevan yang melangkah mendekat justru menatap Agus dengan binar mata yang penuh decak kagum.
"Luar biasa..." gumam Kezia pelan.
Riyan mendadak menegang. Senyum di wajahnya langsung membeku. 'T-Tunggu... kenapa bini gua ngomong 'luar biasa' lagi?!
"Taktik Anti-Fashion Statement yang sangat jenius, Suamiku," Kezia berbalik menatap Riyan dengan senyum penuh kebanggaan.
"Dengan menggantungkan jam tangan termahal di dunia pada seorang pengawal biasa berkaos kutang, kamu baru saja menciptakan tren fashion baru bernama 'Streetwear-Proletar Luxury'!"
"Hah?! Sutrit-apaan?!" Riyan melotot.
Belum sempat Kezia menjelaskan, ponsel Valerie di atas meja mendadak berdering kencang. Valerie mengangkatnya dengan wajah muram, namun hanya dalam hitungan detik, matanya membelalak lebar.
"A-Apa?! Tuan Smith dari Vogue Magazine London?!" seru Valerie histeris lewat telepon.
"Anda... Anda mau menjadikan foto pengawal berkaos kutang yang memakai jam Patek Philippe itu sebagai Cover Utama Majalah Vogue World Edition bulan depan?!"
Valerie menurunkan ponselnya dengan tangan gemetar. Dia menatap Riyan dengan pandangan tak percaya.
"Riyan... Direktur Patek Philippe pusat di Swiss baru saja menelepon," pringas Valerie dengan suara lemas.
"Mereka sangat terkesan dengan gaya 'Streetwear-Proletar Luxury' yang kamu ciptakan! Mereka bilang ini adalah promosi paling berani dalam sejarah horologi modern! Mereka memutuskan untuk mengangkat Agus sebagai Brand Ambassador Global mereka dengan kontrak eksklusif senilai 1 TRILIUN RUPIAH!"
JGEERRRR!
Petir imajiner kembali menyambar Riyan Sadewa tepat di dadanya.
"APAAA?! BRAND AMBASSADOR?! SATPAM KULI GUA?!" jerit Riyan sekencang-kencangnya.
[Denting Sistem! Analisis Dampak Pemasaran Absurd Selesai!]
[Tindakan Inang merusak fungsi barang mewah justru menciptakan Tren Fashion Baru!]
[Kontrak Brand Ambassador untuk Karyawan Inang berhasil ditandatangani!]
[Komisi Manajemen & Royalti Tren masuk ke rekening Inang: +1 Triliun Rupiah!]
[Saldo Terkini Anda Melonjak Menjadi: 4,72 Triliun Rupiah!]
Riyan Sadewa langsung berlutut di atas lantai marmer galeri mewah itu. Tangannya memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.
Niat hati membuang 500 miliar demi merusak nilai jam tangan, malah dapet royalti dan kontrak 1 Triliun gara-gara si Agus dianggap keren sama orang Eropa!
"Gua cuma mau merugi ya Allah... Kenapa Agus malah jadi model internasional, WOIII?!" jerit Riyan histeris sambil memukul-mukul lantai marmer.
Agus yang berdiri di sampingnya langsung merapikan jas Hugo Boss-nya, membetulkan letak jam 500 miliar di lehernya, lalu bergaya ala model papan atas di depan kamera wartawan.
"Makasih banyak ya, Pak Dirut Riyan! Gara-gara Bapak, tampang kuli gua sekarang diakui sama Swiss!" seru Agus penuh rasa syukur.
Riyan mendongak menatap layar sistemnya yang kian kritis:
[Batas Waktu Wajib Bayar Denda Vandersen: Sisa 28 Jam : 00 Menit!]
[Saldo Terkini: 4,72 Triliun Rupiah!]
Riyan mengertakkan giginya dengan mata memerah penuh kegilaan. Gak bisa dibiarkan! Pembelian jam gagal... Beli lukisan gagal... Sekarang cuma ada satu cara terakhir buat bikin duit 4 Triliun ini habis seketika!
Riyan berdiri tegak, menatap Kezia dan Valerie dengan tatapan penuh keputusasaan yang membara.
"Kezia! Bawa gua ke dealer mobil super termahal di Indonesia sekarang juga! Gua mau beli SERATUS UNIT HYPERCAR malam ini juga!"