Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Saingan
"Duhalah, Gusti..." Meshwa tampak khawatir saat melihat kepala Aka yang di tempeli perban.
"Ini gimana ceritanya sih, Mo?" Tanya Meshwa pada Arjuna.
Arjuna kemudian menceritakan apa yang di alami Aka seperti apa yang di ceritakan oleh Shima dan Ara.
"Astaghfirullah..." Ucap Meshwa sambil mengusap dadanya.
"Ini seumpama motor bisa manjat tembok, udah pasti di coba juga sama kalian berdua." Kata Meshwa.
"Maaf ya, Mbun. Mbun jangan marah - marah." Kata Bima sambil memijat bahu Meshwa.
"Capek Mbun mau marah - marah tuh, Dek. Tapi kalo gak marah, kok Adek sama Mamas ada aja proyek baru yang bikin Mbun naik darah." Kata Meshwa.
"Memang Mbun mau kemana? Kok naik darah?" Tanya Bima.
Mendengar itu, Arjuna langsung memalingkan wajah karena tawanya yang hampir meledak akibat pertanyaan dari Bima. Sementara itu, Meshwa hanya bisa menutup wajahnya. Seperti Arjuna, tawanya pun hampir meledak karena pertanyaan dari Bima.
"Mbun mau pergi?" Tanya Bima lagi yang belum mendapat jawaban dari Meshwa.
"Iya, Mbun mau pergi aja. Mbun pusing tiap hari di buat deg - degan sama kalian berdua." Jawab Meshwa.
"Mbun jangan pergi! Maafin adek sama Mamas." Kata Aka dengan wajah panik.
"Iya, Mbun. Mbun di sini aja sama Adek dan Mamas. Jangan tinggalin Adek sama Mamas." Kata Bima sambil memeluk Meshwa.
"Ayo Mbun kita pergi, kita tinggalin aja itu anak dua." Kata Arjuna.
"Romo aja yang pergi sendiri. Mbun di sini aja." Kata Bima.
"Bener ya, Romo beneran pergi kalo gitu." Ancam Arjuna.
"Tuh Mbun, Romo pasti mau cari Mbun baru. Romo udah bosen sama Mbun sama Mamas dan Adek." Kata Aka.
"Heh! Bisanya. Fitnah aja Mamas itu." Kata Arjuna.
"Iya loh, Mbun. Waktu itu Romo pernah bilang kalo pusing karena Mbun suka ngomel - ngomel." Timpal Bima yang turut mengompori.
"Iya Mbun, Romo pernah bilang gitu sama Mamas dan Adek." Kata Aka.
"Makanya itu Romo mau pergi sendirian. Mau cari Mbun baru yang gak suka ngomel - ngomel." Imbuh Aka yang kompak dengan Bima untuk menyudutkan Arjuna.
"Romo pernah ngomong gitu ke Adek sama Mamas?" Tanya Meshwa yang di jawab anggukan oleh kedua putranya.
"Ini kok malah pada numbalin Romo? Nyari kawan biar di marah Mbun?" Tanya Arjuna yang mulai ketar - ketir karena mendapat lirikan tajam dari Meshwa.
"Gak numbalin kok! Kan memang Romo pernah ngomong gitu." Jawab Aka.
"Iya kan, Dek?" Ujar Aka yang mengonfirmasi pada Bima.
"Iya. Romo pernah ngomong gitu." Sahut Bima.
"Tapi kan Romo gak bilang kalau mau cari Mbun baru." Sergah Arjuna.
"Terus, Romo mau ngapain pergi? Emang Romo bisa masak sendiri? Bisa setrika baju sendiri? Kan yang masak, yang cuci baju, yang setrika seragam Romo juga Mbun. Kalo Romo pergi, berarti cari Mbun baru buat masak sama cuci dan setrika baju Romo." Cerocos Aka.
"Haaaah! Berisik!" Kata Meshwa.
"Gak Romo, gak anaknya, sama aja bikin Mbun pusing. Udah, kalian bertiga di rumah, jangan kemana - mana! Mbun mau pergi, Mbun pusiiingg!" Kata Meshwa yang kemudian berjalan ke luar rumah, meninggalkan suami dan anaknya yang masih terbengong di tempatnya.
"Tuh kan, gara - gara Romo tuh, Mbun jadi pergi. Jalan kaki lagi." Kata Aka.
"Iya! Gara - gara Romo!" Timpal Bima.
"Kok jadi nyalahin Romo? Kan kalian berdua, awal mula masalahnya." Sergah Arjuna.
"Ah! Pokoknya salah Romo!" Kata Bima yang kemudian melihat arah Meshwa pergi dari jendela ruang tamu.
"Mo... Romo... Mbun mau kemana, ya?" Tanya Bima.
"Paling ke rumah Uti." Jawab Arjuna.
