Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Terasa Berbeda
Sementara itu di sekolah Andira dan Kinan menatap heran ke arah bangku Oca yang masih kosong. Padahal bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.
“Tumben tuh anak belum dateng,” celetuk Andira.
Kinan mengangguk pelan. “iya, biasanya jam segini udah duduk di bangku”
Andira langsung mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu membuka chat-nya dengan Oca. Pesan yang ia kirim dari tadi pagi pun belum ada balasan.
"Chat gue aja belum dibales," gumam Andira sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada Kinan.
Kinan mengerutkan kening. "Kebiasaan deh, kalau nggak masuk suka lupa ngabarin kita. Apa jangan-jangan dia sakit?”
"Masa iya? Kemarin masih baik-baik aja, kan?”
Obrolan mereka terhenti saat guru mata pelajaran masuk ke dalam kelas. Barulah dari penjelasan guru mereka akhirnya tau kalau Oca hari ini tidak masuk karena sakit.
Andira tampak termenung di kursinya. Sejak mendengar kabar itu, pikirannya terus tertuju pada Oca hingga tidak lagi fokus mendengarkan pelajaran.
Tak terasa beberapa jam kemudian pelajaran akhirnya selesai, yang lain langsung berhamburan keluar kelas. Andira dan Kinan berjalan di koridor kelas menuju kantin.
Baru beberapa langkah berjalan, suara seseorang memanggil mereka dari belakang.
"Andira, Kinan.”
Keduanya serempak menoleh. Dirga tampak berjalan menghampiri dengan raut wajah heran.
“Oca ga masuk?”
Andira dan Kinan saling berpandangan.
"Lah... lo belum tahu?" tanya Andira heran.
Dirga menggeleng pelan.
"Guru bilang dia sakit," jawab Kinan.
Raut wajah Dirga seketika berubah.
Andira mengernyit. "Bukannya dari kemarin lo sama Oca terus? Emang dia nggak ngabarin ke lo?"
Dirga kembali menggeleng. "Dari kemarin gue chat sama telepon juga nggak aktif. Padahal kemarin gue udah nungguin dia buat pulang bareng, tapi dia nggak dateng.”
Andira terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menatap Dirga dengan ragu.
"Kalian... nggak lagi berantem, kan?"
Dirga tampak kebingungan mendengar pertanyaan itu.
"Nggak. Memangnya kenapa?"
Andira mengangkat bahu pelan. "Nggak tahu... cuma ngerasa aneh aja. Soalnya baru kali ini gue lihat lo sampai nggak tahu apa-apa soal Oca.”
Dirga terdiam beberapa saat. Entah kenapa, perasaannya tiba-tiba menjadi tidak tenang.
"Kalau gitu pulang sekolah, gue coba ke rumahnya aja deh," gumam Dirga pelan.
Andira mengangguk kecil.
"Yaudah bareng aja, gue sama Kinan juga rencananya mau jenguk.”
Dirga mengangguk pelan sebelum kemudian berbalik, Andira dan Kinan pun melanjutkan langkah mereka untuk pergi ke kantin.
________
Dikamar tidur mansion, Oca masih terbaring diatas ranjang dengan kain kompres yang masih menempel di dahinya. Matanya mengerjap perlahan sebelum akhirnya terbuka, kepalanya masih terasa pusing juga pandangan mata yang berkunang-kunang.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang sunyi. Hanya suara AC yang terdengar pelan memenuhi ruangan.
Oca mengangkat tangannya untuk menyentuh dahinya. Suhu tubuhnya memang sudah sedikit menurun, tapi tubuhnya masih terasa lemas.
Perlahan ia berusaha bangkit dari tempat tidur. Namun baru saja tubuhnya terduduk, kepalanya kembali terasa berputar hingga ia refleks memejamkan mata sejenak.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Salah satu pelayan masuk sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat, segelas air putih, dan obat yang sudah disiapkan.
"Dokter Andrew tadi sudah memeriksa Nona. Beliau bilang Nona harus banyak istirahat dan jangan lupa minum obat setelah makan.”
Pelayan itu terdiam sejenak sebelum kemudian kembali berbicara, “Tuan Anthony ada di mansion, beliau membatalkan jadwal syutingnya hari ini.”
Oca yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat kepalanya. "Membatalkan syuting?"
Pelayan itu mengangguk.
"Begitu tahu Nona demam, Tuan langsung meminta dokter datang ke mansion. Setelah itu beliau membatalkan semua jadwalnya hari ini.”
Oca tidak langsung menjawab. Tatapannya justru kembali kosong. Entah kenapa, mendengar hal itu membuat perasaannya semakin campur aduk.
Semalam, pria itu ia lihat mencium Emma di lokasi syuting. Sekarang pelayan mengatakan kalau Anthony membatalkan jadwal syutingnya hari ini. Oca mengembuskan napas pelan. Ah, sudahlah. Mau apa pun alasannya, itu bukan urusannya.
Melihat Oca kembali terdiam, pelayan itu tidak melanjutkan pembicaraan.
"Kalau begitu, Nona makan dulu, ya. Obatnya jangan lupa diminum."
Oca hanya mengangguk pelan. Setelah pelayan itu keluar dan pintu kembali tertutup, suasana kamar kembali sunyi.
Pandangannya beralih ke ponsel yang tergeletak di atas nakas. Perlahan ia meraihnya, lalu menekan tombol layar. Seketika deretan notifikasi memenuhi layar ponselnya. Grup obrolan bersama Andira dan Kinan berada paling atas.
Andira: Ca, kata guru lo sakit. Gimana sekarang?
Kinan: Cepet sembuh, ya. Jangan bikin kita khawatir.
Beberapa menit setelahnya, muncul lagi pesan baru dari Andira.
Andira: Nanti gue sama Kinan mau jenguk lo, ya.
Mata Oca langsung membulat. Tanpa berpikir panjang, jarinya langsung mengetik balasan.
Oca: Nggak usah. Besok gue juga udah masuk sekolah. Cuma demam biasa kok.
Tak lama kemudian, balasan dari Andira kembali muncul.
Andira: Yakin?
Oca mengembuskan napas pelan sebelum kembali mengetik.
Oca: Yakin. Lagian nanti malah ketularan.
Setelah memastikan Andira dan Kinan mengurungkan niatnya, Oca menggeser layar ke percakapan lain.
Nama Dirga terpampang di sana dengan belasan pesan yang belum sempat ia buka.
“Ca, lo di mana?”
“Udah pulang belum?”
“Kenapa HP lo mati?”
“Lo baik-baik aja?”
Oca membaca deretan pesan itu dalam diam. Namun bukannya merasa tenang, pikirannya justru kembali teringat pada percakapan yang tak sengaja ia dengar di depan kelas kemarin.
"...Gue cuma nerima taruhan."
Dadanya kembali terasa sesak. Oca mengembuskan napas pelan, lalu mengunci layar ponselnya tanpa membalas satu pun pesan.
Baru beberapa detik berlalu, ponsel itu kembali bergetar di atas nakas.
Nama Dirga kembali muncul di layar.
Ia membiarkan dering itu terus berbunyi hingga akhirnya terputus dengan sendirinya.
Oca menatap layar yang kembali gelap, dadanya terasa kosong. Entah harus marah, kecewa, atau justru menyalahkan dirinya sendiri karena sempat percaya. Yang jelas, malam ini ia belum siap mendengar penjelasan apa pun dari Dirga atau dari siapa pun.