NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / Ruang Ajaib
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.

Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.

Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.

Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elemen Tanah Aktif

Gema suara gong raksasa membelah angkasa, menggetarkan tanah lapangan pemburuan yang dipenuhi atmosfer ketegangan.

Begitu gaung sakral itu terdengar, kompetisi berburu hewan roh resmi dimulai. Para peserta bangsawan yang telah mendapatkan pasangan masing-masing langsung menghentakkan tali kekang.

Suara derap kaki kuda pelari cepat menggemuruh bagai badai, menerbangkan debu-debu tanah kering saat semua bangsawan memacu tunggangan mereka menuju satu titik yang sama: Hutan Wanshou, labirin hijau yang menyimpan misteri sekaligus maut.

Di barisan belakang, debat kecil sempat terjadi sebelum gerbang dilepaskan. Sebenarnya, Pangeran Lin Tian bersikeras untuk menjadi pendamping sang adik untuk melindunginya.

Namun, Wu Kevin dengan cepat memotong niat tersebut dan mengusulkan rencana lain yang jauh lebih masuk akal. Sebagai pengawal setia, Wu Kevin sangat tahu bahwa baik Pangeran Lin Tian maupun Lin Jia sama sekali tidak memiliki kultivasi elemen di dalam tubuh mereka.

Membiarkan dua orang tanpa elemen berjalan bersama di hutan berbahaya itu sama saja dengan mengantar nyawa. Atas dasar keputusan bijak itulah, Wu Kevin akhirnya mendampingi sang pangeran, sementara Lin Jia bergerak bersama Mei Mei, pelayan sekaligus pelindung bayangannya.

Kini, Lin Jia dan Mei Mei telah tiba di tepi Hutan Wanshou. Sesuai aturan kekaisaran, tidak ada satu pun hewan tunggangan yang boleh menginjakkan kaki ke dalam area perburuan. Bersama puluhan bangsawan lain yang mulai menghentikan kuda mereka di perbatasan, Lin Jia melompat turun dari pelana dengan gerakan anggun namun tegas.

Mei Mei segera mengambil posisi satu langkah di belakang sang nona. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, tangannya berjaga di dekat gagang senjata, siap menjadi tameng hidup bagi Lin Jia yang dianggap rapuh oleh dunia luar. Suasana hutan mendadak senyap, menyisakan gesekan daun-daun tua dan kabut tipis yang merayap di tanah.

"Mei Mei," Lin Jia membuka suara, memecah keheningan di antara mereka tanpa menghentikan langkah kaki.

Mei Mei sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, mendengarkan dengan saksama. "Ya, Nona? Apa ada sesuatu yang mengganggu Anda?"

Lin Jia menghentikan langkahnya sejenak. Dia membalikkan badan, menatap lurus ke dalam manik mata bawahannya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa kamu tahu di mana tempat tumbuhnya Pohon Jiwa Seribu Tahun di dalam hutan ini?"

Pertanyaan itu membuat Mei Mei tertegun sesaat.

Namun, sebagai pelayan yang terlatih untuk tidak banyak mencampuri urusan pribadi tuannya, dia segera menguasai diri dan mengangguk patuh.

"Saya tahu, Nona. Pohon keramat itu berada jauh di dalam jantung Hutan Wanshou bagian barat. Medannya cukup terjal dan jarang dijamah oleh para bangsawan lain," jawab Mei Mei lugas, tanpa berniat mempertanyakan alasan di balik pertanyaan tersebut

Sebaris senyum tipis, hampir tak terlihat, terukir di bibir Lin Jia. "Kalau begitu, sebelum kita mencari hewan roh, kita datangi tempat itu terlebih dahulu. Aku memiliki sebuah misi dan urusan pribadi yang jauh lebih penting untuk diselesaikan di sana."

"Saya mengerti, Nona. Ke mana pun Nona melangkah, saya akan selalu mengawal dan menjaga Nona," sahut Mei Mei tanpa ragu. Dia memberikan penghormatan kecil sebelum kembali memposisikan diri di belakang Lin Jia.

Mereka berdua mulai berjalan menembus rimbunnya pepohonan raksasa. Baru beberapa ratus meter melangkah, indra pendengaran Lin Jia menangkap suara gemuruh yang dahsyat dari arah kiri depan. Bunyi benturan energi elemen, jeritan angin, dan raungan memekakkan telinga merobek keheningan hutan.