"Enggak tuh! Gak ke rumah Uti." Kata Aka yang ikut mengintip.
"Hayo lo, Romo! Di tinggal Mbun cari Romo baru." Kata Bima.
"Romo sih! Sering bikin Mbun marah - marah." Imbuh Bima kemudian.
"Kok Romo? Ya kalian berdua itu yang sering bikin Mbun marah - marah." Sahut Arjuna.
"Udah, Dek. Biarin aja Mbun cari Romo baru. Romo yang ini kan jelek, biar Mbun cari Romo yang ganteng." Celetuk Aka.
"He! Bisa - bisanya bilang Romo jelek. Romo ganteng gini." Kata Arjuna yang tak terima.
"Gini - gini, Romo dulu jadi rebutan perempuan loh. Banyak yang mau nikah sama Romo." Imbuh Arjuna.
"Perempuannya sakit mata berarti ya, kalau bilang Romo ganteng." Kata Aka.
"Oo, jadi maksudmu Mbun juga sakit mata, gitu? Karena bilang Romo ganteng. Romo bilangin sama Mbun kamu, Mas." Kata Arjuna yang tertawa penuh kemenangan.
"Bukan salah Mbun kalau Mbun bilang Romo ganteng. Pasti Mbun di guna - guna sama Romo, makanya mau sama Romo." Kata Aka.
"Iya ya, Mas. Pasti Mbun di kasih jampi - jampi sama Romo, makanya mau sama Romo yang jelek. Padahal Mbun cantik kayak Bidadari." Kata Bima yang menimpali.
"Astaghfirullah! Gini banget akibat menciptakan saingan sendiri di rumah. Abis di fitnah, terus di hina - hina." Keluh Arjuna.
...****************...
"Mbun..." Panggil Aka yang menghampiri Meshwa di dalam kamar.
"Dalem." Jawab Meshwa.
Aka dan Bima kemudian masuk. Keduanya lalu berbaring di ranjang, disebelah Meshwa. Sudah dua hari Aka dan Bima berada di Rumah. Meshwa sengaja menghukum kedua putranya, buntut dari peristiwa yang membuat kepala Aka terluka.
"Mbun, Adek sama Mamas boleh main gak? Udah dua hari Adek sama Mamas gak main, Mbun." Tanya Bima.
"Main di dalam rumah kan, bisa. Kemarin juga main di dalam rumah sama Nty dan Mbak Ara." Jawab Meshwa.
"Bosen Mbun, masak main di dalam rumah. Kan gak seru." Sahut Aka.
"Mamas kepalanya aja belum sembuh loh, masih di perban gitu." Ujar Meshwa.
"Yah, Mbuuunnn...." Kata Bima dengan wajah yang murung.
Namun, Meshwa tetap kukuh dengan keputusannya. Ia tetap tak mengizinkan dua putranya bermain di luar. Mereka hanya boleh main di teras rumah sampai nanti luka di kepala Aka sembuh.
"Romo..." Seru Aka dan Bima ketika Arjuna pulang dari Balai Desa.
"Kenapa sih ini, anak - anak Romo? Kok kusut banget kayak gombal amoh." Ledek Arjuna sambil terkekeh.
"Orang Adek sama Mamas ganteng kayak gini, kok di bilang kayak gombal amoh." Protes Bima yang membuat Arjuna dan Meshwa tertawa.
"Kenapa kok pada sensi kayak gini? Udun ne mbeledos? (Bisulnya pecah?)" Ledek Arjuna.
"Mau main di luar, tapi sama Mbun gak boleh, Mo." Adu Aka.
"Ya main di dalam, lah. Di dalam kan juga luas." Jawab Arjuna.
"Gak seru, Mo! Kita kan anak desa yang suka berpetualang." Jawab Aka.
"Makanya sampe warna kulitnya kelawu mbeladus (abu - abu buluk) gitu kalo kata Kung - Kung." Sahut Arjuna.
"Lihat deh, dua hari di rumah kan mendingan, gak buluk." Timpal Meshwa.
"Kata uti kan hitam - hitam kereta api. Walau hitam banyak di cari." Kata Aka yang membela diri.
"Iya kalau hitam. Kamu kan tanggung, Nang. Hitam enggak, putih enggak, kalau buluk iya." Sergah Meshwa.
"Makanya kita main di luar lagi, Mbun, biar hitam." Kata Bima.
"Bisa ae bocah satu ini." Kekeh Arjuna sambil menggelitik Bima.
"Romo, boleh ya..." Bujuk Aka.
"Romo gak ikut - ikutan. Kalian berdua kalau ada maunya aja baik sama Romo. Kalau gak ada perlunya, Romo di fitnah dan di hina." Ujar Arjuna yang membuat Meshwa tertawa.
perpaduane Aksa, Arjuna plus Dipta
🤣🤣🤣🤣