NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:261k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sementara itu, di luar negeri. Seorang pria berdiri di depan jendela kaca apartemen mewah dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya. Tatapannya lurus menembus gemerlap kota malam di bawah sana. Aura dingin dan elegan begitu kuat terpancar dari dirinya, Emran Richard Pria yang dulu dijodohkan dengan Annisa. Dan pria yang diam-diam masih menyimpan perasaan untuk wanita itu hingga sekarang.

Di belakangnya, seorang pria muda berdiri hormat sambil membawa tablet, Han.

“Ada kabar dari Tuan Darto?” tanya Emran tanpa berbalik.

Han langsung mengangguk. “Ulang tahun Tuan Darto tinggal satu minggu lagi, Tuan.”

Emran terdiam sejenak. Lalu Han kembali melanjutkan,

“Beliau juga mengirim undangan khusus agar Tuan hadir.”

Baru kali ini Emran sedikit menoleh. Sorot matanya berubah lebih dalam saat mendengar itu.

“Sudah lama saya tidak bertemu beliau,” gumamnya pelan.

Dan lebih dari itu, sudah sangat lama dirinya tidak mendengar kabar Annisa. Wanita yang dulu memilih pria lain dibanding dirinya. Namun, anehnya, Emran tidak pernah benar-benar membenci keputusan itu. Karena selama Annisa bahagia, dirinya rela mundur.

“Tuan akan datang?” tanya Han hati-hati.

Emran tersenyum tipis. “Tentu.”

Tatapannya kembali mengarah pada pemandangan kota di depan sana.

“Mungkin … sudah waktunya saya pulang.”

Emran tetap berdiri tenang di depan jendela besar itu.

Sorot lampu kota memantul di wajah tampannya yang terlihat dingin, namun menyimpan banyak pikiran.

“Siapkan semuanya,” ucapnya pelan. “Kita pulang minggu ini.”

Han langsung mengangguk hormat.

“Baik, Tuan.”

Pria itu lalu membuka tablet di tangannya, memastikan jadwal penerbangan dan agenda bisnis Emran selama di Indonesia nanti.

Namun, sebelum pergi, Han kembali bertanya hati-hati, “Lalu … bagaimana dengan Nona Annisa?” Pertanyaan itu membuat Emran terdiam cukup lama.

Rahangnya sedikit mengeras. Nama itu masih memiliki tempat khusus di hatinya, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.

“Apa dia masih bersama suaminya?” tanya Emran balik dengan suara rendah.

“Masih, Tuan.”

Hening sesaat memenuhi ruangan. Emran perlahan menurunkan pandangannya. Dulu dirinya mundur karena percaya Annisa akan hidup bahagia bersama pria pilihannya. Namun jika kenyataannya berbeda, maka kali ini dirinya tidak akan tinggal diam lagi.

“Pantau terus hubungan mereka,” ucap Emran akhirnya.

Han langsung mengangkat kepala.

“Kalau ada yang salah…” Sorot mata Emran berubah tajam. “Aku siap merebutnya.”

Emran Richard bukan lagi pria biasa dari panti asuhan. Dirinya sudah memiliki kekuasaan, kekayaan, dan kemampuan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan satu-satunya wanita yang masih sulit dia lupakan, adalah Annisa.

Malam mulai turun saat aroma semur ayam memenuhi dapur rumah itu.

Annisa baru saja selesai menyiapkan makan malam. Tubuhnya terasa pegal karena sejak pagi dirinya terus bekerja tanpa istirahat. Baru saja ia hendak meletakkan piring terakhir di meja makan, bel rumah berbunyi.

Annisa segera berjalan menuju pintu depan sambil mengusap tangannya dengan celemek. Namun, saat pintu terbuka tubuhnya langsung membeku.

Haikal berdiri di depan rumah bersama seorang wanita, Dokter Emeli. Wanita itu tersenyum lembut sambil berdiri sangat dekat dengan Haikal. Bahkan, keduanya terlihat begitu nyaman satu sama lain.

Entah kenapa dada Annisa langsung terasa sesak.

“Mas?” lirihnya pelan.

Haikal justru terlihat biasa saja.

“Emeli mampir sebentar,” katanya santai sambil masuk ke dalam rumah tanpa meminta izin lebih dulu. Emeli ikut melangkah masuk dengan senyum ramah yang terasa aneh di mata Annisa.

“Maaf ganggu malam-malam,” ucap wanita itu lembut.

Annisa memaksakan senyum tipis. “Nggak apa-apa, Dok" Jawab Annisa yang memang tahu kalau Emeli teman Haikal sejak SMA. Annisa memeriksa diri di tempat Emeli juga ibu mertuanya yang sarankan.

Namun, matanya tak bisa berhenti memperhatikan mereka. Cara Haikal membuka pintu mobil untuk Emeli tadi. Cara pria itu tersenyum pada wanita tersebut. Dan bagaimana keduanya terlihat terlalu dekat. Perasaan Annisa mulai tidak nyaman.

Apalagi pagi tadi dirinya juga mendengar sendiri bagaimana suara Haikal berubah begitu lembut saat berbicara dengan Emeli di telepon.

“Wah, harum banget,” puji Emeli sambil melihat meja makan. “Annisa rajin sekali ya.”

Sebelum Annisa sempat menjawab, Lasmi tiba-tiba keluar dari ruang tengah dengan wajah cerah.

