Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perampokan
.
Tangan Wira menyentuh dagu Sinta dan mengangkat wajahnya yang tertunduk, "Kau jangan takut... aku pasti akan kembali untuk menjemputmu," ucapnya tegas. Tak lupa senyuman manis tercetak di bibir pemuda tampan tersebut.
Sinta mengangguk tanpa berkata-kata. Hatinya dilanda ketakutan yang amat sangat. Dia takut terjadi apa-apa dengan pemuda yang sudah mencuri hatinya itu.
"Kunci pintunya dengan rapat, Paman. Jangan membuka pintu jika bukan aku yang memintanya!"
"Ba-baik, Wira. Kembalilah dengan selamat. Perjalanan kita menuju Kotaraja masih jauh!"
"Tenang saja, Paman. Tidak akan terjadi apa-apa padaku," sahut Wira. Sesungguhnya di hati pemuda tersebut sedang terjadi pergulatan batin. Dia tidak yakin akan bisa menangani para perampok itu sendirian. Tapi karena teringat dengan amanah dari gurunya, Arisuta, akhirnya dia pun menguatkan mentalnya untuk membantu penduduk desa.
Sementara itu di luar penginapan, lebih dari 40 perampok sedang menyisir satu persatu rumah penduduk, dan merampas berbagai harta benda yang mereka temukan.
Tak jarang suara jeritan kesakitan terdengar dengan jelas, ketika para perampok itu menebaskan senjata yang mereka bawa. Mereka tidak memberi ampun jika ada penduduk yang berani menghalangi apa yang mereka lakukan.
Suara teriakan para wanita dan anak-anak yang ketakutan pun ikut mewarnai malam yang seharusnya hening itu. Desa yang tadinya begitu tenang di malam itu, kini begitu mencekam.
Beberapa gadis juga terlihat menangis karena dibawa paksa oleh para perampok tersebut. Teriakan memanggil nama kedua orang tua yang terucap dari bibir gadis itu ketika dibawa pergi, tidak membuat para perampok itu merasa iba. Mereka bahkan tertawa terbahak-bahak karena sudah mendapatkan begitu banyak harta dan wanita dalam aksi kali ini.
"Malam ini kita akan berpesta besar!" teriak seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, yang memegang pedang besar di tangannya. Tawanya terdengar begitu keras, sepadan dengan bentuk fisiknya yang begitu menakutkan.
"Benar, Ketua. Kami juga tidak menyangka desa kecil ini penduduknya begitu makmur dan gadis-gadisnya begitu menggairahkan," sambut anggota perampok itu.
"Bagaimana kalian akan berpesta jika nyawa kalian tercabut saat ini juga?" suara Wira memecah tawa para perampok yang begitu puas dengan hasil jarahannya.
Seketika tawa itu berhenti. Pemimpin para perampok dan anak buahnya langsung berhenti. Pandangan mata mereka mencari sumber suara yang terdengar memberi ancaman.
Tawa mereka kembali terdengar, bahkan lebih keras dari sebelumnya setelah melihat seorang pemuda yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berkumpul.
"Ketua, rupanya ada seorang pemuda yang sudah bosan hidup, hahaha!" ucap seorang perampok dengan nada yang begitu meremehkan.
Ketua perampok itu menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas pemuda yang berdiri memandang mereka dengan tatapan tajam. Seketika dia tersenyum semringah melihat ketampanan Wira. Akalnya langsung bekerja untuk mendapat tambahan uang.
"Kalian semua... ringkus dia tapi jangan dibunuh! Dia akan bernilai mahal kalau kita jual."
"Ketua memang benar-benar pintar. Tuan Prayogo pasti akan berani membayar dengan mahal untuk tubuhnya," sahut seorang anggota perampok.
"Tuan Prayogo pasti akan menyukai pemuda ini untuk memuaskan nafsunya, Ketua. Ketampanannya di atas rata-rata pemuda yang pernah kita bawa kepadanya," sambung lainnya.
"Sepertinya kalian terlalu bermimpi untuk menangkapku tanpa membunuhku. Jika kalian punya harapan untuk menjualku, maka aku pun punya keinginan untuk menjadikan tubuh kalian sebagai santapan hewan buas di hutan!" balas Wira.
Cibiran pedas yang dilontarkan Wira langsung membuat pemimpin rampok itu murka. Dia mengubah rencananya untuk menangkap Wira hidup-hidup. "Siksa pemuda itu sebelum kalian membunuhnya! Dia tidak pantas untuk dibiarkan hidup!" perintahnya.
