NovelToon NovelToon
Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.

Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode — 4.

Mobil taksi berhenti di depan sebuah hotel sederhana di pusat kota. Zahira turun sambil membawa dua koper besar dan satu kotak kardus berisi barang-barang pribadinya.

Resepsionis menyambut dengan ramah.

"Selamat malam, Kak."

"Saya ingin menginap."

"Berapa malam?"

Zahira sempat terdiam, Ia sendiri belum tahu harus tinggal di mana setelah ini.

"Satu minggu dulu."

"Baik, ditunggu ya kak."

Setelah proses administrasi selesai, seorang petugas membantu membawa koper menuju kamar di lantai lima. Begitu pintu kamar tertutup, keheningan langsung menyelimuti ruangan. Kamar itu bersih, dan terlihat nyaman. Akan tetapi, bagi wanita yang kini menginjak usia 32 tahun itu, tempat tersebut tetap terasa asing.

Zahira duduk di tepi ranjang sambil memandangi koper-kopernya. Selama tujuh tahun menikah, ia menganggap rumah keluarga Adikara sebagai rumahnya sendiri. Kini, semua yang tersisa hanyalah dua koper.

Ponselnya berdering, nama yang muncul membuat matanya sedikit berbinar. Nina, sahabatnya sejak kuliah.

"Halo?"

"Zahira! Aku baru lihat berita di internet, itu benar?"

"Iya." Zahira tersenyum miris.

"Astaga... kenapa kamu baru bilang?"

"Aku juga baru resmi bercerai malam ini."

Di seberang sana langsung hening, beberapa saat kemudian terdengar helaan napas panjang.

"Alamatmu di mana? Aku datang sekarang."

"Nggak usah."

"Jangan membantah."

"Aku baik-baik saja."

"Kamu menangis?"

"Tadi iya..."

"Kalau sekarang?"

Zahira berdiri di depan jendela kamar, memandang hamparan langit malam yang bertabur bintang. Cahaya bulan menyelinap masuk melalui celah tirai, menerangi sebagian wajahnya yang tampak tenang, meski menyimpan begitu banyak luka. Jemarinya menggenggam ponsel erat saat suara Nina terdengar dari seberang sambungan.

"Sekarang aku sedang belajar menerima," ucap Zahira lirih, tak ada lagi isak tangis seperti beberapa waktu lalu. Hanya nada pasrah yang terdengar begitu pelan.

Di ujung telepon, Nina terdiam. Ia tahu kata-kata sederhana temannya itu menyimpan perjuangan yang tidak mudah. Menerima pengkhianatan, kehilangan, dan kenyataan bahwa hidup tidak akan pernah kembali seperti dulu.

Setelah beberapa saat, Nina kembali bersuara dengan nada lembut. "Datanglah ke rumahku, kau tidak perlu melewati semua ini sendirian. Tinggallah di sini beberapa hari, setidaknya ada aku yang bisa menemanimu."

Sudut bibir Zahira terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Ia menggeleng pelan, meski tahu Nina tidak mungkin melihat gerakan itu melalui sambungan telepon.

"Terima kasih, Na. Tapi kali ini... biarkan aku belajar berdamai dengan semuanya. Kalau aku terus bergantung pada orang lain, aku tidak akan pernah benar-benar kuat."

Hening kembali menyelimuti percakapan mereka. Hanya suara embusan angin malam yang terdengar samar dari balik jendela, seolah menjadi saksi seorang wanita yang sedang berusaha mengumpulkan kembali serpihan hatinya sedikit demi sedikit.

“Aku juga nggak mau merepotkanmu," ucap Zahira pelan. "Kau sudah cukup banyak membantuku selama ini, aku nggak ingin terus datang setiap kali hidupku berantakan."

Nina langsung mendesah pelan dari seberang telepon. "Merepotkan? Zahira, sejak kapan aku menganggap mu beban? Kamu itu sahabatku, kita sudah bersama sejak bertahun-tahun lalu. Kalau bukan aku yang menemanimu di saat seperti ini, lalu siapa?"

Zahira memejamkan mata sejenak, dadanya terasa hangat mendengar ketulusan sahabatnya.

"Aku tahu, Na. Justru karena aku menganggapmu sahabat, aku nggak mau membuatmu ikut memikul semua masalahku."

Nina menghela napas panjang. "Lalu kenapa selalu menolak saat aku ingin membantumu? Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja, aku khawatir kamu menyimpan semuanya sendirian."

Zahira terdiam beberapa saat, pandangannya masih tertuju pada langit malam di balik jendela sebelum akhirnya ia menarik napas pelan.

"Sekarang... aku ingin tahu apakah aku benar-benar bisa bangkit dengan kakiku sendiri."