Lin Jia sedikit melambatkan langkahnya dan melirik ke arah sumber keributan melalui celah-celah pohon.

Di sana, di sebelah kiri hutan, Pangeran Lin Zhang dan Putri Lin Zhu sedang bertarung mati-matian. Lawan mereka bukan makhluk sembarangan—seekor Harimau Putih raksasa, seekor hewan roh tingkat tinggi yang legendaris karena menguasai kekuatan empat elemen sekaligus. Kilatan petir, pusaran air, dinding tanah, dan kobaran api tampak saling berbenturan di area pertempuran tersebut.

Mei Mei sempat menahan napas, bersiap jika sang nona berniat membantu atau justru bersembunyi. Namun, kilatan ketidakpedulian yang dingin justru terpancar dari sepasang mata Lin Jia.

Baginya, pertarungan mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya. Dia membuang muka, lalu kembali melangkah mengabaikan kekacauan di sekitarnya.

Di setiap jengkal tanah Hutan Wanshou yang mereka lalui, melodi pertempuran—baik erangan peserta yang terluka maupun lolongan hewan roh yang sekarat—selalu terdengar sahut-menyahut.

Namun, semua itu bagaikan angin lalu. Lin Jia terus mengayunkan kakinya dengan ritme yang konstan dan ekspresi wajah yang tenang, menembus kabut barat demi mencapai tujuan utamanya yang sesungguhnya.

Dia terus melesat menembus kabut tebal hingga akhirnya derap langkahnya terhenti ketika suara Mei Mei terdengar tepat di telinganya.

"Ini dia pohonnya, Nona," bisik Mei Mei sambil menunjuk ke arah pohon raksasa di hadapan mereka.

Lin Jia tidak menjawab, melainkan melayangkan tatapan tajam dan menyelidik ke arah batang pohon purba yang tampak mistis tersebut. Perlahan, dia mengulurkan tangan kanan dan menyentuh kulit pohon nya yang kasar dan berlumut.

BUMMM!

Seketika itu juga, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat seolah-olah ada gempa bumi yang sedang menggeliat bangun. Mei Mei yang terkejut segera memasang kuda-kuda, dengan sigap menahan tubuh Lin Jia agar sang nona tidak kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

"Akhirnya... penantian panjangku yang menyiksa ini berakhir di sini..." Sebuah suara tiba-tiba menggema di dalam benak mereka. Suara itu tidak menggelegar dahsyat, namun terdengar sangat jelas, berat, dan dipenuhi oleh aura kuno yang pekat.

Lin Jia dan Mei Mei secara refleks mundur satu langkah untuk berjaga-jaga. Meski situasi berubah mencekam, sorot mata Lin Jia tetap sedingin es, tanpa ada ketakutan sedikit pun.

"Selama ribuan tahun ini... aku terus mengurung diri, menunggu kedatangan seorang Kultivator sejati yang memiliki takdir kuat agar bisa membebaskanku dari belenggu tempat terkutuk ini," lanjut suara itu lagi.

Ternyata, suara itu berasal dari Pohon Jiwa Seribu Tahun yang legendaris. "Aku sudah terlalu lama berada di dunia fana ini... dan aku benar-benar sudah lelah."

Mendengar kepasrahan makhluk suci tersebut, sudut bibir Lin Jia terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan. "Jadi... apa ada hal yang bisa aku lakukan untuk membantumu?" tanya Lin Jia dengan nada suara yang tenang namun tegas.

Pohon Jiwa itu tampak sangat senang, daun-daun emasnya berdesir riuh memancarkan cahaya hangat. "Jika kamu memiliki kekuatan yang cukup untuk merobohkan tubuh tuaku ini... aku akan sangat berterima kasih kepadamu, wahai kultivator muda."

Lin Jia sedikit mengernyitkan alisnya, merasa asing dengan permintaan unik tersebut. "Kenapa kamu justru meminta dihancurkan?"

"Karena aku sudah sangat lelah berada di tempat ini... aku hanya ingin kedamaian. Aku ingin beristirahat selamanya," jawab Pohon Jiwa dengan nada yang teramat lirih, menyiratkan kepedihan mendalam dari makhluk yang hidup terlalu lama.