Belasan orang yang berada di sekitar pemimpin rampok itu segera bergerak menyerang Wira. Senjata yang mereka pegang langsung terayun bersahutan untuk mencabik-cabik tubuh pemuda tampan tersebut.
Tanpa rasa ragu sedikitpun, Wira langsung mencabut pedangnya dan melakukan tangkisan demi tangkisan untuk menahan serangan yang terarah kepadanya. Satu persatu senjata yang menyerangnya, langsung terlepas dari tangan para perampok itu dan terlempar seketika setelah pemuda itu menangkisnya.
Belum sempat para perampok itu sadar senjatanya telah terlepas dari tangan, Wira langsung menyabetkan pedangnya dan membuat tubuh mereka terkoyak dalam. Jeritan singkat terdengar berulang kali.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, sudah 7 orang anggota perampok yang tergeletak di tanah meregang nyawa. Para perampok yang lain tidak bisa menahan keterkejutan mereka setelah 7 orang temannya mati dengan begitu mudah.
Melihat beberapa orang anggotanya tewas, pimpinan para perampok itu memberi perintah kepada seorang anggotanya untuk memanggil anak buahnya yang sedang melakukan penyisiran.
"Ketua, pemuda itu ternyata seorang pendekar," kata seorang anggota perampok dengan rasa takut.
"Tanpa kau beritahu, aku sudah melihatnya sendiri!" bentak pimpinan perampok yang bertubuh tinggi besar itu.
Tak berapa lama, rasa takut yang sempat muncul di pikiran para perampok itu langsung sirna, setelah lebih dari 20 orang temannya berdatangan.
Tanpa menunggu perintah dari pimpinannya, para perampok yang baru datang itu langsung mengerubungi Wira. Namun mereka tidak langsung menyerang pemuda tersebut setelah tahu beberapa tubuh temannya sudah tergeletak tidak bernyawa.
"Cepat serang dan bunuh pemuda sialan itu!" bentak pimpinan rampok. Dia merasa kesal karena anggotanya terlihat ragu-ragu dan tidak segera menyerang Wira.
"Majulah kalian semua jika ingin nyawa kalian tercabut di tempat ini!" ucap Wira tenang.
Posisi dilema dirasakan para perampok tersebut. Jika mereka nekat menyerang pemuda itu, bisa jadi mereka akan tewas di tempat. Namun jika mereka tidak menyerang, maka nasib yang sama bisa mereka alami karena terbunuh oleh pimpinan mereka sendiri.
Keputusan cepat akhirnya mereka ambil. Secara bersamaan mereka menyerang Wira yang sudah mereka kepung sedari tadi.
Pemuda itu tersenyum kecil sebelum tubuhnya tiba-tiba saja bergerak berputar sambil menyabetkan pedangnya.
"Pedang Cahaya Pembasmi Iblis!"
Cahaya terang yang keluar dari ujung pedang di tangan Wira, langsung melesat menerjang puluhan perampok yang sudah mengepungnya. Seketika jeritan kematian terdengar bersahutan dari mulut para perampok yang bernasib naas. Tubuh mereka terpotong rapi dan isi perut mereka keluar berserakan.
Dalam satu serangan saja, 17 anggota perampok menemui ajalnya. Belasan perampok lainnya tanpa sadar langsung bergerak mundur. Mereka didera rasa ketakutan yang amat sangat.
Berkali-kali mereka melakukan aksi perampokan, baru kali ini mereka menemui lawan yang kemampuannya bukan tandingan mereka. Demi menyelamatkan nyawa satu-satunya yang mereka miliki, belasan anggota perampok yang masih hidup pun melarikan diri.
Dengan sedikit senyuman tersungging di bibirnya, Wira menggunakan ilmu meringankan diri yang sudah dikuasainya untuk mengejar dan membunuh para perampok yang hendak melarikan diri itu.
"Jangan pikir kalian bisa lolos dari sini begitu saja!"
Para perampok yang berusaha melarikan diri tersebut langsung menghentikan langkahnya. Mereka tidak menduga jika pemuda itu sudah berada di depan dan menghadang laju lari mereka.
"Meskipun kalian menyerah, aku akan tetap membunuh kalian semua. Jadi pilihannya hanya satu, aku yang mati atau kalian yang mati!" sambung Wira.
Ketakutan semakin dirasakan para perampok itu. Mereka dalam posisi yang sama-sama sulit saat ini. Maju berarti mati, mundur pun akan mati juga.