Ucapan Zahira membuat Nina kembali terdiam, ia mengenal Zahira lebih dari siapa pun. Sejak dulu, perempuan itu memang selalu berusaha menyelesaikan setiap masalahnya sendiri. Di balik sikapnya yang lembut, Zahira memiliki harga diri yang tinggi dan enggan terus bergantung pada orang lain, bahkan kepada orang-orang yang sangat menyayanginya.

"Baiklah," ucap Nina akhirnya dengan nada mengalah. "Aku nggak akan memaksamu, tapi kamu harus janji satu hal."

"Apa?"

"Kalau keadaanmu memburuk, atau kamu merasa sudah nggak sanggup menanggung semuanya sendirian, telepon aku. Nggak peduli jam berapa, aku akan datang."

Senyum tipis terukir di bibir Zahira. "Pasti, aku janji."

"Jangan cuma janji di mulut."

"Serius, Nina. Kali ini aku benar-benar akan menghubungimu kalau memang sudah nggak kuat."

"Itu baru sahabatku." Nina mengembuskan napas lega.

"Terima kasih... untuk semuanya."

"Nggak usah berterima kasih, jaga dirimu baik-baik, ya."

"Iya."

Beberapa detik kemudian, sambungan telepon pun berakhir. Keheningan kembali memenuhi kamar, menyisakan Zahira yang masih berdiri di depan jendela dengan pikiran yang belum sepenuhnya tenang. Lalu Zahira kembali memandangi kamar yang sunyi, pandangannya jatuh pada bingkai foto kedua orang tuanya yang tadi ia keluarkan dari dalam kotak.

Perlahan ia mengambil foto itu, air mata yang sejak tadi berhasil ia tahan akhirnya kembali mengalir.

"Ayah... Ibu...." Suaranya lirih.

"Kalau kalian masih ada... mungkin aku masih punya rumah untuk pulang."

Kedua orang tua Zahira meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan. Sejak hari itu, keluarga Adikara menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki. Ia memperlakukan Wulan seperti ibunya sendiri, dan menghormati Bima seperti ayah kandung.

Bahkan setiap ulang tahun mereka, Zahira selalu menyiapkan kejutan kecil agar rumah tetap dipenuhi kehangatan. Semua itu kini telah berakhir, Zahira memeluk bingkai foto itu erat.

"Ayah... Ibu.... aku kalah... aku benar-benar kalah."

Malam itu, untuk pertama kalinya Zahira membiarkan air matanya jatuh tanpa berusaha menahannya. Yang ia ratapi bukan hanya berakhirnya pernikahannya dengan Deris. Namun juga runtuhnya tempat yang selama ini ia anggap sebagai rumah.

Beberapa menit kemudian, Zahira mengusap air matanya sendiri. Ia menatap foto kedua orang tuanya.

"Ayah pernah bilang, orang yang jatuh boleh menangis. Tapi setelah itu... harus berdiri lagi."

Senyum kecil mulai menghiasi wajahnya.

“Aku akan bangkit, Zahira janji."

...*****...

Sementara itu di rumah keluarga Adikara, jam menunjukkan pukul sebelas malam. Wulan membuka pintu kamar Deris sambil membawa segelas susu hangat.

"Kamu belum tidur?"

"Masih ada pekerjaan."

Deris sedang menatap layar laptop, beberapa berkas kerja sama dengan Gardapati Group memenuhi layar.

Wulan meletakkan gelas di meja. "Kamu jangan terlalu memforsir diri."

"Iya, Bu."

Wulan hendak keluar, namun langkahnya berhenti.

"Deris."

"Hm?"

"Tujuh tahun... Zahira selalu membuatkan susu hangat sebelum kamu bekerja sampai larut."

Jemari Deris berhenti mengetik. "Iya."

"Malam ini Ibu baru sadar—"

Wulan menghentikan ucapannya, lalu keluar tanpa melanjutkan. Begitu pintu tertutup, Deris memandang gelas susu itu. Memang ada sedikit yang berbeda, selama ini ia selalu meminumnya tanpa berpikir siapa yang menyiapkannya. Kini... Ia baru menyadari kebiasaan kecil itu telah menghilang.

Di kamar utama, Bima duduk di sofa sambil membaca koran ekonomi. Sesekali ia menyesap kopi yang mulai kehilangan hangatnya.

"Apa Zahira sudah pergi?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari koran.

Wulan yang sedang merapikan meja rias mengangguk pelan. "Sudah."

"Semua barangnya sudah dibawa?"

"Iya, tidak ada yang tertinggal."