“Dokter Emeli!” serunya antusias. “Ayo masuk, masuk!” Sikap wanita tua itu berubah jauh lebih hangat dibanding saat bersama Annisa.

Bahkan, Lasmi langsung menarik Emeli duduk di dekatnya sambil tersenyum ramah.

“Haikal dari tadi cerita tentang Dokter terus.”

Annisa berdiri diam di dekat pintu. Perasaannya semakin aneh. Ada sesuatu dalam kedekatan mereka yang membuat hatinya mulai dipenuhi rasa takut. Namun, dirinya terus mencoba berpikir positif. Mungkin mereka hanya dekat sebagai teman. Mungkin dirinya terlalu sensitif karena lelah dan terluka. Tetapi malam itu Annisa mulai merasa ada seseorang yang perlahan mengambil tempatnya di sisi Haikal.

Annisa berdiri cukup lama memandangi meja makan. Semur ayam yang sejak sore dia masak kini tersaji rapi bersama buah-buahan dan makanan mahal dari bingkisan tadi siang.

Sementara di meja itu, Haikal, Lasmi, dan Emeli terlihat mengobrol begitu akrab. Sesekali Haikal bahkan tersenyum kecil pada Emeli, sesuatu yang sudah sangat jarang dia lakukan pada Annisa. Menahan rasa sesak di dadanya, Annisa akhirnya mencoba duduk di kursi paling ujung.

Namun, baru saja tangannya hendak mengambil piring,

“Eh!” Suara Lasmi langsung terdengar tajam.

Annisa menoleh pelan.

Wanita tua itu memandangnya sinis. “Siapa suruh kamu duduk?”

Annisa langsung terdiam.

“Sana makan di dapur saja,” lanjut Lasmi tanpa rasa kasihan. “Malam ini meja makan khusus buat kami.”

Annisa menggenggam ujung bajunya pelan.

“Tapi, Bu…”

Lasmi malah mendecak.

“Kamu nggak lihat ada tamu penting?” Suasana langsung terasa canggung.

Emeli pura-pura menunduk tidak enak, namun tidak benar-benar menghentikan ucapan Lasmi.

Sementara Haikal hanya diam. Tidak membela istrinya sedikit pun. Dan itu lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun. Annisa perlahan berdiri lagi.

Namun, langkahnya terhenti saat Lasmi kembali berkata dengan nada mengejek, “Lagipula makan malam ini memang sengaja disiapkan buat Dokter Emeli.”

Wanita tua itu lalu tersenyum puas sambil melirik Annisa tajam.

“Calon istri baru Haikal.”

Deg!

1
mimief
lah..gimana si pak
mau ngasih kejutan
emang kejutan bener si,tapi ga gini juga🫣🤣🤣
mimief
rumahmu Anissa
ambil lagi..
enak amet mereka bisa tinggal gratis 😒
Nadja 🎀
makanya Dido terlalu meremehkan emran.. udah sadar lum? emran itu gak butuh warisan toh dia udh kaya jg memiliki kekuasaan lbh tinggi daripada kmu si bocah!
Jaya Fandi
seruuu,, lanjuuut ka
mimief
semangat say
mimief
semangat say
Dini Anggraini
Sebaiknya USB itu di buat salinannya dan yang asli tetap di tanganmu emran takutnya suatu saat salinannya hilang ataupun musnah yang asli tetap ada. Dido sifatmu persis ortumu demi harta rela menghilangkan nyawa orang lain tanpa mikirkan bagaimana perasaannya anak dan istrinya bila di tinggal meninggal tulang punggung keluarga miris sekali padahal harta itu meskipun di berikan semuanya ke rudi dan keluarganya jangka waktu 3 tahun langsung bangkrut dan jatuh miskin bagaimana nasib kakek luxio nanti. 🥰🥰🥰🥰🥰😡😡
Oma Gavin
anaknya paman emran ternyata dalang nya
Teh Euis Tea
oh ternyata si dido ta kira adrian yg musuh dlm selimut, duh maafkan sku ya pak adrian nuduh km yg jahat🤭
dyah EkaPratiwi
wah ternyata dido kirain adrian
Jaya Fandi
tambah seruu,, lanjuuut ka
Teh Euis Tea
ya ampun othor bisa bgt dah bikin orang penasaran, ini sebenarnya si adrian terlibat x ya, makin penasaran aku
Yeni Astriani
akhirnya pelaku sebenarnya terungkap☺☺
yuuk lanjut lagi Author
Fia Ayu
Aku masih bingung, gimana Caranya itu USB ngerem semuanya ok lah klo suara, bisa masuk akal klo gambar, kan itu rekamann di masukkan ke dalam tempat pen,
Atau itu USB dah di program nyambung ke cctv utama🤔
Aisyah Alfatih: maaf typo kamera tersembunyi
total 2 replies
mimief
tak ada dan tak pernah ada seorang orang tua yg bener bener benci sama anknya
🥹🥹 km
mimief
tak ada dan tak pernah ada seorang orang tua yg bener bener benci sama anknya
🥹🥹
mimief
yah.. begitu laki laki kalau udah enak
suka ga tau diri
mama
ealaa dido
mimief
aku datang thor🥹🥹
Abisatya
lahdalaaaah digantung meneh kayak jemuran Ra garing,,,lanjutlah kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!