Lin Jia terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan penuh rasa hormat. "Kalau begitu... izinkan aku yang melakukannya untukmu."

Lin Jia membalikkan tubuh dan mundur beberapa langkah ke area yang lebih lapang, diikuti oleh Mei Mei yang mengawasinya dengan cemas.

Lin Jia berdiri tegak, perlahan memejamkan kedua matanya untuk mengumpulkan fokus. Namun, hanya dalam hitungan detik berikutnya, saat kelopak mata itu kembali terbuka, bola matanya telah berubah total menjadi putih bersih tanpa pupil, memancarkan aura magis yang mengintimidasi.

Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara. Secara instan, udara di sekitar mereka menjadi tidak stabil. Sebuah pusaran tornado angin raksasa tiba-tiba tercipta, berputar dengan kecepatan mengerikan di sekeliling tubuh Lin Jia.

Mata Mei Mei membelalak sempurna, tangannya membekap mulutnya sendiri karena terkejut. "I--itu... E--elemen Angin?!" Suara Mei Mei tercekat di tenggorokan.

Dia seolah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, karena selama ini yang dia tau bahwa nonanya tidak memiliki elemen apapun.

Tapi ini?

Bagaimana mungkin?

Gemuruh angin yang memekakkan telinga menyapu seluruh hutan mistis tersebut. Tubuh Lin Jia perlahan melayang naik ke udara, hanfu nya berkibar ganas ditiup badai yang dia ciptakan sendiri.

Menggunakan seluruh kekuatan murni dari Elemen Angin tingkat tinggi, Lin Jia mengarahkan telapak tangannya ke bawah, melepaskan hantaman badai penghancur tepat ke arah targetnya. Di bawah tekanan energi spiritual yang begitu masif, Pohon Jiwa Seribu Tahun itu bergoyang sangat kencang, menyambut ujung takdirnya dengan pasrah sekaligus lega.

Brak!

Pohon purba itu tumbang seketika, menghantam tanah hingga menimbulkan getaran hebat seperti gempa bumi kecil. Bersamaan dengan hancurnya sang pohon, pusaran angin mereda dan tubuh Lin Jia kembali mendarat ke bawah dengan begitu anggun.

Sementara itu, Mei Mei masih berdiri mematung dalam kondisi syok dan terkejut setengah mati, otaknya menolak untuk memproses keajaiban yang baru saja terjadi.

Ting!

Sebuah suara notifikasi mekanis yang jernih tiba-tiba bergema langsung di dalam kesadaran Lin Jia.

[ Misi Ketiga berhasil. Selamat Nona, Anda berhasil menemukan Pohon Jiwa 1000 tahun dan mengabulkan keinginannya, ] kata sistem dengan nada monoton namun tegas.

[ Hadiah: Elemen Tanah aktif. ] lanjut sistem, memberikan konfirmasi atas bangkitnya kekuatan baru.

Lin Jia memejamkan matanya, menahan napas sejenak saat aura panas dan berat dari elemen Tanah mulai merayap masuk ke dalam tubuhnya.

Rasanya berbeda; seolah-olah ada ribuan butiran pasir halus yang bergerak di dalam aliran darahnya, memberikan sensasi kokoh, padat, dan penuh keterikatan pada bumi. Awalnya, rasa berat itu terasa menekan, seolah otot-ototnya sedang diubah menjadi bebatuan hidup.

Namun itu hanya sesaat, sensasi menekan itu mereda, berubah menjadi kekuatan yang tenang namun mengagumkan. Ia bisa merasakan peningkatan drastis dalam ketahanan fisiknya.

1
Cty Badria
up lg ni hadiah /Rose/
Mydar Diamond
lanjuutt upnya mungkin calon suami masa depan telah di temukan🤔
Dewiendahsetiowati
apakah ini calon imam Lin Jia
Hendri Wirawan
bagus....lanjutkan
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Anonim
ceritanya bagus, masih awal tapi menarik buat dibaca. lanjut semangat yaaa/Determined//Rose/
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. semangat✍️👈😍☺
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Dania
semangat tor di tunggu upnya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak bgus crita'y😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!