Bima hanya mengangguk, beberapa saat kemudian ia melipat koran di pangkuannya dan mengembuskan napas panjang.

"Lusa ulang tahunku."

Wulan menoleh pada suaminya. "Iya, aku ingat."

Tatapan Bima kosong mengarah ke luar jendela. "Biasanya... seminggu sebelum ulang tahunku, Zahira sudah sibuk ke sana kemari. Diam-diam mengatur makan malam, memilih hadiah, bahkan mengingatkan semua orang agar pura-pura lupa supaya kejutannya berhasil."

Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi senyum itu hanya bertahan sesaat sebelum kembali menghilang.

Wulan bahkam tidak menjawab ucapan suaminya, tenggorokannya mendadak terasa sesak. Ia juga teringat bagaimana Zahira selalu menjadi orang pertama yang memastikan setiap momen penting keluarga berjalan sempurna, tanpa pernah meminta pujian.

Keheningan perlahan memenuhi kamar.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah keluarga Adikara terasa begitu lengang. Tidak ada suara langkah kaki Zahira yang mondar-mandir mengurus keperluan rumah. Besok pastinya tidak ada lagi sapaan lembut wanita itu yang dilontarkan setiap pagi, dan tidak ada lagi sosok yang diam-diam memperhatikan kebutuhan setiap anggota keluarga.

Anehnya, baru setelah Zahira pergi, kekosongan itu terasa begitu nyata. Namun, baik Bima maupun Wulan masih mengira perasaan itu hanyalah penyesuaian karena kepergiannya. Mereka yakin seiring berjalannya waktu, semuanya akan kembali seperti biasa.

Mereka belum menyadari bahwa yang meninggalkan rumah itu bukan sekadar seorang menantu. Zahira telah membawa pergi kehangatan yang selama ini menjadi perekat keluarga Adikara, kehangatan yang keberadaannya nyaris tak pernah disadari sampai akhirnya benar-benar menghilang.

1
Muft Smoker
tenang aj almira Kayla ,, harus ny km bersyukur masuk penjara ,, kalian gx perlu repot2 mikirin makan tiap hari ,, semua udh dtanggung pihak penjara ,, Selamat menempuh hidup baruuuu ,, duo kuntiii ,, 😏😏😏😏
Muft Smoker
nah kan ,, anda bermain dg org yg slah almira😏😏😏😏
Muft Smoker
untung pak bos peka yx ,,
Mundri Astuti
jangan sampai ada jaminan dari keluarganya, Revan jaga tetu jangan kasih kendor
Aditya hp/ bunda Lia
rasain ... merasa diri pintar padahal Revan lebih jenius .. selamat bobo cantik di hotel prodeo 👍
Aditya hp/ bunda Lia
mampus kalian lampiiirrr . gerandong
Muft Smoker: sabar bunda ,, mereka emnk turunan makhluk astral ,, tp jgn di perjelas juga ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
gina altira
Hayo loh Almira
gina altira
untung ada revan
Uba Maoludin
Almira, Kayla kamu sebentar lagi mendapatkan kehancuran arena kamu berdua biangnya kerusuhan karena hati busukmu
Muft Smoker
orang panik biasa ny akan melakukan kesalahan ,, 😒😒😒
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
Muft Smoker
orang sirik tanda tak mampu ,,
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭
Aditya hp/ bunda Lia
duh gantung udah pinisirin bingit padahal ... gak sabar
Rita Rita
makin seru dan makin ingin tau aksi brutal 2 Mak Lampir.🤔🤭 yg udah sebenarnya udah kalah talak dengan Zahira,,
Mundri Astuti
gitu dong Revan, itu baru laki" keren
Rita Rita
gimana Kayla,,, dapet merebut pria mandul 🤭🤔🤣🤣🤣
Rere🌠: ngetawainnya puas banget kayaknya 🤣🤭
total 1 replies
Rita Rita
merebut dan akhirnya kena tampar ditengah perkumpulan orang banyak betapa rendahnya nilai harga diri. Kayla,,, Kayla wkwkwk,,,
Rita Rita
nyesel ya RIS,,,? makanya jangan tergiur dengan batu kali
Rita Rita
yang merebut milik orang hidup nya tak tenang ia akan selalu dibayangi rasa takut khawatir dan tak percaya
Rita Rita
lah,, ngapain juga Zahira noleh loe lagi Daris,,,? sesuatu yang udah loe buang ga bakalan balik lagi,dan Zahira pasti nganggap loe sampah yg tidak perlu dipungut.
Aditya hp/ bunda Lia
buat senjata makan tuan Thor kayaknya dia mau kasih Zahira obat setan terus ... ya gitu lah tapi buat si Almira yang kena sama si kayla
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!